Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Nyonya Astrid sudah menunggu di teras depan saat mobil Haris berhenti di halaman. Begitu putranya melangkah turun, ia segera menyambutnya dengan senyum hangat, lalu merangkul lengan Haris erat seolah ingin menyalurkan kekuatan lewat sentuhan itu.
"Ayo masuk, Sayang. Udara di luar mulai dingin," ajaknya lembut, membimbing Haris masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tengah. Ia tak langsung berbicara soal pertunangan, melainkan menuangkan segelas teh hangat dan menyodorkannya ke tangan putranya. "Minum dulu. Kamu terlihat sangat lelah."
Haris menerima gelas itu, namun matanya hanya menatap kosong ke arah uap yang mengepul. "Menurut Ibu, apa aku salah jika aku menerima Luna untuk menggantikan Kania sebagai calon istriku?"
Nyonya Astrid menghela napas pelan, lalu duduk di samping Haris dan memegang tangannya yang dingin erat-erat. Matanya menatap putranya dengan pandangan yang penuh pengertian namun juga tegas.
"Ibu mengerti kamu kecewa, Haris. Ibu tahu kamu sangat mencintai Kania," ucapnya pelan dan lembut, "Tapi kamu harus melihat kenyataan yang ada. Kania sudah memilih jalannya sendiri, bersama orang lain. Ibu yakin kamu tidak mau mempermalukan diri lebih jauh, kan?"
Ia mengusap punggung tangan Haris pelan, melanjutkan dengan suara yang meyakinkan, "Keputusan keluarga Tuan Aryan memang terasa kejam, tapi setidaknya mereka berusaha menutupi aib putri mereka yang sudah berani mencampakkan kamu. Dan Luna... dia gadis yang baik, sopan, dan sudah lama menyukaimu. Dia tidak akan membebanimu dengan masa lalu yang menyakitkan. Berikanlah dia satu kesempatan, Nak. Di samping Luna, kamu bisa perlahan melupakan kesedihanmu dan membangun kebahagiaan baru."
Haris terdiam, rahangnya mengeras menahan perasaan yang berkecamuk. Kata-kata ibunya terdengar masuk akal, namun hatinya tetap menolak untuk menerima kenyataan pahit ini.
Nyonya Astrid tersenyum tipis, lalu menambahkan dengan nada memohon halus, "Besok malam Luna berniat mengajakmu makan malam berdua. Dia hanya ingin berbicara dengan tenang, mengenalmu lebih jauh. Maukah kamu memenuhi permintaannya? Anggap saja sebagai tanda penghargaan atas ketulusannya, dan demi menjaga hubungan baik antar kedua keluarga."
Suasana hening sejenak. Haris menunduk dalam, memandang pantulan dirinya di permukaan teh sebelum akhirnya mengangguk pelan dengan tatapan yang kosong dan penuh kepasrahan.
"Baik, Bu... Aku akan datang," jawabnya lirih, gelas teh di tangannya bergetar pelan. Uapnya sudah hilang. Sama seperti harapan terakhirnya pada Kania.
-
-
-
Pintu ruang kerja diketuk tiga kali dengan ritme teratur. Tanpa menunggu perintah masuk, seorang pria berjas rapi melangkah masuk, itu adalah asisten pribadi Victor, Rico. Ia memegang berkas map berwarna hitam tebal di tangannya, wajahnya serius tanpa ekspresi berlebihan.
Victor masih duduk di balik meja kerjanya yang luas, tangannya melipat di dagu, menatap lurus ke arah jendela kaca besar yang menghadap ke halaman belakang. Ia baru berbalik perlahan saat asistennya berdiri tegak tepat di hadapan mejanya.
"Laporan?" tanyanya singkat, nada suara tetap datar.
"Benar, Tuan," jawab Rico sambil menyodorkan map hitam itu ke atas meja, lalu melanjutkan laporannya dengan jelas dan terukur, "Saya sudah menyusun semua data yang kami temukan. Wanita yang Tuan selamatkan bernama Kania Adelia Wijaya. Usianya dua puluh empat tahun."
Victor membuka map itu perlahan, matanya menyapu baris demi baris dokumen, sementara asistennya terus melanjutkan penjelasannya.
"Wanita itu adalah putri kandung dari Tuan Aryan Wijaya dan mendiang Nyonya Kirana. Setelah istri pertamanya meninggal, Tuan Aryan Wijaya menikah lagi dengan seorang wanita bernama Melani, dan mereka memiliki putri bernama Luna Callista Wijaya."
Jari Victor berhenti di satu baris nama, rahangnya sedikit mengeras. Aryan. Haris. Melani. Luna Callista.
"Di buang dan langsung diganti," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Lanjutkan."
"Tidak ada yang tahu pasti kenapa Nona Kania malam itu di usir dari rumah," tambah Rico. "Tapi ada kabar jika keluarga Tuan Aryan meminta kepada keluarga Tuan Darius untuk mengganti calon istri dari Haris Dwi Baskara menjadi Nona Luna, adik tiri dari Nona Kania sendiri."
Victor menutup map perlahan, menatap sampulnya dengan tatapan tajam penuh perhitungan. Tak ada rasa kasihan yang terlihat, namun ada kepastian yang mulai terbentuk di benaknya.
"Jadi Tuan Aryan ini membuang putri sulungnya," gumamnya pelan, lalu menatap asistennya kembali. "Lalu mengganti calon menantu keluarga Baskara menjadi putri dari istri keduanya."
Rico mengangguk, "Benar, Tuan. Ini data dan keterangan yang saya dapatkan setelah penyelidikan. Hanya saja untuk alasan Nona Kania di buang, saya belum dapat jawabannya, Tuan."
Victor berdiri perlahan, memasukkan kedua tangannya ke saku celana, lalu melangkah mendekati jendela. "Baik. Lanjutkan terus penyelidikanmu sampai tuntas. Langsung lapor padaku jika kamu menemukan sesuatu."
Rico menundukkan sedikit, "Baik, Tuan."
Selesai dengan laporannya, Rico keluar meninggalkan ruangan. Setelah pintu tertutup, Victor masih berdiri di depan jendela. Pikirannya tertuju pada satu nama di dalam berkas itu.
Kania Adelia Wijaya.
Ia mengingat wajah pucat wanita itu, selimut yang dicengkeram erat, dan kalimat lemah 'Hidupku sudah hancur semalam.'
Victor mendengus pelan. "Di buang karena nama baik..."
Ia berbalik dan berjalan kembali ke sisi mejanya, menatap map hitam itu lama dan membukanya kembali.
Tuan Aryan Wijaya. Haris Dwi Baskara. Melani. Luna Callista Wijaya.
Nama-nama itu ia hapal satu per satu. Bibirnya membentuk senyum tipis tanpa kehangatan.
"Menarik..." gumamnya rendah. "Keluarga yang membuang darah dagingnya sendiri demi reputasi."
Ia mengambil pena, mencoret nama Kania Adelia Wijaya di atas kertas putih.
"Milikku sekarang." gumamnya. "Hidupnya, ada di tanganku."
-
-
-
Bersambung...
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
lanjut dong thor🤭🤭