NovelToon NovelToon
Koh, Ini Salah

Koh, Ini Salah

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.

Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."

Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.

Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.

Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.

Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.

Empat tahun kemudian, badai datang lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Koh

Tirai yang tertutup di jendela loteng itu membuat Erlyn lupa bernapas lebih lama dari yang seharusnya.

Ia masih berdiri di anak tangga terakhir, tangan Mama menggenggam jarinya, sementara koridor lantai dua terasa terlalu sunyi. Dari bawah terdengar suara koper diletakkan, langkah orang rumah yang bergerak pelan, dan Om Changli yang berbicara dengan nada rendah. Tetapi di atas sana, di balik pintu loteng yang setengah tersembunyi, tidak ada suara apa pun.

Justru karena tidak ada suara, Erlyn merasa seseorang benar-benar ada di sana.

"Er?" Mama memanggil pelan.

Erlyn menoleh. "Iya, Ma?"

"Kamu capek?"

Ia ingin menjawab iya. Capek bisa menjadi alasan yang baik untuk masuk kamar, menutup pintu, lalu berpura-pura bahwa ia tidak melihat bayangan di jendela. Tetapi Om Changli sudah berdiri di beberapa anak tangga di bawah mereka, menatap ke atas dengan ekspresi seperti orang yang baru mengingat sesuatu.

"Chisen mungkin sedang melukis," katanya. "Tapi kalian sebaiknya saling menyapa dulu."

Jing mengangguk cepat. "Iya. Harus kenalan dulu."

Harus.

Kata itu membuat perut Erlyn menegang.

Sejak Mama menikah dengan Om Changli, semua orang dewasa di sekitar Erlyn sering memakai kata harus. Harus pindah. Harus sekolah baru. Harus menyesuaikan diri. Harus mengerti bahwa Mama juga berhak bahagia.

Sekarang, ia harus bertemu putra Om Changli.

Kakak tirinya.

Bukan saudara kandung, kata Mama beberapa kali sebelum mereka berangkat. Tidak ada hubungan darah. Tapi karena Mama menikah dengan Papa Chisen, di mata orang luar mereka tetap keluarga.

Keluarga.

Erlyn tidak tahu apakah keluarga bisa dimulai hanya karena dua orang dewasa menandatangani surat nikah.

Tangga menuju loteng lebih sempit daripada tangga utama. Kayunya tua, tetapi bersih, dengan pegangan yang dipoles sampai mengilap. Semakin naik, semakin kuat bau cat minyak bercampur terpentin. Bau itu tajam, asing, membuat hidung Erlyn sedikit perih.

Di depan pintu loteng, Om Changli berhenti. Ia mengetuk dua kali.

"Chisen."

Tidak ada jawaban.

Om Changli mengetuk lagi, kali ini lebih keras. "Ada Mama Jing dan Erlyn. Turun sebentar."

Di dalam, sesuatu bergeser. Kaki kursi, mungkin. Lalu langkah pelan mendekat.

Pintu terbuka.

Erlyn melihatnya untuk pertama kali dari jarak kurang dari dua meter.

Yu Chisen lebih tinggi dari yang ia bayangkan. Umurnya baru tujuh belas, tetapi wajahnya tidak punya sisa kekanak-kanakan yang biasa ada pada anak SMA. Kulitnya pucat bersih, rambut hitamnya sedikit berantakan, bagian depan jatuh dekat alis. Ia memakai kaus putih yang terkena noda cat biru di lengan, celana panjang hitam, dan tatapan yang membuat orang ingin mengecek apakah mereka sudah melakukan kesalahan.

Matanya turun ke Erlyn hanya sesaat.

Tidak penasaran.

Tidak ramah.

Tidak juga kasar.

Hanya melihat, seperti melihat benda baru yang diletakkan di rumahnya tanpa meminta izin.

Erlyn tanpa sadar merapat ke sisi Mama.

"Ini Erlyn," kata Jing lebih dulu, suaranya lembut tetapi agak tegang. "Anak Tante."

Tante.

Mama memakai sebutan itu untuk dirinya sendiri di depan Chisen, dan entah kenapa dada Erlyn terasa sedikit tidak nyaman. Di Belitung, Mama adalah Mama. Di rumah ini, Mama juga harus belajar menjadi orang baru.

Chisen menatap Jing, lalu menunduk sedikit. "Tante Jing."

Suaranya rendah. Bersih. Tidak keras, tetapi cukup membuat ruangan di belakangnya terasa semakin diam.

Jing tersenyum lega, seolah satu sapaan pendek sudah cukup untuk disebut awal yang baik. Ia menepuk punggung Erlyn pelan.

"Er, ini Koh Chisen."

Koh Chisen.

Dua kata itu jatuh ke telinga Erlyn dengan rasa yang aneh.

Di Belitung, ia pernah memanggil beberapa tetangga lebih tua dengan Koh, tetapi tidak pernah ada yang tinggal satu rumah dengannya. Tidak ada yang tiba-tiba menjadi kakak karena pernikahan. Tidak ada yang berdiri di pintu loteng dengan wajah dingin dan bau cat di sekeliling tubuhnya.

Erlyn membasahi bibir. "Halo."

Chisen menatapnya lagi.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu ia mengangguk tipis. "Halo."

Hanya itu.

Om Changli menghela napas kecil, seperti sudah menduga jawabannya akan sependek itu. "Chisen, Erlyn dan Mama Jing baru sampai. Nanti makan malam bersama."

"Saya belum selesai."

"Lukisannya bisa dilanjutkan setelah makan."

Chisen tidak langsung menjawab. Ia menoleh sedikit ke dalam ruangan. Dari celah pintu, Erlyn melihat bagian dalam loteng. Cahaya sore masuk dari jendela miring. Ada beberapa kanvas berdiri di dinding, meja panjang penuh kuas, kain lap, botol-botol kecil, dan lantai kayu yang sebagian ditutup koran.

Di tengah ruangan, sebuah kanvas besar menghadap jendela. Erlyn tidak bisa melihat gambarnya jelas. Hanya warna gelap, garis panjang seperti langit sebelum hujan, dan satu goresan biru yang tampak terlalu kasar.

"Nanti saya turun," kata Chisen akhirnya.

Om Changli menatap putranya beberapa saat, lalu mengangguk. "Jangan terlalu lama."

Jing cepat menyambung, mungkin takut suasana menjadi lebih kaku. "Tidak apa-apa kalau sedang sibuk. Tante juga belum beres-beres."

"Saya turun," ulang Chisen.

Nada itu membuat Jing berhenti bicara.

Erlyn melirik Mama. Senyum Mama masih ada, tetapi tangannya yang menggenggam Erlyn sedikit mendingin.

Sejak Papa kandung Erlyn meninggal, Mama jarang terlihat ragu di depan orang lain. Mama bisa menawar harga ikan di pasar, memperbaiki atap bocor dengan bantuan tetangga, bahkan tersenyum saat orang-orang berbisik tentang status jandanya. Tetapi di depan anak laki-laki ini, Mama seperti sedang berjalan di lantai licin.

Erlyn tiba-tiba tidak suka.

Ia menegakkan bahu sedikit.

"Ma, aku mau lihat kamar," katanya.

Jing tampak lega mendapat jalan keluar. "Iya. Kita lihat kamar dulu."

Mereka berbalik hendak turun dari ambang loteng. Erlyn sudah mengambil satu langkah ketika suara Chisen terdengar lagi.

"Kamar kamu di sebelah kiri."

Erlyn berhenti.

Ia menoleh.

Chisen masih berdiri di pintu loteng, satu tangan memegang sisi pintu. Wajahnya tetap datar. Seolah kalimat itu hanya informasi sederhana, bukan bukti bahwa ia sudah tahu di mana kamar Erlyn sebelum mereka bertemu.

"Apa?" tanya Erlyn, karena terlalu kaget untuk pura-pura tidak mendengar.

"Di lantai dua," katanya. "Pintu kedua sebelah kiri. Jendelanya menghadap pohon flamboyan."

Om Changli menoleh pada putranya dengan sedikit heran. Jing juga terdiam.

Erlyn memandang Chisen. "Koh tahu?"

Kata Koh keluar begitu saja, canggung, belum pas di lidah.

Tatapan Chisen bergerak sebentar ke wajahnya. Untuk pertama kali, ada sesuatu yang hampir mirip perubahan di matanya, terlalu cepat untuk ditangkap.

"Papa yang bilang," jawabnya.

Oh.

Tentu saja.

Erlyn merasa pipinya hangat karena entah mengapa ia sempat berpikir Chisen memperhatikan hal itu sendiri. Pikiran yang bodoh. Mereka baru bertemu. Baginya, Erlyn hanya anak perempuan baru yang dibawa masuk ke rumah.

"Terima kasih," katanya pelan.

Chisen mengangguk lagi.

Lalu, tanpa menunggu siapa pun menambahkan kalimat sopan, ia kembali masuk ke loteng. Pintu bergerak menutup. Sebelum benar-benar tertutup, Erlyn sempat melihat tangannya mengambil kuas dari meja, seolah percakapan tadi hanya jeda yang mengganggu pekerjaannya.

Klik.

Pintu loteng tertutup.

Di koridor, bau cat masih tertinggal.

Jing menarik napas, lalu tersenyum pada Erlyn. "Koh Chisen memang agak pendiam."

Erlyn menatap pintu yang sudah tertutup itu.

Pendiam, tapi baik.

Kalimat orang dewasa itu kembali terlintas di kepalanya. Namun kali ini, Erlyn tidak yakin bagian mana yang harus ia percaya. Yang ia tahu, kamar barunya ada di sebelah kiri, jendelanya menghadap pohon flamboyan, dan orang yang baru saja menutup pintu loteng itu sudah tahu sebelum ia bertanya.

1
May Maya
baru mampir Thor semoga cerita nya bgus n GK berhenti d tngh jln
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!