Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pandai Merayu
Hampir sehari penuh ketika pemeriksaan lanjutan Pradipta akhirnya selesai. Danendra duduk menunggu besama ibunya, tanpa banyak berbicara. Sesekali ia melihat layar ponselnya, memastikan tidak ada pesan dari Niken. Sementara beberapa pesan dari kantor yang masuk sengaja ia abaikan, karena hari ini pikirannya hanya tertuju pada ayahnya.
"Pak Danendra." Panggil dokter yang langsung membuatnya berdiri.
"Iya, Dok."
"Bagaimana hasilnya, Dok?" Sahut Ratih.
Dokter tersenyum membuka berkas pemeriksaan di hadapannya. "Untuk sementara, tidak ada tanda kondisi gawat yang membutuhkan tindakan darurat."
Ratih menghela napas lega. "Alhamdulillah."
Danendra juga terlihat sedikit lebih tenang, namun Dokter belum menutup berkasnya.
"Meski begitu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan." Kata dokter yang membuat Danendra kembali serius.
"Seperti apa, Dok?" tanyanya.
"Fungsi jantung Pak Pradipta masih cukup baik, tetapi ada sedikit kelainan yang perlu dipantau."
"Apakah berbahaya?"
"Belum tentu," kata dokter, kemudian kembali menjelaskan bahwa Pradipta perlu mengurangi aktivitas berat, menjaga pola makan, tidur cukup, dan menjalani kontrol secara berkala.
"Untuk obat, saya akan sesuaikan dengan kondisi Bapak." Lanjut dokter, "dan kalau sesak kembali muncul, terutama jika disertai nyeri dada, pusing berat, atau sulit bernapas, jangan menunggu lagi, segera bawa Pak Pradipta ke rumah sakit."
Ratih mengangguk patuh beberapa kali. "Iya, Dok."
Kemudian Danendra mencatat beberapa instruksi dokter di ponselnya. Lalu ia bertanya, "untuk kontrol berikutnya kapan, Dok?"
"Kurang lebih dua minggu lagi." Kata Dokter yang dijawab anggukan oleh Danendra.
Sementara Pradipta yang sejak tadi hanya mendengarkan, akhirnya ikut bersuara. "Jadi saya belum boleh merawat tanaman-tanaman saya?"
Dokter tersenyum ramah, "boleh Pak, tapi jangan sampai dari pagi sampai siang tanpa istirahat."
Ratih langsung menyahut, "nah, dengar itu."
Pradipta tertawa kecil sebelum akhirnya berkata, "baiklah."
Setelah semuanya selesai, mereka berjalan pelan menuju lobi.
Ratih menggenggam lengan suaminya. "Mulai sekarang, Mas harus benar-benar menjaga diri," ucap Ratih yang dijawab anggukan oleh Pradipta.
"Iya," katanya.
Danendra berjalan di samping mereka sambil mengetik pesan kepada Niken. "Alhamdulillah, tidak ada kondisi darurat. Tapi dokter menemukan sesuatu yang perlu dipantau. Ayah harus banyak istirahat dan kontrol rutin."
Pesan terkirim, lalu tidak lama kemudian balasan pun muncul di layar ponselnya.
"Alhamdulillah, kalau begitu aku jadi lega rasanya. Nanti aku pulang dijemput sama Mas?"
Danendra tersenyum tipis, lalu mengetik jawaban singkat. "Iya, aku jemput kamu."
Tanpa sadar mereka telah sampai di tempat parkir mobilnya. Setelah memastikan ayah dan ibunya duduk nyaman, Danendra pun masuk ke kursi pengemudi.
Sebelum mobil meninggalkan halaman rumah sakit, Pradipta tiba-tiba bersuara dari kursi belakang.
"Danen."
"Iya, Yah?"
"Jangan beri tahu Niken terlalu banyak soal kondisi Ayah."
Danendra terdiam sesaat, ia menatap ayahnya melalui kaca spion. "Kenapa, Yah?"
"Dia baru saja mulai merasa nyaman di keluarga kita, Ayah hanya tidak ingin dia kembali merasa terbebani." Kata Pradipta yang membuat Danendra dan Ratih diam menatapnya.
Kemudian dengan suara tenang, Pradipta kembali melanjutkan. "Biarkan Niken menikmati pekerjaan dan rumah tangganya."
Danendra masih terdiam, ia memahami maksud ayahnya. Namun dalam hati, ia juga tahu satu hal bahwa Niken bukan lagi orang luar. Dia sudah menjadi bagian dari keluarga itu, dan ia tidak ingin menyembunyikan sesuatu darinya.
* *
Bel pulang akhirnya terdengar, membuat suara riang anak-anak memenuhi halaman TK Tunas Arunika. Satu per satu mereka dijemput oleh orang tuanya masing-masing, sementara para guru sibuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal.
Niken berdiri di dekat gerbang sambil tersenyum ramah serta melambaikan tangan. "Hati-hati, ya."
"Iya, Bu Niken, sampai jumpa besok."
Setelah anak terakhir dijemput, Niken kembali ke ruang guru. Ia mulai merapikan buku-buku dan alat peraga yang digunakan sejak pagi.
Maya yang duduk di meja sebelah memperhatikannya sambil memasukkan beberapa lembar kertas ke dalam map. "Niken."
"Iya?"
"Sepertinya dari tadi kamu sering melihat ponsel." Kata Maya yang memunculkan senyum kecil di wajah Niken.
"Iya, Ayah mertuaku tadi diperiksa di rumah sakit, jadi aku menunggu setiap kabar dari Mas Danendra."
Maya langsung menghentikan kegiatannya. "Serius? Sakit apa?"
"Iya," jawab Niken sambil mengangguk kecil. "Kemarin beliau tiba-tiba sesak napas."
"Waduh." Maya mengernyit khawatir, "terus bagaimana sekarang?"
"Kata Mas Danendra, Dokter bilang tidak ada kondisi darurat."
Maya mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah. Tapi masih harus kontrol?"
"Iya."
Maya kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Ngomong-ngomong..., suamimu mau jemput kamu, kan?"
Niken langsung mengukir senyum. "Iya."
"Rajin sekali, setiap hari menjemput." Gurau Maya.
"Kalau kebetulan sedang tidak ada pekerjaan mendesak, kalau ada ya... aku pulang sendiri."
Maya terkekeh, "kelihatan sekali bahagiamu sekarang."
Niken langsung menoleh, "kelihatan?"
"Banget."
"Oh ya? Dari apanya?" tanya Niken merasa heran, karena dirinya tidak merasa menunjukannya secara langsung kepada siapa pun.
"Diawal menikah, wajahmu belum kelihatan sebahagia ini. Tapi semakin hari senyum manismu semakin lebih sering muncul." Goda Maya yang membuat Niken tertunduk malu-malu.
"Ah, kamu May."
"Aku hanya mengatakan sebuah kenyataan." Kata Maya sambil terbahak, "sebaiknya akui saja, tidak usah malu."
Belum sempat Niken menjawabnya, suara klakson terdengar dari luar gerbang. Niken spontan melihat melalui jendela.
Sebuah mobil yang sudah sangat dikenalinya berhenti di depan sekolah.
"Itu dia," ucap Maya yang ikut melihatnya.
"Iya." Niken segera mengambil tasnya, kemudian langsung ingin pergi, tetapi Maya kembali mengodanya.
"Jangan lupa pamit."
Niken berhenti di ambang pintu, terkekeh kecil sambil menoleh ke arahnya. "Assalamu'alaikum, Maya."
"Wa'alaikumussalam, hati-hati di jalan." Ucap Maya yang dijawab anggukan oleh Niken sebelum meninggalkan ruang guru.
Dari balik jendela, Maya memperhatikan Niken yang berjalan keluar dengan menyisakan senyum di wajahnya. "Semoga selalu bahagia, Nik," gumamnya pelan.
Sementara di luar gerbang, Danendra sudah menunggu di dalam mobil. Begitu Niken masuk, tatapan mereka bertemu, lalu senyum kecilnya datang secara bersamaan seolah kompak meski tanpa latihan.
"Kenapa, Mas?" tanya Niken sambil memasang sabuk pengaman.
"Nggak apa-apa. Aku hanya sedang menyambut istriku yang baru selesai mengajar."
"Memangnya harus disambut seperti itu?"
"Kalau bisa, iya." Jawab Danendra yang membuat Niken sedikit salah tingkah.
"Kenapa jadi diam?" tanya Danendra.
"Mas, jangan buat aku salah tingkah di depan sekolah."
Danendra melirik ke arah gerbang, lalu kembali menatapnya. "Memangnya siapa yang lihat?"
"Salah satu temanku masih mengintai," bisik Niken seolah tahu meski tak melihatnya langsung.
Danendra kembali menoleh ke dalam sekolah. "Yang tadi berdiri di sampingmu?"
"Iya."
"Siapa namanya?"
"Maya."
"Oh..." Danendra mengangguk pelan, "jadi itu Maya."
Kerutan tipis muncul di dahinya, "kenapa memangnya?"
"Tidak apa-apa. Aku cuma ingin tahu siapa saja yang setiap hari menemani istriku."
Niken terkekeh pelan, sebelum akhirnya bercerita. "Maya itu teman sekaligus rekan kerjaku, Mas. Orangnya baik, kita sering berbagi tugas kalau ada kegiatan sekolah."
"Oh.."
"Mas tahu tidak? Tadi dia bilang apa?"
"Apa?"
"Katanya, semakin hari aku semakin terlihat bahagia." Kata Niken sambil tertawa kecil.
"Benarkah?"
"Iya."
"Lalu kamu jawab apa?"
"Ya, tidak kujawab." Kata Niken yang membuat Danendra terkekeh kecil.
"Berarti Maya bisa melihatnya."
"Melihat apa?"
"Kalau istriku sedang bahagia."
Niken menatap Danendra beberapa detik sebelum akhirnya bertanya. "Kalau Mas sendiri bagaimana? Apa juga bahagia?" tanyanya.
Danendra tidak langsung menjawab, ia tersenyum sambil menatap Niken sejenak. "Kalau tidak bahagia, untuk apa aku ke sekolah setiap hari sampai dua kali? Bahkan aku rela menunggu selama satu jam di sini."
Niken spontan tertawa. "Bukannya Mas baru datang satu menit, lalu aku langsung keluar, ya?"
"Perasaan suami itu berbeda dengan jam. Kalau menunggu istri, satu menit rasanya seperti satu jam."
Niken menggeleng geli karenanya. "Mas memang yang paling pandai merayu."
"Bukan pandai, tapi karena ada yang yang membuka kesempatan itu."
"Maksudnya?" tanya Niken yang membuat Danendra mengangkat kedua bahu.
"Entahlah, tapi yang aku rasa kalau istrinya gampang tersipu seperti ini, merayu sedikit saja sudah terasa menyenangkan."
Niken langsung mencubit pelan lengan suaminya. "Sudah."
Danendra kembali tertawa. "Oke, oke." Ia lalu menjalankan mobilnya meninggalkan TK Tunas Arunika.
...****************...