NovelToon NovelToon
Geranium

Geranium

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.

Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.

Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.

Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Hari itu berlalu seperti bayangan yang merayap lambat. Aku tidak bergerak dari posisi dudukku di dekat jendela, membiarkan cahaya sore yang kemerahan memudar menjadi gelap. Pikiranku kosong, sebuah mekanisme pertahanan untuk tidak merasakan sakit yang sebenarnya. Aku hanya menatap mobil-mobil yang berlalu-lalang di kejauhan, membayangkan diriku berada di salah satu dari mereka, melarikan diri jauh dari tempat ini.

​Suara denting kunci pintu yang berputar memecah keheningan apartemen. Aku tidak menoleh. Aku sudah hafal betul derap langkahnya yang tegas dan berat langkah seseorang yang merasa memiliki seluruh dunia di bawah telapak kakinya.

​Ia tidak langsung menghampiriku. Aku bisa mendengar ia melepas jasnya, menggantungnya di rak, lalu langkahnya mendekat ke arah ruang tengah. Ia berhenti tepat di belakangku. Aku bisa merasakan kehadirannya yang dominan, auranya yang dingin menusuk punggungku.

Abhi ​" Membuang waktu," suaranya rendah, terdengar tepat di dekat telingaku, membuat bulu kudukku meremang.

​Ia meletakkan tangannya di bingkai jendela, mengurungku di antara tubuhnya dan kaca dingin itu. Ia tidak menyentuhku, namun tekanan dari keberadaannya sudah cukup untuk membuatku merasa tercekik.

Abhi ​" Memandang jendela itu tidak akan membawamu ke mana-mana," lanjutnya dengan nada mengejek. Ia menunduk, sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat pantulan wajahku yang pucat di kaca jendela.

Abhi " Apa yang kamu cari di luar sana? Kebebasan yang tidak akan pernah bisa kamu miliki lagi? Atau kamu sedang menunggu seseorang untuk datang menyelamatkanmu? "

​Ia tertawa kecil, sebuah tawa kering tanpa humor yang membuat hatiku mencelos.

Abhi " Jangan bodoh. Tidak ada yang akan mencarimu di sini. Dan waktu yang kamu habiskan untuk melamun itu... seharusnya kamu gunakan untuk memikirkan cara agar kamu bisa lebih berguna bagiku, bukan sebagai hiasan yang menyedihkan di sudut ruangan ini."

​Ia menarik daguku dengan jarinya, memaksaku untuk menoleh dan menatap matanya yang gelap, yang kini memantulkan bayangan diriku sendiri seorang wanita yang tampak hancur, namun masih harus tunduk di bawah kendalinya.

Caca " Jika aku sudah tidak berguna lagi untukmu, kenapa kamu tidak melepaskan ku saja ? "

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, lebih sebagai bisikan mati daripada sebuah tantangan. Namun, reaksi pria itu instan dan brutal. Cengkeramannya pada daguku mengencang hingga aku bisa merasakan tulang rahangku beradu di bawah tekanan jarinya. Rasa sakit yang tajam menyengat wajahku, membuat mataku berair seketika.

​Ia tidak membiarkanku berpaling. Ia justru semakin mendekat, hingga napasnya yang dingin dan berbau maskulin menyapu kulitku.

Abhi ​" Lepas? " ulang pria itu dengan suara yang terdengar seperti geraman rendah, penuh dengan nada merendahkan.

Abhi " Kamu pikir ini adalah tentang kegunaan? Kamu pikir kamu hanyalah sebuah benda yang bisa aku buang saat aku bosan ? "

​Ia menghempaskan daguku dengan kasar, membuat kepalaku terhentak ke belakang. Ia menatapku dengan mata yang memancarkan obsesi murni gelap, posesif, dan mengerikan.

Abhi ​" Dengar baik-baik," lanjutnya, suaranya kini tenang, namun setiap kata yang keluar terasa seperti belati yang tertancap di dadaku.

Abhi " Aku tidak akan melepaskanmu. Tidak sekarang, tidak besok, tidak sampai kapan pun. Bahkan jika kamu harus lari sampai ke ujung neraka sekalipun, aku akan menyusulmu ke sana."

​Ia mencengkeram bahuku, mengguncang tubuhku sekali dengan kasar sebelum menarikku lebih dekat lagi, hingga dadanya menekan tubuhku yang gemetar.

Abhi ​" Aku akan menyeretmu kembali," bisiknya tepat di depan wajahku, seringai tipis yang tidak mencapai matanya kini menghiasi bibirnya.

Abhi " Kamu tidak akan pernah bisa melarikan diri dari apa yang sudah menjadi milikku. Jadi, berhenti membuang-buang tenagamu untuk bermimpi tentang kebebasan. Karena satu-satunya tempat di mana kamu akan berakhir adalah di sini, tepat di bawah kendaliku."

​Ia melepaskanku begitu saja, membiarkanku limbung ke samping dengan perasaan hancur yang tak terlukiskan. Kalimat itu bukan lagi sekadar ancaman itu adalah sebuah sumpah yang membuat jiwaku terasa terkunci di dalam dinding apartemen ini selamanya.

Tubuhku terasa remuk oleh rasa lelah yang luar biasa dan sisa-sisa trauma yang masih berdenyut di bawah kulit. Begitu aku membaringkan diri di atas ranjang, kegelapan segera menarikku jatuh ke dalam tidur yang gelisah. Namun, dalam tidur yang tidak tenang itu, aku merasakan kehadiran yang familiar dan menindas.

​Dia berbaring tepat di belakangku. Lengan yang kuat melingkar di pinggangku, menarik tubuhku semakin dalam ke dalam dekapannya. Dekapannya terasa mencekik, bukan karena kehangatan, melainkan karena rasa memiliki yang sangat mutlak. Aku tidak mampu melawan tubuhku terlalu lelah untuk sekadar bergerak, dan hatiku terlalu takut untuk mencoba terjaga.

​Dalam kesadaranku yang memudar di ambang mimpi, aku mendengar suara lirihnya. Ia berbisik tepat di samping telingaku, suaranya terdengar tidak lagi penuh amarah, namun lebih kepada sebuah pembenaran yang mengerikan.

Abhi " I wouldn't have gone this far, if you hadn't crossed the line I set, sweetheart. " (Aku tidak akan berbuat sejauh ini, jika kamu tidak melanggar batas yang aku berikan, sayang.)

​Kalimat itu menggantung di udara, menjadi racun yang menyusup ke dalam tidurku. Dia tidak merasa bersalah. Baginya, semua siksaan, cengkeraman kasar, dan air mataku adalah kesalahanku sendiri sebuah hukuman yang " terpaksa " ia lakukan demi menjaga 'batasan' yang telah ia buat untukku.

​Di dalam dekapan yang terasa seperti kurungan itu, aku merasa semakin hilang. Keberadaanku di dunia ini seolah terserap oleh obsesinya. Aku tertidur dengan sisa air mata yang mengering di pipi, menyadari bahwa di mata pria ini, aku bahkan tidak memiliki hak untuk terluka, karena dia merasa dirinyalah yang menjadi 'korban' dari pembangkanganku.

1
Umi Fitriani
semangat thorr
you see me: Terima kasih kakak /Whimper/😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!