NovelToon NovelToon
Pergi Tanpa Kembali

Pergi Tanpa Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Anak Genius
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah sakit

Pov Ivan

Aku cukup tersentak kaget mendapat lemparan kertas yang sudah diremas tidak berbentuk dari Adit. Aku cukup paham kertas apa itu.

Kenapa aku begitu gegabah menjatuhkannya?!

Detik berikutnya, masih dengan emosi yang menggebu Adit berhasil meninju perutku yang sebenarnya dari siang tadi sudah berulah meminta segera ditangani. Aku sengaja mengesampingkan upaya penyembuhan untuk usus buntuku yang telah meradang demi menyelesaikan serangkaian obat-obat yang harus kuserahkan pada Adit. Ya, usus buntu. Aku baru mengetahui nya pagi tadi. Karena nyeri di perut yang kurasakan beberapa hari ini semakin intens, dan dari gejalanya aku tau mengarah ke adanya peradangan di usus buntuku. Aku nekat pagi tadi melakukan endoskopi dibantu rekan dokterku yang lain di rumah sakit Mahardika, milik keluarga Adit. Dari hasil endoskopi, sesuai dugaan ku peradangan di usus buntu ku cukup parah dan jalan terbaik memang dengan operasi. Melihat dari peradangan yang terjadi, aku masih bisa menunda operasi besok pagi meskipun sebenarnya lebih cepat lebih baik. Tapi aku merasa perlu segera menyelesaikan serangkaian uji coba obat antiretroviral untuk Adit, mengingat akan semakin lambat penanganannya jika tidak segera kuputuskan obat apa yang harus dia konsumsi untuk menekan virus dalam tubuhnya itu. Aku bisa membayangkan kesakitannya saat tubuh nya merespon obat yang ku berikan, tapi aku berjanji akan memberikan yang terbaik agar dia tidak perlu menderita oleh rasa sakit setiap harinya.

Sialnya malam ini pukulan cukup keras tepat mengarah pada titik rasa sakit di usus buntuku yang sejak siang tadi berusaha selalu kutahan. Aku tidak sempat memekik atau mengaduh, pukulan ini cukup membuat kakiku melemas dan memaksa tubuh ini terduduk tak berdaya di lantai berlapis karpet di kamar Adit. Kulihat Adit sudah memejamkan mata, aku masih bertahan dengan posisiku sambil berusaha mengumpulkan tenaga untuk beranjak.

Lebih dari 2 jam aku menekan pusat rasa sakitku ini, sampai akhirnya aku berusaha bangkit dan meraih obat tidur dalam back pack yang kuletakkan di sofa. Aku mengambil dosis paling rendah dan mulai menelan pil kecil itu dengan sekali tegukan air.

Kurebahkan tubuh ini di samping Adit, sampai benar-benar pulas dengan bantuan obat tidur yang kuminum tadi.

Tengah malam aku terbangun dan mendapati Adit tidak terbaring disampingku.

Kemana anak itu?

Pintu keluar masih tertutup rapat, pintu balkon pun sama, aku mengarahkan pandanganku pada pintu kamar mandi yang juga tertutup. Tidak ada suara apa pun dari dalam sana, tapi untuk memastikan aku beranjak mencoba membukanya.

Terkunci dari dalam.

Pasti Adit ada di dalam sana, ku ketuk berulang kali tanpa mendapat respon apapun. Aku sangat khawatir sekarang. Apa dia baik-baik saja di dalam sana?

Sengaja kuubah ketukan ku menjadi gedoran keras, semoga saja ada respon dari dalam sana.

Tidak lama kemudian,,

Adit keluar dengan wajah basah yang sangat pucat. Kilatan matanya yang sayu, masih menyisakan amarah yang begitu kentara.

"Kamu... Muntah?" Aku bertanya khawatir melihat detail wajah didepan ku ini. Tidak ada gurat kesakitan disana. Semoga dia memang benar baik-baik saja.

Adit hanya menanggapi dengan helaan nafas beratnya. Aku tahu dia masih kesal dan mungkin mulai tumbuh benih kebencian di hatinya padaku.

Tapi aku bisa apa...

Aku hanya menjalankan tugas...

Adit beranjak menuju kasurnya kembali dan berbaring langsung memejamkan mata.

Kurasakan nyeri yang cukup menyiksa di sisi kanan perutku ini kembali.

Astaghfirullah...

Kenapa harus sekarang...

Aku memutar badanku dan segera mendekati Adit, aku merasa sudah berkorban banyak untuknya. Tidak kah dia tahu, aku pun rela menunda pengobatan ku hanya untuk menemukan obat terbaik untuknya?!

"Dit! Kita bisa ngomong baik-baik. Lo jangan kayak cewek gini dong. Diem tanpa merespon apapun. Gue peduli sama Lo Dit. Gue juga nggak ada pikiran apapun buat bikin penelitian begini. Nggak sesuai prosedur kalo Lo yang jadi bahan nggak tahu menahu bahkan nggak ada perjanjian hitam diatas putih. Tapi gue bisa apa... Bokap nyokap Lo,,," ucapan ku terhenti saat kusadari tidak seharusnya aku mengatakan hal ini.

Aku sangat frustasi...

Kenapa dia hanya diam?

Apakah tidak bisa dia merespon meski hanya dengan kalimat singkat?

Kenapa sulit sekali ada di dua pihak seperti ini?!

Disatu sisi aku punya perjanjian yang harus kulaksanakan sampai tuntas yang mungkin akan membuat Adit tersiksa, namun disisi lain akupun merasa tidak tega dengan adit. Kenapa orangtuanya begitu tega?

"Aaah!! Udahlah, terserah Lo mau gimana. Besok gue kasih obat terakhir buat Lo. Terserah Lo mau deskripsiin rasa sakit yang Lo rasakan atau nggak. Terserah. Gue cukup jalankan tugas gue buat ngasih obat ini ke Lo."

Aku mengikutinya berbaring dengan membelakanginya. Nafasku masih memburu menahan rasa kesal ini. Perutku pun masih berulah dari tadi. Tanpa bisa tertidur aku berusaha menekan perutku kuat diposisi berbaringku. Rasanya sangat sakit. Sesekali desis rintihan kecil tidak bisa kutahan lolos keluar dari mulutku. Jika saja aku bisa berdiri sekarang, ingin rasanya segera berlari ke rumah sakit. Tapi rasa sakit ini seperti memaku tubuhku untuk hanya bisa diam ditempat. Aku hanya bisa mengubah posisiku dari terbaring menjadi duduk di kasur ini.

"Kak, Lo oke?" Kudengar suara Adit dibelakang ku. Dia terbangun juga ternyata.

"Aman, Lo tidur aja lagi." Tanpa menoleh, aku menjawab dengan suara tertahan ku. Rasanya sulit membuat suara kita terdengar normal di saat rasa sakit intens membersamai kita.

"Lo oke kak?" Lagi, suara Adit kudengar setelah keheningan cukup lama kurasakan tadi. Namun suara nya makin terdengar jelas tepat berada di belakangku. Apa mungkin dia mendekati posisiku sekarang?

"Perut Lo sakit?" Aku agak kaget saat kurasakan pijatan lembut di tangan kanan ku yang terus menekan perut ini.

"Nggak papa Dit. Lo tidur aja lagi. Kayaknya usus buntu kakak perlu diangkat." Ucapku tanpa menghiraukan nya lebih lanjut.

"Usus buntu?! Apa nggak bahaya kalau nunggu besok kak?" Kali ini Adit ikut duduk disampingku. Aku sungguh tidak ingin dia seperhatian ini padaku mengingat masih ada jurang emosi dalam dirinya padaku.

"Aman dit. Nunggu agak enakan kakak bisa langsung ke rumah sakit sendiri." Ucapku kemudian.

"Baiklah,, apa yang bisa Adit bantu sekarang kak? Perlu Adit ambilkan pain killer nggak?" Kuterima satu strip pain killer setalah Adit mengambilkannya.

Opioid

Aku tercengang kaget membaca sederet nama pain killer yang kuterima. Obat yang sangat keras.

"Lo...Lo konsumsi ini Dit?! Dari mana Lo dapetnya?! Obat ini nggak mungkin dijual bebas di apotik biasa." Adit terlihat salah tingkah menanggapinya.

"Dari... Dokter di rumah sakit."

Aku menyadari kebohongan nya. Ingin rasanya kuceramahi dia terkait betapa keras nya obat ini dan seharusnya hanya dengan resep dokter obat ini bisa didapatkan, tapi sayang rasa sakit di perutku ini mulai membuatku sulit bernafas. Untuk berbicara panjang lebar sangat tidak mungkin.

"Hhh.. Dit, ja-jangan minum ini lagi." Aku langsung meringkuk setelah mengatakannya. Rasanya sakit sekali.

"Ak-aku panggilkan mama dulu ya kak."

Aku tidak merespon apapun, saat ini aku harus berusaha mengumpulkan tenaga kembali untuk bangkit dan segera ke rumah sakit.

POV Adit

Aku dan Bi asih duduk di kursi tunggu di depan ruang operasi, kak Ivan sedang menjalani operasi pengangkatan usus buntu disana. Akhirnya kami berhasil membawa kak Ivan ke rumah sakit diantar salah satu satpam komplek menggunakan mobil kak Ivan. Entah bagaimana tadi proses awalnya, semua diatur Bi asih dengan dibantu pak satpam komplek  yang membawanya langsung ke IGD dan dalam hitungan menit ternyata kak Ivan sudah akan langsung menuju ruang operasi. Aku yang masih pusing berat, sengaja tidak mengikuti rangkaian proses awal tadi. Aku hanya duduk diam di kursi tunggu yang ada di koridor rumah sakit ini.

"Den, bibi mau sholat shubuh dulu. Sudah adzan. Nanti kita gantian aja den sholatnya biar ada yang jaga disini." Bi asih yang duduk disampingku, berkata pelan setelah cukup lama terjadi keheningan diantara kami.

"Boleh bi," aku mengangkat kepala memandangnya dan mengangguk pelan, tak ketinggalan senyuman ku pun ikut kuberikan.

BI asih pun berdiri dan mulai berjalan menjauhiku menuju musholla yang ada di rumah sakit ini. Aku sedikit mencerna kata gantian yang bi Inah ucapkan, hatiku sedikit tersentil.

"Bi asih!" Aku segera berdiri memanggilnya. Sepertinya sholat cukup bisa menenangkan hati dan pikiranku sekarang. Ungkapan ajakan tadi seakan menyadarkanku bahwa aku sudah sangat jauh meninggalkan kewajiban ini. Entah sudah sejak kapan aku jarang sekali melaksanakan kewajiban ini. Sehari yang seharusnya lima waktu kujalankan, biasanya hanya Dzuhur dan ashar di sekolah, selebihnya hanya sesekali kujalankan.

Astaghfirullah, sudah sangat jauh sekali diri ini padamu ya Rabb.

Maafkan aku...

"Bareng Bi, kayaknya masih belum selesai operasinya. Nggak usah gantian sholatnya." Aku sejajari langkahnya dan dengan berbekal info dari beberapa petugas rumah sakit yang kami temui, akhirnya kami menemukan bangunan musholla di rumah sakit ini.

Bi asih menyuruhku menjadi imamnya karena hanya kami berdua dan belum ada orang lain yang akan melaksanakan sholat shubuh disini. Lagi-lagi hatiku dibuat tersentil olehnya. Sudah lama sekali aku tidak mengaji, apa kabar bacaan sholatku nanti saat menjadi imam...

Aku menanggapinya dengan senyum salah tingkah merasa tidak siap.

"Adit... Takut salah bi."

"Den Adit ini kan laki-laki, harus bisa jadi imam." Bi asih kembali memberikan alasan yang cukup membuatku menyadari betapa jauhnya diri ini dari sang pencipta.

Bismillah,,,

Selesai sholat aku mencium tangan bi Asih takzim. Meskipun sempat grogi, tapi aku cukup lancar melafalkan bacaan al fatihah dan surat pendek yang kupilih. Lega rasanya, dada ini seperti diselimuti rasa nyaman, sejuk dan entahlah sulit kugambarkan.

"Den Adit lagi kurang enak badan?" Saat berjalan kembali menuju ruang operasi, Bi asih memecah kembali keheningan yang ada diantara kami.

"Adit baik-baik saja bi." Aku merasa sudah lebih baik sekarang, meski beberapa kali ada rasa mual muncul tapi segera hilang tidak lama kemudian. Kepalaku yang semalam tadi berdenyut pun, sudah tidak berulah hanya menyisakan rasa pusing yang tidak terlalu intens. Hanya saja, aku masih merasa sedikit lemas mungkin karena kurang cukup tidur nyenyak, jadi darah rendah membuat ku merasa tidak menapak sempurna setiap berdiri dan berjalan.

Mungkin,,,

"Muka den Adit ini lho, putihnya beda. Terlihat pucat dan keringetan terus dari tadi." Bi asih mencoba meletakkan punggung tangannya di dahiku. Aku hanya bisa terkesiap kaget dan reflek sedikit beringsut mundur.

"Jakarta kan panas Bi, jadi dari tadi Adit berkeringat." Aku menarik tangannya lembut dari dahiku.

"Nggak demam si ini, tapi dingin banget muka sama tangan den Adit. Apa nggak ada yang dirasa sakit toh den? Biasanya kalo sampai keringetan tapi badan dingin gini ada yang ditahan rasa sakitnya." Aku tersenyum menanggapi ucapan bi Inah yang terdengar begitu polos di telingaku.

"Nggak bi, Adit baik-baik aja kok bi." Kembali aku berusaha menenangkan kekhawatiran wanita paruh baya disampingku ini.

"Nanti kalau ada yang dirasa sakit badannya, kasih tahu bibi ya den." Aku mengangguk menanggapinya.

Aku beruntung mempunyai orang-orang yang sangat peduli di sekelilingku.

Kami sampai di depan ruang operasi bersamaan dengan seorang dokter yang keluar dari pintu ruang operasi tersebut.

"Keluarga pasien atas nama Ivan?" Kami mengangguk dan mendekat menemui dokter tersebut.

"Operasi sudah berjalan lancar, Alhamdulillah. Hasil observasi juga baik. Pagi nanti pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat inap dan pasien belum boleh makan atau minum apapun. Obat anastesi masih bereaksi, jadi pasien mungkin tidak akan merasakan sakitnya tolong usahakan pasien tidak membuat gerakan terlalu cepat dan tiba-tiba karena luka jahitan operasi masih basah." Kami mendengarkan dengan seksama yang disampaikan dokter, dan selanjutnya kami mengikuti brankar pasien yang mengangkut kak Ivan diatasnya menuju ruang rawat inap di lantai tiga rumah sakit ini.

"Sakit nggak kak?" Aku bertanya penasaran saat kak Ivan sudah terbaring santai di ruang rawat inap nya. Tangan kanannya masih belum bisa bergerak bebas karena infus yang menancap di pergelangan nya.

"Nggak ada rasanya Dit, kan tadi di anastesi. Kamu sendiri apa kabar? Makin pucet aja."

"Aman kak." Aku meninggalkan keduanya menuju sofa kecil yang ada di ruangan ini. Ruang rawat inap kelas satu disini lumayan nyaman untuk kami. Ada sofa untuk anggota keluarga dan tv LED cukup besar juga ada didalamnya. Point' plus yang lain, ada toilet pribadi juga disini.

"Aku tidur dulu ya." Kulihat bi asih dan kak Ivan membahas sesuatu yang sepertinya cukup serius. Aku berusaha mengabaikannya. Aku sangat mengantuk, aku akan tidur sebentar disini sebelum nanti bersiap pulang dan berangkat sekolah.

1
salma
jadi nostalgia ke masa perpisahan SMA dlu. lagu nya sama
halwa diyah: 🤭 memang lagu itu yang paling cocok buat moment nya kak
total 1 replies
salma
Suka ceritanya ngalir. alurnya santai tapi bikin penasaran kelanjutan nya
halwa diyah
siaap...
semangatt juga kak 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!