NovelToon NovelToon
Benteng Ke-8

Benteng Ke-8

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Satu bulan kemudian di Draven.

Jejak roda gerobak membekas di tanah basah, saling bertumpuk dengan jejak gerobak yang datang di belakangnya.

“kami membawa logistik dari ibu kota,” ucap seorang pemimpin rombongan terhadap prajurit penjaga benteng Draven.

Prajurit itu mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada rekan-rekannya untuk memeriksa isi setiap gerobak. Sementara itu, ia sendiri mengurus dokumen serah terima. Setelah dicek dan dicocokkan dengan data yang terlampir, dahi sang prajurit mengerut.

Tidak ada selisih antara daftar logistik dan barang yang dibawa. Tapi ada hal yang membuatnya sedikit keheranan.

“kenapa hanya segini?” tanyanya kepada pemimpin rombongan itu.

“tidak tahu, kami hanya ditugaskan untuk mengantarnya saja.”

Setelah menyelesaikan proses serah terima, rombongan itu segera meninggalkan Draven. Di belakang mereka, para prajurit mulai saling bertukar pandang.

“bawa semuanya masuk!” perintahnya kepada rekannya. Tanpa membuang waktu, ia sendiri bergegas menemui Sang Komandan.

Kaelen melihat data logistik yang baru saja diterimanya. Di antara berkas itu terdapat sepucuk surat bersegel lambang kerajaan. Ia pun membuka segelnya dan membaca isi suratnya.

"Empat belas ton gandum, satu ton daging... pakaian bahkan tidak sampai seratus set," gumamnya lirih.

Ia meletakkan surat dan dokumen itu di atas meja, lalu menghembuskan napas panjang.

"Musim dingin sudah di depan mata. Kalau hanya mengandalkan kiriman dari ibu kota seperti ini, kita semua bisa mati kelaparan."

Sang penasihat hanya terdiam. Tatapannya perlahan beralih kepada Lysander yang sedang menyeruput teh dengan tenang di samping Kaelen.

Setelah meletakkan cangkirnya, Lysander akhirnya bertanya,

"Apa isi surat dari istana?"

"Kas negara sedang menipis. Semua wilayah diperintahkan melakukan penghematan, sehingga jatah logistik setiap benteng dikurangi."

Ruangan kembali sunyi.

Lysander mengetukkan ujung jarinya pelan ke meja beberapa kali, seolah sedang menyusun kemungkinan demi kemungkinan.

"Panggil Gavin."

Prajurit yang selalu berada di sisi Lysander itu segera masuk ke dalam tenda.

"Pergilah ke benteng-benteng kecil di sekitar Draven. Cari tahu apakah mereka juga menerima pengurangan logistik seperti kita."

"Baik, Tuan Muda."

Setelah Gavin pergi, Lysander mengalihkan tatapannya ke arah Kaelen.

“berapa sisa persediaan di lumbung?” tanyanya.

“hanya cukup untuk kurang dari satu minggu.”

“oh iya, benar juga.”

Kaelen tiba-tiba teringat pada kemampuan sihir Zephyr. Ia segera meminta seorang prajurit memanggil pemuda itu ke tenda komandan.

Tidak lama kemudian, Zephyr masuk ke dalam tenda komandan menghadap Kaelen. Penampilannya meskipun sama seperti sebelumnya, namun terlihat berbeda karena kini ia mengenakan jubah berwarna hitam, bukan ungu lagi. Dan di bagian dada ada lambang benteng Draven berukuran kecil. Begitu juga di bagian belakangnya, ada lambang Draven namun ukurannya lebih besar dibandingkan dengan yang tersulam di dadanya.

“tidak ada hal seperti itu, kita tidak bisa memakai energi sihir untuk mengawetkan benda mati,” jawab Zephyr setelah mendengar pertanyaan dari Kaelen.

“tapi…”

semua orang menatap Zephyr.

“aku tahu orang yang mungkin berguna.”

“siapa?”

Tidak jauh dari sana...

Di tempat latihan, Xavier sedang berdiri dengan posisi kuda-kuda dan tangan lurus ke depan. Sudah hampir satu jam ia mempertahankan posisi itu. Keringat menetes meskipun suhu di sekitar cukup dingin. Kakinya bergetar dan giginya bergemeletuk.

“tuan Xavier, anda dipanggil menghadap komandan.”

Xavier langsung ambruk ke tanah sambil mengembuskan napas panjang. Rasanya seperti baru saja diselamatkan oleh malaikat dari hukuman yang tidak berkesudahan.

“sampai di sini dulu, lanjut besok lagi.”

“siap!”

Beberapa saat kemudian, Xavier sudah berada di dalam tenda komandan. Suasana di dalam terasa begitu serius. Ia sampai menelan ludahnya karena terlalu gugup.

Kaelen mencoba menjelaskan situasinya dengan sesederhana mungkin. Begitu mendengar penjelasan Kaelen, otak Xavier langsung bekerja memikirkan berbagai cara untuk mengatasi masalah itu.

“kalau tujuannya untuk memperpanjang daya simpan, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah jangan menggiling gandumnya dulu. Aku sempat lihat tadi gandum yang datang masih berupa biji.”

“benar, biasanya langsung digiling agar lebih praktis.”

Xavier segera keluar dari tenda, diikuti Kaelen, Lysander, Zephyr, dan Alaric menuju tempat gerobak logistik yang baru tiba. Xavier memeriksa setiap karung yang ada lalu menghela nafas pelan. Jumlahnya terlalu sedikit untuk bertahan hingga kiriman selanjutnya. Belum lagi di musim dingin biasanya pengiriman lebih lambat dan mengakibatkan kerusakan bahan makanan selama di jalan.

Ia membuka salah satu karung gandum, mengambil segenggam isinya, lalu mengamatinya dengan saksama. Sesuai dugaannya, butiran gandum itu masih menyimpan cukup banyak kelembapan.

“Perjalanan dari ibu kota terlalu jauh. Selama di perjalanan, karung-karung ini pasti beberapa kali terkena hujan dan embun.”

Kemudian ia menyarankan untuk menjemurnya hingga cukup kering. Lalu ia beralih mengecek daging sapi yang sudah tidak terlalu segar itu.

“Daging yang masih layak segera buat menjadi daging asap. Masa simpannya jauh lebih lama. Kalau menunggu sampai besok, mungkin dagingnya sudah benar-benar busuk.”

Biasanya, bahan seperti daging dan sayuran segar menjadi prioritas utama untuk dimasak karena mudah busuk. Kini mereka melihat cara yang berbeda untuk menyimpan bahan tersebut lebih lama.

“Lalu nanti jangan letakkan karung langsung di lantai. Buat rak kayu setinggi sekitar dua puluh sentimeter. Lantai menyimpan kelembapan. Kalau bagian bawah karung basah, seluruh isinya bisa rusak."

Kaelen langsung memerintahkan para prajurit mengikuti semua saran yang diberikan Xavier.

“tapi, ini semua hanya untuk menambah masa simpannya saja, tidak bisa menutup kekurangan bahan makanannya,” ucap Xavier sambil menatap ke arah Kaelen.

Kaelen tahu itu, ia justru menjadi orang yang paling mengetahuinya sejak awal.

“aku ada beberapa cara, tapi membutuhkan kerjasama semua orang.”

Ucapan Xavier berhasil membuat semua orang menoleh dengan antusias sekaligus penasaran ke arahnya.

“apa itu?”

“Saat kami datang ke Draven, aku melihat bukit di belakang desa. Seharusnya masih ada umbi-umbian liar yang bisa dipanen sebelum salju turun."

Kaelen menatap sang penasihat lalu ia menyetujui usul Xavier. Kaelen mengumpulkan prajurit yang sedang tidak bertugas, lalu membaginya menjadi dua tim. Satu tim mencari tanaman yang bisa dimakan, sementara tim lainnya berburu.

Xavier pun ikut ke bukit bersama dengan mereka. Untung saja bukit ini cukup subur. Mereka bisa menemukan banyak bahan makanan yang sudah siap dipetik. Ditambah Xavier juga menemukan cukup banyak tanaman obat.

Setelah kembali dari bukit, Xavier sendiri yang mengurus penyimpanannya agar bisa bertahan lebih lama. Dibantu oleh beberapa prajurit akhirnya bahan pangan untuk sementara cukup aman. Lalu Xavier melihat beberapa ekor ayam yang juga dikirim dari ibukota.

“ini ayamnya bisa kita kembang biakkan saja kan?” tanyanya pada Kaelen.

“di sini tidak ada yang bisa berternak,”

“di barak memang tidak ada.” Ucap Xavier.

“tapi di desa pasti ada warga yang bisa beternak kan?” lanjutnya.

Lysander sejak tadi terus mengamati cara Xavier bekerja. Kemudian ia maju selangkah.

“Kalau kamu mau memanfaatkan sisa warga desa, itu artinya setidaknya kita harus memberi makan mereka kan?” tanya Lysander, ia cukup penasaran dengan jawaban seperti apa yang akan diberikannya.

“Memberi mereka makan sekarang untuk menghasilkan makanan yang lebih banyak di masa depan, bukankah itu justru lebih menguntungkan? Selain itu, sisa warga desa juga tidak perlu lagi hidup dalam kelaparan kan?” Jawabnya dengan penuh keyakinan dan diakhiri dengan sebuah senyuman lebar.

Lysander langsung tersenyum, senyum yang baru kali ini terlihat.

“Kita ikuti usulnya. Kumpulkan sisa warga desa dan berikan masing-masing beberapa ekor ayam jantan dan betina, beserta pangan serta kebutuhan awal untuk mengembangbiakkannya. Sisakan beberapa ekor untuk kebutuhan barak selama beberapa hari. Sedangkan daging sapi simpan terlebih dahulu. Kita konsumsi makanan segar yang masa simpannya paling pendek seperti sayuran,” perintah Lysander membuat Kaelen sedikit terkejut karena untuk pertama kalinya pemuda itu berbicara panjang lebar. Suaranya halus namun ada ketegasan yang tidak bisa dibantah di dalamnya.

“Set pakaian simpan dulu dan berikan ke perempuan, anak-anak, orang tua saat benar-benar dibutuhkan,” sambung Kaelen yang mencoba langsung sadar dari kekagumannya kepada cara Lysander memberi perintah.

“oh iya selimutnya berikan kepada yang sakit saja, disimpan di tempat pengobatan dulu saja.”

“baik komandan!”

Di tengah perundingan itu, seorang prajurit datang tergesa-gesa. Ia segera melaporkan bahwa sekelompok prajurit dari istana baru saja tiba.

“prajurit? tapi tidak ada pemberitahuan apapun.”

“mereka ditugaskan untuk membantu Draven.”

“saat perang saja tidak dikirimkan bantuan, sekarang pas lagi susah buat makan malah dikirimnya prajurit tambahan,” keluh Kaelen secara reflek yang berhasil mendapat satu pukulan di bahunya dari sang penasihat.

“Kaelen!”

“maaf, aku hanya terbawa emosi.”

Kaelen mengalihkan perhatiannya ke prajurit yang masih berlutut di hadapannya.

“bawa mereka ke tendaku,”

lalu ia beralih menatap ke arah Xavier, “Hari ini cukup sampai di sini. Untuk sementara, urusan logistik aku serahkan kepadamu. Kalau butuh apa-apa bisa datang kepadaku, atau ke….”

Kaelen melihat sekitarnya lalu matanya jatuh pada Lysander, “atau ke Lysander juga bisa, dia pasti akan membantumu.”

Setelah itu, ia pergi kembali ke tendanya untuk menemui pasukan bantuan dari ibukota.

1
Tosari Agung
evren lu Galang kekuatan terus si kaisar anjing itu lu kudeta dan ajarkan ke dia gimana caranya membunuh orang sebelum sampai ke pengasingan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!