NovelToon NovelToon
Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Aturan Yang Tak Boleh Dilanggar

Pagi itu, udara sejuk pegunungan menyelinap masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka. Nayara baru saja selesai merapikan tempat tidur saat terdengar ketukan tegas di pintu. Bima masuk membawa nampan sarapan, namun wajahnya tampak lebih serius dari biasanya.

"Selamat pagi, Nona Nayara. Tuan Arya meminta Nona segera ke ruang makan setelah siap," ucapnya singkat, lalu menambahkan pelan, "Mohon berhati-hati hari ini. Ada urusan penting yang sedang berlangsung, dan Tuan Arya sedang tidak ingin diganggu atau melihat aturan dilanggar."

Nayara mengangguk paham. Ia memperbaiki pakaiannya, lalu berjalan menyusuri lorong menuju ruang makan yang luas. Di sana, Arya sudah duduk di ujung meja panjang, wajahnya datar namun aura mengintimidasinya terasa jauh lebih kuat dari biasanya. Di samping piringnya tergeletak selembar kertas yang tertutup rapat.

"Duduk," perintahnya singkat saat Nayara berdiri ragu di ambang pintu.

Saat gadis itu duduk, Arya mendorong selembar kertas berisi tulisan tangan rapi ke arahnya. "Baca. Dan hafalkan semuanya. Mulai hari ini, ini adalah aturan yang tak boleh kau langgar walau satu huruf pun."

Dengan tangan bergetar, Nayara mengambil kertas itu dan mulai membacanya perlahan:

Daftar Aturan:

1. Jangan pernah melangkah keluar batas rumah tanpa izin tertulis dariku.

2. Jangan pernah membuka pintu untuk siapa pun selain aku dan Bima.

3. Jangan menyentuh benda apa pun di ruang kerja, gudang, atau ruang rapat.

4. Jika mendengar suara tembakan atau keributan, segera kunci pintu kamar dan jangan berteriak.

5. Jangan pernah menyebut namaku sembarangan pada siapa pun, bahkan pada keluargamu lewat telepon.

6. Saat ada tamu datang, kau harus tetap di kamarmu sampai aku panggil.

7. Dan yang paling penting: jangan pernah mencoba mempermainkan perasaanku atau kepercayaanku.

Nayara menelan ludah. Matanya beralih dari kertas itu ke wajah Arya yang tak berkedip menatapnya. "Saya... saya mengerti semua aturan ini. Tapi kenapa poin terakhir ditulis begitu? Apakah Anda pikir saya akan..."

"Aku tidak memikirkan apa pun," potong Arya cepat, nadanya tajam. "Aku hanya memberitahumu konsekuensinya. Di dunia tempatku berdiri, kepercayaan adalah barang yang paling mahal sekaligus paling berbahaya. Jika kau melanggar salah satu aturan ini, aku tak akan ragu menjauhkanmu—entah dengan cara apa pun."

Kalimat itu seperti peringatan keras, namun di matanya Nayara menangkap kilatan ketakutan yang tersembunyi. Bukan takut dia melarikan diri, tapi takut dia menjadi alasan kelemahan yang bisa dimanfaatkan musuh.

Seharian itu, Nayara mencoba menuruti semua aturan itu dengan sebaik mungkin. Ia menghabiskan waktunya membaca buku yang tersedia di perpustakaan kecil di sudut ruangan tengah, menjauh dari area terlarang. Namun saat sore hari, takdir seolah menguji kesabarannya.

Saat sedang berjalan menuju taman belakang untuk menghirup udara segar, ia mendengar suara gaduh dari arah gerbang. Teriakan terdengar jelas, diikuti suara bentakan yang kasar. Rasa penasaran menguasainya. Melangkah pelan menyelinap di balik pilar besar, ia melihat sekelompok pria asing bertubuh besar sedang berdebat dengan pengawal Arya. Salah satu dari mereka mencoba mendesak masuk, menuntut pertemuan.

Nayara terlalu asyik memperhatikan hingga tak sadar ada seseorang yang berdiri tepat di belakangnya. Tangan besar mencengkeram lengannya dengan cukup kuat, menariknya mundur hingga tubuhnya menabrak bidang dada yang keras.

"Siapa yang mengizinkanmu berdiri di sini?" suara rendah Arya terdengar tepat di telinganya, penuh amarah yang tertahan.

Nayara menoleh terkejut. Wajah Arya memerah menahan emosi, matanya menyala marah. "Saya... saya hanya lewat, saya tidak bermaksud mengintip..."

"Kau melanggar aturan nomor dua dan nomor enam sekaligus," potong Arya tegas, menariknya menjauh dari arah gerbang. "Bukankah sudah kukatakan, jika ada tamu atau keributan, kau harus tetap di kamarmu? Kau pikir kau cukup kuat untuk melawan mereka jika mereka melihatmu?"

"Saya hanya khawatir..."

"Khawatir?" Arya berhenti, menatapnya tajam hingga Nayara terpaksa menunduk. "Khawatirmu hanya akan membuatmu ceroboh. Dan kecerobohanmu hari ini hampir saja membuatmu dilihat oleh musuh yang sudah lama mencariku. Jika mereka tahu kau ada di sini, kau akan menjadi sasaran empuk untuk memaksaku turun tangan."

Nayara terdiam, air mata mulai menetes. Ia sadar pria itu marah bukan karena ingin menghukumnya, tapi karena rasa takut yang mendalam.

"Maafkan saya..." suaranya pecah. "Saya tidak akan mengulanginya lagi."

Arya menatapnya lama, perlahan cengkeramannya di lengan gadis itu melembut, berubah menjadi sentuhan yang hampir seperti elusan. "Dengarkan aku baik-baik," ucapnya lebih pelan, namun tetap tegas. "Aturan ini kubuat bukan untuk mengekangmu. Tapi untuk menjagamu tetap bernapas. Setiap larangan yang kukatakan, ada bahaya nyata yang mengintai di baliknya. Tolong... hargai usahaku ini."

Kalimat terakhir itu terucap begitu pelan, seolah ia tak ingin ada orang lain yang mendengarnya. Nayara mengangguk mantap, menyeka air matanya. "Saya janji. Saya akan menuruti semuanya."

Arya menghela napas panjang, memalingkan wajah sejenak untuk menenangkan diri. "Masuklah ke kamar. Aku akan memeriksa siapa mereka. Dan ingat... pintu harus terkunci dari dalam."

Saat Nayara berjalan menjauh, Arya masih berdiri di tempatnya, menatap punggung gadis itu hingga menghilang di balik pintu. Ia meremas tangannya erat. Ada rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—takut jika sesuatu terjadi pada Nayara, ia tak akan sanggup memaafkan dirinya sendiri. Aturan itu memang dibuat untuk melindungi rahasianya, namun tanpa sadar, aturan itu kini lebih banyak dibuat untuk melindungi gadis yang perlahan mulai mengisi kekosongan hatinya.

 

(Total kata: ±1.290 kata)

Lanjut ke Bab 6: Kehidupan Baru Yang Menyesakkan? 😊Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Bab 5: Aturan Yang Tak Boleh Dilanggar

Pagi itu, udara sejuk pegunungan menyelinap masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka. Nayara baru saja selesai merapikan tempat tidur saat terdengar ketukan tegas di pintu. Bima masuk membawa nampan sarapan, namun wajahnya tampak lebih serius dari biasanya.

"Selamat pagi, Nona Nayara. Tuan Arya meminta Nona segera ke ruang makan setelah siap," ucapnya singkat, lalu menambahkan pelan, "Mohon berhati-hati hari ini. Ada urusan penting yang sedang berlangsung, dan Tuan Arya sedang tidak ingin diganggu atau melihat aturan dilanggar."

Nayara mengangguk paham. Ia memperbaiki pakaiannya, lalu berjalan menyusuri lorong menuju ruang makan yang luas. Di sana, Arya sudah duduk di ujung meja panjang, wajahnya datar namun aura mengintimidasinya terasa jauh lebih kuat dari biasanya. Di samping piringnya tergeletak selembar kertas yang tertutup rapat.

"Duduk," perintahnya singkat saat Nayara berdiri ragu di ambang pintu.

Saat gadis itu duduk, Arya mendorong selembar kertas berisi tulisan tangan rapi ke arahnya. "Baca. Dan hafalkan semuanya. Mulai hari ini, ini adalah aturan yang tak boleh kau langgar walau satu huruf pun."

Dengan tangan bergetar, Nayara mengambil kertas itu dan mulai membacanya perlahan:

Daftar Aturan:

1. Jangan pernah melangkah keluar batas rumah tanpa izin tertulis dariku.

2. Jangan pernah membuka pintu untuk siapa pun selain aku dan Bima.

3. Jangan menyentuh benda apa pun di ruang kerja, gudang, atau ruang rapat.

4. Jika mendengar suara tembakan atau keributan, segera kunci pintu kamar dan jangan berteriak.

5. Jangan pernah menyebut namaku sembarangan pada siapa pun, bahkan pada keluargamu lewat telepon.

6. Saat ada tamu datang, kau harus tetap di kamarmu sampai aku panggil.

7. Dan yang paling penting: jangan pernah mencoba mempermainkan perasaanku atau kepercayaanku.

Nayara menelan ludah. Matanya beralih dari kertas itu ke wajah Arya yang tak berkedip menatapnya. "Saya... saya mengerti semua aturan ini. Tapi kenapa poin terakhir ditulis begitu? Apakah Anda pikir saya akan..."

"Aku tidak memikirkan apa pun," potong Arya cepat, nadanya tajam. "Aku hanya memberitahumu konsekuensinya. Di dunia tempatku berdiri, kepercayaan adalah barang yang paling mahal sekaligus paling berbahaya. Jika kau melanggar salah satu aturan ini, aku tak akan ragu menjauhkanmu—entah dengan cara apa pun."

Kalimat itu seperti peringatan keras, namun di matanya Nayara menangkap kilatan ketakutan yang tersembunyi. Bukan takut dia melarikan diri, tapi takut dia menjadi alasan kelemahan yang bisa dimanfaatkan musuh.

Seharian itu, Nayara mencoba menuruti semua aturan itu dengan sebaik mungkin. Ia menghabiskan waktunya membaca buku yang tersedia di perpustakaan kecil di sudut ruangan tengah, menjauh dari area terlarang. Namun saat sore hari, takdir seolah menguji kesabarannya.

Saat sedang berjalan menuju taman belakang untuk menghirup udara segar, ia mendengar suara gaduh dari arah gerbang. Teriakan terdengar jelas, diikuti suara bentakan yang kasar. Rasa penasaran menguasainya. Melangkah pelan menyelinap di balik pilar besar, ia melihat sekelompok pria asing bertubuh besar sedang berdebat dengan pengawal Arya. Salah satu dari mereka mencoba mendesak masuk, menuntut pertemuan.

Nayara terlalu asyik memperhatikan hingga tak sadar ada seseorang yang berdiri tepat di belakangnya. Tangan besar mencengkeram lengannya dengan cukup kuat, menariknya mundur hingga tubuhnya menabrak bidang dada yang keras.

"Siapa yang mengizinkanmu berdiri di sini?" suara rendah Arya terdengar tepat di telinganya, penuh amarah yang tertahan.

Nayara menoleh terkejut. Wajah Arya memerah menahan emosi, matanya menyala marah. "Saya... saya hanya lewat, saya tidak bermaksud mengintip..."

"Kau melanggar aturan nomor dua dan nomor enam sekaligus," potong Arya tegas, menariknya menjauh dari arah gerbang. "Bukankah sudah kukatakan, jika ada tamu atau keributan, kau harus tetap di kamarmu? Kau pikir kau cukup kuat untuk melawan mereka jika mereka melihatmu?"

"Saya hanya khawatir..."

"Khawatir?" Arya berhenti, menatapnya tajam hingga Nayara terpaksa menunduk. "Khawatirmu hanya akan membuatmu ceroboh. Dan kecerobohanmu hari ini hampir saja membuatmu dilihat oleh musuh yang sudah lama mencariku. Jika mereka tahu kau ada di sini, kau akan menjadi sasaran empuk untuk memaksaku turun tangan."

Nayara terdiam, air mata mulai menetes. Ia sadar pria itu marah bukan karena ingin menghukumnya, tapi karena rasa takut yang mendalam.

"Maafkan saya..." suaranya pecah. "Saya tidak akan mengulanginya lagi."

Arya menatapnya lama, perlahan cengkeramannya di lengan gadis itu melembut, berubah menjadi sentuhan yang hampir seperti elusan. "Dengarkan aku baik-baik," ucapnya lebih pelan, namun tetap tegas. "Aturan ini kubuat bukan untuk mengekangmu. Tapi untuk menjagamu tetap bernapas. Setiap larangan yang kukatakan, ada bahaya nyata yang mengintai di baliknya. Tolong... hargai usahaku ini."

Kalimat terakhir itu terucap begitu pelan, seolah ia tak ingin ada orang lain yang mendengarnya. Nayara mengangguk mantap, menyeka air matanya. "Saya janji. Saya akan menuruti semuanya."

Arya menghela napas panjang, memalingkan wajah sejenak untuk menenangkan diri. "Masuklah ke kamar. Aku akan memeriksa siapa mereka. Dan ingat... pintu harus terkunci dari dalam."

Saat Nayara berjalan menjauh, Arya masih berdiri di tempatnya, menatap punggung gadis itu hingga menghilang di balik pintu. Ia meremas tangannya erat. Ada rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—takut jika sesuatu terjadi pada Nayara, ia tak akan sanggup memaafkan dirinya sendiri. Aturan itu memang dibuat untuk melindungi rahasianya, namun tanpa sadar, aturan itu kini lebih banyak dibuat untuk melindungi gadis yang perlahan mulai mengisi kekosongan hatinya.

 Lanjut ke Bab 6: Kehidupan Baru Yang Menyesakkan? 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!