Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.
Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.
"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.
Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus. Berarti kita sepakat."
Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."
Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?
Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Yang terasa berbeda
Upacara bendera akhirnya berakhir. Suara komandan upacara memberikan aba-aba terakhir, disusul riuh para murid yang mulai membubarkan barisan. Suara langkah kaki saling bersahutan di lapangan sekolah. Siswa-siswi berjalan menuju kelasnya masing-masing.
Di antara keramaian itu, Tya melangkah perlahan bersama Megan dan Starla. Ketiganya berjalan berdampingan melewati koridor yang mengarah ke gedung kelas.
Starla sesekali mengomentari sesuatu yang terjadi saat upacara. Sementara Megan menanggapinya dengan gelengan kecil dan senyum tipis.
Beberapa meter di belakang mereka, Faris berjalan bersama ketiga temannya. Keempatnya berjalan santai di tengah kerumunan siswa yang masih memenuhi halaman sekolah.
Dhyo melirik sekilas ke arah tiga sosok di depan mereka. Tatapannya berhenti pada Tya yang berjalan di antara Megan dan Starla. Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat. Ia menyenggol lengan Faris pelan.
"Ris," panggil Dhyo.
"Hm," sahut Faris singkat.
Dhyo menahan senyumnya, "Lo galak amat sama istri sendiri."
Langkah Faris nyaris terhenti, ia langsung menoleh tajam. Dhyo justru terlihat semakin puas. Ia memang sengaja mengecilkan suaranya sejak tadi. Bagaimanapun juga, soal pernikahan Faris dan Tya masih menjadi rahasia.
"Lo nyolot, gila." Bisik Dhyo lagi. "Padahal dia gak ngapa-ngapain."
Faris mengalihkan pandangannya ke depan. "Gak nyolot."
Dhyo dan Lex langsung menatapnya bersamaan. Ekspresi mereka jelas tidak percaya. Lex bahkan ikut berkomentar pelan. "Barusan itu definisi nyolot, Babang Faris."
Andre mengangguk kecil, "Sangat setuju."
Faris mengernyit, "Gue cuma bilang jalan pakai mata."
"Nadanya kayak guru BK mau sidak rambut," sahut Lex cepat.
Dhyo menahan tawa, "Iya, terus lo kenapa malah kelihatan kesel sendiri?"
Faris tidak menjawab, kali ini ia benar-benar diam. Entah mengapa, kalimat itu membuat langkahnya sedikit melambat.
Tya memang tidak melakukan apa-apa, ia hanya diam. Dan anehnya, justru itu yang sejak tadi mengganggu pikiran Faris. Ia kemudian berdecak pelan, sementara ketiga temannya langsung saling bertukar pandang.
Dhyo, Lex, dan Andre kompak menyunggingkan senyum tipis. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di kepala Faris. Namun satu hal yang terlihat jelas, ketua tongkrongan mereka sedang kesal karena sesuatu yang bahkan ia sendiri tampaknya tidak mengerti.
Dhyo yang sedari tadi memasang senyum jahil tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya menangkap seorang siswi dari kelas lain yang sedang berjalan dengan temannya di sisi koridor.
Seketika, ekspresi Dhyo berubah menjadi sok keren. Ia merapikan rambutnya sekali, lalu menyenggol lengan Lex. "Bro, ada cewek."
Lex melirik sekilas, "Terus?"
Dhyo berdehem pelan, seolah sedang mempersiapkan sesuatu yang penting. Detik berikutnya, ia mengangkat satu tangan.
"Kiw-kiw, cewek!" Suara Dhyo cukup pelan, tapi cukup membuat gadis itu menoleh.
Gadis itu menghentikan langkahnya, begitu juga dengan seorang temannya. Pandangan mereka tertuju pada tiga cowok di depannya. Lalu terakhir berhenti pada Faris yang masih memasang wajah datar dan dingin, seperti orang yang baru kehilangan kesabaran.
Tanpa aba-aba, kedua gadis itu langsung berbalik arah dan berjalan cepat. Beberapa detik kemudian, keduanya langsung berlari.
Dhyo langsung membeku, Lex yang menyaksikan semuanya langsung tertawa. Andre bahkan memalingkan wajahnya ke samping, berusaha menahan tawa. Bahkan, bahunya sedikit bergetar.
Dhyo masih berdiri di tempatnya dengan satu tangan yang belum sepenuhnya turun. Ekspresinya terlihat tidak percaya. "Gila! Belum juga mulai udah langsung ditolak."
Faris yang sejak tadi diam akhirnya melirik sahabatnya itu sekilas. Lalu, ia memasukkan tangan ke saku celana. "Hebat."
Dhyo menyeringai penuh percaya diri, "Iya kan? Aura gue kuat."
"Bukan," Faris menggeleng tipis. "Lo nyapa orang, yang lari malah dua."
Dhyo langsung membelalak tidak terima, "Woi! Itu bukan salah gue!"
Andre akhirnya ikut tertawa, sementara Lex menepuk pundak Dhyo pelan. "Tuh cewek takut melihat aura badboy. Terutama noh," tunjuk Lex dengan dagunya, mengarah ke arah Faris.
Faris yang merasa dirinya yang dimaksud langsung menoleh datar. "Gue?"
Lex mengangguk mantap, sementara Dhyo mengangguk cepat. "Iya! Mereka liat muka lo, langsung kabur."
Hening beberapa saat. Faris kemudian menghela nafas panjang. Entah mengapa, setiap bersama tiga orang ini, ia selalu terseret ke dalam hal-hal yang tidak masuk akal.
Faris mengangkat satu tangan dan memijat pelipisnya pelan. Kadang ia benar-benar tidak percaya bisa berteman dengan mereka.
Dhyo yang melihat itu langsung terkekeh, "Ris, wajar sih." Ujarnya. "Soalnya muka lo intimidatif."
Lex mengangguk setuju. "Iya, lo diem aja udah kayak mau nagih hutang."
Andre menambahkan dengan wajah serius, "Kalau melotot, bonusnya tambah satu level."
Faris menjatuhkan tangannya dari pelipis. Ia menatap ketiganya satu per satu. "Gue heran," ujarnya. "Gimana ceritanya gue bisa temenan sama kalian?"
Lex tertawa, Andre menahan senyum, sementara Dhyo tampak tersinggung. "Woi, kita ini sahabat!"
Faris kembali memasukkan tangan ke saku celananya, "Enggak. Kalian beban hidup!"
Setelah mengatakan itu, Faris kembali melangkah. Dan seperti biasa, ketiga temannya berjalan mengikuti sambil terus mengeluh dan tertawa di belakangnya.
Tepat saat mereka tiba di persimpangan koridor, Faris menghentikan langkahnya. Ia melirik kelasnya yang hanya beberapa meter lagi. "Gue duluan," ujarnya singkat.
Tanpa menunggu jawaban, Faris langsung berbelok meninggalkan ketiga temannya.
"Woi, Faris!" Protes Dhyo dari belakang.
Namun Faris sama sekali tidak menanggapi. Ia terus berjalan menuju kelasnya. Begitu tiba di depan pintu, langkahnya sedikit melambat. Pandangannya tanpa sadar langsung tertuju ke dalam ruangan.
Tya sudah duduk di bangkunya. Gadis itu menghadap jendela, entah apa yang sedang dipikirkannya. Biasanya ia sudah berbincang dengan Starla dan Megan, namun kali ini tidak.
Faris mengeraskan rahangnya lagi. Sejak tadi, Tya yang diam seperti itu terus mengganggu pikirannya. Dan yang lebih mengganggu lagi, gadis itu tidak membalas perkataannya tadi.
Biasanya sekali Faris nyolot, Tya langsung membalas dua kali lipat, melotot, menyindir, atau minimal mengomel. Tapi tadi tidak ada, Tya malah pergi begitu saja.
Entah mengapa, hal itu membuat Faris kesal. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan, berdebat dengan Tya. Dan ketika Faris menyadari hal itu, justru membuatnya semakin kesal.
Saat pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang bahkan tidak ia mengerti, Faris kembali melangkah. Namun, ujung sepatunya tersandung bagian bawah pintu kelas.
Tubuhnya sedikit terhuyung ke depan, nyaris jatuh. Dengan refleks, ia segera menegakkan tubuhnya kembali dan berdiri seolah tidak terjadi apa-apa. Wajahnya tetap datar dan dingin, tidak ada perubahan ekspresi sedikit pun.
Namun di dalam hati, ia mengumpat. "Sial! Siapa sih yang taruh pintu di situ?!"
Untung saja tidak ada yang memperhatikan. Atau setidaknya, begitu yang ia pikir. Namun ternyata, Starla melihat kejadian itu.
"Barusan lo hampir nyium pintu?" Ucap Starla spontan.
Faris terdiam sejenak. Perlahan, ia menoleh ke arah Starla. Tatapannya begitu datar, namun justru itu pertanda bahwa ia sedang malu setengah mati. Ia kemudian mengangkat jari telunjuknya ke arah Starla.
"Diam lo!" Nada suaranya terdengar seperti ancaman.
Starla mengangkat bahu santai, lalu mengalihkan pandangannya ke arah buku di hadapannya. "Padahal gue cuma nanya."
Di saat yang sama, Tya yang menyadari itu langsung menoleh. Tatapannya berpindah dari Starla ke Faris. Dan Faris mendadak merasa tidak nyaman ditatap seperti itu.
"Apa lihat-lihat?!" Ujar Faris, jelas memancing tensi.
Tya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Faris beberapa saat, lalu mengalihkan pandangannya begitu saja tanpa sepatah kata pun.
Tya langsung membuka tasnya, mengambil sebuah buku, lalu meletakkannya di atas meja. Setelahnya, ia menunduk, membuka halaman pertama, seolah tidak ada apapun yang baru saja terjadi.
"Ck," Faris berdecak pelan. Lalu, ia berjalan menuju kursinya dan menjatuhkan tubuhnya sedikit lebih keras dari biasanya.
Tak lama kemudian, seorang guru wanita memasuki ruangan sambil membawa beberapa buku di tangannya. Seketika, suasana kelas yang tadinya dipenuhi dengan obrolan mulai tenang.
"Selamat pagi anak-anak."
"Selamat pagi, Bu," jawab murid-murid hampir serempak.
Gitu itu meletakkan buku-bukunya di atas meja, lalu memandang kelas dengan senyum hangat. Beliau merupakan wali kelas mereka yang kebetulan mengajar pada jam pelajaran pertama hari itu.
Setelah memastikan kelas cukup tenang, guru itu hendak membuka buku materinya. Namun pandangannya tiba-tiba berhenti pada bangku Tya. Raut wajahnya langsung melunak. "Tya," panggilan lembut.
"Ibu senang melihat kamu sudah kembali ke sekolah," ujar sang guru. "Kami semua sudah mendengar kabar tentang ibumu. Atas nama pribadi dan sekolah, ibu turut berdukacita."
Tya menundukkan pandangannya sesaat. Lalu kembali menatap sang guru dengan anggukan kecil. "Terima kasih, Bu." Ujarnya lirih.
Guru itu tersenyum hangat. "Tidak apa-apa kalau semuanya masih terasa berat. Jalani perlahan, ya. Jangan terlalu memaksakan diri."
Tya mengangguk kecil, "Iya Bu."
Sesaat, ruangan kelas terasa kembali dipenuhi keheningan. Beberapa teman sekelas menatap Tya dengan tatapan yang lebih lembut dari biasanya.
Guru itu tersenyum tipis, seolah memahami bahwa Tya tidak boleh terus larut dalam kesedihan. "Baik, kita mulai pelajaran hari ini, ya," ujarnya lembut sambil membuka buku di mejanya.
Beberapa murid segera mengambil buku dan alat tulis masing-masing. Suasana kelas perlahan kembali seperti biasa. Suara lembaran buku yang dibuka dan gesekan kursi terdengar di berbagai sudut ruangan.
Tya juga membuka bukunya perlahan. Pandangannya tertuju pada guru di depan kelas, tapi pikirannya masih tertuju pada hal lain.
Hari ini terasa berbeda. Padahal Tya kembali duduk di kelas yang sama. Namun ada sesuatu yang terasa berubah. Entah karena ada ruang kosong di dalam hatinya yang belum terisi sejak kepergian ibunya. Atau mungkin karena ia sedang menata kembali perasaannya yang sempat berantakan beberapa hari terakhir.
Tya akhirnya menghela nafas panjang, lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Ia tidak tahu berapa lama proses itu akan berlangsung.
Mungkin tidak secepat yang ia harapkan. Namun setidaknya, hari ini ia sudah mengambil satu langkah. Langkah untuk menjalani hidupnya seperti semula, meski dengan hati yang belum sepenuhnya pulih.
Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Bel istirahat berbunyi nyaring. Tya menutup bukunya perlahan, lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Ke kantin?" Tanya Megan sambil menoleh ke arah dua sahabatnya.
Tya mengangguk kecil, "Boleh."
"Yuk, gue juga udah lapar dari tadi," sahut Starla sambil bangkit dari kursinya.
Megan terkekeh pelan, "Lo tiap istirahat juga lapar."
"Karena perut gue konsisten," jawab Starla cepat.
Jawaban itu membuat Megan menggeleng kecil, sementara Tya hanya tersenyum samar. Lalu, ketiganya melangkah keluar kelas bersama.
Starla dan Megan mulai menceritakan banyak hal di sepanjang koridor, mulai dari tugas yang diberikan guru hingga kejadian-kejadian kecil di sekolah. Sementara Tya sesekali menanggapi dengan singkat.
Sementara itu, Faris baru saja memasukkan buku ke dalam laci mejanya. Seperti sudah menjadi kebiasaan, ia langsung keluar kelas dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana. Tujuannya sudah jelas, menghampiri teman-temannya.
Faris berjalan santai menyusuri koridor. Beberapa saat kemudian, langkahnya sedikit melambat. Pikirannya kembali tertuju pada Tya yang hari ini terasa berbeda. Bahkan saat ia memancing tensi beberapa saat lalu, Tya hanya menatapnya sebentar lalu mengabaikannya begitu saja.
Faris mengernyitkan dahi, "Aneh," gumamnya pelan.
Biasanya, Faris dan Tya selalu seperti Tom and Jerry. Sekali bertemu, pasti ada saja mereka perdebatkan. Bahkan hal-hal sepele pun bisa berubah menjadi adu mulut.
Faris menghela nafas pelan. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa gadis itu masih berada dalam masa berduka. Bahwa diamnya Tya bukan karena berubah, melainkan karena masih berusaha menata kembali hatinya yang sempat hancur.
Yang Faris tahu hanya satu hal, hari ini terasa sangat berbeda. Dan untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan, perbedaan itu terus mengusik pikirannya sejak pagi.
^^^Bersambung...^^^
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
jangan lupa mampir juga ya. ❤️