"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Bastian. Di depan pintu. Sekarang.
Dua detik pertama setelah suara Bastian bergema dari speaker intercom, Almeera dan Akram hanya berdiri mematung layaknya sepasang patung lilin di museum. Otak mereka sedang memproses skala bencana yang akan terjadi jika pintu itu dibuka.
"Sembunyi!" perintah Akram dengan suara desisan tertahan, memecah kelumpuhan mereka. Insting Ketua OSIS-nya langsung mengambil alih. "Bawa semua barang lo ke kamar! Kunci pintunya dari dalam!"
Almeera seketika tersadar. Kepanikannya meledak. Ia berlari serabutan bak kesetanan ke arah ruang tamu, menyambar tas ranselnya, lalu menunduk memungut sepatu kets kotornya yang tergeletak sembarangan di dekat rak sepatu.
"Mi gue gimana?!" pekik Almeera berbisik panik dari arah lorong, menunjuk mangkuk Indomie di meja pantry yang masih mengepul.
"Biar gue yang urus! Masuk!" usir Akram sambil mengibaskan tangannya, mengisyaratkan agar cewek itu segera menghilang dari pandangan.
Almeera melesat masuk ke dalam kamar tidur dan menutup pintu tanpa suara. Terdengar bunyi klik pelan tanda pintu dikunci dari dalam.
Akram menarik napas panjang, mengacak-acak rambutnya yang sudah setengah kering agar terlihat seperti orang yang baru bangun tidur, lalu melangkah santai menuju pintu utama. Ia membuka kenop pintu perlahan.
"Lama banget lo buka pintu! Ketiduran lo?" omel Bastian begitu pintu terbuka. Ia melangkah masuk tanpa diundang, mengapit map hijau di bawah lengannya.
"Gue lagi di kamar mandi, elah," dusta Akram dengan wajah datar tak berdosa. Ia menutup pintu, jantungnya masih berdetak lebih cepat dari biasanya meski ekspresinya sedingin es.
Bastian berjalan ke tengah ruang tamu, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru apartemen. Mulutnya membentuk huruf O. "Gila, mewah bener apartemen baru lo. Bokap lo emang nggak main-main kalau ngasih fasilitas. Sendirian aja nih lo? Kesepian dong?"
"Menurut lo gue sama siapa? Hantu?" Akram bersedekap, bersandar di dinding dekat lorong untuk secara halus menghalangi akses Bastian ke arah kamar tidur.
Namun, hidung Bastian yang tajam tiba-tiba mengendus udara. Cowok itu menoleh ke arah dapur bersih. Matanya berbinar melihat mangkuk di atas meja pantry.
"Wah! Bau Indomie goreng! Tumben banget lo makan makanan instan malam-malam, Kram? Katanya lo anti micin karena merusak fokus?" Bastian melangkah mendekati meja pantry, menarik kursi yang lima menit lalu diduduki Almeera.
Akram menelan ludah. "Lagi pengen aja. Stres gue baca proposal kepsek yang nggak kelar-kelar."
"Pas banget, gue belum makan malam dari sore gara-gara ngurusin ini berkas," Bastian menarik mangkuk Indomie itu mendekat ke arahnya. Ia mengangkat garpu yang tergeletak di dalam mangkuk—garpu yang sama yang baru saja dipakai bergantian oleh Almeera dan Akram. "Gue minta ya. Lo bikin lagi aja sana."
Mata Akram membelalak. Sisi rasionalnya menjerit. Itu bekas bibir Almeera, woi!
Dengan gerakan refleks bak ninja, Akram melangkah maju dan menahan pergelangan tangan Bastian sebelum cowok itu sempat memasukkan gulungan mi ke dalam mulutnya.
Bastian menatap Akram bingung. "Kenapa?"
"Jangan dimakan," cegah Akram cepat. Otaknya berputar mencari alasan. "Itu... udah basi."
"Basi gimana? Masih berasap gini!" protes Bastian.
"Udah gue ludahin," sahut Akram asal, wajahnya tetap sedatar papan tulis OSIS. "Gue lagi sariawan. Kalau lo mau ketularan virus sariawan stadium akhir gue, silakan makan."
Bastian langsung melepaskan garpu itu dengan ekspresi jijik yang luar biasa. Ia mendorong mangkuk itu menjauh. "Najis lo, Kram! Jorok banget sumpah. Ganteng-ganteng kelakuan kayak preman pasar."
Akram membuang napas lega tanpa kentara. Ia meraih map hijau dari tangan Bastian. "Udah, mana sini berkasnya? Biar gue tanda tangan sekarang, terus lo mending balik. Gue mau tidur."
"Diusir nih gue?" Bastian mendengus. "Bentar ngapa, numpang ke toilet dulu. Kebelet nih dari lobi bawah."
Bastian berbalik, bersiap melangkah menyusuri lorong menuju satu-satunya kamar mandi yang ia asumsikan ada di dalam kamar tidur utama.
"Bas! Stop!" Akram refleks merentangkan tangannya, memblokir jalan masuk lorong.
Bastian terperanjat mundur. "Buset. Kenapa lagi sih? Toilet lo ada penunggunya?"
"Kamar mandi luar ada, di sebelah kiri ruang tamu," Akram menunjuk pintu kayu kecil yang tersembunyi di balik partisi dekat TV. "Jangan masuk kamar gue. Berantakan. Lo tahu kan gue benci orang lain masuk ke area privasi gue?"
Bastian mengangkat kedua tangannya menyerah. "Iya, iya, Tuan Muda perfeksionis. Paham."
Bastian memutar arah menuju kamar mandi luar. Sementara Bastian di dalam, Akram segera menandatangani berkas revisian tersebut dengan cepat. Telinganya terus waspada mendengarkan suara air dari kamar mandi.
Lima menit kemudian, Bastian keluar. Ia mengambil map hijau yang sudah ditandatangani Akram. "Oke, beres. Besok pagi gue langsung kasih ke meja kepsek. Oh ya, besok pagi kumpul OSIS jam tujuh teng, ya. Jangan sampai telat mentang-mentang lo udah pindah."
"Hmm. Tiati lo pulangnya," balas Akram mengiringi Bastian ke pintu keluar.
Begitu pintu utama tertutup dan terkunci kembali, Akram menyandarkan punggungnya ke daun pintu. Ia memejamkan mata, membuang napas lega yang sedari tadi menyumbat paru-parunya.
"Udah aman?"
Sebuah suara bisikan membuat Akram membuka mata. Dari ujung lorong, pintu kamar terbuka sedikit. Kepala Almeera menyembul dari balik celah, matanya yang bulat mengintip waspada ke arah ruang tamu. Rambut cepolnya sudah sedikit berantakan.
Akram menahan senyumnya. Ia menegakkan tubuh, melangkah menghampiri kamar. "Udah. Bos gengnya udah balik."
Almeera membuka pintu lebih lebar, lalu merosot ke lantai sambil bersandar di kusen pintu. Tangannya memegangi dada. "Gila. Jantung gue beneran mau copot. Kalau si Bastian sampai ngecek kamar, gue udah siap-siap mukul kepalanya pakai botol skincare."
Akram ikut berjongkok di hadapan cewek itu. Jarak mereka kembali dekat. Ia menatap wajah Almeera yang pucat pasi bercampur kemerahan karena panik. Keringat dingin sebesar biji jagung membekas di pelipis gadis itu.
"Ternyata nyali lo kecil juga ya, Al," goda Akram, suaranya merendah menjadi bariton yang hangat. "Tadi siang berani banget numpahin kopi ke celana gue, giliran ada Bastian nyali lo ciut kayak kerupuk disiram kuah."
Almeera mendongak, memelototi Akram dengan tatapan kesalnya yang khas. Egonya kembali menyala. "Siapa bilang nyali gue ciut? Gue cuma... melakukan evakuasi taktis! Beda ya."
"Evakuasi taktis?" Akram terkekeh pelan. Ia mengangkat tangannya, dan tanpa ragu, ibu jarinya menyapu peluh di pelipis Almeera dengan gerakan yang sangat lembut. "Evakuasi taktis sampai keringatan sedingin ini?"
Sentuhan ibu jari Akram di kulitnya membuat napas Almeera terhenti seketika. Seluruh sistem sarafnya lumpuh. Matanya terkunci pada mata hitam legam Akram yang menatapnya dengan intensitas yang tak biasa. Di jarak sedekat ini, Almeera kembali menghirup aroma maskulin Akram yang menenangkan, menenggelamkan sisa-sisa kepanikannya tadi.
Waktu terasa berhenti selama beberapa detik yang mendebarkan.
Sadar bahwa dirinya mulai terbawa suasana, Almeera cepat-cepat menepis tangan Akram. Ia berdiri dengan kikuk, menghindari kontak mata. "G-gue mau cuci muka! Singkirin mi basi lo itu sekalian!"
Almeera masuk kembali ke kamar dan membanting pintu kamar mandi dengan keras, meninggalkan Akram yang masih berjongkok di lantai.
Akram melihat tangannya sendiri yang baru saja ditepis. Alih-alih marah, sebuah senyum simpul terukir di bibirnya. Ada kepuasan aneh yang menjalar di dadanya saat melihat Almeera salah tingkah.
Gawat, batin Akram. Kayaknya gue mulai nikmati neraka ini.
......................
Selasa Pagi.
Cahaya matahari pagi menembus celah gorden apartemen. Almeera menggeliat pelan, menyesuaikan matanya dengan silau cahaya. Hal pertama yang ia rasakan adalah ranjang yang terasa begitu luas.
Ia menoleh ke sebelah kanan. Kosong.
'Tembok Berlin' bantal dan guling masih berdiri kokoh di tengah kasur, tapi sosok menyebalkan itu sudah tidak ada. Almeera melirik jam beker di nakas. Jam 06.30 WIB.
Almeera bergegas bangun dan keluar kamar. Di atas meja makan pantry, terdapat segelas susu hangat yang ditutup dengan piring kecil, dan secarik sticky notes kuning tertempel di kulkas.
Gue berangkat duluan. Lo pesen ojol aja. Jangan sampai telat, gue bakal hukum lo kalau ketahuan guru piket. Susu di meja dihabisin, biar otak lo agak encer buat mikir alasan telat. — A.
Almeera mendengus sebal membaca pesan arogan itu, meski diam-diam sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia meminum susu itu dalam satu tegukan, lalu bergegas mandi.
Karena terburu-buru, Almeera asal menyambar sabun cair botolan di rak kamar mandi yang tidak ia sadari merupakan sabun mint-musk milik Akram, bukan sabun stroberi miliknya yang belum sempat ia keluarkan dari koper.
Tiga puluh menit kemudian, Almeera berlari-lari kecil menyusuri koridor sekolah menuju kelasnya. Ia selamat dari cegatan guru piket hanya dengan selisih dua menit.
"Al! Lo dari mana aja sih? Hampir aja gue mau wakilin lo jawab absen!" Sophia mencegatnya di ambang pintu kelas.
"Macet! Biasa, drama ojol nyasar," kilah Almeera sambil mengatur napasnya.
Sophia tiba-tiba mengernyitkan hidung. Ia mencondongkan tubuhnya, mengendus-endus di sekitar bahu Almeera seperti anak anjing pelacak.
"Phia, lo ngapain?!" Almeera mundur selangkah, menatap sahabatnya ngeri.
"Al..." Mata Sophia menyipit penuh selidik. "Lo ganti parfum ya pagi ini?"
"H-hah? Nggak. Kenapa?"
"Bohong," cibir Sophia. "Wangi lo beda banget hari ini. Bukan stroberi manis kayak biasanya. Ini tuh wanginya maskulin banget... wangi mint sama musk. Lo habis pelukan sama cowok ya pagi ini?"
Darah Almeera serasa disedot habis. Jantungnya kembali berpacu gila-gilaan. Ia baru sadar, sabun yang ia pakai tadi pagi adalah sabun milik suaminya.
"A-apaan sih! P-pelukan sama siapa?!" bantah Almeera tergagap. "Ini... ini pewangi baju baru nyokap gue! Iya, pewangi cuci baju yang antiapek! Makanya agak cowok wanginya!"
"Masa sih?" Sophia tampak belum puas. "Wanginya familier banget lho, Al. Kayak wanginya... Akram."
Tubuh Almeera menegang sempurna layaknya tersambar petir.
Tepat pada detik itu, dari ujung koridor, Akram berjalan santai bersama beberapa anggota OSIS. Matanya tanpa sengaja beradu pandang dengan Almeera yang terlihat sedang dipojokkan oleh Sophia.
Melihat wajah panik istrinya, insting Akram langsung bekerja. Cowok itu memperlambat langkahnya, bersiap melakukan intervensi atau memberikan alibi apa pun jika Sophia kembali mencurigai sesuatu.
Namun, sebelum Akram bisa mendekat, Heera yang berjalan di sampingnya tiba-tiba berhenti. Mantan pacarnya itu merogoh saku roknya dan mengeluarkan sebuah benda kecil.
"Kram," panggil Heera cukup keras hingga suaranya terdengar sampai ke tempat Almeera dan Sophia berdiri. "Gue lupa ngembaliin ini dari kemarin."
Akram menoleh. "Apa itu, Ra?"
Heera mengangkat tangannya. Di antara jari telunjuk dan ibu jarinya, bertengger sebuah ikat rambut beludru tebal berwarna hitam dengan bandul bintang kecil berwarna perak.
Mata Almeera membelalak ngeri. Itu kunciran rambut favoritnya yang hilang kemarin sore!
"Ini nemu di jok belakang motor sport lo pas kemarin kita ke ruang OSIS, Kram," ucap Heera dengan nada lembut namun tatapan matanya mengisyaratkan kecemburuan yang disembunyikan. "Punya siapa? Kayaknya selera cewek lo yang sekarang agak childish ya?"
Koridor mendadak hening. Sophia di sebelah Almeera menahan napas, menatap kunciran rambut itu, lalu secara perlahan... matanya beralih menatap ujung rambut Almeera yang hari ini dibiarkan tergerai tanpa kunciran bintang perak yang biasanya selalu menempel di sana.
Almeera memucat. Ia menatap Akram dengan sorot mata meminta tolong. Skandal ini berada di ujung tanduk, dan kali ini, Almeera benar-benar tidak tahu bagaimana cara mereka bisa lolos.