Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Terberkati
“Larilah, Sonja ... Ibu akan menyelamatkanmu, larilah.”
Sonja membuka matanya dengan lelah. Dia bangun dan termangu di atas ranjang. Kenapa di dalam mimpi itu ibunya terus menyuruh Sonja untuk lari? Dan ibunya juga selalu berkata akan menyelamatkannya. Menyelamatkan dari apa? Sonja sungguh tidak mengerti.
Sonja melakukan aktivitas seperti biasa, datang menuju kafe lebih awal dan disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Kadang dia merasa begitu bosan dan kesepian. Satu-satunya teman yang Sonja miliki hanyalah Arthur. Tidak ada yang berani mendekati Sonja karena keberadaan Arthur. Pria dingin itu akan mengintimidasi dengan tatapan membunuhnya kepada siapa saja yang mendekati Sonja. Andrian pernah mengatakan kalau tatapan Arthur ketika melihat Sonja seperti tatapan hewan buas kepada mangsanya. Sonja hanya tersenyum menanggapi celoteh Andrian waktu itu.
Tanpa Sonja sadari gerak-geriknya sedang diperhatikan oleh dua wanita yang sudah lama berdiri menatap Sonja dari luar kafe.
“Lea, jadi wanita cantik itu gadis terakhir yang akan kita bekuk?” tanya salah satu wanita yang mengenakan pakaian cukup ketat sehingga memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya. Rambut wanita itu berwarna pirang. Sedangkan wanita yang dipanggil Lea, hanya diam dengan tatapan yang terus tertuju pada Sonja.
Karena tidak ada jawaban wanita seksi itu menoleh pada temannya yang masih diam. Dia berdecak.“Percuma bicara padamu. Kau tunggulah di sini. Aku yang akan melumpuhkannya.” Tetapi sebelum dia sempat bergerak, Lea mencekal tangannya.
“Aku yang akan mengurus gadis itu. Kau pergilah dulu, bawa dua gadis lainnya kehadapan Pangeran Alex, aku akan menyusul,” jelas Lea dingin.
“Tidak! Kita harus tetap bersama Alea. Akan sangat berbahaya jika kita bergerak sendiri."
“Elle pergilah, jangan membuang waktu,” usir Lea. Elleanor hanya bisa membuang napas panjang.
“Baiklah. Lagi pula, aku tidak tahan lama-lama berada di sini. Aroma darah yang tersebar membuatku lapar, aku pergi dulu, semoga beruntung, Lea sayang.”
Percuma saja jika dia mencemaskan sahabatnya. Lagi pula, Alea cukup tangguh untuk bisa menghadapi para lawan, kecuali lawan yang dia hadapi adalah Pangeran kegelapan. Karena walaupun dia belum membebaskan kekuatan terkutuk itu, tetapi butuh sepuluh vampir sekuat Pangeran Alex untuk bisa menghadapinya.
Dengan gerakan secepat kilat Elleanor pergi meninggalkan Alea yang masih memandangi Sonja dengan tatapan yang sulit diartikan.
***
Sebuah bayangan hitam melesat membelah kegelapan malam. Kecepatannya begitu luar biasa hingga hanya menyisakan hembusan angin yang menggoyangkan dedaunan. Dalam hitungan detik, sosok itu telah tiba di jantung Hutan Ivy. Hutan yang dikenal sunyi, lembap, dan dipenuhi aura kelam. Malam itu langit diselimuti awan hitam. Cahaya bulan tak mampu menembus rimbunnya pepohonan tua, membuat seluruh kawasan tenggelam dalam gelap gulita.
Bayangan itu akhirnya berhenti di sebuah pohon raksasa yang menjulang tinggi. Di salah satu dahannya duduk seorang pria dengan tenang, bersandar seolah sedang menikmati kesunyian malam. Kedua matanya terpejam, sementara jubah hitam yang dikenakannya berkibar perlahan diterpa angin.
Begitu mendarat, sosok bernama Yuno segera berlutut dan menundukkan kepala dengan penuh hormat."Aku membawa kabar yang tidak terlalu bagus, Pangeran."
Kelopak mata pria itu terbuka perlahan. Sorot matanya yang tajam memecah kegelapan, memancarkan hawa dingin yang mampu membuat siapa pun bergidik. "Kabar apa yang kau bawa?" tanyanya datar, tanpa sedikit pun menunjukkan emosi.
Yuno menarik napas pelan sebelum melanjutkan laporannya."Pangeran Alex berhasil menangkap tiga gadis dari bangsa manusia. Menurut informasi yang kudapat, besar kemungkinan salah satu di antara mereka adalah gadis yang diberkati."
Sesaat suasana menjadi hening. Tak ada suara selain desir angin yang berembus pelan di antara pepohonan. Namun, alih-alih marah, sudut bibir sang pangeran justru terangkat membentuk seringai tipis."Begitukah?"
Dia bangkit dari duduknya dengan gerakan anggun. Tubuhnya melayang turun tanpa mengeluarkan suara sedikit pun hingga kedua kakinya menyentuh tanah."Itu bukan kabar buruk, Yuno." Senyumnya semakin lebar, menyimpan niat yang sulit ditebak."Justru itu kabar yang sangat baik."
Yuno mengangkat kepalanya perlahan, menatap sang tuan dengan bingung.
"Alex telah bersusah payah mencari gadis yang diberkati," pria itu terkekeh pelan. "Sayang sekali, hasil jerih payahnya akan menjadi milikku." Lanjutnya. "Ayo, Yuno. Kita akan mengunjungi adikku yang tampan itu."
Senyum licik menghiasi wajah sang pangeran. Dalam sekejap, tubuh mereka berubah menjadi bayangan hitam sebelum lenyap ditelan gelapnya Hutan Ivy, meninggalkan hembusan angin dingin yang membuat seluruh hutan seolah ikut bergetar.