Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.
Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.
Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.
Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal Curhat dan Salah Paham
Seorang laki-laki paruh baya sedang duduk di kursi kebanggaannya sambil fokus mengerjakan pekerjaannya. Namun, tidak lama kemudian, fokusnya langsung buyar saat tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangannya tanpa mengetuk lebih dulu.
“Loh, hai, Boy. Ngapain ke sini pagi-pagi?” sapa Arka saat mengetahui siapa yang baru saja masuk.
Alden masuk begitu saja dengan langkah sedikit loyo. Tanpa menjawab sapaan daddynya, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu.
“Bukannya belajar, malah keluyuran ke sini. Kenapa? Udah siap gantiin posisi Daddy? Daddy udah nggak sabar, nih, mau pensiun,” ucap Arka kepada anak bujangnya itu sambil meninggalkan meja kerjanya dan ikut duduk di sana.
Alden masih tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menatap kosong ke arah depan. Sikap diamnya itu membuat Arka mulai merasa heran.
“Kamu kenapa? Kok omongan Daddy nggak dijawab? Sakit gigi?” tanyanya.
Alden hanya menggelengkan kepala pelan. Sebenarnya, tadi ia sudah masuk ke kelas. Sayangnya, selama pelajaran berlangsung, ia sama sekali tidak bisa fokus sampai akhirnya meminta izin keluar dengan alasan ingin pergi ke UKS karena merasa badannya tidak enak.
Namun, setelah keluar dari kelas, bukannya pergi ke UKS, Alden malah berjalan menuju parkiran. Ia langsung menaiki motornya dan melajukannya menuju perusahaan milik daddynya.
“Ya, terus kenapa?” tanya Arka lagi, masih berusaha mencari tahu.
Alden yang semula bersandar di sofa perlahan menegakkan tubuhnya. Ekspresinya terlihat tegang sekaligus aneh, seakan ada sesuatu yang ingin ia katakan, tetapi masih tertahan di tenggorokannya. Melihat itu, Arka ikut menatapnya dengan wajah tidak kalah aneh.
“Kamu kenapa, sih? Lagi nahan berak, ya?” ujar Arka asal. Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Alden langsung berdecak kesal. “Bukan, Dad,” ucapnya lirih.
“Ya, terus kenapa, Ganteng? Hm?” tanya Daddy Arka dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
Mendengar nada suara daddynya, jujur saja, Alden langsung merinding. Rasanya aneh sekali mendengar Arka berbicara selembut itu kepadanya. Namun, di balik rasa geli tersebut, pikirannya kembali dipenuhi ucapan Naya tadi.
Entah kenapa, Alden yang biasanya tidak pernah peduli terhadap kritik orang lain justru terus memikirkan perkataan gadis itu. Ucapannya seperti langsung mengenai ego Alden. Apalagi, tatapan kecewa dan marah yang dilayangkan Naya kepadanya membuat pikirannya semakin kacau.
“Dad,” panggil Alden pelan.
“Hm, kenapa?”
“Apa benar Alden nggak becus jadi ketua OSIS?” tanyanya ragu.
Pertanyaan itu membuat Arka mengernyitkan kening. Ia menatap Alden beberapa saat, seolah sedang memastikan bahwa anaknya benar-benar serius menanyakan hal tersebut.
“Siapa yang ngomong kayak gitu sama kamu? Sini, Daddy robek mulutnya. Enak aja dia ngomong kayak gitu,” gerutu Arka dengan wajah tidak terima.
“Naya, Dad,” jawab Alden.
Mendengar nama itu, ekspresi Arka langsung berubah. Tadinya terlihat siap membela Alden mati-matian, kini ia malah menganggukkan kepala pelan seolah baru memahami sesuatu.
“Oh, kalau Naya, sih, mungkin benar katanya. Kamu apain dia sampai dia ngomong begitu? Ini pasti kamu yang salah menurut Daddy,” ucap Arka, malah berbalik membela Naya.
Alden langsung mendengus sebal. Ia sudah tahu seharusnya tidak menceritakan masalah ini kepada daddynya. Bukannya dibela, ia malah dianggap sebagai pihak yang bersalah.
“Memangnya kamu habis ngapain, sih? Cerita aja, siapa tahu Daddy bisa bantu,” lanjut Arka.
“Tadi Naya di-bully sama trio pembully di GIS. Jadi, dia marah besar. Akhirnya mereka bertengkar sampai pelakunya babak belur. Aku cuma menghentikan mereka berdua, tapi dia malah mikir kalau aku belain pembully itu,” jelas Alden.
Arka langsung membulatkan matanya, terlihat cukup terkejut sekaligus kagum setelah mendengar cerita anaknya. Bukannya mencemaskan keributan tersebut, ia justru tampak semakin tertarik dengan keberanian Naya.
“Widih, keren. Terus Nayanya nggak apa-apa, kan?” tanya Arka.
“Ya, nggak apa-apa. Cuma, ya, itu... pelakunya babak belur ketiga-tiganya,” jawab Alden.
“Nah, itu baru menantu Daddy. Harus pandai melawan,” ucap Arka dengan bangga.
Alden langsung menatap daddynya dengan tatapan sinis. Ia tidak mengerti kenapa Arka justru terlihat begitu bangga mendengar Naya menghajar tiga orang sekaligus.
“Dah, lah. Males ngomong sama Daddy,” ucap Alden sambil berdiri dari sofa. Ia berniat segera meninggalkan ruangan itu sebelum kepalanya semakin pusing.
“Itu doang ngambek. Sini, duduk dulu,” tahan Arka.
Dengan malas, Alden kembali menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia menyandarkan punggungnya sambil menunggu pertanyaan apalagi yang akan keluar dari mulut daddynya.
“Terus, gimana Nayanya? Masuk BK juga dia?” tanya Arka penasaran.
“Nggak. Dia pergi dari sana. Nggak tahu ke mana,” jawab Alden singkat.
“Harusnya kamu kejar, dong. Terus kamu peluk, kamu cium, kamu tenangin. Kamu ini gimana, sih? Nggak gentle jadi cowok,” cerocos Arka sambil menggelengkan kepala, seolah sangat kecewa dengan tindakan Alden.
Ia kemudian menepuk dadanya sendiri dengan gaya percaya diri. “Lihat, nih, Daddy. Udah ganteng, gentle, kaya, humoris, lucu lagi. Sampai Mommy kamu tergila-gila sama Daddy.”
Ucapan songong daddynya membuat kepala Alden semakin pusing. Bukannya memberikan solusi yang masuk akal, Arka malah kembali membanggakan dirinya sendiri dan berbicara nyeleneh ke mana-mana.
“Ngapain kayak gitu? Dia juga bukan siapa-siapa aku,” bantah Alden.
“Jodoh kamu itu,” jawab Arka santai, seolah masa depan Alden dan Naya sudah berada di tangannya.
“Terserah. Aku mau pergi dulu,” pamit Alden. Ia berdiri, lalu menyalami tangan daddynya sebelum berbalik menuju pintu.
“Ya, hati-hati, ya, anak bujangku yang paling ganteng!” teriak Arka dari dalam ruangan.
Alden tidak menjawab lagi. Ia hanya menggelengkan kepala sambil keluar dan menutup pintu ruangan itu. Niat awalnya datang untuk mencari solusi justru membuat pikirannya semakin penuh karena tingkah daddynya yang tidak pernah bisa serius.
Setelah keluar dari ruang kepala sekolah, Nara memilih untuk kembali masuk ke kelas. Lagi pula, tujuan utamanya datang ke sekolah pagi tadi memang untuk belajar. Eh, bukannya langsung masuk kelas, dia malah diganggu oleh antek-anteknya Sandra.
Sementara itu, keberadaan Sandra dan kedua sohibnya tidak perlu ditanyakan lagi. Setelah keluar dari UKS, ketiganya resmi mendapatkan skorsing selama lima belas hari dari pihak sekolah. Mendengar keputusan itu, Nara tentu saja merasa sangat lega.
“Untung cuma gue kasih skorsing. Coba gue ajukan DO, mana ada sekolah yang mau nerima kalian,” ucap Nara dalam hati dengan senyum tipis.
Setelah jam istirahat berakhir, Nara masuk ke kelasnya dengan gaya angkuh. Ia berjalan santai seolah kejadian besar yang baru saja dialaminya tadi bukanlah masalah berarti. Begitu sampai di dalam kelas, Rora dan Asha langsung menoleh ke arah pintu.
“NARAAAA! YA AMPUN!” teriak Rora dengan lebay.
“Lo nggak apa-apa, kan? Ada yang sakit nggak?” tanyanya dengan wajah penuh kekhawatiran. Matanya sibuk memperhatikan tubuh Nara dari atas sampai bawah, memastikan sahabatnya itu benar-benar tidak terluka.
“It’s okay, gue nggak apa-apa, kok. Thanks, ya,” jawab Nara dengan santai sambil berjalan menuju tempat duduknya.
“Beneran kamu nggak apa-apa? Kamu mau aku laporin ke Daddy aku nggak?” tanya Asha khawatir. Sejak melihat Nara dikeroyok tadi, rasa takutnya masih belum hilang sepenuhnya.
“Nggak usah. Gue udah selesaikan semuanya tadi di kantor kepala sekolah sama Papi gue, jadi aman,” jawab Nara sambil meletakkan tasnya di atas meja.
“Syukurlah. Aku ikut takut juga lihat kamu di-bully kayak tadi lagi,” ucap Asha dengan napas lega, walaupun wajahnya masih terlihat sedikit cemas.
“Stop, ya, Guys, kasihanin gue sekarang. Gue udah nggak sepenakut kayak dulu lagi, jadi calm aja kali,” jawab Nara. Ia tidak ingin kedua temannya terus menganggapnya sebagai gadis lemah yang hanya bisa diam saat disakiti.
“Tapi, kok lo bisa datang ke kelas? Bukannya lo pergi tadi?” tanya Rora penasaran. Ia ingat betul kalau setelah keributan tadi, Nara langsung pergi tanpa mengatakan apa pun.
“Iya, gue pergi tadi ke kantor Papi gue. Gue aduin semuanya ke Papi gue,” jawab Nara santai.
Mendengar penjelasan itu, Rora dan Asha langsung mengangguk paham. Tidak heran masalahnya bisa selesai secepat itu. Apalagi, papi Nara juga tidak mungkin tinggal diam setelah mengetahui anaknya kembali menjadi korban perundungan di sekolah.
Satu jam pelajaran berlalu. Entah kenapa, Nara tiba-tiba merasa kebelet pipis dan langsung meminta izin kepada guru untuk pergi ke toilet. Namun, saat sedang berjalan menuju ke sana, gadis itu malah berpapasan dengan Alden.
“Nara,” panggil Alden yang entah muncul dari mana.
“Duh, tunggu bentar, ya. Gue kebelet,” ucap Nara buru-buru. Tanpa menunggu jawaban dari Alden, ia langsung pergi begitu saja dan masuk ke toilet, membuat laki-laki itu membeku di tempat.
Beberapa saat kemudian, Nara akhirnya keluar dari toilet dan berjalan kembali menuju kelasnya. Namun sialnya, di tempat tadi Alden masih berdiri sambil menunggunya. Melihat itu, Nara langsung menaikkan sebelah alisnya.
“Lo ngapain masih di sini? Oh, lo nungguin gue, ya?” goda Nara dengan senyum jahil.
Alden sedikit berdeham untuk menutupi rasa gugupnya. “Iya, gue nungguin lo,” jawabnya jujur.
Mendengar jawaban itu, Nara langsung tercengang. Ia tidak menyangka Alden akan mengaku dengan begitu mudahnya. Biasanya laki-laki itu selalu gengsi dan banyak alasan.
“Ada apaan, sih?” tanyanya penasaran.
“Gue...” ucap Alden ragu. Entah kenapa, hanya untuk mengucapkan kata maaf saja rasanya begitu sulit keluar dari mulutnya.
“Kenapa? Lo kenapa? Lo sakit?” tanya Nara khawatir. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menempelkan tangannya ke dahi Alden untuk memeriksa suhu tubuh laki-laki itu.
“Nggak panas, kok,” ucap Nara setelah beberapa detik.
“Nggak ada yang bilang gue sakit,” jawab Alden cepat. Ia sedikit menjauhkan kepalanya karena mendadak salah tingkah saat tangan Nara menyentuh dahinya.
“Ya, terus kenapa?” tanya Nara lagi.
“Gue mau minta maaf sama lo buat kejadian tadi pagi,” ucap Alden akhirnya.
Mendengar itu, Nara langsung mengerti maksudnya. Ia teringat dengan ucapan kasarnya kepada Alden saat sedang emosi tadi.
“Oh, yang itu. Aelah, lo nggak usah masukin omongan gue ke dalam hati. Gue lagi emosi aja tadi. Sorry, ya,” ucap Nara santai.
Alden langsung menggelengkan kepalanya. “Gue nggak apa-apa, kok. Gue nggak peduli lo ngomong apa tadi. Tapi, satu hal yang harus lo tahu, gue nggak memihak siapa pun tadi, apalagi geng cabe-cabean itu,” jelasnya.
“Aman, gue percaya, kok. Hahaha!” jawab Nara sambil tertawa. Entah kenapa, setelah mendengar penjelasan Alden, perasaan kesalnya perlahan menghilang.
“Udah, lah. Gue ke kelas dulu, ya. Nanti kalau lama-lama di sini, jantung gue bisa pindah ke dengkul. Bye, Ganteng!” ucap Nara. Setelah melontarkan godaan itu, ia langsung berlari kecil untuk meninggalkan Alden yang kembali membeku.
Namun, belum sempat Nara berjalan jauh, tiba-tiba langkahnya dihalangi oleh Nathaniel. Kemunculan laki-laki itu membuat Nara langsung berhenti, sedangkan Alden yang masih berdiri di sana mengerutkan dahinya.
“Ngapain, sih, lo? Minggir, nggak?” ucap Nara galak.
“Uhuy, galak banget. Udah makin jago aja lo sekarang,” ucap Nathaniel sambil meledek.
“Bodo amat. Gue nggak ada urusan sama lo. Bye, Bitch,” balas Nara tajam. Ia langsung melewati Nathaniel dan pergi menuju kelas tanpa menoleh lagi.
Setelah Nara pergi, Alden langsung menghampiri Nathaniel yang kini hanya berdiri sendirian di sana. Tatapan Alden mendadak berubah dingin dan penuh peringatan.
“Nggak usah macam-macam lagi, Niel. Lo udah ditandai sama Daddy gue,” perintah Alden dengan nada datar, tetapi terdengar serius.
Mendengar ancaman itu, Nathaniel malah terkekeh santai. Ia sama sekali tidak terlihat takut ataupun terkejut.
“Santai aja kali, Bro. Hati gue tetap buat Asha, kok,” jawabnya santai.
Nathaniel lalu menepuk bahu Alden beberapa kali sebelum akhirnya pergi dari sana. Sementara itu, Alden hanya diam sambil menatap punggungnya dengan penuh tatapan dinginnya, baru dia pergi dari sana.