Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.
Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Langkah yang Salah
Angin sore membawa bau debu dan asap dari cerobong pabrik di ujung kota. Cahaya matahari yang mulai miring memanjangkan bayangan setiap bangunan dan pohon di sepanjang jalan.
Kael masih berdiri di dekat jendela, tangannya memegang buku catatan lambang yang dibuka Niko tadi. Jari-jarinya menelusuri gambar sayap hitam merah itu, lalu menutupnya perlahan. Suara halus kertas yang terlipat terdengar jelas di ruangan yang kembali hening.
“Elang Darah…” gumamnya pelan. “Sudah lama aku dengar nama itu, tapi tidak pernah menyangka mereka berani masuk ke wilayah kota ini secara terbuka.”
Bastian bersandar di tiang penyangga, tangannya menyilang di dada. “Mereka tidak bergerak sendiri tanpa alasan. Kalau sampai Roderick dan orang berjubah itu bekerja sama dengan mereka, berarti targetnya bukan cuma Pasar Lama atau beberapa jalanan biasa.”
Mikhael sedang memeriksa tali pengikat pintu belakang, memastikan setiap engsel dan pengait terpasang kuat. “Kalau benar mereka mengawasi kita, berarti setiap langkah kita sudah terlihat. Kita tidak bisa lagi keluar masuk seenaknya.”
Niko duduk kembali, menggarisbawahi satu titik di peta lusuhnya. “Mereka pasti menunggu kita bertindak. Semakin kita bergerak mencari jejak, semakin banyak celah yang mereka bisa gunakan untuk menyerang balik.”
Di sudut ruangan, Arda sudah duduk bersandar lagi. Tangannya sibuk memecahkan biji kacang, tapi matanya tidak lagi setengah terpejam seperti biasanya. Tatapannya tajam, menatap lantai seolah bisa melihat apa yang terjadi di luar tembok itu.
“Mereka mengirim pesan, mereka memperlihatkan lambang, mereka membuat kita tahu siapa mereka…” katanya pelan. “Tujuannya bukan cuma mengancam. Mereka ingin kita panik, ingin kita terburu-buru mengambil keputusan. Saat kita salah langkah, itu saatnya mereka memukul.”
Kael menoleh padanya. “Lalu apa yang harus kita lakukan? Diam saja dan biarkan mereka mengatur semuanya?”
Arda menggeleng pelan. “Bukan diam. Tapi jangan melangkah ke jalan yang sudah mereka siapkan. Kalau kita terus mengikuti jejak yang mereka tinggalkan, kita hanya berjalan menuju jebakan.”
Pembicaraan terhenti saat Lio kembali melangkah masuk. Napasnya sudah lebih teratur, tapi wajahnya masih tegang. Dia melirik ke arah pintu depan, lalu mendekat dengan suara rendah.
“Orang berkuda itu sudah pergi. Tapi di ujung jalan, aku melihat dua orang berdiri bersandar di tiang lampu. Mereka pura-pura menjual barang, tapi matanya tidak pernah lepas ke arah sini.”
“Pengawas,” kata Niko cepat. “Mereka mulai menempatkan mata-mata di sekitar markas.”
Bastian langsung melangkah ke arah pintu. “Kalau begitu, lebih baik kita singkirkan mereka sekarang juga. Tidak baik membiarkan mereka melihat semua gerak kita.”
“Tunggu,” potong Kael. “Kalau kita tangkap atau usir mereka sekarang, kita sudah memberi tahu bahwa kita sadar sedang diawasi. Mereka akan segera mengubah rencana dan menjadi lebih berhati-hati.”
“Lalu biarkan saja mereka mengawasi?” Bastian mengepalkan tangannya. “Itu rasanya seperti memberi mereka izin untuk masuk kapan saja.”
“Biarkan mereka melihat apa yang ingin kita tunjukkan,” jawab Kael tenang. “Mereka ingin tahu seberapa banyak kita tahu, seberapa kuat kita, seberapa cepat kita bertindak. Kita beri mereka gambaran yang tidak akurat.”
Mereka sepakat untuk tidak membuat gerakan mencolok. Sore itu berlalu dengan kegiatan biasa — Mikhael menyiapkan makan malam, Bastian berlatih di sudut yang tidak terlihat dari luar, Niko mencatat informasi baru, dan Kael tetap berdiri mengamati dari balik jendela.
Namun, malam itu semuanya berubah.
Jam sudah lewat tengah malam. Hanya cahaya remang dari bulan yang masuk lewat celah atap. Suara jangkrik terdengar riuh, tapi tiba-tiba terputus seketika. Keheningan yang datang bukan keheningan biasa — terasa kosong, menekan, seolah alam pun tahu ada bahaya yang mendekat.
Kael langsung terbangun dari posisi duduknya. Matanya terbuka lebar, telinganya menangkap suara gesekan kain yang sangat halus dari arah belakang pabrik.
Dia menyentuh lengan Bastian yang tidur di dekatnya, memberi isyarat tanpa suara. Dalam hitungan detik, semuanya sudah terjaga, tangan masing-masing memegang senjata yang tersedia.
Belum sempat mereka mengatur posisi, suara pecahan kayu meledak dari arah pintu belakang. Pintu itu terlempar masuk, diikuti oleh bayangan-bayangan yang bergerak cepat masuk ke dalam ruangan.
“Serang!” teriak satu suara dari kegelapan luar.
Obor-obor dinyalakan sekaligus, menerangi ruangan itu dengan cahaya yang menyilaukan. Lebih dari dua puluh orang masuk, membawa tongkat besi, parang pendek, dan pisau yang berkilau. Di depan mereka berdiri dua orang yang mengenakan lencana kain berwarna hitam merah — lambang Elang Darah.
Bastian melompat maju, menghantam serangan pertama yang datang. Suara benturan besi bergema memekakkan telinga. Mikhael melindungi sisi kiri, memutar tongkat kayunya dengan gerakan cepat menangkis setiap hantaman yang mengarah ke tubuhnya.
Niko bergerak lincah menghindari serangan, mencari celah untuk melumpuhkan tanpa melukai terlalu parah. Tapi kali ini, lawannya bukan anak buah Roderick yang sembarangan — mereka terlatih, bergerak teratur, dan tahu cara menekan setiap sisi pertahanan.
Kael berhadapan langsung dengan dua orang yang memimpin serangan itu. Setiap pukulan mereka terasa berat dan terarah, tidak ada gerakan yang sia-sia. Dia mundur selangkah, menghindari ujung parang yang melesat lewat tepat di depan wajahnya.
Mereka terjebak. Posisi mereka tersudut, ruang gerak terbatas, dan jumlah lawan jauh lebih banyak.
Di tengah kekacauan itu, seseorang melihat ke arah sudut ruangan tempat Arda biasa berbaring. Dia mengangkat obor lebih tinggi, menerangi tempat itu — tapi hanya ada selimut dan tumpukan karung kosong.
“Di mana dia?” teriak salah satu penyerang itu. “Cari orang yang dipanggil Arda! Tangkap dia hidup-hidup!”
Saat itulah, suara jatuh benda berat terdengar dari atap. Satu orang yang mencoba memanjat untuk memotong jalan keluar mereka terlempar jatuh ke lantai dengan suara yang keras.
Semua mata langsung menoleh ke atas. Di atas balok kayu yang rendah, berdiri sosok Arda. Dia masih memakai baju lusuhnya, tidak membawa senjata apa pun, bahkan masih ada sisa kulit kacang yang menempel di ujung bajunya. Tatapannya datar, tidak ada amarah, tidak ada ketakutan — hanya pandangan orang yang baru saja terganggu tidurnya.
Dia melompat turun dengan gerakan yang ringan, tidak menimbulkan debu atau bunyi keras. Kakinya menyentuh lantai, dan dia berdiri tepat di antara celah pertarungan.
“Kalian memilih waktu yang sangat buruk untuk mengganggu orang tidur,” katanya dengan suara rendah, tapi terdengar jelas di tengah suara benturan senjata.
Salah satu penyerang yang terdekat mengangkat tongkat besi dan menghantamkan ke arah bahunya tanpa ragu.
Arda tidak mundur. Dia hanya mengangkat satu tangan, menangkap batang besi itu tepat di tengah perjalanan, lalu menggenggamnya dengan kekuatan yang membuat logam itu berdecit.
Matanya sedikit menyipit, dan dia menatap orang itu dengan pandangan yang tiba-tiba terasa seperti membekukan darah.
“Sudah kubilang…” bisiknya. “…Jangan sampai kalian membuatku benar-benar bangun.”
Bersambung...