Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan Pagi Hari
Arvin menaikkan sebelah alisnya, tidak terima dituduh begitu saja. "Tante yang dari tadi meluk gue duluan. Harusnya gue yang bilang gitu."
Plak!
Karin memukul pelan lengan Arvin karena kesal. Arvin mengaduh pelan sambil tertawa renyah, suara tawanya terdengar seksi di tengah kegelapan dapur. Setelah memeriksa laci dapur, Karin menghela napas kecewa. "Eh, ternyata gak ada lilin. Habis."
"Ya udah, kita ke ruang tengah lagi aja, Tan," ajak Arvin.
"Tau gini tadi di minimarket beli lilin dulu," gerutu Karin sambil berjalan kembali ke ruang TV.
Karin mengeluarkan ponselnya sendiri, menyalakan senter, lalu menyimpannya dengan posisi berdiri di atas meja kayu agar cahayanya menyebar ke langit-langit ruangan.
"Arvin," panggil Karin kemudian.
"Iya, Tan?"
"Anterin ke WC yuk, kebelet banget nih."
Arvin hanya mengangguk patuh. Karena Karin tidak membawa ponselnya, otomatis mereka hanya mengandalkan senter dari ponsel Arvin.
Begitu tiba di depan kamar mandi, Karin menunjuk ke dalam. "Arvin, senternya arahin ke dalem aja. Kamu balik badan sana, jangan nengok-nengok ke belakang!"
"Iya, Tante. Gak bakalan nengok, kok," jawab Arvin santai.
Dengan patuh, Arvin berdiri tegak membelakangi pintu toilet yang sengaja dibuka agar cahaya senternya bisa masuk. Dia mendengarkan suara gemercik air dengan tenang tanpa ada niat sedikitpun untuk melanggar janji.
Setelah selesai, Karin melangkah keluar lalu kembali menggandeng telapak tangan Arvin dengan erat. "Udah, ayo balik."
Mereka berdua kembali ke ruang tengah, memilih untuk duduk berselonjor di atas karpet bulu yang tebal bersandarkan badan sofa. Karin memeluk bantal sofa, mencoba membuka obrolan untuk mengusir rasa canggung yang sempat tersisa.
"Kamu tuh... sekarang kelas berapa sih, Vin?" tanya Karin mendongak.
"Kelas 2 SMA, Tan," jawab Arvin singkat.
Karin terkekeh pelan. "Oh... Tante tuh emang sering gak ingat sama jenjang kelas ponakan Tante sendiri. Terus, Ujian Sekolah kapan?"
"Hari Senin besok," jawab Arvin lagi.
Mendengar itu, mata Karin langsung membulat. "Wah! Harusnya kamu ini rajin belajar di rumah, bukannya malah main terus seharian. Oh iya, orang tuamu gak marahin kamu? Seharian ini kamu gak pulang ke rumah, kan?"
Mendengar rentetan pertanyaan perhatian dari Karin, Arvin terdiam sesaat. Tatapannya beralih menatap pantulan cahaya senter di dinding. "Orang tua gue sibuk, Tan. Cuma ada di hari Minggu aja, itu pun kadang sebentar banget di rumah. Di rumah paling cuma numpang tidur doang."
Karin tertegun, rasa bersalah sedikit menyergapnya. "Oh... pantesan kamu sering banget nginep di rumahnya si Eja."
"Iya," lanjut Arvin dengan nada datar yang menyiratkan kesepian. "Meskipun orang tua Eja sering berantem di rumah, setidaknya mereka ada di sana. Rumahnya gak sepi."
Karin tersenyum tipis, matanya menatap Arvin dengan sorot keibuan yang lembut. "Oh... jadi kamu iri sama si Eja?" Karin menepuk bahu Arvin pelan. "Kalau kamu butuh temen atau tempat cerita, kamu boleh banget berkunjung ke rumah Tante. Kamu anak keberapa emang?"
"Gue anak tunggal, Tante," jawab Arvin.
"Oh, ya udah kalau gitu. Anggap aja Tante ini tantemu juga. Datang aja ke sini kalau mau main. Di sini gak bakal ada drama rumah tangga yang berisik kayak di rumah si Eja," ucap Karin tulus, mencoba memberikan kenyamanan untuk cowok remaja yang ternyata menyimpan kesepian di hatinya itu.
Arvin menoleh cepat, matanya berbinar. "Emangnya gapapa, Tan, kalau gue sering main ke sini?"
"Gapapa kalau weekend. Kalau weekday, kasihan kamunya, soalnya jarak dari sekolah ke rumah Tante kan lumayan jauh," jelas Karin logis.
Arvin menyunggingkan senyum tulus yang sangat jarang dia perlihatkan pada orang lain. "Makasih ya, Tante."
Mereka terus melanjutkan obrolan santai, mulai dari membahas kelakuan kocak Reza di sekolah hingga hobi menulis Karin. Namun, lama-kelamaan suara Karin terdengar makin mengecil. Rasa kantuk yang luar biasa akibat kelelahan seharian akhirnya mengalahkan wanita itu.
Karin terdiam, kepalanya perlahan terkulai lemas ke samping dan mendarat sempurna di atas bahu tegap Arvin. Perempuan itu telah tertidur pulas.
Jantung Arvin seketika berdebar hebat mendapati kedekatan yang tiba-tiba ini. Aroma vanilla dari rambut Karin kembali mereduksi inderanya.
"Tan..." panggil Arvin pelan, berniat membangunkan agar Karin tidak salah urat. "Tante, bangun dulu. Jangan tidur gini, nanti badannya pegal."
Bukannya bangun, Karin yang setengah sadar justru melenguh pelan. Dia menggeser posisi tubuhnya, merebahkan kepalanya dengan nyaman di atas pangkuan hangat Arvin, menjadikan paha cowok itu sebagai bantal tidurnya yang baru.
Arvin menahan napasnya sesaat, tubuhnya kaku. Namun melihat wajah damai Karin yang sedang terlelap di pangkuannya, perlahan tangannya bergerak pelan. Dengan sangat lembut, Arvin menyisipkan helai-helai rambut Karin yang menutupi wajah ke belakang daun telinganya, memastikan tidur wanita itu tidak terganggu.
Arvin terus menatap wajah tidur Karin di bawah temaram cahaya senter ponsel dalam keheningan malam yang diguyur hujan. Lambat laun, rasa kantuk yang berat ikut menyerang pertahanannya. Sambil menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa, Arvin perlahan memejamkan mata, ikut terlelap menyusul Karin ke alam mimpi.
Cahaya matahari pagi mulai mengintip melalui celah gorden ruang tengah, menerangi ruangan yang semalam dilanda kegelapan. Arvin terbangun lebih dulu karena bunyi burung di luar jendela. Namun, saat dia mencoba menggerakkan tubuhnya, dia merasakan sensasi berat di bagian pinggang dan pangkal pahanya.
Karin ternyata masih terlelap, dan entah bagaimana caranya, posisi tidur wanita itu sudah berubah total. Tangan Karin melingkar erat di pinggang Arvin, sementara kepalanya menyusup tepat di area sensitif Arvin.
Karin yang masih setengah sadar bergerak-gerak pelan, mencari posisi yang lebih nyaman. Pergerakan kepala Karin di pangkuannya membuat Arvin tersentak hebat, mendadak kaku tak berani bergerak. Wajah cowok itu seketika merona merah padam hingga ke telinga. Dia menutupi setengah wajahnya dengan satu tangan, mencoba mengatur napas yang mendadak kacau.
‘Gila, ini gila banget,’ batin Arvin, bingung harus bereaksi bagaimana.
Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, Arvin memberanikan diri memegang bahu Karin. "Tante... bangun," panggilnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Karin justru mengeluh pelan, malah mengerang nyaman dan semakin menekan wajahnya ke sana. Bahkan, napas hangat Karin yang teratur terasa menembus kain celananya, memberikan sensasi geli membuat jantung Arvin berdetak kencang seperti genderang perang.
Tidak kuat lagi dengan godaan pagi itu, Arvin menggoyangkan bahu Karin lebih kuat. "Tante! Bangun, Tante!"
Karin akhirnya mulai terusik. Dia menggeliat pelan, lalu mengubah posisinya menjadi terlentang di atas karpet. Sambil mengerang pelan, dia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas kepala, membuat kaos tidurnya tertarik ke atas dan mengekspos perutnya yang rata dan putih bersih di depan mata Arvin.
Arvin langsung membuang muka, menatap ke arah TV yang mati. "Tante... udah pagi," ucapnya lagi, berusaha terdengar setenang mungkin.
Karin mengerjapkan mata. Saat kesadarannya terkumpul dan dia menyadari posisinya, dia langsung duduk tegak dengan wajah yang tak kalah merah. "Ya ampun! Maaf, Arvin... Tante ketiduran ya semalam?"
"Gapapa, Tante," jawab Arvin singkat, buru-buru berdiri untuk merapikan celananya agar tidak terlihat jelas kalau dia sedang mengalami masalah pagi.
Karin melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah tujuh. "Aduh, udah jam segini. Kamu pasti laper. Sarapan dulu ya sebelum pulang, Tante masak dulu."
Karin bergegas menuju dapur. Arvin yang masih berusaha menenangkan debaran jantungnya hanya bisa mengekor dari belakang, berdiri bersandar di kusen pintu dapur sambil memperhatikan Karin yang mulai sibuk memecahkan telur ke atas wajan.
Melihat punggung Karin yang bergerak ritmis saat memasak, Arvin kembali terpesona. Sinar matahari pagi yang menyorot dari jendela dapur membuat siluet Karin terlihat begitu lembut dan keibuan, jauh berbeda dengan sosok Karin yang berani dan gila di curug kemarin.
"Kamu mau dibikinin apa? Telur mata sapi atau orak-arik atau apa?" tanya Karin tanpa menoleh, karena dia tahu Arvin sedang memperhatikannya.
"Apa aja deh, Tan. Asal tante yang buat," canda Arvin, yang langsung dihadiahi tawa renyah dari Karin.