NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Isekai
Popularitas:52.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

"Bujur buset!"

​Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.

​Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.

​"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.

​Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.

​Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.

​Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Dinda mengembuskan napas lega begitu kakinya kembali menginjak halaman rumah pohon. Dengan langkah cepat, gadis itu segera menaiki anak tangga kayu.

​"Mbok, aku mau ganti baju dulu, ya..." pamit Dinda setengah berseru, lalu bergegas masuk ke dalam bilik kamarnya yang sunyi.

​Di dalam kamar, Dinda mengeluarkan setelan baju ganti yang tadi diambilnya dari lemari misterius. Sebelum melepas pakaian, ia menengok ke kanan dan ke kiri sejenak. Setelah memastikan kondisi benar-benar aman dan tidak ada orang yang mengintip, Dinda dengan sigap melepas kain jarik basah serta kemben usang yang melekat di tubuhnya.

​Ia memakai pakaian dalam dengan cepat, disusul dengan setelan kebaya bludru berwarna biru lembut dan rok panjangnya. Selesai membenarkan kancing terakhir, Dinda mematut tubuhnya sembari berputar pelan.

​Kebaya biru itu melekat dengan sangat indah di tubuh sintalnya, mencetak siluet tubuh Dinda yang proporsional dengan sempurna. Kain bludrunya memberikan kesan mewah namun tetap bersahaja.

​"Nggak apa-apalah pakai ginian. Yang penting bagian dadaku tertutup rapi, bukan cuma pakai kemben sama kain jarit tipis kayak tadi. Hufft... walaupun jujur, bagian pinggangnya agak sedikit sesak," gumam Dinda pelan sembari mengelus perutnya.

​Sambil menenteng kain basah bekas mandinya, Dinda melangkah keluar kamar. Ia menuruni tangga kayu dengan sangat hati-hati, jemarinya mencengkeram erat pegangan kayu kokoh yang dipasang oleh Wira.

​Dinda berjalan pelan menuju amben bambu di dekat area jemuran yang terpapar sinar matahari. Saat tangannya sedang asyik membentangkan kain basah di atas tali jemuran, tiba-tiba terdengar suara obrolan dari arah jalan setapak hutan.

​Beberapa pemuda desa tampak berjalan beriringan. Sepertinya mereka baru saja kembali dari berburu atau memeriksa ladang, terlihat dari busur dan wadah anak panah yang menggantung di punggung mereka.

​Menyadari ada langkah kaki, Dinda spontan menoleh. Sesuai naluri ramahnya, ia melemparkan sebuah senyuman manis nan tulus, lengkap dengan anggukan kepala kecil untuk menyapa para pemuda tersebut.

​Langkah kaki rombongan pemuda itu seketika terkunci di tanah. Mereka melongo, terkejut setengah mati melihat sosok wanita asing berparas jelita yang mendadak ada di halaman rumah Mbok Ginem.

​"No! Tarmo! Siapa wanita cantik itu?" tanya Parman dengan mata enggan berkedip, menyenggol lengan temannya.

​"Tidak tahu, Man. Ayu tenan... kelihatan sangat anggun dan menggoda," jawab Tarmo sembari tanpa sadar meneguk ludahnya yang mendadak terasa kering.

​"Sudah, sudah! Ayo jalan lagi, jangan dipandangi terus. Barang kali gadis itu adalah calon istrinya Kakang Wira," ucap Darmanto, mencoba membuyarkan lamunan mesum teman-temannya sebelum Wira memergoki mereka.

​Mendengar nama Wira disebut, para pemuda itu langsung mengangguk cepat, bulu kuduk mereka agak merinding membayangkan amukan sang pemburu terbaik desa.

​"Iya, bisa jadi. Kakang Wira benar-benar pria beruntung kalau bisa mendapatkan wanita seelok itu," sahut Sujito pelan dengan nada iri yang terselubung.

​Sebagai balasan sopan, para pemuda itu membalas anggukan kepala Dinda dengan senyum sungkan, lalu bergegas melanjutkan langkah mereka masuk ke dalam desa.

​"Nduk!" panggil Mbok Ginem dari arah atas.

​"Iya, Mbok. Aku di luar, lagi menjemur baju basah ini," sahut Dinda setengah berteriak.

​Selesai menjemur, Dinda berbalik dan segera melangkah menaiki tangga kayu untuk kembali ke atas. Mbok Ginem rupanya sudah berdiri di teras, juga sudah berganti pakaian kering yang bersih. Namun, begitu matanya menangkap sosok Dinda, wanita tua itu langsung terbengong di tempat dengan mulut sedikit terbuka.

​"Walah, Nduk... Bajumu indah sekali. Sangat pas dan cocok melekat di tubuhmu. Terlihat sangat sopan, Nduk," puji Mbok Ginem tulus. Jemari keriputnya bergerak mengelus pundak kebaya bludru Dinda dengan rasa kagum yang membuncah.

​Dinda tersenyum manis, hatinya menghangat menerima pujian itu. "Terima kasih, Mbok."

​Merasakan angin siang yang berembus pelan dan hawa sejuk dari pepohonan, kelopak mata Dinda mendadak terasa berat. "Mbok, hari sudah siang. Apa boleh aku masuk ke dalam bilik untuk istirahat sebentar?" tanya Dinda meminta izin.

​"Oh, iya, Nduk. Masuklah dan istirahat. Si Mbok juga kebetulan hendak pergi sebentar ke rumah Ketua Kampung untuk mengurus beberapa keperluan," jawab Mbok Ginem ramah.

​Dinda mengangguk patuh. Padahal, ia ingat kalau sore nanti ia juga dijadwalkan pergi ke rumah Ketua Kampung bersama Wira untuk mengurus identitasnya. Namun, rasa lelah akibat perjalanan dimensi kemarin ditambah aktivitas fisik di sungai tadi benar-benar membuat seluruh otot tubuhnya pegal dan menuntut untuk diistirahatkan.

​Dinda menatap punggung ringkih Mbok Ginem yang perlahan berjalan menuruni tangga dan menjauh dari pelataran. Setelah memastikan situasi sunyi, Dinda berbalik melangkah masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan tubuh sintalnya di atas ranjang kayu, dan dalam hitungan menit, Dinda sudah terlelap dengan sangat nyenyak.

1
Siti Naimah
cuma bisa membayangkan saja.. Dinda masuk di kehidupan jaman dulu kala..entah di jaman Majapahit atau apa.dimana rakyat pedesaan pada heran melihat minuman kopi teh sachet an.. minuman instan..juga makanan biscuit.. apalagi kompor gas🤭...tentu penduduk desa tersebut cuma bisa bengong.



😄😄😄😄
Tasyacysya: Izin Zaman dulu, Tapi bukan majapahit, semacam dunia lain..😄
total 1 replies
Siti Naimah
Gauri..sadar diri dong🤭
masak pengen merebut Wira dari Dinda...kan masih banyak cowok2 yg laen
Siti Naimah
gak habis pikir dengan apa yg lagi dialami oleh Dinda... betul2 sesuatu yg gak masuk akal🤭...tapi aku suka banget.. mestinya banyak hal aneh2 yg lain... ditunggu kelanjutannya 😄
Siti Naimah
semoga kakak author sehat selalu..
ditunggu karyanya🙏
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
istirahat saja kak... jangan terlalu memaksa diri
Siti Naimah
walah namanya minta sumbangan..dan ngantri gitu aja kok coba2 berniat genit sama Wira...ya tentu aja bikin Dinda jadi sewot 🤭
Siti Naimah
semangat berkarya 💪
Sri rahayu
lumayan jauh Thor 😁😁😁
Siti Naimah
ceritanya Dinda sama Wira bakal menjadi pedagang sembako nih👍
Siti Naimah
kasihan banget prajurit penjaga perbatasan sampai susah untuk mencari makanan.sampai singkong pun tidak dapat.semoga bisa segera mendapat makanan dari Dinda..gak kebayang jika lihat Indomie..tentu pada heran dan bingung.ada makanan aneh tapi enak banget 🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
belum terlalu jauh kok aman
Dewiendahsetiowati
lanjut Thor
Siti Naimah
semoga mpu Barata lekas sembuh..
dan bisa bekerja kembali
Siti Naimah
mpu Barata seperti nya mulai berangsur sembuh dan keadaannya membaik.makanya jadi lapar dan doyan makan
Siti Naimah
ini si lawe juga baru mengenal barang aneh dan asing.tisu basah...itu model barang jaman modern ya lawe..he..he😄
Siti Naimah
bisa membayangkan... betapa senangnya panji menjumpai makanan yang asing..tapi lezat banget🤭
Siti Naimah
Dinda punya jiwa sosial yang tinggi😍👍
Siti Naimah
biscuit merupakan makanan aneh dan mewah di tempat nya panji😄
Siti Naimah
wah membayangkan system nya Dinda kok gak bisa ya🤭jadi bingung sendiri.tapi ya sudahlah yang penting Dinda berhasil 💪
Siti Naimah
rasain lho Lilis..makanya jangan sombong.berusaha supaya bisa menerima hal2 baru dan mengakui kelebihan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!