NovelToon NovelToon
Janji Di Atas Kertas

Janji Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Neng Wendah

Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.

Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.

Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~ Perjanjian Di Ujung Krisis

Suara indikator detak jantung berbunyi konstan dan monoton di dalam ruang perawatan VIP Rumah Sakit Medika Utama. Aroma antiseptik yang tajam menyeruak di udara, mempertegas suasana dingin dan mencekam yang menyelimuti ruangan tersebut. Di atas ranjang rumah sakit, Bu Salma ibu kandung Aura,terbaring lemah dengan wajah pucat pasi serta selang oksigen yang terpasang di hidungnya.

Aura Zhafira duduk di samping ranjang, menggenggam erat jemari ibunya yang terasa begitu dingin. Tangannya yang lain meremas pinggiran rok panjangnya. Matanya sembap dan memerah, menahan rasa panas yang merambat di pelupuk mata tiap kali ia menatap dua lembar kertas di atas meja kecil di sebelahnya.

Lembar pertama adalah tagihan biaya perawatan rumah sakit dan operasi darurat ibunya yang terus membengkak. Lembar kedua, yang jauh lebih mengerikan, adalah surat peringatan penyitaan rumah dari pihak bank yang jatuh tempo tepat besok pagi.

Dua miliar rupiah.

Angka fantastis itu terus menari-nari di ingatan Aura, menjelma menjadi monster yang siap menelan kehidupannya bulat-bulat. Selama ini, publik mengenal Aura Zhafira sebagai pembawa berita utama di stasiun televisi swasta nasional,sosok wanita mandiri, cerdas, berhijab anggun, dan selalu tampak sempurna serta tenang di depan kamera *Prime Time*. Namun, di balik semua gemerlap layar kaca itu, Aura hanyalah seorang putri yang sedang terhimpit beban berat akibat utang piutang peninggalan almarhum ayahnya.

Hasil kerja kerasnya bertahun-tahun sebagai presenter berita telah habis dikuras untuk mencicil utang dan membayar pengobatan ibunya. Kini, ia sudah berada di titik nadir. Tidak ada lagi perhiasan yang bisa dijual, dan tidak ada lagi tabungan yang tersisa.

Brak!

Pintu kamar perawatan VIP itu tiba-tiba terdorong keras hingga menabrak dinding kayu di belakangnya. Suasana tenang di dalam kamar seketika hancur berkeping-keping.

Dua pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam dan wajah kasar melangkah masuk tanpa permisi. Tatapan mereka menyapu sekeliling ruangan sebelum akhirnya tertuju lurus pada Aura.

"Nona Aura Zhafira?" tanya salah satu pria yang memiliki tato kecil di lehernya dengan suara keras dan penuh intimidasi. "Kami utusan dari Pak Frans. Utang almarhum ayahmu sudah lewat tenggat waktu. Kalau tidak ada pembayaran tunai dua miliar malam ini juga, rumah di Jakarta Selatan resmi kami sita! Dan ingat, kami tidak segan membawa kasus ini ke media berita tempatmu bekerja!"

Aura berdikari dari kursinya. Tubuhnya gemetar hebat, namun ia berusaha berdiri membentengi ranjang ibunya yang terganggu oleh suara bising tersebut.

"Tolong pelankan suara kalian! Ibu saya sedang kritis di ruang perawatan!" bisik Aura panik campur marah, matanya berkaca-kaca. "Tolong beri saya waktu beberapa hari lagi... saya sedang mengusahakan dan mencari jalannya."

"Tidak ada waktu lagi, Nona! Kami sudah bosan mendengar alasanmu!" Pria bertato itu maju satu langkah secara agresif. Tangannya yang kasar melayang di udara, hendak mencengkeram lengan Aura secara paksa. "Jangan sok jual mahal hanya karena kamu artis berita TV!"

Aura memejamkan mata rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri dan bersiap menghadapi bentakan fisik yang akan menimpanya. Namun, detik-detik menegangkan itu mendadak terhenti. Sentuhan kasar yang ia bayangkan tidak pernah sampai.

"Lepaskan tanganmu sebelum saya buat jemarimu tidak bisa digerakkan lagi selamanya."

Sebuah suara berat, dingin, dan berwibawa memotong ketegangan udara di ruangan itu. Suara itu tidak diucapkan dengan nada berteriak, melainkan dengan ketenangan mematikan yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun merinding.

Di ambang pintu kamar, berdiri seorang pria jangkung dengan postur tubuh tegap. Ia mengenakan setelan jas hitam kustom tanpa cela yang membalut kemeja putihnya. Tatapan matanya yang tajam bak elang mengunci kedua penagih utang tersebut dengan penuh pendar ancaman.

Dua pengawal bertubuh tinggi besar yang berdiri di belakang pria itu dengan gerak cepat langsung maju. Tanpa kesulitan berarti, mereka memiting lengan kedua penagih utang, memutar tubuh mereka, dan mendorong mereka mundur hingga terhempas ke koridor luar kamar.

Napas Aura memburu. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari siapa sosok pria yang baru saja menyelamatkannya.

Reno Adhyastha.

Sang taipan muda berumur dua puluh sembilan tahun yang memimpin Adhyastha Corporation, sebuah konglomerasi raksasa di bidang properti, teknologi, sekaligus pemilik utama dari Rumah Sakit Medika Utama ini. Pria yang dikenal di dunia bisnis sebagai sosok yang dingin, berkuasa, penuh kalkulasi, dan sangat benci jika kehidupan pribadinya tersentuh oleh media.

Reno sama sekali tidak melirik ke arah dua penagih utang yang sedang diseret pergi oleh para pengawalnya di luar. Pandangan matanya yang kelam dan tak tersentuh emosi melangkah masuk, berhenti tepat tiga langkah di depan Aura.

"Ikut saya ke ruangan saya sekarang, Miss Zhafira. Ada hal penting yang perlu kita bicarakan," ujar Reno datar. Suaranya tidak menerima penolakan. Pria itu langsung berbalik pergi tanpa menunggu persetujuan dari Aura.

Aura menatap punggung tegap itu dengan napas menahan sesak. Ia melirik ibunya yang masih tertidur lelap di bawah pengaruh obat, lalu menyapu air matanya cepat-cepat sebelum menyusul langkah Reno.

Beberapa menit kemudian, Aura sudah berdiri di dalam ruang kerja direksi yang sangat luas di lantai paling atas gedung rumah sakit. Ruangan itu didominasi interior marmer dan kaca tebal yang memperlihatkan pemandangan malam kota Jakarta dari ketinggian.

Reno berdiri membelakangi ruangan, menatap pijar lampu-lampu kota di luar jendela kaca besar. Tanpa menengok, ia mengibaskan tangannya pelan. Asisten pribadinya yang berdiri di sudut ruangan segera meletakkan sebuah map tebal berwarna hitam di atas meja kaca di depan Aura.

Aura melangkah mendekati meja, membuka map tersebut dengan jemari yang masih sedikit gemetar. Matanya membelalak lebar saat membaca lembaran kertas di dalamnya.

"Apa maksudnya ini, Mr. Adhyastha?" suara Aura bergetar menahan gejolak di dadanya. "Mengapa Anda memiliki seluruh data utang piutang keluarga saya sampai sedetail ini? Bahkan laporan medis ibu saya..."

Reno memutar tubuhnya perlahan, menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja. Tangannya bersedekap di dada, menatap Aura dengan pandangan yang sulit dibaca.

"Asisten saya bekerja dengan sangat cepat dan efisien," jawab Reno tanpa beban. "Saya tahu kamu membutuhkan uang tunai dua miliar rupiah malam ini juga untuk melunasi utang almarhum ayahmu dan membatalkan penyitaan rumah. Saya juga tahu kamu butuh jaminan penuh atas seluruh biaya rumah sakit ibumu sampai dia pulih total."

Aura mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuh, meredam rasa tersinggung yang menyengat harga dirinya. "Dan apa hubungannya semua krisis keluarga saya dengan Anda? Anda mengintai saya?"

"Saya tidak punya waktu luang untuk mengintai orang," balas Reno dingin dan lugas. "Sederhana saja, Miss Zhafira. Kamu butuh uang dalam jumlah besar dengan cepat, dan saya butuh seorang istri."

Aura tersentak hebat, matanya membulat tak percaya. "Apa?"

"Saya dituntut oleh dewan komisaris dan Nenek saya untuk segera menikah sebelum akhir bulan ini jika ingin mengamankan posisi CEO utama dalam restrukturisasi perusahaan," terang Reno datar, seolah sedang mempresentasikan laporan keuangan tahunan. "Saya membutuhkan sosok wanita dengan image publik yang bersih, berpendidikan, tidak punya skandal, dan yang paling penting: tidak haus akan harta saya. Kamu memenuhi seluruh kriteria formal itu."

Reno melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Aura bisa mencium aroma parfum kayu cendana yang maskulin dari tubuh pria itu.

"Saya tidak bermaksud melecehkanmu, Miss Zhafira. Ini murni kesepakatan bisnis yang saling menguntungkan," lanjut Reno dengan tatapan mengintimidasi. "Saya akan melunasi seluruh utang dua miliar itu dan menanggung biaya rumah sakit ibumu detik ini juga. Sebagai imbalannya, kamu menjadi istri saya di atas kertas selama satu tahun. Tanpa hubungan suami-istri yang sesungguhnya, dan tanpa melibatkan perasaan."

Aura tertegun membisu. Kata-kata Reno bergema di dalam kepalanya. Rasa terkejut, marah, dan gengsinya bertarung hebat di dalam dada. Ia merasa seperti sebuah komoditas yang baru saja ditawar oleh pria kaya di hadapannya. Namun, ketika bayangan wajah ibunya yang pucat dan bentakan para penagih utang tadi kembali melintas, benteng pertahanannya runtuh.

Ia tidak punya pilihan lain.

"Kenapa harus saya?" tanya Aura dengan suara lirih yang tertahan di tenggorokan. "Banyak wanita sosialita dan model papan atas yang pasti bersedia antre untuk Anda."

"Karena kita sama-sama terdesak dan butuh solusi instan tanpa kerumitan," balas Reno cepat. "Lagipula, kamu bekerja di media berita. Kamu tahu betul konsekuensi hukum dan reputasi jika sampai membocorkan pernikahan rahasia ini ke publik. Kamu pilihan yang paling aman untuk saya."

Reno merapikan kancing jas hitamnya, memutus kontak mata mereka.

"Saya tidak meminta jawabanmu detik ini. Saya tunggu kamu di Restoran VIP Senopati pukul delapan malam ini untuk penandatanganan berkas resminya. Jika kamu datang, artinya kamu setuju dengan seluruh aturan main saya. Jika tidak, kamu bebas mencari jalan lain untuk menyelamatkan rumahmu besok pagi."

Tanpa memberikan kesempatan bagi Aura untuk merespons, Reno melangkah melewatinya dan keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Aura yang berdiri terpaku di tengah ruangan yang sunyi, menatap map hitam di tangannya dengan sejuta keraguan yang bergulat di dalam dada.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
Neng Wendah: Terima kasih banyak Kak Rian sudah mampir! Selamat menikmati kisahnya ya 😊🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!