Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Camping bersama keluarga
Pagi ini, halaman rumah keluarga Sabiru sudah dipenuhi beberapa tas besar berisi tenda,sleeping bag,kompor portable,kursi lipat.Serta berbagai macam makanan yang jumlahnya terlihat seperti mereka hendak pergi selama sebulan.
Kalandra berdiri di tengah halaman sambil memeriksa barang-barang yang sudah dimasukkan ke dalam mobil.
"Ini semua punya siapa?" tanya Ages.
Kalandra menoleh.
"Barang penting adek,pap."
Ages menunjuk salah satu tas. "Kenapa bawa tiga hoodie?"
"Gunung itu dingin,pap."
"Empat celana?" Tanya Ages lagi.
"Gunung dingin."
"Enam bungkus camilan?"
"Gunung jauh,pap."
Ages menatap putranya dengan tatapan datar. "Gunung loh dek,bukan hutan."
Kalandra mengangkat dagu. "Tapi di gunung gak ada supermarket,aku butuh makan."
Sean yang sedang memasukkan barang ke bagasi langsung tertawa. "Kura g tuh dek, bawa satu koper sekalian."
Kalandra menoleh sambil mendengus. "Kalau abang nggak ikut, sebenarnya barang kita lebih sedikit."
"Sayangnya aku ikut."
"Iya,Sayangnya."
"Inget! Lu yang ngajak ya dek."
"Aku ngajak papa kok."
Sean menunjuk Ages. "Dia om gue,dan gue kakak lo."
Kalandra mengangkat bahu. "terus penting?"
Sean menatapnya tidak percaya. "Kurang ajar,gue abang lo ya Kalandra Sabiru."
"Iya,gue gak lupa kok."
"Dasar adek lucknut."
Setelah semua barang selesai dimasukkan, mereka akhirnya berangkat.Ages duduk di kursi pengemudi dan Kalandra duduk di sampingnya.
Sementara Sean, Arsen, dan Tamara duduk di barisan belakang.
"Adek, jangan ganggu papa mu terus," ucap Tamara.
"Aku nggak ganggu kok tante mami."
"Kamu dari tadi sudah lima kali minta ganti lagu."
"Itu karena selera musik papa kolot.."
Ages melirik putranya. "Kalau tidak suka, kamu boleh turun."
"Enggak mau."
"Kenapa?"
"Gunungnya masih jauh,adek gak kuat kalau harus jalan."
"Naik taxi bisa."
"Taxi gak bisa sampe gunung,pap."
"Naik Ojeg aja."
"Naek motor ke gunung bisa bikin adek masuk angin,pap."
Sean tertawa dari belakang."Adu mulut sama tuh bocah kagak bakal menang Om,mending Om nurut aja."
Perjalanan menuju pegunungan dipenuhi suara tawa.
Kalandra terus mengganggu Ages.Mulai dari meminta berhenti membeli makanan,bertanya berapa lama lagi sampai tujuan, hingga mengeluh karena merasa bosan.
"Masih lama,pap?"
Ages menjawab tanpa menoleh. "Masih."
"Berapa lama lagi sih?"
"Satu jam."
"Lama banget,adek pegel nih."
"Baru lima belas menit yang lalu kamu tanya."
"Adek hanya memastikan."
"Memastikan apa?"
"Memastikan papa masih tahu jalan."
Ages menggelengkan kepala."Kalau bukan anak sendiri, udah gue turu in."
Kalandra tersenyum puas."Berarti karena anak sendiri jadi aku aman."
Arsen geleng kepala dibuatnya,semenjak mobil meninggalkan halaman rumah mulut Kala tidak pernah berhenti berbicara membuat suasana mobil terasa ramai.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, mereka akhirnya tiba di kawasan pegunungan.Udara dingin langsung menyambut mereka.
Kalandra turun dari mobil dan menarik napas dalam-dalam."Ah..."
Ages ikut turun. "Kenapa?"
"Enak banget udaranya."
"Di rumah juga ada udara."
"Udara rumah nggak ada rasa gunungnya."
Ages tersenyum sambil mengusap kepala sang anak. "Ya sudah. Nikmati lah."
Mereka memilih sebuah area camping yang cukup luas dan aman.Pemandangan di sekitar mereka sangat indah.Pepohonan tinggi berdiri mengelilingi area camping. Udara terasa sejuk, sementara suara burung terdengar dari kejauhan.
Kalandra langsung bersemangat.
"Pasang tenda,pap!"
Ages menatapnya. "Yang minta camping siapa?"
Kalandra menunjuk dirinya sendiri.
"Berarti yang pasang tenda siapa?"
Kalandra menunjuk Sean.
Sean langsung menoleh."Kenapa gue?"
"Karena abang paling tua kedua."
"Alasan macam apa itu?"
Arsen tertawa."Sudahlah, Sean. Bantu Om Ages."
"Kenapa bukan adek aja sih pi?"
"Karena adek masih anak-anak." jawab Tamara pada sang anak.
Kalandra langsung protes. "Aku tujuh belas tahun Tante mami!"
"Masih anak-anak kok." sela Ages
"Papa!"
Ages yang sedang mengeluarkan perlengkapan camping hanya menjawab, "Menurut papa, kamu tetap anak kecil."
Kalandra terdiam,ingin marah tapi hatinya merasa senang mendengar ucapan sang ayah.Kala tersenyum kecil. "Yaudah kalo menurut papa gitu."
Sean berdecih. "Biasanya lo protes kalo di panggil bocil."
"Kalau papa yang bilang, beda."
Sean melongo mendengarnya. "Stres lo."
Beberapa saat kemudian, tenda mulai berdiri.Namun, prosesnya tidak berjalan semudah yang mereka bayangkan.
"Pegang tiangnya!"
"Ini sudah!"
"Yang satunya!"
"Yang mana?"
"Yang itu!"
"Ini?"
"Bukan!"
"Terus yang mana?"
Kalandra berdiri di samping sambil tertawa."Katanya paling tua kedua."
Sean menoleh tajam. "Diem lu,dek."
"Katanya bisa pasang tenda." ledek Kala kembali
"Diem bangke!"
Ages yang sejak tadi berusaha memasang bagian lain hanya bisa menghela napas. "Kalau kalian terus berdebat, malam baru selesai."
"Iya,pap."
"Iya,Om."
Jawab Kala dan Sean bersamaan.
Akhirnya, setelah hampir satu jam, tenda berhasil berdiri.Kalandra langsung mengangkat kedua tangannya.
"Berhasil!"
Sean menatap tenda tersebut. "Yang penting bisa berdiri kan."
"Kalau hujan, belum tentu tetap berdiri."
Kalandra langsung menoleh kepada Ages. "Pap, kalau hujan tendanya roboh nggak?"
Ages melihat tenda itu."Harusnya tidak."
"Harusnya?" tanya Kala bingung.
"Kalau kamu tadi tidak mengganggu terus."
Kalandra langsung masuk ke dalam tenda tanpa beban. "Aku tidur."
Sean menatap Ages."Dia kabur Om."
"Biarkan saja...dari pada ganggu terus kerjaan kita."
Arsen kembali dibuat geleng kepala."Anak lo,ges kelakuannya ajaib banget."
Ages berdecak sebal,walaupun begitu ia sangat menyayangi sang anak.
.
.
Menjelang sore, mereka mulai menyiapkan makanan.
Arsen dan Sean bertugas menyalakan api,Tamara menyiapkan bahan makanan.Sementara Ages duduk di atas tikar sambil memotong buah.
Kalandra duduk di sampingnya.
"Pap,."
"Hm?"
"Besok kita naik ke atas?"
"Kalau kamu kuat."
"Jelas kuat lah."
"Tapi awas,jangan nanti baru jalan sebentar sudah minta digendong."
Kalandra langsung menatapnya."Aku bukan anak kecil,pap."
Ages tersenyum."Benarkah?"
"Iya."
"Kalau begitu, nanti jangan mengeluh."
Kalandra mengangguk mantap. "Siap Bos."
Namun, beberapa jam kemudian, ketika mereka mulai membicarakan rencana pendakian ringan keesokan harinya,
Kalandra sudah mulai mengeluh."Kalau jalannya jauh, kita bisa naik kendaraan nggak?"
Semua orang langsung tertawa.
Kalandra mengerutkan kening."Apa?"
Ages hanya menggeleng."Katanya kuat."
"Aku kuat. Cuma suka males jalan."
"Itu namanya lo gak kuat,dek."
"Serah lo bang,gue kuat kok."
Ke limanya menikmati makanan sambil mengobrol hangat.Hingga tak teraaa malam mulai turun.Api unggun menyala di tengah-tengah mereka.
Kalandra duduk paling dekat dengan Ages, sambil memanggang marshmallow.Namun tiba-tiba marshmallow miliknya terbakar. "Yah!"
Ages menoleh."Kenapa,dek?"
"Ini gosong."
"Karena kamu terlalu dekat dengan api." Jawab Arsen yang baru datang.
"Oh..ya udah nih om papi aja yang bakar."
"Loh Kenapa Om papi?"
"Kan Om papi,papi nya adek."
Ages menatap putranya. "Apa Hubungannya dek?"
"Ya... harus bertanggung jawab sama anaknya lah."
Sean langsung tertawa. "Logika macam apa itu?"
Kalandra menunjuk marshmallow yang gosong. "Ini tanggung jawab papa sama Om papi karena adek kan masih kecil."
"Katanya tadi udah mau tujuh belas tahun"
"Abang diem,adek gak ngajak ngomong abang."
"Dih,si bocil nyebelin banget sih lo."
Kalandra menatap Arsen."Om papi gak mau ganti anak? Sabar banget punya anak kaya Bang Sean."
Ucapan Kalandra membuat semua orang melongo.
"Si anjir,enteng banget ye tu mulut." protes Sean. "Kagak sadar diri banget sih lo,dek."
"Gue sadar bang," jawab Kala "Sadar banget kalau gue lebih ganteng dari lo."
Sean semakin terkejut mendengar ucapan Kalandra. "Serah lo dah,dek.Nyerah gue debat sama lo."
Sean langsung mendekati sang mami. "Kepala abang pusing,mi.Lama-lama abang stres punya adek kaya dia." Ujar Sean sambil membaringkan tubuhnya di pangkuan sang mami.
Kala yang melihat itu tak ingin kalah,ia ikut merebahkan diri sebelah Sean. "Adek juga pusing Tante mami,punya abang kaya bang Sean."
Ketiga orang dewasa itu hanya bisa geleng melihat tingkah laku keduanya yang selalu seperti ini.
Arsen menghela napas, lalu mengambil marshmallow baru.
"Ya sudah.Papi yang bakar."
Arsen kemudian memanggang marshmallow tersebut dengan sabar.
Kalandra memperhatikan dengan senyum kecil.
"Jangan sampai gosong, Om papi."
"Diam,dek"
"Pelan-pelan,pi." kelakar Sean
"Papi tahu."
"Jangan terlalu dekat api,Om papi."
"Adek." panggil Ages
"Iya,pap?"
"Kalau kamu terus bicara, marshmallow ini papa kasih ke Sean."
Kalandra langsung diam sedangkan Sean tersenyum mengejeknya.Beberapa saat kemudian, Ages menyerahkan marshmallow yang sudah matang.
"Nih."
Kalandra menerimanya dengan wajah puas."Enak,pap."
Ages tersenyum melihatnya.
Di bawah langit malam yang dipenuhi bintang, mereka menghabiskan malam dengan cerita dan tawa.
Tidak ada pekerjaan, rapat atau kesibukan lain.Hanya ada keluarga yang berkumpul dan terlihat begitu hangat.
Dan Kalandra yang akhirnya mendapatkan apa yang sejak lama ia inginkan.Waktu bersama ayahnya.
Kalandra menyandarkan kepalanya ke bahu Ages.
"Pap."
"Hm?"
"Nanti kita Camping lagi ya."
Ages menoleh. "Ini aja baru hari pertama loh dek."
"Ya gak apa,nanti kita camping lagi."
Ages tertawa kecil. "Kalau kamu mau, iya nanti kita camping lagi."
Kalandra tersenyum.
"Janji?"
"Janji."
Kalandra kembali menatap api unggun,sementara Ages memandang putranya dengan penuh kasih sayang.
Bagi orang lain, dua hari mungkin terasa singkat.Namun bagi Ages dan Kalandra dua hari itu adalah waktu yang sangat berharga.Waktu yang kelak akan selalu mereka rindukan.
.......
.......
.......
...♡ Sabiru ♡...