Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pil Menempa Sumsum dan Teknik Kuno
Setelah beberapa waktu berlatih di Hutan Bambu,
Ia memutuskan untuk pulang ke gubuk nya
Dari ambang pintu, Luo Chen melangkah masuk ke dalam ruangan yang agak temaram,
mencoba merapikan kembali lipatan jubah abu-abunya yang sedikit kotor akibat
gesekan semak liar di hutan bambu tadi siang.
"Kenapa bajumu kotor seperti itu, Chen'er? Dan kenapa buku jarimu memerah?"
tanya Mu Xue menoleh dari balik meja dapur kecil, segera menghampiri
putranya dengan wajah khawatir.
"Hanya sedikit debu dari hutan, Ibu. Aku tidak apa-apa," jawab Luo Chen
menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung jubahnya dengan senyum tipis.
Sambil menghela napas berat dari arah ranjangnya, Luo Hao menatap lurus ke arah
lengan kanan putranya. "Kemarilah, Chen'er. Biarkan aku memeriksa tanganmu."
Luo Chen melangkah mendekat dan mengulurkan pergelangan tangan kanannya dengan
perlahan.
Begitu jari-jari kasar ayahnya menyentuh kulit pergelangan tangan tersebut, satu
tarikan napas pendek terdengar dari mulut pria paruh baya itu. Tubuh Luo Hao
menegang, matanya yang semula redup mendadak bergetar hebat saat merasakan
adanya getaran energi fisik yang sangat padat di sepanjang jalur meridian lengan
putranya.
"Kau... kau sudah berhasil menerobos ke Ranah Pemurnian Tubuh tahap kedua?"
tanya Luo Hao dengan suara bergetar keras, tangannya yang memegang pergelangan
tangan Luo Chen tampak ikut gemetar hebat.
"Iya, Ayah," jawab Luo Chen menganggukkan kepalanya dengan tenang. "Aku
berhasil menerobosnya saat berlatih di hutan bambu tadi siang."
Mata pria paruh baya itu mendadak berkaca-kaca, memancarkan perpaduan antara
rasa haru yang luar biasa dan rasa bersalah yang teramat dalam. "Bakatmu...
bakatmu tidak pernah hilang, Chen'er. Maafkan ayahmu yang lumpuh ini karena
telah membatasi masa depanmu."
"Jangan katakan itu, Ayah. Kekuatanku adalah milikku sendiri, dan aku akan
menggunakannya untuk memulihkan nama keluarga kita," sahut Luo Chen
menggenggam erat tangan ayahnya yang gemetar.
"Ambil ini," bisik Luo Hao merogoh bagian bawah kasur jeraminya yang
robek, mengeluarkan sebuah botol giok hijau kecil yang tampak telah kusam. "Ini
adalah simpanan terakhirku yang berhasil kubawa sejak kita terusir dari kediaman
utama klan."
Botol giok hijau tersebut diletakkan dengan hati-hati ke atas telapak tangan Luo
Chen.
"Ini adalah Pil Menempa Sumsum tingkat satu," ujar Luo Hao menatap botol
tersebut dengan pandangan mata yang serius. "Ada tiga butir di dalamnya. Mengkonsumsi Pil ini akan membantu kamu membersihkan kotoran di
tulang dan sumsummu, tetapi prosesnya akan sangat menyakitkan."
"Apakah tubuhku yang baru berada di tahap kedua ini mampu menahan efek samping
dari pil ini?" tanya Luo Chen memandangi permukaan botol giok hijau di
tangannya dengan dahi berkerut, berbisik lirih kepada dirinya sendiri. "Ayah
telah menyimpannya begitu lama di tempat lembap ini. Aku tidak boleh
menyia-nyiakan satu butir pun."
"Chen'er, proses menempa sumsum sangat menyakitkan bagi tubuh yang baru berada
di tahap kedua," sela Mu Xue mendekat, memegang bahu putranya dengan
cemas. "Kau harus mempersiapkan fisik dan mentalmu dengan baik sebelum
menelannya."
"Aku mengerti, Ibu. Aku akan berhati-hati," jawab Luo Chen menyimpan
botol giok hijau tersebut ke dalam kantong jubahnya dengan erat.
Malam harinya, di dalam kamar kecilnya yang sunyi, Luo Chen duduk bersila di
atas ranjang kayu tuanya yang keras.
Satu pil bulat berwarna cokelat tua dengan aroma herbal yang sangat menyengat
dikeluarkan dari dalam botol giok hijau. Tanpa ragu, ia langsung menelan pil
tersebut dan membiarkannya larut di dalam tenggorokannya sebelum segera
memejamkan mata untuk masuk ke dalam lautan kesadarannya.
Di dalam lautan kesadarannya yang dipenuhi kabut emas, lembaran baru dari "Kitab
Maha Tahu" terbuka secara otomatis, memaparkan barisan aksara emas yang
memancarkan pendaran cahaya terang.
"Seni Pemurnian Sembilan Tungku Kuno," bisik Luo Chen membaca barisan
tulisan yang menjelaskan metode alkimia legendaris yang telah lama hilang dari
dunia kultivasi tersebut. "Metode pemurnian obat tanpa menggunakan tungku
fisik..."
"Memurnikan obat secara langsung di udara menggunakan energi Qi dan membutuhkan
Inti Api dari segala jenis unsur binatang buas sebagai sumber panas utama,"
lanjutnya membaca barisan teks yang memaparkan detail bahaya dan keunikan seni
tersebut. "Metode ini memungkinkan alkemis untuk menghasilkan pil dengan tingkat
kemurnian sempurna karena terbebas dari sisa kotoran besi tungku, namun
membutuhkan kontrol energi yang sangat ekstrem."
Satu getaran keras mendadak mengguncang lautan kesadaran Luo Chen, membuat kabut
emas di sekelilingnya berputar liar dengan kecepatan tinggi. Energi obat dari
Pil Menempa Sumsum yang baru ditelannya mendadak mengalir masuk ke dalam jiwa
kesadarannya, memicu reaksi penolakan yang sangat hebat dari aura kuno "Kitab
Maha Tahu".
"Ugh... kenapa tekanan dari kitab ini tiba-tiba menjadi sangat berat? Apakah
energinya menolak energi obat dari pil ini?" rintih Luo Chen berlutut di
atas lantai kesadarannya yang mulai retak-retak, menahan beban spiritual yang
mendadak menekan pundaknya hingga terasa seberat gunung batu.
Pendaran rantai cahaya emas raksasa mendadak melesat keluar dari lembaran kitab
tersebut, melilit tubuh jiwa Luo Chen dengan sangat erat hingga membuat proyeksi
tubuhnya mulai meredup dan bergetar tidak stabil. "Rantai-rantai ini... mencoba
mengunci jiwaku karena energi luar yang tidak murni masuk ke dalam tubuh!"
pekiknya seraya berusaha merentangkan kedua tangannya untuk menahan tarikan
rantai tersebut.
"Gunakan gerakan Tinju Dasar klan Luo untuk memecah tekanan ini!" teriak Luo
Chen kepada dirinya sendiri, mencoba menggerakkan lengan jiwanya yang terasa
sangat berat layaknya terikat timah hitam. "Aku harus menyelaraskan aliran
energi obat ini dengan aura kitab, atau jiwaku akan hancur di sini sebelum
sempat membalas dendam!"
Dengan memaksakan proyeksi tubuh jiwanya untuk bergerak secara ekstrem, ia
melepaskan serangkaian pukulan cepat ke arah udara kosong, menghantam
titik-titik tekanan energi yang menindihnya. Setiap pukulan fisiknya
menghasilkan riak energi keemasan yang berdesir keras, perlahan-lahan meretakkan
lilitan rantai emas dari kitab tersebut hingga akhirnya hancur menjadi butiran
cahaya spiritual yang menyatu ke dalam aliran meridian jiwanya.
Satu kejutan panas yang luar biasa dahsyat mendadak meledak dari arah perut Luo
Chen di dunia nyata begitu benturan energi di lautan jiwanya berakhir, menarik
kesadarannya kembali secara paksa dari dalam lautan jiwa menuju ke tubuh
fisiknya yang nyata.
"Sakit sekali... rasanya seperti... tulang-tulangku sedang diremukkan satu per
satu oleh palu raksasa..." rintih Luo Chen dengan gigi yang merapat rapat,
keringat dingin bercampur cairan hitam kental berbau menyengat mulai merembes
keluar dari setiap pori-pori kulitnya yang memerah panas.
Suara berderak dari reorganisasi tulang dan sendinya terdengar jelas di tengah
kesunyian kamar malam itu. Rasa panas yang membakar sumsum tulangnya membuat
tubuhnya gemetar hebat, memaksa setiap kotoran spiritual dan sisa racun di dalam
tubuhnya untuk dikeluarkan secara paksa melalui permukaan kulit.
Dari setiap pori-pori kulitnya, cairan hitam pekat terus mengalir keluar,
meninggalkan noda hitam menyengat di atas pakaian katun abu-abu miliknya yang
telah basah kuyup oleh keringat.
Dengan sisa kekuatan fisik dan tekad bajanya yang membara, Luo Chen terus
mempertahankan posisi bersilanya, memaksa aliran energi obat dari pil tersebut
untuk terus berputar membersihkan seluruh jalur meridiannya yang kini telah
melebar dan mengeras. "Sedikit lagi... aku harus bertahan... rasa sakit ini
tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang dialami Ayah!" bisiknya lirih
dengan bibir yang mulai pecah-pecah menahan panas ekstrem dari dalam tubuhnya.
Gelombang energi hangat baru mendadak meledak dari ulu hatinya, menyebar dengan
cepat ke seluruh penjuru tubuhnya bersamaan dengan hilangnya rasa sakit yang
membakar tadi. Tubuhnya kini terasa sangat ringan, dan setiap persendiannya
dipenuhi oleh kekuatan fisik murni yang jauh lebih padat dari sebelumnya.
"Aku berhasil... menerobos ke Ranah Pemurnian Tubuh tahap ketiga," bisik Luo
Chen membuka matanya yang kini memancarkan kilatan cahaya emas tipis yang
tajam.
Sambil menatap ke arah jendela kamarnya yang terbuka menembus kegelapan malam,
ia menyeka sisa cairan hitam kental di lengannya menggunakan kain lap basah.
"Aku bersumpah akan menjadi alkemis hebat dan menuliskan sejarah ku sendiri di Benua Yin Yang ini," ujar Luo Chen
dengan nada suara yang sangat tenang namun penuh dengan tekad dan semangat.
mengepalkan tangannya yang kini terasa dipenuhi oleh kekuatan murni yang sangat
pekat. "Aku akan memulihkan Ayah, dan membawa keluarga kami kembali ke puncak
kejayaan."