NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Di Dunia Modern

Dewa Pedang Di Dunia Modern

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi Isekai / Dunia Masa Depan
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: R. Seftia

Zhang Lin dikenal sebagai "Dewa Pedang" dari Dinasti Yin; ketika dia sedang menjalankan sebuah misi, dia tiba-tiba dihadapkan dengan sebuah pengkhianatan dari negerinya sendiri hingga membuatnya meregang nyawa.

Namun, bukannya langsung meninggal dan pindah ke alam baka—Zhang Lin justru mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali hidup di dunia modern yang di mana semua orang hidup dengan cara yang cepat.

Di dunia modern, Zhang Lin bertemu dengan Li Na—seorang asisten editor di salah satu penerbit besar.

Kehidupan kerja Li Na begitu berat, dan sejak kecil dia telah terkenal karena nasib buruknya; namun, ketika bersama dengan Zhang Lin, nasib buruk itu berganti dengan keberuntungan—namun, keberuntungan itu datang bersamaan dengan bayangan kematian yang mengintainya dan Zhang Lin dari kejauhan.

...
Untuk mendapatkan update ilustrasi karakter, bisa follow akun sosmed author, ya!
FB : Refinawriters
IG : Refinawriters_
TT :refinawriters

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dikepung Pria Berpedang

Di tengah kepanikan yang makin menjadi-jadi, Li Na memperhatikan perubahan ekspresi wajah Zhang Lin yang tampak membeku di depan layar monitor CCTV. Tatapan mata pria itu begitu tajam dan dipenuhi amarah yang teramat dalam, seakan-akan ia ingin menembus layar kaca tersebut dan mencabik-cabik pria berjas rapi yang berada di dalam rekaman.

"Zhang Lin? Ada apa? Kenapa kamu diam saja begitu? Apa kamu mengenali pria berjas yang membawa Lin Yi itu?!" tanya Li Na dengan suara yang gemetar, menatap Zhang Lin penuh harap agar pria di sampingnya itu memiliki jawaban atas apa yang sedang terjadi saat ini.

Zhang Lin mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat hingga kuku-kuku jarinya memutih. Napasnya terdengar berat, berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan emosi hebat yang bergejolak di dalam dadanya. Pria di layar itu adalah pangeran yang bertangan dingin—sosok yang bertanggung jawab atas kehancuran hidupnya di masa lalu dan orang yang memerintahkan hukuman mati untuk dirinya.

Namun, Zhang Lin sadar betul bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk menceritakan kisah absurd tentang kehidupan lamanya kepada Li Na. Hal itu hanya akan membuat Li Na semakin bingung dan menganggapnya tidak waras di tengah situasi darurat seperti sekarang.

Zhang Lin menggelengkan kepalanya perlahan, berusaha mengubah raut wajahnya kembali tenang walau matanya masih memancarkan kilat amarah.

"Tidak. Aku tidak mengenali pria itu," jawab Zhang Lin, terpaksa berbohong demi menjaga pikiran Li Na agar tetap fokus pada keselamatan adiknya.

"Tapi kenapa ekspresi wajah kamu tadi seperti itu? Kamu seperti ... benar-benar membenci pria itu," celetuk Li Na lagi, merasa ada yang aneh dengan kebohongan Zhang Lin.

"Aku hanya kesal karena ada orang yang berani memanfaatkan kepolosan Lin Yi untuk niat jahat. Dan fakta bahwa pria itu terlihat sangat tenang saat membawa Lin Yi pergi membuatku sadar kalau dia bukan orang biasa. Tapi kamu tenang saja, Li Na. Siapa pun dia, aku tidak akan membiarkan dia menyakiti Lin Yi sedikit pun," ucap Zhang Lin dengan nada suara yang begitu tegas dan meyakinkan.

Li Na menghela napas panjang. Walaupun dalam hatinya ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Zhang Lin, tetapi saat ini ia memutuskan untuk percaya penuh pada pria itu.

"Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak. Rekaman ini sangat berarti untuk kami," ucap Zhang Lin kepada manajer restoran yang sejak tadi berdiri di belakang mereka.

Manajer itu mengangguk prihatin. "Sama-sama. Semoga adikmu cepat ditemukan dan bisa kembali ke rumah dengan selamat."

...

Setelah mendapatkan informasi dan salinan rekaman singkat dari CCTV, Zhang Lin langsung merangkul pundak Li Na dan menuntunnya untuk segera keluar dari restoran BBQ tersebut. Mereka harus berpacu dengan waktu sebelum orang-orang itu bertindak lebih jauh kepada Lin Yi.

Namun, tepat di saat mereka baru saja melangkahkan kaki keluar dari pintu utama restoran dan hendak berjalan menuju mobil, tiba-tiba saja ponsel di saku celana Zhang Lin berdering dengan sangat keras.

Keduanya seketika menghentikan langkah kaki mereka. Zhang Lin merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Di layar ponsel tersebut, tertera sebuah panggilan dari nomor asing yang tidak dikenal.

Zhang Lin menatap Li Na sejenak, memberi isyarat agar wanita itu tetap tenang dan tidak bersuara. Dengan ibu jarinya, Zhang Lin menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo?" sapa Zhang Lin singkat.

Di seberang telepon, tidak langsung ada suara yang menjawab. Hanya terdengar suara helaan napas yang santai, disusul oleh suara denting es batu di dalam gelas kaca yang sangat jelas.

"Jenderal Zhang Lin ... atau harus kupanggil Zhang Lin saja?" suara seorang pria terdengar dari balik telepon. Suaranya terdengar begitu berat, tenang, dan dipenuhi keangkuhan yang sangat familier di telinga Zhang Lin.

Darah Zhang Lin rasanya langsung mendidih saat mendengar panggilan "Jenderal" yang keluar dari mulut pria itu. Dugaan dan firasatnya sama sekali tidak salah.

"Di mana Lin Yi?!" bentak Zhang Lin tanpa mau membuang-buang waktu untuk berbasa-basi.

Terdengar suara tawa kecil yang meremehkan dari seberang telepon.

"Anak muda yang bernasib malang ini aman bersamaku untuk saat ini. Dia tertidur lelap setelah kuberikan sedikit ramuan penenang. Tapi ... aku tidak bisa menjamin keselamatannya lebih lama lagi jika kamu tidak bertindak cepat," ucap pria itu dengan nada santai yang memprovokasi.

"Apa yang kamu inginkan dari kami?! Kenapa kamu harus melibatkan orang yang tidak bersalah sama sekali dalam urusan ini?!" geram Zhang Lin, berusaha menahan diri agar tidak berteriak lebih keras di pinggir jalan.

"Urusan kita belum selesai, Jenderal. Hutang darah di masa lalu harus dibayar tuntas. Jika kamu ingin bocah tidak berguna ini selamat dan bernapas besok pagi, datanglah seorang diri ke area pabrik tua yang terbengkalai di ujung jalan timur kota. Datanglah sebelum matahari terbenam. Jika aku melihat ada polisi atau orang lain yang mencoba mencampuri urusan kita ... maka kamu hanya akan menemukan jasad adik tercinta dari wanitamu itu," ancam pria itu dengan nada dingin yang mengerikan.

Klik.

Panggilan telepon itu langsung diputus secara sepihak dari seberang sana sebelum Zhang Lin sempat membalas perkataannya.

Zhang Lin menurunkan ponsel dari telinganya dengan genggaman yang begitu kuat, sampai-sampai ponsel itu berderit seakan ingin hancur di tangannya. Wajahnya terlihat begitu tegang dan pucat.

Li Na yang berdiri tepat di samping Zhang Lin bisa merasakan atmosfer berbahaya yang mendadak melingkupi pria di sebelahnya. Wajah Li Na berubah menjadi panik saat melihat raut muka Zhang Lin yang sangat serius.

"Zhang Lin! Siapa yang menelpon tadi?! Apakah itu orang yang membawa Lin Yi?! Apa yang dia katakan kepada kamu?! Katakan padaku!" seru Li Na sambil memegang lengan baju Zhang Lin dengan tidak sabaran.

Zhang Lin menatap Li Na dengan tatapan mata yang dalam dan penuh rasa bersalah. Pria di telepon tadi secara terang-terangan mengincarnya karena dendam masa lalu, dan Lin Yi serta Li Na hanyalah korban terseret dari konflik lamanya.

"Li Na, dengarkan aku baik-baik," kata Zhang Lin dengan suara yang ditahan sedemikian rupa agar tetap terdengar tenang. "Pria tadi memintaku untuk datang ke pabrik tua terbengkalai di ujung timur kota. Dia memintaku datang untuk menjemput Lin Yi."

"Pabrik tua? Kalau begitu ayo kita pergi sekarang! Kunci mobil ada padaku, aku yang akan menyetir!" seru Li Na yang langsung berbalik hendak menuju mobil bututnya.

Namun, sebelum Li Na sempat melangkah, Zhang Lin dengan cepat menahan pergelangan tangan wanita itu.

"Tidak, Li Na. Kamu tidak boleh ikut," cegah Zhang Lin tegas.

Li Na membelalakkan matanya tidak percaya, menatap Zhang Lin dengan raut wajah penuh amarah dan kebingungan.

"Apa maksud kamu tidak boleh ikut?! Yang diculik itu Lin Yi! Dia adikku satu-satunya! Bagaimana mungkin aku cuma diam saja dan membiarkan kamu pergi sendirian ke tempat berbahaya seperti itu?!" bentak Li Na dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

"Tempat itu sangat berbahaya, Li Na! Pria di telepon tadi memperingatkanku untuk datang sendirian. Mereka adalah orang-orang berbahaya yang tidak ragu untuk bertindak nekat. Jika kamu ikut denganku, keberadaanmu hanya akan menjadi celah bagi mereka untuk menekan kita dan membahayakan keselamatan Lin Yi!" jelas Zhang Lin berusaha meyakinkan Li Na tentang risiko besar yang ada di depan mereka.

"Aku tidak peduli seberapa bahayanya tempat itu, Zhang Lin! Aku tidak bisa cuma duduk manis di rumah menunggu kabar sambil membayangkan adikku sedang dalam bahaya! Dan aku juga tidak akan membiarkan kamu pergi mengorbankan nyawamu sendirian untuk keluargaku!" tegas Li Na.

Zhang Lin memegang kedua bahu Li Na, menatap langsung ke dalam matanya.

"Li Na, tolong dengarkan aku kali ini saja. Aku berjanji ... aku akan membawa Lin Yi kembali padamu dengan selamat. Tapi aku butuh kamu untuk tetap berada di tempat yang aman. Kamu harus percaya padaku," mohon Zhang Lin.

Namun, Li Na menepis kedua tangan Zhang Lin dari bahunya dengan keras. Wajahnya memperlihatkan tekad bulat yang tidak bisa digoyahkan oleh siapa pun saat ini.

"Tidak! Kamu boleh melarangku melakukan hal itu, tapi kali ini aku tidak akan menurut padamu, Zhang Lin! Jika kamu mau pergi ke pabrik tua itu, maka kamu harus membawaku ikut! Jika tidak, aku akan pergi sendiri ke sana tanpa kamu!" ancam Li Na dengan suara yang begitu mantap.

Melihat sorot mata Li Na yang begitu keras kepala dan tidak bisa terbendung lagi, Zhang Lin akhirnya menghela napas panjang. Ia paham betul karakter wanita di hadapannya ini. Jika ia meninggalkan Li Na di sini, Li Na justru akan nekat melakukan hal-hal yang jauh lebih berbahaya sendirian.

"Baiklah," ucap Zhang Lin menyerah. "Kamu boleh ikut denganku. Tapi kamu harus berjanji padaku ... sesampainya di sana, kamu harus tetap berada di belakangku dan ikuti semua perintahku tanpa protes sedikit pun. Paham?"

Li Na menyapu air mata yang sempat menetes di pipinya lalu menganggukkan kepala beberapa kali. "Paham. Aku janji."

Tanpa membuang-buang waktu lagi, mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil milik Li Na. Li Na menginjak pedal gas dalam-dalam, membelah jalanan kota yang cukup ramai menuju ke arah timur.

Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Suasana di dalam mobil terasa begitu cengang dan mencekam. Li Na fokus menatap jalanan di depan dengan kedua tangan yang menggenggam erat lingkar kemudi, sementara Zhang Lin terus memperhatikan kaca spion dan area sekitar, bersiap menghadapi segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi saat mereka sampai di lokasi tujuan.

Setelah menempuh perjalanan yang menegangkan selama hampir empat puluh menit, pemandangan gedung-gedung tinggi kota perlahan mulai berganti dengan area industri tua yang sudah tidak terpakai. Jalanan di sekitar sana tampak begitu sepi, berdebu, dan dikelilingi oleh ilalang yang tumbuh tinggi tak terurus.

Di ujung jalan tanah bergelombang itu, berdiri sebuah bangunan pabrik tua yang sangat luas dengan atap seng yang sudah berkarat dan tembok-tembok beton yang retak.

Li Na menghentikan mobilnya beberapa puluh meter di depan gerbang besi pabrik tua yang sudah terkulai rusak.

"Kutekankan sekali lagi, Li Na ... tetaplah berada tepat di belakangku dan jangan pernah melepaskan peganganmu padaku," bisik Zhang Lin secara mendalam sebelum mereka turun dari mobil.

Li Na mengangguk pelan. Rasa takut yang sempat tertutup oleh amarah kini mulai merayap kembali saat melihat betapa menyeramkannya bangunan di depan mereka.

Mereka berdua keluar dari mobil dengan perlahan. Langkah kaki Zhang Lin begitu ringan dan hampir tanpa suara, berjalan memimpin di depan sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut area luar pabrik yang tampak sunyi menggigit.

Namun, tepat ketika Zhang Lin dan Li Na baru saja melangkahkan kaki melewati gerbang utama dan melangkah ke dalam area halaman pabrik tua yang terbengkalai itu ...

SREK! SREK! SREK!

Dari balik semak-semak ilalang yang tinggi dan pilar-pilar beton yang retak, puluhan sosok pria bermunculan secara tiba-tiba. Mereka mengepung Zhang Lin dan Li Na dari segala arah, menutup semua jalan keluar yang ada.

Orang-orang itu berpakaian serba hitam dengan wajah yang tertutup kain ketat. Dan yang paling mengerikan adalah ... di tangan masing-masing orang itu, tergenggam pedang panjang berkilau yang sudah terhunus siap untuk menebas!

Li Na seketika menjerit kecil karena terkejut dan langsung bersembunyi di balik tubuh tegap Zhang Lin sambil memegang erat bagian belakang bajunya.

Zhang Lin dengan refleks merentangkan satu tangannya ke belakang untuk melindungi Li Na, sementara matanya yang tajam menatap dingin ke arah puluhan pria berpedang yang kini siap menyerang mereka berdua.

...

-Bersambung-

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!