NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Terbiasa

"Pada laper nggak? Makan dulu, yuk!" ajak Miza yang tiba-tiba datang.

"Ayo, Tami, Tama, Arinta!" katanya sambil memanggil satu per satu.

Ketiganya menoleh bersamaan.

"Mukanya pada tegang gitu. Kenapa, sih?" tanya Miza sambil terkekeh canggung.

Arinta yang lebih dulu beranjak, mengikuti langkah Miza.

"Eh, Ta. Lu yakin tadi pas cerita dia nggak denger? Barusan mukanya kok kayak orang kaget," bisik Tama tepat di telinga Arinta.

"Shut, ah. Gue juga kaget pas dia tiba-tiba muncul," jawab Arinta sambil berbisik juga.

"Iya, momennya pas banget. Pas lu selesai cerita," tambah Tami, berbisik di telinga Arinta yang satunya.

"Ngomongin apa bisik-bisik? Hmm?" tanya Miza dengan wajah usil.

"Tau, tuh. Si kembar emang suka gitu," jawab Arinta santai.

"Arinta?" panggil Miza lembut saat suasana khidmat makan malam tengah berlangsung.

"Hmm?" Arinta menyahut sekenanya.

"Kamu belum mau cerita tentang mereka?" tanya Miza sambil melirik si kembar.

Arinta cukup kaget dengan pertanyaan tiba-tiba itu, tapi ekspresinya berusaha ia sembunyikan.

"Ah, mereka." Arinta malah tertawa dibuat-buat sambil berpikir alur apa yang masuk akal.

"Eee.. Mereka pernah nolong Arinta waktu itu. Waktu Arinta pulang sendirian, terus hampir kena copet. Iya, betul," jelas Arinta sedikit terbata-bata.

Untungnya Miza tidak memperpanjang topik tersebut.

***

Seminggu sudah berjalan begitu cepat. Tidak ada hal yang mengusiknya lagi di sekolah setelah kejadian waktu itu. Deri pun tidak menunjukkan batang hidungnya lagi, apalagi Andre.

Selama seminggu itu pula, perubahan sifat Arinta dijadikan bahan obrolan. Kenapa begitu? Karena karakter Arinta yang berubah menjadi lebih menonjol, baik dari segi keberanian maupun kemampuan dalam bidang akademik. Tak ayal itu membuatnya menarik perhatian teman-teman sekelasnya.

"Ta? Besok kerja kelompok sama kita, ya?" pinta Diah, yang entah sejak kapan sudah duduk di sebelahnya.

"Boleh," Arinta hanya menjawab singkat.

"Itu kamu serius udah putus sama si Deri-Deri itu? Terus kamu berubah gini tuh gara-gara udah nggak pacaran sama dia?" tanya Diah, berusaha mendistraksi Arinta yang sedang menghafal.

"Enggak juga," jawabnya singkat.

"Kayaknya efek peletnya udah abis deh," bisik Wiwin yang duduk di depan mereka.

Mau tak mau akhirnya Arinta terpancing juga untuk ikut bicara.

"Emang semua orang tuh udah tau busuknya dia, kah?" tanya Arinta.

"Ih, kamu kemana aja, sih, Ta! Kita-kita juga udah enek banget ngeliat dia yang suka sok manis di depan guru, apalagi pas lagi bucin-bucinnya sama kamu!" sahut Diah heboh.

Wiwin ikut bergidik.

"Lagian kenapa bisa-bisanya sih kamu suka sama dia, Ta? Aku sih mending nerima Andre yang sedikit berandal itu daripada sama anak sok manis kayak si.. Hihii," suara cempreng Wiwin begitu mewakili kejijikannya.

"Iya, ya?" tanya Arinta polos.

Ya, dia juga tidak tahu, kenapa si "Arinta" ini begitu bodoh sampai kelewat tolol. Ternyata cinta bisa membuat sebuta ini?

"Kamu udah tau belum? Kata anak IPA, si Andre nggak sekolah-sekolah dari sejak kejadian di lapangan waktu itu," ucap Diah mulai bersuara lagi.

"Hah? Serius?" malah Wiwin yang terkejut.

"Biasanya paling cuma dua sampai tiga hari, ini kan udah seminggu lebih."

"Bukannya udah biasa ya dia bolos? Mungkin sekarang dia bolosnya mau lebih lama? Kenapa nggak?" tanya Arinta.

"Ish. Kamu nggak takut dia kenapa-kenapa? Kemarin kamu yang perhatian banget sama dia, sekarang malah gini lagi!" gerutu Diah.

"Ya terus? Emang dia bakal kenapa-kenapa?" tanya Arinta lagi.

Diah berdecak.

"Kalo dia diapain sama si sok manis gimana? Deri itu bener-bener gila, Ta!"

Arinta tidak bisa kalau tidak termakan umpan untuk overthinking yang diberikan Diah. Ia jadi kepikiran sekarang. Dadanya pun kembali berdenyut nyeri.

"Aku ke toilet dulu, ya," Arinta pamit tanpa menunggu persetujuan.

Arinta berjalan tergesa sampai dirinya benar-benar memasuki toilet. Bukan untuk panggilan alam, tapi untuk merasakan nyeri di dadanya yang tak kunjung hilang.

"Aku bukan nggak suka kamu, tapi aku nggak suka kalau kamu kenapa-kenapa gara-gara Deri," ucap Arinta pelan. Ia menoleh dan celingukan, mencari lawan bicaranya yang tadi ada di sebelah.

"Ini cara satu-satunya," gumamnya.

"Deri itu benar-benar bajingan, Ndre. Tapi aku lebih bajingan karena nerima dia cuma supaya dia nggak usik kamu. Satu yang kamu nggak tahu, surat itu nyampe di tangan aku berbarengan, tapi Deri ngomong langsungnya emang jauh setelah kamu duluan."

"Kamu lagi ngapain di sini?" suara yang familiar memotong lamunannya.

Arinta diam, menatap kedua mata laki-laki di hadapannya.

Tapi dia baik, dia memperlakukan aku seperti perempuannya, Ndre, batinnya.

Napas Arinta terputus-putus. Ingatan lagi? Ia semakin yakin, kalau ia memang benar-benar ditakdirkan untuk mengubah segalanya yang masih abu-abu di sini.

"Deri brengsek! Andre brengsek! Arinta lebih brengsek plus bajingan!" cerca Arinta, suaranya bergetar.

"Kenapa harus narik gue ke kehidupan lu yang nggak berguna ini?! Udah bener lu mati! Udah bener Andre ngebunuh lu! Lu emang sebrengsek itu, Arinta! Lu nggak cuma nyakitin Andre, tapi juga nyakitin diri lu sendiri! Kenapa lu nggak milih dengerin omongan abang lu aja buat nggak pacaran, goblok! Kalo udah terlanjur gini, gue harus apa?!"

Arinta mengacak rambutnya frustrasi, dengan nyeri di dadanya yang tak kunjung mereda sedikit pun.

Ia tiba-tiba terbesit pikiran untuk meninggalkan perannya sebagai "Arinta Syafira." Ia di sini bukan untuk main akting-aktingan; ada hal yang lebih penting yang harus ia lakukan di tahun ini.

Ya. Keputusan sudah di tangannya. Ia akan kabur dan mencari orangtuanya. Biarkan saja dia jadi gembel luntang-lantung, asal tidak jadi cewek bodoh yang haus akan kasih sayang laki-laki.

"Arinta?"

Sial. Cowok ini muncul di saat yang tidak tepat.

Arinta berusaha menghindari Deri dan mencari jalan lain untuk sampai ke kelas.

"Tunggu dulu!" tahan Deri.

Arinta masih tak menggubris. Mood-nya benar-benar sedang buruk sekarang.

"Aku cuma mau minta maaf, Ta."

Tidak. Suara lembut itu tidak terdengar manis sama sekali, malah terdengar pahit, pyiuh..

"Nggak mau!" tolak Arinta.

Deri mengernyit bingung.

"Ngapain minta maaf? Nggak bakal ngubah apa pun!" ketus Arinta.

"Ini beneran kamu, kan, Ta?" tanya Deri semakin bingung.

"Nggak, bukan! Gua Arinta Prameswari, siswi SMAN 1 kelas 12 angkatan 2024-2025," jawab Arinta sejujur-jujurnya.

Deri malah tertawa.

"Dari masa depan gitu?"

"Iya!" jawab Arinta tanpa raut kebohongan ataupun bercanda.

Menyadari itu, Deri pun ikut memasang wajah serius.

"Kamu pintar akting juga ya ternyata."

"Terserah!" jawab Arinta, sudah muak.

"Kok bisa-bisanya kamu tiba-tiba ngarang dari masa depan? Kamu udah secapek itu ya di sini? Sampai menghayal ke—"

"Gua nggak ngehayal!! Tapi iya! Gua emang capek! Gua capek ngadepin lu! Ngadepin Andre! Ngadepin semua orang! Termasuk ngadepin diri gua sendiri!" ucap Arinta dengan emosi meluap-luap.

"Jadi, plis, stop ngebawa-bawa gua di kehidupan lu!"

Deri menelan ludah dengan sangat ketara.

"Kamu serius? Ini serius bukan kamu, Ta? Kamu nggak pernah kayak gini sebelumnya. Seminggu terakhir kamu benar-benar berubah banyak. Itu cuma karena kamu capek, kan?"

"Lu tuh budeg atau gimana sih?" emosi Arinta semakin ketara.

"Tadi gue udah bilang. Gue. Itu. Arinta. Prameswari. Siswi. Angkatan. 2024. 2025. Paham?!"

"Jadi stop ganggu-ganggu gue. Gue bukan Arinta yang lu kenal. Dah, dah, dah, gue mau ke kelas."

Deri termenung bingung di tempat, ia membiarkan saja Arinta pergi.

"Kamu bisa cerita semua ke aku kalau yang barusan kamu omongin itu bener!" teriak Deri pada Arinta yang mulai berlalu.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!