Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Setelah menghabiskan malam panjang yang penuh gairah dan emosi bersama Nathalie, Drake akhirnya terlelap dalam pelukan wanita itu. Tubuhnya yang kokoh kini terasa berat dan rileks, napasnya yang dalam dan teratur menyapu kulit bahu Nathalie. Keringat masih menempel tipis di dada bidangnya, sementara lengannya memeluk pinggang Nathalie dengan posesif, seolah bahkan dalam tidur sekalipun ia takut kehilangan sosok yang menjadi satu-satunya pelabuhannya.
Cahaya pagi yang samar mulai menyusup melalui celah tirai, mewarnai kamar yang semalam gelap gulita dengan nuansa keemasan lembut. Aroma percintaan masih menggantung di udara, campuran parfum Drake yang maskulin, aroma tubuh Nathalie yang manis, dan sisa alkohol yang samar dari napas pria itu. Ranjang yang tadinya rapi kini berantakan, seprai sutra kusut dan selimut terpencar di kaki tempat tidur.
Nathalie semalaman tidak bisa tidur. Ia berbaring menyamping, menghadap ke arah Drake, matanya yang indah menatap wajah pria itu dengan perasaan tak menentu yang membuncah di dada. Jari-jarinya pelan menyusuri garis rahang Drake yang tegas, menyentuh bibir yang tebal. Wajah Drake terlihat damai sekarang, kerutan khawatir di dahinya menghilang saat tertidur. Namun bagi Nathalie, kedamaian itu justru membuat hatinya semakin perih.
"Aku tidak tahu isi hatimu saat ini..." gumam Nathalie pelan, suaranya hampir tak terdengar, hanya untuk dirinya sendiri. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, lalu jatuh perlahan membasahi bantal. "Aku juga tidak tahu masalah apa yang sedang kamu hadapi dengan nenekmu. Tapi jika keluargamu menginginkanmu menikah dengan perempuan lain, maka aku akan pergi, Drake."
Kata-kata itu keluar begitu saja, penuh kepedihan dan pengorbanan. Nathalie menggigit bibir bawahnya keras-keras untuk menahan isak yang hampir meledak. Ia tidak ingin membangunkan Drake. Pria itu sudah cukup menderita malam ini, ia bisa merasakannya dari cara Drake memeluknya tadi, dari kata-kata kasar yang terucap di sela-sela ciuman, dan dari amarah yang tersembunyi di balik hasratnya.
Tak tahu sejak kapan, Nathalie telah jatuh cinta begitu dalam pada Drake. Mungkin sejak pertama pria itu menyelamatkannya dari kejahatan ibunya. Atau mungkin saat Drake menyelamatkannya dari pemerkosaan yang di lakukan Andreas padanya. Cinta ini datang tanpa permisi, tumbuh diam-diam, dan kini mengakar begitu kuat hingga rasanya menyakitkan.
Nathalie menarik napas gemetar, tangannya kini berpindah ke dada Drake, merasakan detak jantung yang stabil di bawah telapak tangannya. "Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik, Drake. Keluarga besar, kekayaan, nama yang harum. Aku tidak ingin menjadi beban. Aku tidak ingin melihatmu kehilangan segalanya hanya karena aku," bisiknya lagi, air matanya kini mengalir lebih deras, membasahi dada pria itu.
Dalam hati, Nathalie sudah membayangkan skenario terburuk. Ia membayangkan dirinya pergi diam-diam, meninggalkan rumah mewah ini, meninggalkan pria yang dicintainya, demi melihat Drake bahagia di sisi wanita yang pantas seperti yang diinginkan neneknya.
Meski hatinya hancur berkeping-keping hanya dengan memikirkannya, ia siap melakukannya.
Karena baginya, cinta bukan berarti memiliki, tapi juga melepaskan jika itu yang terbaik untuk orang yang dicintainya.
Drake bergeser sedikit dalam tidurnya, pelukannya semakin erat seolah mendengar bisikan hati Nathalie. Bibirnya bergerak pelan, menyebut nama wanita itu dalam tidur, "Nathalie..."
Nathalie tersenyum getir di tengah air matanya. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup kening Drake dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Aku mencintaimu, Drake. Lebih dari yang kamu tahu," katanya dalam hati. Tapi ia tidak berani mengucapkannya keras-keras. Belum.
Pagi semakin terang, tapi di hati Nathalie, kegelapan mulai merayap. Ia tahu, badai di antara mereka belum selesai. Dan ia siap menghadapinya, bahkan jika itu berarti ia harus pergi meninggalkan segalanya.
******
Nathalie kembali ke rumah sakit pada siang hari yang cerah namun berat di hatinya. Setelah meninggalkan Drake yang masih tertidur lelap di rumah mewah itu, ia memilih untuk pergi tanpa membangunkannya.
Pikirannya terlalu kacau, air mata yang semalam ia tahan kini mengancam akan jatuh lagi setiap kali mengingat bisikannya sendiri. Dengan hati yang gelisah, ia naik taksi menuju rumah sakit swasta tempat ayahnya dirawat.
Udara di koridor rumah sakit terasa steril dan dingin, aroma obat-obatan menyambutnya begitu ia melangkah masuk ke ruangan ayahnya. Kebetulan sang ayah baru saja selesai di periksa oleh dokter.
"Bagaimana keadaan ayah saya, Dok? Kapan dia bisa pulang?" tanya Nathalie dengan suara lembut namun penuh harap. Tangannya tanpa sadar saling meremas, menunjukkan kegelisahan yang ia coba sembunyikan di balik senyum sopan.
Dokter pria paruh baya itu menatapnya dengan ramah, melirik catatan medis di tangannya sebelum menjawab. "Kondisinya sudah cukup baik, nona Nathalie. Pemulihan pasca operasi berjalan lancar. Mungkin tiga hari lagi Bapak sudah bisa pulang, asalkan istirahat cukup dan kontrol rutin."
Nathalie menghela napas lega, bahunya yang tegang sedikit merileks. Senyum tulus akhirnya terbit di wajahnya yang cantik, meski matanya masih memerah karena kurang tidur dan tangisan semalam. "Terima kasih banyak, Dokter. Sungguh, ini kabar terbaik hari ini."
Setelah dokter pergi, Nathalie mendekati ranjang ayahnya yang terletak di dekat jendela besar. Cahaya matahari pagi menyinari wajah ayahnya yang pucat, membuat pria tua itu terlihat lebih rapuh daripada biasanya. Selang infus masih terpasang di punggung tangannya, dan monitor jantung berdetak pelan di samping ranjang.
Nathalie duduk di kursi di samping ranjang, tangannya lembut menggenggam tangan ayahnya yang kurus. Ia menatap wajah ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca, air mata yang sejak tadi ditahan kini mengalir pelan di pipinya.
"Kondisi Ayah sudah baik," ucap Nathalie dengan suara agak bergetar, berusaha tersenyum meski bibirnya gemetar. "Dokter bilang tiga hari lagi Ayah sudah bisa pulang. Kita bisa pulang ke rumah".
Ayah Nathalie hanya diam saja. Matanya yang lelah menatap putrinya lama, penuh kasih sayang yang bercampur dengan kesedihan mendalam. Sebutir air mata jatuh dari sudut matanya, mengalir pelan di kerutan wajahnya yang sudah diukir usia dan penderitaan. Ia tahu, ada yang tidak beres dengan putrinya. Sebagai ayah, ia bisa merasakan beban yang dipikul Nathalie sendirian.
"Ayah jangan sedih," bisik Nathalie sendu, suaranya pecah di tengah isak kecil. Ia menyeka air mata ayahnya dengan lembut menggunakan ibu jari. "Nanti kita akan tinggal berdua saja. Kita tinggalkan rumah kontrakanku. Setidaknya sampai Ayah benar-benar sembuh dan kuat lagi."
Kata-kata itu diucapkannya dengan hati yang hancur. Demi ayahnya, demi menjaga harga diri dan tidak menjadi beban bagi Drake, ia siap mengorbankan perasaannya. Ia tidak ingin ayahnya tahu terlalu banyak tentang drama yang sedang ia hadapi, saat ini, tentang Sela, tentang tekanan pernikahan paksa yang mengancam.
"Ayah sayang kamu, Nak," akhirnya ayahnya berbicara dengan suara lemah, hampir tidak ada suaranya.
Tangan tuanya menggenggam tangan Nathalie, meski tenaganya tak sekuat dulu. Air matanya terus mengalir, tapi ada keteguhan di sana.
"Ayah tidak mau kamu menderita. Kalau memang harus pergi, Ayah ikut kamu."
Nathalie mengangguk, menempelkan pipinya ke punggung tangan ayahnya. Isakannya semakin menjadi, bahunya berguncang pelan. Di tengah kesunyian ruang rawat yang hanya diisi suara monitor dan hembusan AC, ia merasa sedikit lebih tenang. Setidaknya, ia masih punya ayah. Setidaknya, mereka berdua bisa memulai lagi dari nol, jauh dari dunia glamor yang penuh racun itu.