Ada alasan kenapa banyak orang menyebutnya Perfect Husband.
Leo J memiliki semua yang diimpikan seorang wanita. Ia setia, bertanggung jawab dan mencintai istrinya dengan cara yang membuat siapa pun iri.
Namun, cinta itu tidak pernah sederhana.
Leo J mencintai dengan cara yang berlebihan. Terlalu melindungi, terlalu posesif, terlalu takut kehilangan. Hingga terkadang, cintanya itu terasa menyesakkan.
Di masa lalu, pria yang kini begitu memuja istrinya itu... pernah mencintai wanita lain hingga rela memberikan seluruh dunianya.
Pada suatu hari, mereka dipertemukan dalam satu meja. Keheningan berubah menjadi sesak ketika Leo J menatap wanita yang pernah menjadi alasan hidupnya.
"Sekarang, Leo ada di depanmu, Kiara. Apa yang ingin kau katakan padanya?"
Yuna mengizinkan mereka berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Makan Malam Keluarga
Maaf jika isinya tidak sesuai ekspektasi kalian.
🍁🍁🍁🍁
Di sisi lain. Jantung Dimas berdegup menunggu kedatangan Leo. Laki-laki yang dulu menjadi alasan istrinya menjadi bagian dari keluarga ini. Nanti mereka akan bertemu, Nora dan Leo.
Bagaimana pandangan dan perhatian Nora pada Leo. Dimas tidak pernah memikirkan ini sebelumnya.
“Sayang, kenapa Daddy lama sekali?” tanya Oma pada si kecil yang tengah bermain dengan Zora, putri pertama Dimas.
Arai mengangkat bahunya sebagai jawaban. Dia tidak bilang jika Daddy dan Mommy sedang saling diam tadi. Dia hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban. Selesai.
“Mommy sehat ‘kan, Sayang?” tanya Oma lagi dengan perhatian.
Si kecil menjawabnya dengan anggukan dan selesai. Dia tidak membuka mulutnya untuk menjawab.
Tak lama, terdengar langkah pelan menuju mereka. Nora mengulurkan tangan untuk menyusup disela lengan Dimas, menyatukan tangannya dengan tangan Dimas. Dia hanya ingin menyatakan perasaannya, dia ingin Dimas tahu jika tidak ada perasaan apa-apa lagi pada Lee.
“Selamat malam,” sapa Yuna dengan sopan pada semuanya.
Dimas dan Leo saling menatap. Pandangan mata mereka langsung bertemu. Sekarang Leo tahu arti pandangan itu. Sekarang dia tahu, alasan kenapa malam itu mereka bertemu. Leo segera membungkukkan badannya dengan sopan pada Dimas.
“Malam, Pa, Kak,” ucapnya. Dia segera mengalihkan pandangan dan melangkah menuju Mamanya yang tengah mengusap perut Yuna. Leo mencium tangan Mamanya dan mencium kedua pipinya.
Mama mengusap pipi putranya. “Kenapa kau lebih kurus?! Apa kau selalu bekerja hingga tengah malam. Jangan begitu. Bekerja selayaknya orang bekerja. Jangan sampai kau sakit. Mama akan memberimu obat yang pahit jika kau sampai sakit,” ujar Mama perhatian tetapi cemas dan dengan sebuah ancaman. Anak-anak memang sudah dewasa tetapi terkadang mereka tetaplah anak-anak dimata orangtuanya. Anak-anak yang tetap harus mereka tegur saat salah.
Leo terkekeh mendengar ancaman Mamanya. Dia memeluk Mama dan berkata, “Aku akan selalu baik-baik saja.”
Dimas mengalihkan pandangannya dan sedikit menoleh kearah Nora. Wanita itu menunduk, dia sungguh tidak berani menatap ke arah Leo. Dia takut Dimas salah mengartikan pandangannya, jadi dia memilih untuk menunduk.
Yuna diam menatap Nora dan Dimas. Dia tahu, ini adalah situasi yang sangat canggung untuk mereka. Yuna mengambil nafasnya.
“Kak Nora sudah lama sampai?” tanyanya dengan senyum seolah dia tidak tahu apa-apa.
Mendapat pertanyaan ini, Nora mengangkat wajahnya. Dia menatap Yuna.
“Hmm? Lumayan,” jawabnya sungkan.
“Apakah Kak Nora tahu tentang gosip artis terbaru. Tentang Chef Karel,” ujar Yuna. Dia tidak sengaja menyebut nama ini. Dia hanya ingin mengalihkan kecanggungan Nora, Dimas dan Leo. Tapi itu membuat Leo menatapnya dengan tajam. Seolah bilang jika ia tidak akan memaafkan Yuna.
Yuna membalas tatapan mata Leo. Seolah menjawab, jika dia tidak sengaja. Dia tidak begitu tahu nama artis lain, jadi agar cepat, dia menyebut nama Karel saja.
“Ada gosip apa dengan chef bermata biru itu?” tanya Nora. Dia mencoba sebiasa mungkin.
“Hmmm. Bagaimana jika kita bahas di kamar Neva, kita bahas bertiga di sana,” jawab Yuna. Sebuah ide agar Dimas dan Leo tidak begitu canggung.
Nora mengangguk. “Boleh,” jawabnya. Nora menoleh ke arah Dimas. “Aku ke kamar Neva dulu,” pamitnya. Dimas mengangguk mengizinkannya.
Tapi tidak dengan Leo. Dia menangkap tangan Yuna. Ada Vano di sana. Dia tidak mau Yuna bertemu Vano tanpanya. Setelah perdebatan itu, dia menjadi cemburu pada Vano. Si Tuan sedang dilanda rasa cemburu yang disebabkan oleh diriya sediri.
“Disini saja. Jangan kemana-mana,” ucap Leo. Dan ia menarik lengan Yuna halus untuk duduk bersamanya.
Dimas menatapnya. Dia sungguh tidak memiliki kata untuk membuka percakapan dengan Leo. Ada sesuatu yang masih menyakiti hatinya. Bukan pada Leo, tetapi entahlah. Mungkin ini tentang keadaan yang masih belum benar-benar ia terima. Tentang pengakuan istrinya yang masih terngiang di telinga dan pikirannya.
Disini, malah Yuna dan Papa yang saling berbincang. Terkadang, Mama menyahutnya. Tak lama, Vano datang dan menyapa semuanya. Dia kemudian ikut bergabung dan duduk di sofa seberang Yuna. Tepat di depan Yuna.
“Mom, kau boleh ke kamar Neva. Kalian ingin berbincang bertiga kan?” bisik Leo pelan pada Yuna. Dan Yuna segera menolah menatapnya. Diam-diam dia menyusupkan tangannya dan membuat cubitan gemas di paha Leo.
Tadi tidak boleh, sekarang silahkan. Astaga, tuan suami benar-benar menyebalkan. Bagaimana Yuna harus mencari sebuah ide untuk pergi dari ruangan ini.
“Hmm, Vano,” panggil Yuna.
“Ya?” jawab Vano. Laki-laki itu menatap Yuna. Dan itu membuat Leo gila. Dia segera berdehem dengan keras hingga membuat Vano mengalihkan pandangan dan menatapnya.
“Neva sedang apa?” tanya Leo segera. Pertanyaan yang sebenarnya ingin Yuna tanyakan untuk pergi dari dari ruangan ini bersama Nora.
“Baru selesai makan buah,” jawab Vano.
Leo mengangguk. “Sayang, bukankah kau ingin ke kamar Neva,” ucap Leo manis pada Yuna. Dan sungguh Yuna ingin menyentil hidungnya.
“Oh, iya. Aku ingin kesana menemaninya,” jawab Yuna. Dia menatap Nora. “Kak Nora, yuk,” ajaknya lagi.
Nora mengangguk dan ia berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan Yuna. Mereka berdua pamit untuk menemani Neva.
“Aku sudah jujur padanya, Yuna,” ucap Nora saat mereka berjalan menuju kamar samping di mana Neva berada.
Yuna mengangguk pelan. Dia menghentikan langkahnya dan menatap Nora. Mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya.
“Kak Nora sudah melakukan hal yang tepat,” ucapnya untuk menguatkan Nora. “Karena kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan kita nanti. Setidaknya, Kak Nora sudah jujur tentang rahasia itu pada Kak Dimas. Tidak ada rahasia lagi antara kalian,” lanjut Yuna.
Nora mengangguk. Dia membalas genggaman tangan Yuna. “Ada perasaan lega dalam hatiku. Dia masih menerimaku. Dia memberiku kesempatan untuk tetap bersamanya. Itu membuatku sangat bersyukur, Yuna. Sekarang, tugasku adalah meyakinkan dia jika aku benar-benar berubah. Jika aku hanya mencintainya,” jawab Nora.
Yuna mengangguk dengan senyum. “Semangat, Kak. Kakak pasti bisa,” ucap Yuna.
Nora mengangguk disertai senyum. “Iya. Terima kasih, Yuna,” jawab Nora. “Tentang Lee, tolong sampaikan padanya jika aku minta maaf,” lanjutnya.
“Iya. Aku akan menyampaikannya,” jawab Yuna.
"Aku berharap semoga hubungan Dimas dan Lee selalu baik-baik saja."
"Aamiin. Pasti Kak."
Kemudian mereka berdua kembali melangkah menuju kamar samping dan menemani Neva. Saling bercerita dengan bahagia.
nah gitu aja,kalo Yuna lagi ngambek jawabnya i love you,i love you,i love you terus aja leo🤣🤣,ya Allah aku ngakak
yaelaaaah aq d bawa k alam mimpi pas ngetik komen🤣🤣🤣🤣