NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Hati

Reinkarnasi Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:972
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Sore harinya, setelah perawat selesai merapikan dan memasang perban di bekas infus Lani, Afrain dengan sigap membantu wanita itu untuk turun dari ranjang.

Tubuh Lani memang masih sedikit lemas, namun kondisinya sudah jauh lebih baik daripada kemarin malam.

Sesuai dengan perkataannya, Afrain mengajak Lani pulang ke rumahnya.

Saat mereka berjalan beriringan menuju lobi rumah sakit dan hendak memasuki mobil sedan mewah miliknya, Lani tiba-tiba teringat akan satu hal.

Ia menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke arah Afrain.

"Mas, koperku di mana?" tanya Lani, celingukan mencari satu-satunya barang peninggalan yang tersisa dari rumah tangganya yang hancur.

"Sudah aku buang, Lan. Di rumah sudah ada pakaian untuk kamu," jawab Afrain dengan santai, seolah membuang koper usang dan baju-baju basah berlumpur itu adalah hal paling mendasar yang memang harus dilakukan.

Afrain ingin Lani membuang semua memori buruk itu, dimulai dari barang-barang yang berkaitan dengan Alex.

Lani sempat tertegun, namun ia memilih tidak memprotes. Ia tahu Afrain melakukan itu demi kebaikannya.

Di sepanjang perjalanan, mereka berdua hanya diam.

Keheningan yang tercipta di dalam kabin mobil tidak terasa canggung, melainkan sunyi yang menenangkan.

Lani melemparkan pandangannya ke luar jendela, menatap jalanan kota yang mulai padat, sementara Afrain fokus menyetir dengan sesekali melirik Lani lewat kaca spion tengah, memastikan wanita itu tidak kelelahan.

Sesampainya di rumah mewah milik Afrain, gerbang besi tinggi terbuka otomatis.

Mobil berhenti tepat di depan teras yang megah. Begitu pintu depan dibuka, Mbok Mar sudah berdiri di sana dengan senyum ramah yang merekah lebar.

"Waduh waduh... siapa ini? Cantik sekali!" seru Mbok Mar spontan, matanya berbinar melihat sosok wanita berwajah sendu namun anggun yang berjalan di samping majikannya.

Afrain tersenyum tipis, lalu menepuk pelan pundak Lani untuk memperkenalkannya.

"Mbok, ini Lani. Tamu yang saya bilang tadi. Tolong bantu jaga dan rawat dia dengan baik ya selama di sini."

Afrain mengantarkan Lani ke ruang tamu yang luas dan bernuansa hangat.

Sofa beludru yang empuk serta pencahayaan yang pas membuat ruangan itu terasa sangat nyaman, jauh berbeda dari atmosfer mencekam yang Lani rasakan di rumah kontrakan lamanya.

"Istirahatlah, nanti kita makan malam bersama," ucap Afrain lembut sembari menuntun Lani untuk duduk.

Sebelum Lani sempat membalas, Afrain merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang yang masih disegel, bersama dengan sebuah buku tebal berwujud novel fiksi dengan desain sampul yang indah.

Ia meletakkannya dengan hati-hati di atas meja, tepat di hadapan Lani.

"Dan ini ponsel dan novel baru untuk kamu," lanjut Afrain.

Lani menatap benda-benda di atas meja dengan dahi berkerut.

"Mas, ponselku yang lama kan masih ada..."

"Ponsel lama kamu sudah aku bereskan. Mulai hari ini, pakai nomor baru yang ada di dalam sana," potong Afrain dengan nada tegas yang tak terbantahkan.

Ia menatap Lani lekat-lekat sebelum menambahkan dengan wajah serius, "Jangan simpan nomor ular-ular."

Lani berkedip beberapa kali, tampak bingung dengan istilah asing yang baru saja didengarnya.

"Ular?"

"Iya, ular cobra," sahut Afrain datar, merujuk pada Mira, Alex, dan seluruh anggota keluarga berhati racun yang kemarin telah menginjak-injak harga diri Lani.

Wajah Afrain yang tampak sangat serius saat mengucapkan kata 'ular cobra' justru terlihat menggemaskan di mata Lani.

Mendengar perumpamaan sarkas dari pria bertubuh tegap itu, pertahanan kesedihan Lani runtuh seketika.

Lani tertawa terbahak-bahak, tawa lepas pertama yang akhirnya kembali menghiasi wajah cantiknya setelah berhari-hari dirundung air mata.

Beban berat di dadanya seolah terangkat begitu saja melihat cara Afrain menghiburnya.

Setelah tawanya mereda, Lani menatap Afrain dengan binar mata yang kini mulai memancarkan kembali kehidupan.

"Mas, terima kasih," ucap Lani sambil tersenyum tipis.

Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa meninggalkan masa lalunya adalah keputusan terbaik yang pernah terjadi di dalam hidupnya.

Afrain menutup pintu kamar dengan perlahan, memberikan ruang dan privasi penuh bagi wanita yang baru saja diselamatkannya itu.

Begitu derit pintu merapat, keheningan yang menenangkan seketika menyelimuti ruangan.

Lani mengembuskan napas panjang, melepaskan sisa-sisa sesak yang sempat bersemayam di dadanya.

Ia melangkah mendekati ranjang empuk berseprai bersih yang wangi, lalu merebahkan tubuhnya yang masih terasa sedikit lemas.

Ia mengambil dan memakai ponsel pemberian Afrain.

Kotak gres itu ia buka, menyalakan perangkat baru yang bergerak sangat cepat, dan mendapati sebuah nomor baru yang sudah siap digunakan di dalamnya.

Layarnya bersih, tidak ada lagi notifikasi makian, tidak ada lagi foto pengkhianatan yang sengaja dikirimkan untuk menghancurkannya.

Lani menatap layar ponsel itu sejenak, lalu teringat ucapan pria berwajah datar namun berhati hangat yang baru saja keluar dari kamarnya.

"Ular cobra..." gumam Lani tertawa kecil.

Tawa renyah itu mengalun ringan di dalam kamar. Julukan sarkas dari Afrain untuk mantan suami dan sahabat pengkhianatnya itu benar-benar berhasil mengubah tragedi yang dialaminya menjadi sebuah lelucon yang tak lagi perlu ia tangisi.

Sambil memeluk novel baru di sampingnya, Lani memejamkan mata sejenak, siap menyongsong malam pertamanya di tempat yang baru dengan hati yang jauh lebih tenang.

Matahari mulai terbenam dan Mbok Mar mulai memasak makan malam di dapur.

Aroma harum tumisan bumbu tradisional perlahan menyeruak, memenuhi seluruh penjuru rumah mewah itu.

Afrain di dapur, berdiri bersedekap dada di dekat meja kitchen island. Pria itu rupanya sengaja mengawasi jalannya proses memasak demi memastikan hidangan yang disajikan cocok untuk kondisi lambung tamu istimewanya.

"Mbok, jangan pedas-pedas ya. Lani baru saja keluar dari rumah sakit, makannya harus dijaga," ujar Afrain.

"Siap, Mas Afrain! Ini cabainya Mbok kurangi banyak, bumbunya dibuat gurih saja supaya Mbak Lani selera makan," sahut Mbok Mar sambil tersenyum.

Di saat yang sama, Lani keluar dari kamar dan menuju ke dapur.

Langkah kakinya sudah jauh lebih ringan, dan wajahnya tidak lagi sepucat tadi, setelah sempat beristirahat beberapa jam di atas ranjang yang nyaman. Melihat kesibukan di area memasak, jiwa keibuannya mendadak terusik.

"Boleh aku bantu?" tanya Lani lembut, melangkah mendekat dengan niat tulus ingin meringankan pekerjaan Mbok Mar.

"No!"

Satu kata tegas dan lugas itu meluncur begitu saja dari bibir Afrain, membuat Lani seketika menghentikan langkahnya dengan mata berkedip heran.

Afrain memintanya untuk duduk di kursi bar yang terletak di depan meja dapur.

"Kamu itu statusnya masih pasien jalanan. Tugasmu di sini cuma istirahat, nonton, baca novel, dan makan yang banyak. Jangan sentuh urusan dapur dulu sebelum perban di tanganmu dilepas."

Mbok Mar yang melihat interaksi itu terkekeh geli. "Betul itu, Mbak Lani. Sudah, nurut saja sama Mas Afrain daripada nanti Mbok yang kena omel. Duduk manis saja di sana ya, Mbak."

Lani akhirnya hanya bisa pasrah. Sembari berjalan menuju kursi yang ditunjuk, ia melirik Afrain yang masih memasang wajah datar protektifnya.

Di dalam hati, Lani tidak bisa menyembunyikan rasa hangat yang perlahan mengalir; rasanya sudah lama sekali tidak ada orang yang memperlakukannya bagai permata berharga yang takut pecah seperti ini.

Mbok Mar selesai memasak dan mulai menghidangkan makanannya di atas meja makan yang panjang.

Aroma sup ayam yang gurih dan wangi bawang goreng seketika menggugah selera.

"Ayo Lani, kita makan malam," ajak Afrain, menarik kursi untuk Lani sebelum akhirnya ia sendiri duduk di kursi utama.

Lani mulai menikmati makanannya dengan tenang.

Masakan Mbok Mar yang hangat benar-benar membuat perutnya yang sempat mual karena stres kini terasa jauh lebih nyaman.

Di tengah keheningan denting sendok, Lani menatap Afrain yang berada di hadapannya.

"Mas Afrain..." panggil Lani pelan.

"Hm, ada apa?" sahut Afrain tanpa mengalihkan pandangannya dari piring, namun telinganya siap mendengarkan.

"Aku mau mencari kerja. Aku tidak enak jika harus menumpang di sini terus, Mas," ucap Lani mengutarakan isi hatinya. Sebagai wanita mandiri, ia tidak ingin menjadi beban hidup bagi siapa pun, termasuk bagi pria sebaik Afrain.

Afrain meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap Lani lekat-lekat.

"Lan, kamu itu masih rawat jalan. Tapi kalau kamu memaksa, lusa ikut aku ke kantor. Aku sedang butuh sekretaris seperti kamu, dan kamu tidak boleh menolaknya."

Lani tertegun, matanya membelalak. "Tapi Mas, aku belum memasukkan lamaran dan—"

"Tidak ada tapi-tapian, Lani. Ini perintah, bukan tawaran," potong Afrain dengan senyum tipis yang sarat akan otoritas mutlak.

Ia sengaja melakukan ini agar Lani tetap berada di bawah pengawasannya dan terhindar dari gangguan luar.

Lani menghela napas panjang, menyadari bahwa mendebat Afrain adalah hal yang sia-sia. Namun, di dalam lubuk hatinya, ada rasa syukur yang membuncah karena diberi kesempatan secepat ini.

"Baiklah, Mas."

Mereka melanjutkan makannya dengan suasana yang jauh lebih hangat dan santai.

Di sisi lain, di rumah kontrakan lama yang kini terasa asing, Alex baru saja bangun tidur setelah pagi tadi mereka menikah.

Perutnya berbunyi keroncongan, menuntut untuk segera diisi.

Alex menuju ke dapur dan mendapati ruangan itu kosong, gelap, serta tidak ada makanan malam sama sekali di atas meja.

Tidak ada kepulan asap dari magic com, pun tidak ada tudung saji yang biasanya menyembunyikan lauk hangat.

"Mir, kamu nggak masak?" tanya Alex dengan suara serak.

Ia menghampiri Mira yang sedang asyik bermain ponsel di ruang tengah dengan kaki selonjoran.

Mira mendongak, lalu menggelengkan kepalanya tanpa rasa bersalah.

"Aku capek, Mas. Kaki aku kan masih agak nyeri karena jatuh kemarin. Kita beli saja, Mas. Gampang, kan? Tinggal pesan lewat aplikasi."

Mendengar jawaban itu, Alex hanya bisa terdiam. Ia membalikkan tubuhnya kembali ke dapur untuk mengambil segelas air putih.

Saat matanya menatap meja makan yang kosong melompong, kilasan masa lalu mendadak berputar di kepalanya.

Biasanya, jam segini Lani sudah selesai memasak.

Bahkan jika Lani lelah setelah seharian bekerja, wanita itu pasti akan menyempatkan diri keluar membeli lalapan dekat rumah demi memastikan suaminya tidak kelaparan saat pulang.

Alex melihat meja makan yang biasanya sudah siap masakan Lani.

Untuk pertama kalinya sejak kalimat talak itu ia ucapkan, ada rasa sesak yang menyelinap di dada Alex.

Ia mulai menyadari, kenyamanan yang selama ini ia anggap biasa saja, kini telah hilang bersama perginya wanita yang ia sebut mandul itu.

1
Dew666
🪭🪭🪭🪭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!