NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Pemuas Badboy Kampus

Terpaksa Menjadi Pemuas Badboy Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Gymora Sasami seorang mahasiswa yang terkenal akan kepintarannya, dia juga putri tunggal keluarga kaya.
Dia selalu dipuji dan dieluh-eluhkan di kampus.
Namun, citra yang sebelumnya sudah dibangun olehnya terancam dihancurkan oleh seorang Badboy kampus yang tidak sengaja memergoki dirinya digudang saat sedang memuaskan dirinya sendiri.
Pagi itu digudang, Draka Nilon mengambil alat yang ada ditangan Gymora, hal itu membuat Gymora yang akan mencapai titik kepuasannya terkejut.
"Aku tidak menyangka, seorang wanita cantik yang terkenal pintar dan jual mahal di kampus melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini," sindir Draka.
Gymora langsung menutup tubuh bagian bawahnya.
"Draka aku mohon, jangan sebarkan video itu!" pinta Gymora.
Melihat Draka yang diam, Gymora terus memohon.
"Karena kamu terus memohon dan berlutut, baiklah kita buat kesepakatan. Kalau kamu ingin aku tidak menyebarkan videomu itu. Kamu harus melayaniku!"
Kedua bola mata Gymora membelalak, mengingat dia belum pernah melaku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19.

Draka mengangkat ponsel dan menatap layar, memastikan pesanan nasi goreng pinggir jalan yang sederhana itu sudah tiba.

Ia tahu Gymora, dengan kecerdasannya yang luar biasa di kampus, pasti tak akan curiga jika makanannya tampak biasa saja.

Ia sebenarnya ingin memesan makanan dari hotel berbintang sebagai bentuk kasih sayangnya pada Gymora.

Tapi, ia tidak mau jika kepercayaan dari gadis itu semakin lama semakin menghilang.

Dengan hati-hati, Draka meletakkan kotak nasi goreng di meja kecil ruang tamu, lalu berjalan menuju kamar Gymora sambil memanggil namanya pelan, "Gymora..."

Namun, tak ada jawaban. Ia mengulang panggilannya beberapa kali, suaranya mulai sedikit cemas.

Ketika ketukan di pintu tidak direspons, Draka menggedor dengan lembut, tapi pintu tetap tertutup rapat.

Rasa penasaran dan sedikit khawatir mendorongnya untuk membuka pintu perlahan.

Tapi ... Dari tadi mengetuk pintu, tidak ada tanda-tanda Gymora ingin membukanya.

Draka merasa takut, kalau Gymora kembali ingin bunuh diri.

Lantas ia pun segera masuk ke dalam.

Di dalam kamar, ia menemukan Gymora sedang tidur pulas, wajahnya tenang dan damai, seolah jauh dari segala beban dunia.

Draka berhenti sejenak, menatap wajah cantik itu dengan lembut ada rasa lega dalam hatinya melihat Gymora tidur dengan damai seperti ini.

Mengingat tadi saat dirumah duka, Gymora nampak begitu terpukul.

Tanpa sadar, bibirnya menyentuh dahi Gymora dalam kecupan hangat penuh kasih sayang.

Tangannya perlahan menyentuh pipi halus wanita itu, mengusap dengan lembut seolah ingin mengukir momen itu dalam ingatannya.

Dalam keheningan kamar itu, Draka merasakan campuran perasaan hangat dan haru yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

"Sekarang aku benar-benar yakin Gymora, kalau aku memang sudah jatuh cinta padamu. Aku janji akan menjagamu ... " Gumam Draka, tangannya menyentuh tangan Gymora bahkan mengelusnya perlahan.

"Bahkan mulai sekarang, aku akan terus mengembangkan perusahaan milikku agar bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu. Walaupun jika menikah denganmu harus melawan keluargaku, aku akan tetap melakukannya." Kata Draka penuh tekad.

Makanan yang dipesan Draka sudah datang, tapi ia malah mendapatkan telepon dari Gio asisten pribadi grup Timoty.

Awalnya Draka enggan mengangkat telepon itu, takutnya Sachi akan membuat masalah lagi untuknya.

Tapi akhirnya ia tersadar, selama ini hanya Selena dan beberapa orang bawahan Selena yang mengurus Sachi.

Sedangkan Gio yang selama ini menjadi orang kepercayaan Timoty Edward tidak pernah mengurus hal lain selain pekerjaan.

"Tuan, saya ingin membicarakan kerja sama dengan Anda. Malam ini kita bertemu ... " kata Gio dari balik telepon.

Draka tentu langsung menyetujui permintaan Gio, mengingat perusahaan Raka Grup yang ia dirikan sendiri membutuhkan dukungan.

Keluarganya sendiri menolak mendukung Raka Grup, karena ingin Draka segera mengambil alih Grup Nilon.

Setelah menutup telepon, Draka akhirnya menyadari sesuatu yang aneh.

"Kenapa Gio membahas kerja sama dengan Raka Grup? Apakah dia menyelidikiku?" gumam Draka bingung, ia masih mengira jika Gio menghubunginya karena urusan pertunangannya dengan Sachi yang batal.

Kadang ia merasa muak dengan Sachi, wanita itu selalu menggunakan cara licik untuk mengambil simpatinya.

Dulu, ia akui dirinya sempat suka dengan Sachi. Apalagi sejak kecil keduanya tumbuh bersama.

Tapi semakin lama, sikap posesif Sachi dan manjanya benar-benar susah ditolerir oleh Draka.

Sementara itu, disebuah ruangan VVIP direstoran.

Roland duduk terpaku di kursi kulit empuk ruangan VVIP itu, wajahnya pucat dan matanya sembab.

Di depannya, Gio dengan ragu membuka beberapa video dari ponsel kecilnya.

Suara-suara gaduh dan teriakan mengisi layar, memperlihatkan Gymora yang tengah dipukuli dan diinjak-injak oleh sekelompok siswa kampus.

Perlahan, air mata mulai mengalir dari sudut mata Roland, membasahi pipi yang mulai bergetar.

"Putriku selama ini begitu menderita, dan bodohnya aku tutup mata karena rasa cintaku pada Gwen ... " Desahnya dalam hati penuh dengan penyesalan.

Di salah satu video, sosok Gwen tampak berdiri di pinggir kerumunan, wajahnya dingin dan acuh tak acuh, seolah tidak ada kepedulian sama sekali terhadap penderitaan putrinya sendiri.

Tatapan Roland membara, campuran sakit hati dan kemarahan yang sulit ia tahan.

Jantungnya terasa sesak, menyaksikan betapa wanita yang dulu pernah ia cintai kini berubah menjadi sosok yang tak berperasaan.

Layar berganti, menampilkan Draka—pria yang dikenal Roland hanya dari cerita—dengan cepat mengangkat Gymora yang terluka parah dan membawanya ke dalam mobil mewahnya.

Ada ketegasan dan kelembutan di sorot matanya, seolah bertekad untuk melindungi anak itu dari dunia yang kejam.

"Jadi, pria ini yang menolong putriku?" suara Roland bergetar, napasnya tersendat.

Hatinya seperti diremas, antara rasa syukur dan perih yang membakar dada.

Ia mengusap wajahnya dengan tangan gemetar, mencoba menahan badai emosi yang siap pecah.

Draka melangkah masuk ke ruang pertemuan dengan langkah tegap, Dylan di sampingnya membawa tumpukan dokumen berisi proposal dan kontrak kerja sama.

Namun, wajah Draka tiba-tiba berubah tegang ketika matanya menangkap sosok pria yang duduk di ujung ruangan—pria yang wajahnya begitu mirip dengan Alan Timoti, ayah Gymora yang pagi tadi baru saja ia temani di rumah duka.

Detak jantung Draka berdegup lebih kencang, ingatan tentang pagi penuh duka itu seketika menghantamnya.

Pria itu berdiri perlahan, senyumnya hangat namun penuh arti. "Saya Roland Timoty," ucapnya dengan suara mantap, "anak dari Timoty Warner yang selama ini hilang."

Draka menatapnya dengan campuran rasa penasaran dan hormat, seolah mencoba mengaitkan benang-benang cerita yang selama ini tersembunyi.

Roland mengangguk singkat, lalu menatap Draka dengan tatapan penuh terima kasih. "Terima kasih sudah menyelamatkan putriku, Gymora, saat dia mengalami tekanan di kampus. Itu bukan hal mudah, dan aku menghargai keberanianmu." Suaranya terdengar tulus, namun ada getaran harapan di balik setiap katanya.

Dengan gestur tenang, Roland membuka dokumen di tangannya dan mulai menjelaskan maksud kedatangannya. "Aku ingin mengajakmu bekerja sama, bukan hanya demi Gymora, tapi juga untuk hal-hal yang lebih besar. Ini bukan hanya tentang bisnis, tapi tentang kepercayaan dan masa depan yang ingin kita bangun bersama."

Draka mengangguk perlahan, matanya yang sebelumnya penuh kecemasan kini berubah menjadi fokus dan penuh perhatian.

Ia menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar urusan dokumen, tapi babak baru dalam hidupnya yang penuh dengan tantangan dan harapan.

"Tapi ... Alasannya kenapa Tuan nggak mengungkapkan identitas langsung kepada Gymora? Saya yakin dia pasti senang." Sahut Draka.

Mengingat Gymora begitu terpukul dengan kematian ayahnya, mungkin gadis itu itu sangat bahagia jika mengetahui ayahnya masih hidup.

Alan menggelengkan kepalanya, "situasinya sangat rumit. Ini berhubungan dengan Sachi dan Selena, aku takut putriku dalam bahaya."

"Orang-orang kelas atas tidak pernah peduli dengan pejabat pemerintahan, aku yakin selama ini mereka juga tidak mengenaliku." Yang dimaksud oleh Alan Selena dan Timoty Warner pasti sbelumnya tidak mengetahui hal tentang dirinya.

"Jadi kalau aku sudah meninggal, mereka tidak akan mencari tahu. Bahkan aku sengaja menggunakan foto ku saat memakai kaca mata untuk dipajang di beberapa berita. Dengan bantuan Gio, aku sudah menghapus beberapa informasiku."

1
Mia Camelia
lanjut thor 😄
cerita nya seruuu👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!