Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Sambil menunggu pesanan tiba, ia bergegas membersihkan diri. Ia tidak ingin terlihat lelah dan berantakan saat suaminya keluar dari kamar. Ia ingin memastikan penampilannya tetap rapi dan menarik, agar perlahan bisa menarik perhatian Raka.
“Masih ada waktu sebelum makanan datang, sebaiknya aku mandi dulu,” pikirnya, lalu segera melangkah masuk ke kamar mandi.
Sementara itu, Raka baru terbangun dari tidurnya. Ia sudah terlelap sedemikian lama hingga tidak sadar bahwa hari telah berubah menjadi malam.
“Astaga, sudah malam rupanya. Sebaiknya aku segera membersihkan diri. Tapi tunggu, apa yang sedang dilakukan gadis manja itu sekarang? Kenapa aku malah memikirkannya? Tidak penting, dia pasti bisa mengurus dirinya sendiri,” gumamnya sambil melangkah menuju kamar mandi.
Keduanya keluar dari kamar masing-masing hampir bersamaan, mendengar suara bel pintu berbunyi nyaring.
Raka hendak membuka pintu, namun Laras segera mencegahnya.
“Biarkan aku yang membukanya, Kak. Mungkin makanan yang aku pesan sudah datang. Kakak duduk saja di meja makan,” ujarnya lembut.
Tanpa menjawab, Raka berjalan menuju ruang makan. Ia memang sudah merasa sangat lapar.
Setelah menerima pesanan makanan, Laras segera menata hidangan di atas meja dengan rapi. Raka terkejut melihat bahwa semua makanan yang dipesan adalah menu kesukaannya. Gadis itu kemudian menyendokkan nasi dan lauk ke piring suaminya dengan penuh perhatian.
“Apakah porsinya sudah cukup, Kak?” tanyanya sambil tersenyum.
Raka hanya mengangguk pelan.
“Kakak ingin lauk apa saja? Semua yang aku pesan adalah makanan yang Kakak sukai,” tambah Laras, karena ia sudah bertanya banyak hal mengenai kebiasaan dan selera Raka kepada Sari sebelumnya.
“Terserah,” jawab Raka singkat, meskipun semua hidangan di meja itu memang membangkitkan selera makannya.
Laras pun mengambilkan beberapa jenis lauk dan menyajikan untuk suaminya, melakukannya dengan hati yang senang.
“Silakan dimakan, Kak,” katanya, lalu mulai menyiapkan piringnya sendiri.
Makan malam berlangsung dalam keheningan, hanya terdengar suara denting sendok dan garpu. Segera setelah selesai makan, Laras berdiri dan berniat membersihkan meja agar bisa segera beristirahat.
“kemapa kamu tidak masak sendiri tadi?” tanya Raka tiba-tiba.
“Aku belum pandai memasak, Kak, jadi sementara ini aku memesan makanan siap saji. Tapi besok aku janji akan belajar langsung bersama Mama,” jawab Laras jujur.
“Baiklah, kali ini aku maklumi. Tapi lain kali tidak boleh ada alasan lagi. Aku ingin mulai sekarang hanya menyantap masakan yang kamu buat sendiri,” tegas Raka, lalu berdiri dan meninggalkan ruangan.
“Hati-hati di jalan, Kak. Jangan lupa nanti menjemputku di rumah Mama ya,” pesan Laras sambil mencium tangan suaminya sebelum Raka pergi.
*****
Hari berikutnya...
Laras bangun lebih awal. Ia membersihkan seluruh ruangan apartemen, menyiapkan sarapan, dan menata segala sesuatunya agar rapi.
“Aku harus menyelesaikan semua pekerjaan rumah ini, lalu mandi dan berangkat ke kampus. Ternyata menjadi ibu rumah tangga tidak semudah yang dibayangkan. Semangat, Laras, kamu pasti bisa,” bisiknya pada diri sendiri untuk memberi semangat.
Di kantin kampus, dua sahabatnya, segera menyambut dengan godaan.
“Wah, pengantin baru yang baru pulang dari bulan madu. Wajahmu terlihat sangat bahagia,” goda Slamet.
“Tentu saja bahagia, dia akhirnya bisa menikah dengan pria yang selama ini ia impikan,” tambah Ana.
“Kalian ini bicara terlalu keras, malu dilihat orang lain,” jawab Laras sambil memerah karena malu.
Mereka bertiga duduk bersama, dan Laras mentraktir kedua sahabatnya karena tidak sempat mengundang mereka di pesta pernikahannya yang berlangsung mendadak.
“Bagaimana malam pertamanya? Cerita dong,” tanya Ana dengan penasaran.
“Kamu ini tidak tahu malu bertanya hal seperti itu, apalagi ada Slamet di sini,” jawab Laras sambil menunduk.
“Tidak apa-apa, kita sudah berteman lama. Jika ada yang ingin diceritakan, kami siap mendengarkan,” kata Slamet sambil tersenyum.
“Sudahlah, jangan bahas itu lagi, aku malu," ujar Laras.
“Jangan-jangan kalian belum benar-benar menjadi suami istri? Bukankah pernikahan ini terjadi karena calon istrinya yang minggat? Jangan sampai suamimu tidak tertarik padamu, kamu harus bisa membuatnya tergila-gila padamu,” kata Ana dengan nada bercanda namun menyisakan kekhawatiran.