"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana dua anak Sahara
Argadana terus mendengarkan cerita Rani yang sejak ibunya meninggal hanya diam di kamar, tidak pernah keluar dan berinteraksi dengan orang orang, bahkan keluarga di rumah hanya tahu kalau Rani itu tidak bisa mendengar dan tidak suka bergaul.
Semua cerita itu membuat Argadana dan Anggadana merasa kasihan pada Rani yang bahkan untuk bermain keluar rumah pun tidak bisa, hanya bisa menunggu ayahnya pulang untuk bisa di temani bermain.
"Aku ingin melakukan sesuatu untuk kamu Rani, bisakah kamu keluar?" tanya Argadana
"Tapi apa? iblis beltanduk itu pasti akan tahu kalau aku kelual dan dia akan menculik ku" tanya Rani
"Bisakah kamu membuat kami masuk?" tanya Anggadana.
"Lani tidak tahu apa apa, bagaimana calanya" tanya Rani lagi
"Aku punya kutu gaib pemakan energi, kalau dia bisa menempel di pagar gaib buatan iblis Luca itu maka pagarnya akan berangsur menipis meskipun butuh waktu sampai berminggu-minggu, saat itulah kami akan bisa masuk dan menemui kamu, kamu cukup lindungi kutu ini kalau dia bersembunyi di kamar kamu, bagaimana?" tanya Argadana
"Iya, aku mau beltemu kalian, mau belmain dengan kalian juga" jawab Rani
"Kalau begitu kamu rawat kutu ini ya, kutu ini warnanya putih karena kutu ini sudah kami segel supaya jadi budak kami saja" ucap Anggadana.
"Iya" jawab Rani
Argadana dan Anggadana mencoba untuk percaya pada Rani, mereka akan mengambil resiko meskipun mungkin Rani nanti akan ketahuan dan membuka rahasia rencana yang mereka buat, tapi kesempatan sekecil apapun akan di ambil keduanya supaya mereka bisa membuat Luca kalah dan tidak membuat mereka terancam.
Argadana melepaskan kutu yang sudah dia segel ke arah pagar gaib Luca, kutu itu bisa masuk karena dia akan menempel di rambut penjaga yang kebetulan keluar. Tugasnya adalah menempel di pagar gaib saat Luca dan Radini tidak ada, dan saat Radini pulang, kutu itu akan masuk ke dalam kamar Rani yang sudah di pastikan aman.
"Tapi Rani, kenapa Luca tidak bisa masuk ke dalam kamar kamu dan ayah kamu?" tanya Anggadana.
"Kata ayah itu kalena ada ali ali dua Abang Lani di sini, itu di simpan ayah kalena kedua Abang Lani adalah anak istimewa dan bisa membuat Iblis beltanduk itu kepanasan, tapi Abang Lani di bunuh oleh dia saat bayi" jawab Rani
Anggadana menatap Argadana, mereka mengangguk karena punya pemikiran yang sama dan akan mengatakan apa yang mereka temukan pada Rukmini dan Gandra supaya mereka bisa kembali membicarakan hal itu dengan jin pelindung lain.
"Kami harus pergi, jaga diri kamu baik baik dan terima kasih karena sudah membantu kami" ucap Argadana
"Iya, semoga kita bisa segela beltemu dan belmain belsama"
"Aku akan mengajak kamu main ke danau"
"Iya, Lani mau lihat danau, mau keliling pasal malam, kata ayah di sana menyenangkan" jawab Rani membuat kedua putra Sahara menitikkan air mata mereka karena mereka tidak menyangka anak sekecil Rani yang biasanya manja dan sering merengek untuk keluar bermain, justru bisa begitu kuat dan patuh pada perintah ayahnya.
"Kami janji akan segera membawa kamu keluar dari rumah ini Rani" ucap Argadana
•••••••••••••
Di bengkel.
"Dimas, lihat anak anak tampan Sahara tidak?" tanya Sahara
"Semalam mereka ijin ke wilayah Radini, katanya mau mengirimkan kutu peliharaan mereka" jawab Dimas
"Iya Sahara tahu tapi kenapa mereka tidak kembali?" tanya Sahara murung dan khawatir.
"Mereka itu sama dengan si Luca Luca itu, tidak bisa di lihat Sahara, anak anak kita itu pelindung perjodohan darah jadi hanya aku, kamu dan sosok sosok yang di inginkan mereka saja yang bisa melihat mereka" ucap Dimas
"Tapi si Rudin sepertinya bisa lihat mereka, si Luca juga" jawab Sahara
"Tidak, Insya Allah mereka aman" jawab Dimas
Sahara baru saja akan kembali melompat ke punggung Dirga, tapi anak anaknya muncul dan langsung membuat Sahara memekik memeluk kedua anaknya sambil menangis karena khawatir anaknya itu di celakai Luca.
"Huhuhuhu... kalian kemana saja kenapa tidak kirim pesan sama ibunda" lirih Sahara membuat Dimas menatapnya malas karena dramanya begitu berlebihan.
"Tidak apa apa ibunda, kami di sana lama karena kami sedang mencari cara untuk menembus pagar gaib si iblis itu" jawab Argadana memberikan banyak singkong yang mereka bawa dari kebun milik Supri.
"Hihihi... singkong , Sahara mau bakar dulu ah sama cah Bagus, ayo Dirga kita ke halaman belakang" ajak Sahara langsung menghilang bersama singkong singkong itu.
"Astagfirullah, baru saja dia menangis memeluk dua anaknya dan sekarang dia langsung menghilang" kaget Dirga yang masih di warung kopi Sadam karena ingin mengobrol dengan Sigit tentang lahan Bintang.
"Tangisan palsu, sepertinya dia sejak tadi sudah melihat singkong singkong itu, jadi dia berdrama dulu" jawab Dimas dan semuanya terkekeh.
"Untung bengkel ini sedang sepi jadi kita bisa tertawa puas melihat kerandoman Sahara" ucap Gibran
"Tapi papa, ternyata di rumah itu ada anak kecil yang punya kemampuan unik, dia bisa berbicara dengan kami lewat telepati, dia bahkan mendengar semua yang ada di luar kamarnya, tapi dia tidak bisa keluar kamar" ungkap Anggadana membuat Dirga juga yang lain penasaran.
"Maksudnya ada anak baik di rumah iblis itu yang membantu kalian? Mungkin dia hanya ingin menjebak kalian" ucap Dimas
"Tidak papa, dia anaknya kakaknya Rudin" jawab Anggadana
"Kak Roman" ucap Dirga dan Dimas mengangguk.
Kedua anak Sahara mejelaskan apa saja yang mereka lakukan di tempat itu bahkan tentang rencana mereka untuk membuat pagar gaib di rumah Radini menipis supaya mereka bisa masuk dan membawa Rani pergi. Dan tentang ari ari kedua kakak Rani yang di jadikan tumbal Radini juga di ceritakan kedua anak Sahara pada Dimas, Dirga dan Sigit.
"Innalillahi, mereka menggunakan janin atau bayi dari keluarga mereka sendiri, pantas saja iblis itu semakin kuat, itu karena pembunuhan antar saudara sangat di sukai iblis dan setan, perkawinan sedarah bahkan maksiat" ungkap Dirga
"Kamu benar nak, aku akan ke tempat Hala dan Gandra, aku akan mengatakan tentang hal ini pada mereka, Rukmini juga" ungkap Badaruddin.
"Iya Om, cari cara supaya kita bisa mengalahkan mereka dan menyelamatkan orang orang tidak bersalah seperti kak Roman dan Rani" ucap Dimas
"Rani itu...."
Belum sempat Anggadana mengatakan apa yang dia ingin ungkapkan pada Dimas dan yang lain, seorang laki-laki yang mendorong motor vespa tiba tiba saja datang ke bengkel Dimas. Itu adalah Roman, bajunya bahkan sudah basah oleh keringat karena mungkin mendorong motor tua itu di sepanjang perjalanan ke bengkel.
"Maaf, apa bisa mengecek motor saya?" tanya Roman mengangguk sopan pada semua orang.
"Juragan Roman, biar saya periksa motornya" jawab Panji
"Terima kasih" jawabnya lalu Restu menyediakan kursi untuk Roman duduk.
"Kak Roman kepanasan?" tanya Dirga memberikan segelas air untuk Roman.
Dia mengira mungkin Roma kepanasan karena efek pagar gaib baru di rumah Bintang yang hanya bisa membuat nyaman orang orang baik saja dan membuat orang jahat kepanasan. Tapi sepertinya Dirga salah, Roman memang sudah berkeringat sejak sebelum masuk ke gerbang rumah Bintang yang kebetulan juga jadi gerbang ke bengkel Dimas.