NovelToon NovelToon
Candu Ragamu

Candu Ragamu

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Syela

Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Negotiations (A)

Hidup terus berjalan, tak peduli apa pun yang hancur di sekelilingnya. Dunia tidak pernah berhenti menunggu siapa pun. Tantangan dan rintangan bisa meremukkan tulang, bisa menelanjangi jiwa, tapi roda waktu tetap berputar tanpa belas kasih. Kalau tak bisa terbang, orang harus berlari. Kalau tak mampu berlari, setidaknya berjalan. Kalau berjalan pun terasa mustahil, maka merangkaklah, asal tidak menyerah. Sebab berhenti berarti pasrah pada arus yang bengis, yang mudah ditelan, ditenggelamkan pun dilupakan.

Emily menatap bayangannya sendiri di cermin besar, membiarkan kata-kata itu bergema dalam pikirannya. Ia tahu, melawan Andrew bukan hanya perkara hitam dan putih. Di dunia yang kejam ini, kebenaran hanyalah ilusi, suci pun selalu ternoda. Setiap niat, setiap langkah, selalu berlumur kepentingan. Benar, itu memuakkan. Dan siapa pun yang mencoba berjalan lurus di tengah jalan bengkok orang lain, hanya akan dipandang gila, tersisih, sendirian, karena dunia lebih memilih terbiasa dengan akal bulus daripada berhadapan dengan kejujuran.

Dan ia memilih untuk tetap melangkah, meski harus menapaki jalan yang bukan prinsip dirinya. Tak ada yang benar-benar murni di tengah permainan sebesar ini. Yang ada hanyalah keberanian untuk memutuskan apakah ia akan menjadi pion yang digerakkan, atau tangan yang menggerakkan bidak.

Emily menarik napas panjang. Dalam hatinya, ia sadar betul keputusan untuk melawan Andrew dengan menggandeng Raphael bukanlah langkah yang membuatnya tampak benar. Raphael berbahaya, itu jelas. Lelaki itu bagai racun, sekali berurusan dengannya bisa melumpuhkan. Tapi ketakutan hanya akan menahannya di tempat, bukan? Itu akan membuatnya rapuh dan kalah.

Maka ia memilih jalannya sendiri. Mungkin tidak suci, namun tetap satu-satunya cara untuk bertahan. Setidaknya dengan keputusan ini, ia masih punya kendali. Ia masih bisa menantang Andrew, menegakkan kepalanya, dan meraih kembali kuasa atas hidupnya meski harus menukar sebagian dirinya kepada iblis yang bernama Raphael Walter.

Sekali lagi Emily menatap pantulan dirinya di cermin. Keputusannya sudah bulat, tak ada jalan kembali. Ia merapikan blazer putihnya, membiarkan sentuhan dingin air membasuh jemarinya sebelum meninggalkan toilet.

Langkahnya percaya diri tatkala ia kembali ke dalam restoran mewah itu. Setelan putih modern membalut tubuhnya, blazer tanpa kerah dengan potongan tegas, celana high-waist lebar dari tweed, dan crop top senada yang menyingkap sedikit kulit perutnya dengan berani. Rambutnya dibiarkan tergerai, bertalu mengikuti irama langkahnya yang anggun sekaligus tegas.

Dan di ujung ruangan, tepat di meja pertemuan yang telah mereka sepakati, sosok Raphael sudah menunggunya. Tubuh bidangnya bersandar di kursi dengan satu lengan terhampar terbuka di sandaran. Ketika Emily melangkah mendekat, iris matanya yang gelap menajam, memandangi tubuh wanita itu tanpa tedeng aling-aling. Tatapan penuh maksud dari lekukan pinggang yang tersingkap sedikit hingga garis rahang Emily yang tegas. Begitu sempurna. Ujung bibirnya terangkat membentuk seringai tipis.

Emily duduk di hadapannya tanpa ragu.

Raphael tertawa rendah. Terdengar suaranya serak, juga dalam. "Mimpi apa aku semalam, sampai-sampai kau yang menghubungiku lebih dulu untuk pertemuan ini setelah tiga hari kau menghilang, Nona Cooper?"

Ia memutar gelas wine di tangannya dengan santai, juga menggeser tubuh ke depan, satu siku di atas meja. "Ada yang berubah, hm? Dari cara kau datang menemuiku malam ini, wajahmu sudah menjawab semuanya."

Menghela napas singkat, Emily lalu melipat tangannya di atas meja. Tubuhnya ia condongkan, menatap lurus ke mata Raphael berani. "Aku datang kemari bukan untuk basa-basi. Aku ingin membicarakan urusan kita, dan bagaimana kita melanjutkannya."

Menatap balik sorot berani di mata indah Emily, mata Raphael menyipit tipis, tatapannya menusuk penuh dominasi kala ia memiringkan kepalanya sedikit. "Dan kau tahu, Emily... berbicara tentang melanjutkan urusan denganku, hanya punya satu arti. Kau siap tidur denganku. Itu yang kau maksud, bukan?"

Emily menatap Raphael lurus-lurus dan yakin. "Ya," ujarnya singkat. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan selembar dokumen, mendorongnya ke hadapan pria itu. "Aku menerima surat ini dari pengadilan. Aku tidak akan sudi kalah dari Andrew."

Diraih Rapahel surat itu, membacanya sekilas dengan sorot mata yang tetap tenang, tak berubah. Setelahnya, ia tutup sebelum kembali menaruhnya di atas meja dan menilik arloji di pergelangan tangannya.

"Malam masih sangat panjang," katanya dengan sudut bibir terangkat. "Dan aku sedang tidak sibuk. Kalau kau benar-benar ingin ini selesai secepatnya kita bisa melakukannya malam ini. Di mansionku, di hotel, atau dimanapun terserah yang mana kau rasa nyaman."

Emily terkekeh, mengejek. Lagi, ia condongkan tubuhnya ke depan, menatap Raphael dengan dingin. "Setuju tidur denganmu bukan berarti aku sama seperti mainan murahanmu yang bisa kau tarik ke ranjang kapan pun kau butuh, Raphael. Jangan pernah salah paham."

Ia menegakkan tubuhnya lagi, lalu menyilangkan tangan di dada. "Kita tidak akan menyentuh ranjang sebelum aku melihat hasil pemeriksaan kesehatanmu, STD screening dan laporan andrologi lengkap. Aku harus memastikan kau benar-benar bersih. Aku tidak bodoh. Aku tidak akan mempertaruhkan diriku untuk pria yang bahkan tak bisa kuketahui berapa banyak wanita yang sudah dipakainya."

"Kau meragukanku?" Raphael menyipitkan mata. Bagi pria sekelas dirinya, tuduhan itu seolah menurunkan seluruh pamor dan martabatnya, seakan ia hanyalah lelaki murahan yang membawa penyakit.

Emily tidak bergeming. "Kau mendengarku dengan jelas, bukan? Aku hanya memastikan. Aku tidak akan mengambil risiko untuk sesuatu yang bisa dicegah."

Rahangnya mengeras. Sesaat Raphael hanya menatapnya, sebelum bibirnya melengkung tipis, seringai yang lebih menyeramkan daripada senyum. "Baiklah, Emily. Kalau itu syaratmu, aku akan menuruti."

Raphael meraih botol wine di meja, menuangkannya ke dalam gelas Emily, lalu pada gelasnya sendiri. Cairan merah gelap itu berputar perlahan di dalam gelas mereka, menguarkan aroma tajam yang memabukkan.

Diusungnya gelas itu sedikit tinggi, tatapan matanya tak lepas dari netra Emily. "Cheers," ucapnya.

Terdiam Emily sejenak. Ada sesuatu di balik seringai pria itu yang membuatnya ragu seolah setiap gerak-gerik Raphael selalu punya maksud tersembunyi. Ia tahu, mempercayai pria ini sepenuhnya adalah kebodohan. Namun, mereka akan berdiri di sisi yang sama menghadapi Andrew kelak. Untuk itu, ia perlu menguatkan hati, setidaknya sementara.

Pelan, Emily mengangkat gelasnya. Bunyi tepi gelas mereka terdengar saat gelas mereka bersentuhan. Raphael meneguk dengan elegan, sementara Emily memilih menuntaskan isinya dalam sekali sentak, seakan ingin cepat menghapus getir di dada dan kepalanya.

Raphael terkekeh rendah melihat tingkah Emily. Jadi sebesar itu frustrasinya karena Andrew, sampai menegak wine seolah bisa menghapus semua beban dalam semalam? Pemandangan itu justru menggemaskan, membuatnya menggigit bibir bawah dengan tatapan lapar yang tak berusaha ia sembunyikan.

"Tak bisakah malam ini aku mencicil sentuhanku padamu, sebelum dokumen resmi dokter itu kau dapatkan?"

1
Mita Paramita
Ralph lagi curhat nih 🤣🤣🤣
Mita Paramita
semangat Emily 💪 Ralph terlalu memaksa kn Emily jadi takut 🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Nona Syela: Wkwk iya nih Raphael mau enaknya doang
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Okay😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor semangat nulisnya 🔥🔥🔥 ceritanya bagus
Nona Syela: Thank you kak semoga betah😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: 😍💪 siap
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Nona Syela: 😍💪 Thank you kak
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Siap kak 😍💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!