NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Langkah di Atas Kaca

Bab 32: Langkah di Atas Kaca

​Malam semakin larut, melarutkan Mansion Dirgantara ke dalam keheningan yang absolut. Tepat pukul 01.55 dini hari, Aline bangkit dari tempat tidurnya. Pakaian pelayan dan kacamata emasnya telah ditanggalkan. Kini, ia mengenakan setelan taktis serba hitam yang pas di tubuh, menyamarkan lekuk tubuhnya di dalam keasrian bayang-bayang malam. Rambut panjangnya dikepang ketat ke belakang agar tidak mengganggu pergerakan.

​Ia melirik jam Rolex di atas meja. Sesuai dengan jadwal patroli yang telah ia pelajari, pukul 02.00 adalah waktu shift blind spot—momen pergantian penjaga di mana fokus tim keamanan Rendra akan terpecah selama tepat tiga menit.

​Aline membuka pintu kamarnya tanpa suara. Ia bergerak bagai hantu, menyusuri koridor lantai dua tanpa mengeluarkan bunyi sedikit pun dari telapak kaki telanjangnya. Begitu mendekati persimpangan menuju ruang kerja utama Adrian, sudut matanya menangkap pendaran tipis berwarna merah di udara.

​Sensor laser inframerah statis bersilang tiga.

​Aline menarik napas pendek, mengandalkan memori otot dan kelenturan tubuhnya yang ekstrem sebagai mantan operator lapangan. Dengan gerakan yang teramat anggun namun presisi, ia meliukkan tubuhnya ke bawah, meluncur dengan satu tumpuan tangan, lalu memutar pinggangnya di udara untuk melewati celah laser terkecil yang hanya selebar tiga puluh sentimeter.

​Hup.

​Kaki Aline mendarat mulus di sisi lain koridor tanpa menyentuh satu pun garis merah penanda alarm. Di hadapannya kini berdiri pintu ganda ruang kerja Adrian yang dilindungi kunci kombinasi digital dan pemindai biometrik.

​Aline mengeluarkan sebuah alat dekripsi siber saku dari balik sabuknya. Namun, sebelum ia sempat menempelkan alat tersebut pada panel pintu, layar digital panel mendadak berkedip hijau dengan sendirinya.

​Klik. Akses Diterima.

​Aline tersentak, insting tempurnya langsung membuat tangannya meraba pisau saku di pinggang. Pintu itu terbuka perlahan tanpa suara. Aline menatap ke dalam ruangan yang gelap, bersiap untuk kemungkinan terburuk bahwa ini adalah jebakan Adrian.

​Namun, jam tangan pintar taktis cadangan di kantongnya bergetar pelan. Sebuah pesan teks pendek berlatar belakang hitam muncul di layar:

​"Jalur aman, Kak Aline. Aku sudah mematikan umpan kamera internal di ruangan ini selama tujuh menit. Selamat berburu." — Kenzo.

​Aline mengembus napas pendek, menggelengkan kepalanya dengan senyuman tipis yang tak habis pikir. Dua monster kecil itu benar-benar mengawasinya lewat jaringan kustom mereka. Bukannya melaporkan penyusupan ini kepada Daddy mereka, Kenzo justru menjadi pembuka jalan baginya.

​Aline melangkah masuk ke dalam ruang kerja Adrian yang luas dan beraroma kayu cendana bercampur tembakau mahal. Ruangan itu hanya diterangi oleh cahaya bulan yang menembus jendela kaca besar. Target utamanya adalah meja kerja marmer hitam di tengah ruangan.

​Dengan langkah cepat, Aline mendekati meja tersebut. Ia memeriksa laci bawah, tempat di mana instingnya mengatakan dokumen taktis klan disimpan. Benar saja, laci itu memiliki kunci biometrik sidik jari khusus yang terintegrasi dengan server pusat Adrian.

​"Ken, kau bisa bypass ini?" bisik Aline pada mikrofon mikro di kerah bajunya.

​Di seberang jaringan, terdengar suara ketukan papan ketik yang cepat dari kamar si kembar. "Sedang menyalin enkripsi biometrik Daddy dari basis data lama. Tiga... dua... satu... Sekarang."

​KLAK.

​Mekanisme pengunci laci terbuka dengan bunyi klik halus. Aline segera menarik laci tersebut. Di dalamnya, berbaris rapi map-map dokumen hitam dengan kode rahasia. Mata tajam Aline memindai satu per satu label hingga gerakannya mendadak terhenti pada sebuah map tebal berlambang segel lilin merah yang bertuliskan: "OPERASI CHRYSALIS".

​Jantung Aline berdesir tajam. Itu adalah kode operasi yang pernah ia temukan di laptop lama Kak Rena sebelum kakaknya tewas secara misterius. Dengan tangan yang sedikit bergetar karena luapan emosi, Aline membuka map tersebut, bersiap mengungkap kebenaran gelap yang selama ini ia cari di sarang serigala ini.

1
Queen Aletha
done Kaka
gendiz: terimakasih
total 1 replies
rruangrindu
aku mampir,jangan lupa mampir juga
gendiz: siiappp
total 1 replies
Amiera Syaqilla
hi author💕
gendiz: Haiii, terimakasih sudah mampir membaca karya ku💙
total 1 replies
MayAyunda
keren👍
gendiz: terimakasih 🙏
total 1 replies
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!