Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.
Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.
Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.
Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.
Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.
Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikah yuk ...
Pagi itu di Pustu, setengah jam sebelum pemeriksaan pasien dilakukan, dr. Azra terlibat pembicaraan serius dengan dr. Pras di Poli Gigi.
"Saya sudah sampaikan tawaran Dokter Azra kepada Siti dengan bahasa yang semudah mungkin untuk dimengerti. Tapi, saat kami ngobrol, nampak jelas dia bimbang," Dokter Pras duduk di seberang Dokter Azra setelah mengecek alat-alat pemeriksaan gigi.
"Apakah dia sudah memberikan jawaban ke Dokter Azra?" tanya dr. Pras kembali.
" Belum, Dok. Dia berusaha menghindar setiap berpapasan dengan saya. Bagaimana saat bertemu dr. Pras, apakah juga sama?"
"Iya, sama."
"Ya sudahlah, Dok. Kita sudah berniat baik. Kita tunggu saja, mungkin memang kita perlu memberi keluasan waktu untuk dia berpikir," Azra bangkit dari duduknya, namun tiba-tiba terhuyung ke samping.
"Awas ...!" Dokter Pras refleks menangkap lengan dr. Azra.
"Duduk dulu, Dok. Anda sedang tidak sehat? Muka Dokter terlihat pucat." tanya Dokter Pras sambil membantu Dokter Azra duduk kembali.
Setelah bertanya, dokter gigi itu berjalan ke meja kerjanya. Mengambil air mineral dan membawakan untuk Azra yang masih terpejam berusaha meredakan pusing yang tiba-tiba menyerang.
"Minum dulu, Dok," tawar dr. Pras menyerahkan sebotol air mineral.
Azra mengambil botol air dari tangan Prasetyo, dan meneguknya perlahan.
Menutup kembali botol, lalu tersenyum tipis, "Tidak apa-apa, istirahat sebentar, insya Allah sudah membaik. Terimakasih ya, Dok," ujar Azra sambil menggoyangkan botol mineralnya ke Dokter Pras, "Saya ke ruangan dulu, nggih ..."
Dokter Pras mengangguk, menatap rumit ke punggung Azra yang berlalu dari hadapannya.
Pasien Poli Umum yang berobat ke Pustu hari itu tidak terlalu banyak. Dan kebanyakan datang dengan keluhan flu, batuk dan pilek. Baik dewasa maupun anak-anak.
Sedangkan pasien Poli Gigi, banyak yang berobat untuk keperluan cabut gigi, gusi bengkak atau pun membersihkan karang gigi.
Dengan situasi lengang seperti itu, Azra berusaha merehatkan tubuhnya yang mulai terasa pegal-pegal dan meriang.
"Saya cek tensi darahnya ya, Dok," tawar Linda kepada Azra yang telungkup di atas meja kerja.
Azra mengangkat kepala, " Boleh ... boleh ...." Disodorkan tangannya ke arah Linda yang membawa tensi meter.
Dengan cekatan, Linda mulai mengecek tensi darah Azra yang wajahnya mulai memerah, pertanda tubuhnya mulai demam. Angka menunjukkan 90/60 mmHg.
"Pulang saja, Dok. Istirahat di rumah. Yang di sini saya tangani dengan teman-teman." Linda membereskan meja Azra dan mengembalikan peralatan medis ke lemari.
"Masih ada pasien lagi, kah?" tanya Azra lemah.
"Sudah tidak ada. Nanti kalau ada pasien, insya Allah saya bisa menangani di bawah arahan Dokter Pras. Dokter Azra pulang saja dulu, saya minta tolong Siti untuk menemani, ya?" tawar Linda lagi sambil membantu Azra berdiri.
Azra mengangkat tangan kanannya, pertanda menolak tidak ingin dibantu.
"Aku pulang sendiri saja, nanti tolong pamitkan ke yang lain ya ...." Azra melangkah perlahan meninggalkan Pustu.
Linda bergegas menemui rekan-rekannya yang sedang bertugas, dan menyampaikan kondisi dr. Azra yang memerlukan waktu untuk istirahat.
"Kemarin memang banyak warga Dusun Krajan yang berobat. Jadi, setelah melakukan penyuluhan, Dokter Azra sekalian membuka sesi pengobatan." Yanto merapikan kartu berobat pasien yang tertinggal.
Tibak e yang berobat banyak. Bu Dokter sempat kewalahan, aku sendiri ya nggak bisa bantu memeriksa. Beruntung sebelum zuhur sudah selesai." Yanto menjelaskan kegiatan penyuluhan saat di Dusun Krajan, setelah Linda mengatakan dr. Azra demam.
"Lha kok dr. Azra sampai rumah sudah malam. Memangnya kemana saja kalian?" tanya Linda ke Yanto
"Hayooo, nglayap yooo?" lanjut Linda, mencurigai Yanto yang mengajak dr. Azra keluyuran.
"Hush ... ngawur!" Sergah Yanto cepat.
"Pulang dari Dusun Krajan kan siang, habis zuhur, jam dua lewat. Nyebrang danau lima belas menit. Pas sampai di tepi danau, ada anak kecebur danau. Jadi kita menolong anak yang tenggelam itu dulu."
"Oala, gitu toh. Dokter Azra tidak cerita apa-apa waktu sampai di rumah dinas. Duduk di ruang tamu sebentar, terus langsung masuk kamar sampai pagi. Tidak sempat makan," cerita Linda menyambung cerita Yanto.
"Mungkin sudah merasa tidak enak badannya," imbuh Yanto sambil melirik ke arah Siti yang sibuk merapikan resep obat. "Kamu sakit juga, Mbak? Sedari kemarin kok tidak bersuara ..." tanya Yanto.
Siti tersenyum, lantas menggeleng cepat. Yanto dan Linda berpandangan, lalu mengedikkan bahu.
_______
Siang menjelang sore. Seorang gadis duduk sendiri di tepi Danau Widuri Asri. Rambut hitamnya yang panjang, tergerai tertiup angin. Hidungnya tidak terlalu mancung, namun proporsional dengan bentuk bibirnya yang tipis. Kulitnya sawo matang, khas kulit orang Jawa.
Matanya memandang lurus ke permukaan air danau yang tenang. Berkali-kali dia menghirup udara dalam-dalam. Seperti berusaha memenuhi rongga paru-parunya yang terasa sesak kehabisan oksigen.
"Hai!" Tepukan halus mendarat di pundaknya.
"Ngapain melamun sendirian di sini?" tanya pemuda yang baru datang. Dia mengambil tempat duduk di sebelah si gadis.
"Siapa yang melamun?" jawabnya ketus.
"Mosok ora nglamun. Tenane ..." goda pemuda itu lagi.
Si gadis diam tidak meladeni.
"Hehehe ... wis toh, Siti, ra usah ngapusi. Kayak aku baru kenal kamu kemarin sore saja. Kita ini sudah saling kenal semenjak masih kecil, saat masih ingusan. Jadi, sedikit banyak, tahu kebiasaan masing-masing." jawab lelaki itu sambil menyalakan sebatang rokok di jarinya.
Hening, tidak ada percakapan. Sampai kemudian ...
"Aku bingung, No. Aku harus bagaimana?" tanya Siti sambil menyibakkan rambut panjangnya ke belakang.
"Lek ora cerito, bagaimana aku bisa membantu? Ceritakan saja, siapa tahu aku bisa kasih solusi." Paino mengisap rokok, lalu mengembuskan asapnya pelan ke udara.
"Dokter Azra nyaranin aku kuliah lagi, minimal dua tahun, ambil gelar D2. Katanya, biar aku bisa diangkat PNS seperti Mas Yanto dan Mbak Linda ..." Siti menunduk, memilin-milin ujung bajunya.
"Terus ...?" tanya Paino.
"Aku bilang sama bapak dan ibu. Kamu tahu sendiri, bapak dan ibuku seperti apa orangnya ..."
"Hmmm ..." Paino hanya berdehem, dia matikan api rokok di jarinya.
"Ibu nggak bolehin aku kuliah, karena ibu khawatir, kalau aku kuliah, aku tidak bisa membiayai sekolah Joko lagi ..." Air mata Siti mulai menetes di pipinya.
Paino terdiam, mengambil batu dan melemparnya ke tengah danau. Crash! Suara percikan batu yang dilempar Paino cukup keras. Pertanda pemuda itu melempar batu dengan sepenuh tenaga.
"Aku nggak boleh kuliah, No ..." suara Siti mulai bergetar.
Paino menoleh menatap wajah gadis itu lama.
"Ibu melarangku bekerja di Pustu ..." kalimat yang keluar makin terbata, menahan sesak tangis di dada.
"Kamu pengin kuliah?" tanya Paino. Siti menoleh, menatap lurus ke dalam mata Paino, sejurus kemudian dia mengangguk.
"Aku juga pengin memperbaiki taraf hidupku dan keluargaku, No. Tapi, ibu ..." Siti menunduk lagi.
"Yaa ... dijelaskan pelan-pelan. Bilang saja, ikut kuliah biar bisa jadi PNS, biar ekonomi keluarga juga membaik. Aku rasa ibu mau mendengar itu," saran Paino sambil mengusap lembut kepala Siti.
Mendapat perlakuan lembut dari teman masa kecilnya, Siti menutup mulutnya menahan suara isak tangis agar tidak keluar. Wajah Paino mendadak bingung, dia merangkul bahu Siti, "Lha ... kok malah nangis. Saranku salah tah?"
Siti menggeleng lemah.
"Ibu menyuruh aku menikah, No!" Tangis Siti yang ditahan beberapa hari akhirnya pecah.
Paino membeku, ucapan Siti yang terakhir terdengar seperti ledakan Bom Atom. Dadanya tiba-tiba bergemuruh, ada sakit yang menghimpit hingga napasnya menjadi sesak.
Perlahan ditariknya Siti masuk ke dalam pelukannya.
Hati Paino terasa tercubit. Untuk pertama kalinya, dia benar-benar merasakan sesak yang selama ini dipendam Siti. Rahangnya mengatup kuat dengan tatap mata nanar ke tengah danau.
Kala pikirannya berkecamuk, hatinya memaksa logikanya untuk bertindak. Perlahan dia menunduk, berbisik pelan di telinga Siti, "Menikah sama aku, yuk!"