Lima tahun lalu, Indri Izanami dibuang saat hidupnya berada di titik terendah. Dikhianati, dihina, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah ia cintai, ia menghilang tanpa jejak dari Jakarta.
Kini, ia kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diinjak-injak,tapi sebagai sosok misterius yang memesona, berkuasa, dan berbahaya. Kehadirannya mengguncang para konglomerat yang pernah menghancurkannya.
Ardika, mantan kekasih yang dulu membuangnya, kini terobsesi untuk memilikinya kembali.
Surya Rabinson, cinta pertama yang menjadi sumber luka terdalamnya, mendadak terjebak dalam hasrat dan penyesalan yang membara.
Dan ketika Hisoka Adicambra, sang kaisar bisnis yang paling ditakuti di Jakarta, menunjukkan ketertarikan padanya, permainan balas dendam berubah menjadi perang kekuasaan yang mematikan.
Namun di balik senyum dinginnya, Indri menyimpan satu tujuan:
Membuat mereka semua berlutut di hadapannya.
Karena kali ini, yang menjadi mangsa bukan lagi dirinya.
Melainkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simfoni Kehancuran Ibu Kalinda
Ia mengangkat tangannya, jemarinya yang lentik menyentuh pantulan wajahnya. Indri. Siapa kau sekarang? Ia tidak lagi melihat gadis yang dulu hancur. Ia melihat seorang wanita yang kuat, seorang manipulator ulung yang kini mengendalikan tiga pria berbahaya sekaligus. Ardika, Surya, dan bahkan Hisoka. Mereka semua menari sesuai irama yang ia mainkan.
Sebuah senyum lebar, tulus, namun mengerikan, perlahan terukir di bibirnya. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Senyum yang mencapai matanya, namun penuh dengan kegelapan. Ia menyadari sesuatu yang mengejutkan tentang dirinya.
Aku... aku menyukainya.
Indri menatap pantulan dirinya di cermin besar di kamarnya. Gaun sutra hitam yang memeluk tubuhnya menampilkan siluet yang mematikan. Mata yang dulu memancarkan kepolosan kini memiliki kedalaman yang dingin, rahangnya tegas, dan bibirnya yang dipoles merah gelap menyunggingkan senyum tipis, nyaris tak terlihat. Ini bukan Indri Izanami yang dulu. Ini adalah ciptaannya. Sebuah Femme Fatale yang lahir dari abu dendam, siap membakar siapa pun yang berani melintasi jalannya. Malam ini, aku akan menjadi ratu baru mereka. Ratu yang siap mereka benci.
Sejak ia menyadari bahwa Diana, sekretaris pribadi Hisoka, adalah mata-mata Surya, Indri telah memainkan permainannya dengan lebih berani. Ia sengaja membocorkan informasi palsu tentang merger Adicambra ke telinga Diana, memastikan Surya mendapatkan umpan yang memancing. Ia juga sengaja membiarkan Ardika memantaunya, bahkan membisikkan detail-detail palsu ke dalam penyadap di penthouse lamanya, membuat Ardika merasa ia mengendalikan Indri. Semua itu adalah permainan untuk mengumpulkan amunisi.
Beberapa hari kemudian, tepat seperti yang diprediksi Indri, kejeniusan manipulatifnya mulai membuahkan hasil. Ibu Kalinda, mantan istri Hisoka yang kini terasing dan haus kekuasaan, mulai bergerak. Indri menerima panggilan telepon anonim yang memberitahunya tentang sebuah "acara amal pribadi" yang diadakan Kalinda di kediamannya yang terpencil di bilangan Menteng. Sang penelepon tak dikenal itu juga membocorkan bahwa Kalinda telah menyewa fotografer paparazzi untuk menjebak Indri dalam skandal perselingkuhan.
Kalinda... kau mencoba bermain api dengan siapa?Indri mengerutkan kening, namun ada senyum tipis yang terukir di bibirnya. Ia tahu persis bagaimana memutarbalikkan fakta ini untuk keuntungannya.
Malam itu, Indri tiba di kediaman Kalinda, berjalan anggun seperti biasa, dengan Hisoka yang setia mendampingi. Ia sudah menyiapkan segalanya. Sebuah gaun merah marun yang memukau, tanpa cela, namun menyisakan kesan misterius. Ia tidak memakai perhiasan mencolok, hanya sepasang anting-anting berlian sederhana yang mengingatkannya pada kecerobohannya di penthouse Ardika dulu—dan pada kenyataan bahwa ia tidak pernah bisa benar-benar aman.
Begitu mereka memasuki halaman depan, Indri bisa merasakan kehadiran orang-orang tak dikenal yang bersembunyi di balik semak-semak. Sinar kamera yang tersembunyi berkilat sesekali. Mereka sudah siap.
Kalinda menyambut mereka di pintu, wajahnya mengeras saat melihat Indri. "Hisoka," katanya, suaranya dingin, "mengejutkan melihatmu di sini dengan... gadismu." Tatapan matanya tertuju pada Indri, penuh kebencian yang membara.
Hisoka hanya membalas dengan senyum tipis. "Kalinda. Selalu bersemangat menyambut tamu."
Indri melangkah maju, menyapa Kalinda dengan sopan. "Ibu Kalinda. Terima kasih telah mengundang saya."
Kalinda mendengus. "Mengundangmu? Jangan berpura-pura, gadis murahan. Aku tahu mengapa kau di sini. Kau pikir kau bisa menghancurkan rumah tanggaku semudah itu?" Ia memutar matanya ke arah Indri, lalu berseru ke arah bayangan terdekat. "Di mana para fotografer itu? Tunjukkan pada wanita rendahan ini siapa yang mengendalikan permainan di sini!"
Saat itulah, beberapa fotografer muncul dari balik semak-semak, kamera mereka siap merekam. Indri merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, namun bukan karena takut. Ia melihat Hisoka di sampingnya, tatapan matanya mengamati Indri dengan ketertarikan yang dingin. Mainkan permainannya, Indri.
Kalinda mendekati Indri, suaranya penuh kemenangan yang keji. "Lihat dirimu, Indri. Diusir dari rumah sendiri, kini menjadi simpanan pria tua kaya. Kau pikir kau bisa memamerkan dirimu seperti ini?" Ia mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu di telinga Indri. "Aku akan mempublikasikan semua foto Anda bersama pria lain malam ini. Anda akan hancur, Indri. Anda akan kehilangan segalanya."
Indri mendongak, matanya bertemu dengan mata Kalinda. Ia tersenyum. Bukan senyum ramah, tapi senyum licik yang dingin. "Ibu Kalinda," katanya, suaranya tenang, "Anda benar-benar harus hati-hati dengan apa yang Anda tuduhkan. Saya datang ke sini bersama Tuan Adicambra. Saya tamu resminya."
Ia lalu berbalik, menatap Hisoka. "Tuan Adicambra, apakah saya terlihat seperti sedang bersama pria lain?"
Hisoka menatap Indri, kilatan penasaran di matanya. Ia tidak menjawab secara langsung, namun ia melangkah lebih dekat, menarik Indri sedikit lebih ke sisinya, seolah menegaskan kepemilikannya. Tindakan itu sendiri sudah lebih dari cukup sebagai jawaban.
Kalinda terkesiap. "Hisoka! Kau membiarkan wanita ini mempermainkanmu? Kau tidak melihat dia menjebakmu?"
"Justru sebaliknya, Kalinda," kata Hisoka, suaranya tenang, namun tegas. Ia menatap Kalinda dengan pandangan yang menusuk. "Saya yang mengundang Nona Indri ke sini. Dan saya yang akan memutuskan siapa yang menjebak siapa." Ia tersenyum dingin. "Sepertinya Anda yang terlihat sedikit putus asa malam ini, Kalinda. Mencari perhatian dengan memanggil paparazzi ke acara Anda sendiri?"
Kalinda memucat. Wajahnya yang tadi penuh amarah kini menunjukkan kepanikan. Ia menyadari kesalahannya. Ia telah bertindak terlalu gegabah. Paparazzi yang ia panggil justru merekam dirinya sendiri yang terlihat seperti seorang istri yang cemburu dan paranoid.
"Tidak... itu tidak benar!" Kalinda tergagap, mencoba membela diri. "Dia berselingkuh! Dia ada di sini untuk berselingkuh!"
Indri hanya menggelengkan kepala perlahan, matanya dipenuhi rasa iba yang dibuat-buat. "Ibu Kalinda, saya pikir Anda terlalu stres. Mungkin Anda butuh istirahat. Tuan Adicambra sudah berulang kali menawarkan untuk menceraikan Anda agar Anda bisa menemukan kedamaian. Mengapa Anda terus menerus menyakiti diri sendiri seperti ini?"
Kata-kata Indri seperti belati yang menusuk langsung ke jantung Kalinda. Wajah Kalinda berubah menjadi pucat pasi. Para paparazzi yang tadinya mengarahkan lensa ke Indri, kini memfokuskan perhatian mereka pada Kalinda yang terlihat semakin kacau dan putus asa.
Hisoka menatap Indri, sebuah kilatan kekaguman yang tak terbantahkan di matanya. Indri telah membalikkan keadaan dengan begitu elegan, begitu mematikan. Ia telah mengubah jebakan Kalinda menjadi kesalahan Kalinda sendiri.
"Kalinda, aku sudah selesai denganmu," kata Hisoka, suaranya final. Ia menarik Indri lebih dekat. "Aku akan mengajukan gugatan cerai besok pagi. Dan Nona Indri di sini..." Ia melirik Indri, senyum tipis tersungging di bibirnya. "...akan menjadi wajah baru Adicambra Group. Dia akan menjadi penerus posisiku dalam banyak hal."
Jantung Indri berdebar kencang mendengar pengakuan itu. Wajah baru perusahaan. Ini lebih dari yang ia bayangkan. Ini adalah kekuasaan yang nyata. Ia melihat Kalinda terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi, bibirnya sedikit terbuka, seolah tak percaya.
"Tidak! Kau tidak bisa melakukan itu!" Kalinda berteriak, suaranya pecah. Ia menatap Indri, matanya menyala dengan kebencian yang lebih dalam dari sebelumnya. "Kau! Kau akan membayarnya, gadis jalang! Kau akan menyesalinya!"
Silakan berkomentar untuk memberikan masukan demi meningkatnya mutu karya saya di masa yang akan datang.
Terima kasih.