NovelToon NovelToon
Menyesal Telah Selingkuh

Menyesal Telah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.

Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.

Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.

Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.

Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.

Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.

Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6_kehancuran mendatang

"Ini bagaimana? Kenapa semuanya jadi seperti ini?" gumam Arsenio pelan. Wajahnya dipenuhi kebingungan. Alisnya bertaut rapat, sementara matanya menatap layar laptop dengan sorot tidak percaya.

Wajahnya pucat pasi. Kedua matanya menatap kosong ke arah layar laptop yang masih menyala di atas meja kerja. Tangannya bergetar saat membaca laporan demi laporan yang baru saja masuk pagi itu.

Di sampingnya, Celine berdiri dengan wajah tegang. Wanita itu terus menggigit bibir bawahnya, berusaha memahami apa yang sedang terjadi.

Ruangan mewah yang selama ini menjadi simbol kesuksesan Arsenio mendadak terasa sesak.

Semua bermula beberapa jam yang lalu.

Arsenio sedang menikmati sarapan bersama Celine di penthouse pribadinya.

Ia merasa hidupnya sempurna. Elvara sudah pergi dari rumah, dan ia mengira wanita itu hanya sedang marah seperti biasanya.

Baginya, Elvara akan kembali. Seperti yang selalu terjadi.

Namun kali ini berbeda.

Telepon dari bagian keuangan menghancurkan semua ketenangannya.

"Pak Arsenio, kami baru menerima surat resmi dari kuasa hukum Nona Elvara." Suara di seberang telepon terdengar formal. Ekspresi petugas itu tentu tetap datar dan profesional meski membawa kabar buruk.

Mendengar nama itu, Arsenio langsung mengernyit.

"Surat apa?" Tanya Arsenio. Dahinya berkerut dalam, sementara rahangnya mengeras karena mulai merasakan firasat buruk.

"Semua aset warisan atas nama Nona Elvara telah dicabut dari perusahaan yang selama ini Bapak kelola." Ucap petugas itu tetap tenang tanpa menunjukkan emosi apa pun.

Saat itu juga jantung Arsenio serasa berhenti berdetak.

"Apa maksudmu dicabut?" tanyanya dengan suara meninggi.

"Kepemilikan saham, investasi, rekening khusus, serta hak pengelolaan perusahaan yang berasal dari keluarga Nona Elvara sudah tidak lagi berada di bawah wewenang Bapak." Penjelasan itu disampingkan tegas dan tanpa keraguan.

Arsenio langsung berdiri. Kursinya sampai terjatuh ke belakang.

"Apa kalian bercanda?" Bentak Arsenio. Wajahnya merah karena emosi, sementara urat urat di lehernya mulai terlihat jelas.

"Maaf, Pak. Semua dokumen sudah sah secara hukum." Pria itu menjawab dengan wajah tenang dan sorot mata yang datar.

Telepon terputus.

Sejak saat itulah dunia Arsenio mulai runtuh.

Beberapa jam kemudian, ruang rapat perusahaan dipenuhi ketegangan.

Para pemegang saham duduk dengan wajah serius.

Arsenio berdiri di ujung meja panjang.

"Kalian tidak bisa melakukan ini!" bentaknya. Tatapannya tajam penuh kemarahan, sementara kedua tangannya mengepal kuat di atas meja rapat.

Seorang pria tua yang merupakan penasihat perusahaa menatapnya datar.

"Kami tidak melakukan apa-apa, Pak Arsenio. Kami hanya mengikuti dokumen hukum yang berlaku." Pria tua itu menjawab dengan wajah tenang dan sorot mata yang datar.

"Tapi perusahaan ini milikku!" Seru Arsenio. Rahangnya mengeras, dan matanya dipenuhi penolakan terhadap kenyataan yang sedang terjadi.

"Bukan." Pria tua itu menjawab singkat. Wajahnya tetap datar, namun tatapannya tegas tanpa sedikit pun rasa takut.

Pria tua itu membuka beberapa berkas.

"Tujuh puluh persen aset perusahaan berasal dari investasi keluarga Elvara. Selama ini Anda mendapatkan hak pengelolaan karena status Anda sebagai suami sah beliau." Pria tua itu menatap berkas di tangannya dengan ekpresi serius.

Arsenio mengepalkan kedua tangannya. Urat-urat di lehernya mulai terlihat.

"Dan sekarang?" Tanya Arsenio dengan suara yang mulai melemah. Wajahnya terlihat tegang, sementara ada secercah ketakutan yang mulai muncul di matanya.

"Sekarang Nyonya Elvara mencabut semua hak tersebut." Pria tua itu menghela nafas tipis dengan ekspresi profesional.

Wajah Arsenio berubah semakin pucat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar takut.

Saat pulang ke penthouse, Arsenio langsung melempar jas mahalnya ke lantai.

Brak!

Ia menghantam meja dengan keras.

"Elvara!" teriaknya penuh amarah. Wajahnya memerah. Rahangnya mengeras menahan emosi yang meluap-luap.

"Kenapa kamu melakukan ini semuanya kepadaku?" teriak Arsenio lagi. Matanya membelalak penuh kemarahan dan keputusasaan, sementara ekpresinya menunjukkan rasa marah bercampur panik.

Celine yang berdiri tidak jauh darinya ikut terkejut.

Ia baru mengetahui kenyataan yang selama ini disembunyikan Arsenio.

Ternyata sebagian besar kekayaan pria itu berasal dari keluarga Elvara.

"Bukankah kamu bilang semua ini milikmu?" tanya Celine pelan. Wajahnya terlihat syok, alisnya berkerut dalam kebingungan.

Arsenio menoleh tajam.

"Aku memang yang menjalankannya!" balas Arsenio. Tatapannya tajam ke arah Celine, sementara wajahnya menunjukkan kemarahan dan rasa terpojok.

"Tapi sekarang semuanya diambil?" Tanya Celine lagi. Wajahnya semakin pucat, dan matanya mulai dipenuhi kecemasan.

Celine mulai panik.

Ia melihat laporan keuangan yang berserakan di meja.

Semakin banyak ia membaca, semakin pucat wajahnya.

"Ini tidak mungkin..." bisiknya. Bibirnya bergetar sementara kedua matanya membesar karena tidak percaya.

Ternyata selama ini kehidupan mewah yang dinikmatinya bukan sepenuhnya milik Arsenio.

Mobil-mobil mahal. Rumah mewah. Perjalanan ke luar negeri. Semua itu berdiri di atas fondasi kekayaan keluarga Elvara.

Dan kini fondasi itu telah dicabut.

Di tempat lain.

Elvara duduk tenang di sebuah balkon yang menghadap laut.

Angin sore berembus lembut menerbangkan rambut panjangnya.

Di atas meja terdapat secangkir teh hangat.

Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi keraguan.

Berry berdiri di belakangnya.

"Semua proses sudah selesai, Nyonya." Lapor Berry. Wajahnya tenang dan profesional, namun ada kepuasan kecil yang tersimpan di balik tatapannya.

Elvara mengangguk pelan.

"Bagaimana reaksinya?" tanya Elvara. Wajahnya tetap tenang, meski sorot matanya menunjukkan rasa penasaran.

Berry tersenyum tipis.

"Seperti yang Nyonya duga sebelumnya." jawab Berry sambil tersenyum tipis. Ekpresinya terlihat santai karena semua nya berjalan sesuai rencana.

Elvara menatap lautan luas di hadapannya.

Dulu ia begitu mencintai Arsenio. Ia memberikan segalanya. Kepercayaan. Kesetiaan. Bahkan masa depannya.

Namun semua itu dibalas dengan pengkhianatan.

Ia masih ingat bagaimana Arsenio diam-diam bersama Celine di belakangnya.

Masih ingat bagaimana pria itu terus berbohong.

Dan yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri.

Melainkan kenyataan bahwa Arsenio menganggap Elvara akan terus memaafkannya. Selamanya.

Ia salah. Sangat salah.

"Aku tidak mengambil miliknya," ucap Elvara pelan. Wajahnya tenang tanpa sedikit pun kebencian.

Berry mengangguk.

"Memang bukan miliknya sejak awal." jawab Berry. Wajahnya terlihat serius, sementara matanya menunjukkan keyakinan penuh terhadap ucapannya.

Elvara tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya terasa ringan.

Sementara itu, kehancuran Arsenio belum berhenti.

Keesokan harinya, satu demi satu rekan bisnis mulai menghubunginya.

Beberapa membatalkan kerja sama. Sebagian lainnya memilih menarik investasi.

Nama keluarga Elvara memiliki pengaruh yang sangat besar.

Ketika dukungan itu hilang, banyak pihak langsung menjaga jarak dari Arsenio.

Pria itu duduk sendirian di ruang kerjanya.

Rambutnya berantakan.

Kemejanya kusut. Matanya sembab akibat tidak tidur semalaman.

Telepon terus berbunyi.

Namun tidak ada satu pun kabar baik. Semuanya hanya berisi kerugian. Kerugian. Dan kerugian.

Brak!

Arsenio melempar ponselnya ke lantai.

"Aku tidak terima!" bentaknya. Wajahnya dipenuhi amarah, sementara matanya memerah karena frustrasi.

Namun amarah itu tidak mengubah apa pun.

Fakta tetaplah fakta. Ia telah kehilangan segalanya.

Dan untuk pertama kalinya, Arsenio menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pikirkan.

Yang membuatnya kuat bukanlah dirinya sendiri. Bukan juga kecerdasannya.

Melainkan Elvara yang selalu berdiri di belakangnya.

Wanita yang selama ini ia abaikan. Wanita yang cintanya ia sia-siakan.

Di sisi lain ruangan, Celine diam membeku. Kini ia mulai melihat Arsenio yang sebenarnya.

Bukan pria sempurna yang dulu membuatnya kagum. Melainkan seorang pria yang sedang hancur karena kesalahan yang dibuatnya sendiri.

"Arsenio..." panggil Celine pelan. Wajahnya terlihat ragu ragu, sementara sorot matanya dipenuhi kecemasan dan ketakutan melihat kondisi pria itu.

Namun pria itu tidak menjawab.

Tatapannya kosong. Pikirannya dipenuhi penyesalan yang datang terlambat.

Ia teringat senyum Elvara. Perhatian Elvara. Kesabaran Elvara. Semua kenangan itu kini terasa seperti pisau yang menusuk dadanya berkali-kali.

Andai waktu bisa diputar kembali. Andai ia tidak mengkhianati wanita itu. Andai ia memilih menjaga rumah tangganya.

Namun semuanya sudah terlambat. Sangat terlambat.

Karena kali ini Elvara tidak hanya pergi. Ia juga membawa kembali semua yang memang menjadi haknya.

Dan meninggalkan Arsenio bersama kehancuran yang ia ciptakan sendiri.

Di tengah kesunyian ruangan itu, Arsenio hanya bisa menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya, ia memahami arti kehilangan yang sesungguhnya.

Bukan kehilangan harta. Bukan kehilangan jabatan.

Melainkan kehilangan seseorang yang pernah mencintainya dengan tulus, lalu memutuskan untuk tidak kembali lagi.

1
Anne Soraya
lanjut
Ifana
sok²an selingkuh eh ternyata punya jabatan krn istri nya
Sulati Cus
hrsnya g kaget dr awal kan udah tau, istrinya akan mencabut semuanya aneh bgt
Sulati Cus
lah kata nya semua aset di cabut trus di usir kok msh takut 🤔cerita rada nggak nyambung
Sulati Cus
kok gak nyambung udah di usir pdhl🤔msh mencintaimu tp sanggup berkhianat omong kosong👿
sunaryati jarum
Arsenio hanya akan meratapi nasibnya
sunaryati jarum
Hidup dari kekayaan istri saja belagu, selingkuh .Edgar adikmu sudah dewasa dan berumah tangga,sudah bukan tanggung jawab sepenuhnya,namun jika kamu masih merasa itu kewajiban kamu melindunginya baguslah,biar Arsenio tahu siapa yang dikhianatinya.
sunaryati jarum
Sokoor
sunaryati jarum
Kok masih di rumah Elvara
sunaryati jarum
Bukankah Arsenio sudah di usir
sunaryati jarum
Baru mampir semoga suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!