evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan di meja makan
Mereka mulai sarapan.
Suara alat makan beradu pelan, suasana terlihat tenang di permukaan—namun di baliknya, percakapan selalu membawa arah yang sama. Menunjukkan diri dan membuktikan nilai.
Alberto Chaplin mengiris daging di piringnya dengan tenang, lalu melirik ke arah salah satu anaknya.
“Bagaimana bisnismu, Rachel?” tanyanya.
Rachel Chaplin langsung tersenyum percaya diri.
“Seperti biasa, Ayah. Tidak ada masalah,” jawabnya ringan. “Bahkan sekarang ada beberapa yang dikirim ke luar negeri. Desain baju-baju di butikku memang sangat menarik… itu karena aku pandai mengelolanya.”
Nada suaranya jelas menyombongkan diri. Namun Alberto hanya mengangguk pelan.
Belum sempat suasana beralih—Lauren Chaplin ikut bicara.
“Oh ya, Ayah… minggu depan aku juga harus berangkat ke luar negeri,” katanya dengan nada tak kalah bangga. “Ada pemotretan untuk produk skincare.”
Ia tersenyum tipis, jelas ingin diperhatikan.
Sementara itu, Charlie Chaplin tetap diam. Bukan karena tidak punya pencapaian. Melainkan karena ia bekerja langsung dengan ayahnya—di dunia yang sama, di kantor yang sama. Ia tidak perlu menjelaskan. Posisinya sudah cukup jelas.
Di tengah percakapan itu—Evelyn tetap diam. Evelyn Valencia hanya makan dengan tenang, tidak terburu-buru, tidak juga berusaha menyela.
Charlie Chaplin kembali membuka suara.
“Kedua adikku memang luar biasa,” ucapnya santai, lalu menoleh ke arah Evelyn. “Bagaimana denganmu, Eve? Apa kamu tidak ingin menceritakan pencapaianmu pada kami?”
Lauren Chaplin pura-pura menegur, “Charlie, pertanyaanmu sepertinya sedikit menyakitkan.”
Namun nada suaranya justru terdengar geli.
“Tidak apa-apa, Eve,” lanjutnya, tersenyum tipis. “Ceritakan saja keseharianmu di kamar tercintamu itu… kami siap mendengarkan daripada kamu hanya diam.”
Tawa mereka pecah lagi. Namun kali ini—tidak semua orang ikut.
Alberto Chaplin tetap diam. Matanya tertuju pada Evelyn. Menunggu. Mengamati. Apakah gadis itu akan kembali seperti dulu—menunduk, terluka, lalu pergi? Atau…berbeda?
Beberapa detik berlalu. Evelyn tetap duduk tenang. Tangannya masih memegang garpu, lalu perlahan ia meletakkannya. Ia mengangkat wajahnya. Tatapannya lurus. Tenang.
“Di kamarku tidak ada yang istimewa,” jawab Evelyn Valencia dengan suara stabil.
Tawa itu perlahan mereda.
“Oleh sebab itu…” lanjutnya, “hari ini aku juga ingin mendapat sopir pribadi seperti kalian.”
Ketiga kakaknya sedikit terkejut.
Namun Evelyn tidak berhenti.
“Kalian memang benar. Aku terlalu lama tidak melihat dunia luar.”
Nada suaranya tidak menyindir. Tidak marah. Hanya… jujur.
“Jadi Setelah mendapat sopir nanti, aku akan mulai keluar,” lanjutnya pelan. “Mungkin diawali dengan mengunjungi perusahaan Ayah… jika diizinkan.”
Hening. Kali ini benar-benar hening. Semua mata tertuju padanya. Bukan karena evelyn lemah—melainkan karena ia… berubah.
Dan di ujung meja—Alberto Chaplin menatapnya lebih dalam dari sebelumnya. Bukan lagi sekadar melihat. Tapi… mulai mempertimbangkan.
Semua terdiam sesaat. Tatapan mereka serempak beralih ke Alberto Chaplin. Menunggu. Menilai. Dan—
“...Aku mengizinkan.”
Jawaban itu singkat. Namun cukup untuk membuat suasana berubah.
Mata Evelyn Valencia sedikit melembut.
“Terima kasih atas kesempatan yang Ayah berikan,” ucapnya sopan. Namun tidak semua menyambut dengan baik.
Charlie Chaplin menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum tipis.
“Kita lihat saja nanti… apa dia bisa berguna,” ucapnya santai, jelas meremehkan.
Sarapan kembali dilanjutkan.
Hidangan utama habis. Percakapan mereda. Hingga akhirnya dessert pun tersisa sedikit—lalu menghilang dari meja.
Suasana mulai tenang. Namun—seorang pria mendekat dari belakang Alberto. Asistennya.
Ia sedikit menunduk, lalu berbisik pelan di telinga tuannya. “Tuan… semuanya sudah siap.”
Alberto tidak langsung menjawab. Namun sorot matanya berubah. Lebih serius. Lebih fokus. Ia mengangguk tipis.
Artinya—acara itu akan segera dimulai.
Alberto Chaplin berdiri dari kursinya tanpa banyak bicara. Langkahnya tegas saat berjalan keluar dari ruang makan.
Satu per satu—
keempat anaknya ikut bangkit dan mengikuti dari belakang.
Charlie Chaplin dengan santai memasukkan tangan ke saku. Rachel Chaplin dan Lauren Chaplin berjalan berdampingan, sesekali berbisik. Sementara Evelyn Valencia berjalan sedikit di belakang. Namun matanya fokus. Seolah ia tahu apa yang akan ia hadapi.
Mereka keluar menuju halaman depan.
Udara pagi masih terasa segar, namun suasana di sana jauh dari santai.
Di halaman luas itu—sepuluh pria sudah berdiri berjajar rapi. Dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada mantan satpam, Mantan guru olahrag, dan bahkan mantan narapidana.
Semua berdiri tegap. Menunggu.
Menilai satu sama lain dalam diam.
Di antara mereka—
berdiri seseorang yang tampak biasa.
Namun justru itu yang membuatnya tidak mencolok.
Cristian Noah Alexander.
Dengan identitas barunya.
Dengan peran barunya.
Alberto berjalan ke depan barisan itu.
Berhenti tepat di hadapan mereka.
Tatapannya menyapu satu per satu wajah para calon.
Dingin.
Mengukur.
Di belakangnya, keempat anaknya berdiri agak jauh.
Mengamati.
Namun hanya satu orang—
yang benar-benar mencari.
Tatapan Evelyn Valencia bergerak perlahan.
Menyisir setiap wajah.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia tahu—
di antara sepuluh orang itu…
ada seseorang yang akan mengubah segalanya.“Baiklah, persiapkan diri kalian. Kita menuju ke lapangan,” ujar Alberto Chaplin tegas.
Tidak ada penjelasan panjang.
Tidak ada basa-basi.
Hanya perintah.
Ia berbalik, lalu berjalan menuju mobilnya.
Tiga mobil telah disiapkan.
Alberto masuk ke mobil utama bersama ajudannya.
Sementara Charlie Chaplin memilih mobil kedua, diikuti Rachel Chaplin dan Lauren Chaplin.
Evelyn Valencia ikut masuk ke salah satu mobil bersama pengawal Alberto, ia duduk diam namun pikirannya aktif.
Sementara itu—sepuluh calon sopir masih berdiri di tempat.
Salah satu pengawal melangkah maju.
“Perintah berikutnya,” ucapnya keras. “Kalian akan berlari menuju lapangan di dekat gedung kantor Tuan Alberto. Jaraknya sekitar lima kilometer.”
Beberapa wajah langsung berubah. Terkejut. Tidak menyangka. Namun tidak ada yang berani protes.
“Lari sekarang!” ucap pengawal itu dengan keras.
Tanpa aba-aba tambahan—mereka mulai bergerak. Berlari. Menuju tujuan yang bahkan belum mereka lihat.
Di antara mereka—Cristian Noah Alexander ikut berlari. Langkahnya stabil. Napasnya teratur. Seolah jarak lima kilometer bukan apa-apa.
Matanya lurus ke depan. Namun pikirannya—tidak hanya fokus pada tujuan. Ia tahu ini bukan sekadar tes fisik. Ini tentang daya tahan. Disiplin. Dan… mental.
Sementara mobil-mobil itu melaju meninggalkan mereka—debu jalanan perlahan terangkat. Dan permainan—baru saja dimulai.