NovelToon NovelToon
HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Tamat
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Gerbang Kahayangan dan Mangsa Pertama

Reruntuhan Altar Olympus masih menyisakan hawa panas dari sisa ledakan tangan Dewa Api yang terpotong. Di atas pelataran giok yang kini telah retak berkeping-keping, Kala berdiri tegak. Sisa-sisa Tetua Inti Klan Cahaya Abadi merangkak mundur ketakutan di atas lutut mereka, tidak berani mendongak menatap pemuda berjubah hitam yang baru saja melangkahi batas kemanusiaan dan menembus Ranah Setengah Dewa (Demi-God) Tingkat Awal.

Di dalam batinnya, Kala merasakan kehangatan yang luar biasa. Bilah pedang Jian hitamnya tidak lagi bergetar liar penuh haus darah; jiwa Putri Liana yang menyatu sebagai Sword Spirit (Jiwa Pedang) memancarkan ritme cahaya emas kosmis yang menenangkan denyut naga di nadinya. Hubungan spiritual ini memberikan Kala ketenangan batin yang absolut—sebuah kedewasaan emosional yang siap menuntunnya merobek langit.

“Kala, takdir kita kini telah terikat sempurna,” sebuah suara wanita yang sangat lembut, suara Liana, bergaung di dalam ruang batinnya, selaras dengan suara anggun Pohon Akalbuana dari sarung pedang kayu Yggdrasil. “Energi Cahaya Kosmis milikku telah membuka segel dimensi luar. Kau bisa memanggil jalan menuju Alam Atas sekarang.”

Kala mengangguk perlahan. Netra Black Hole miliknya berkilat, memproyeksikan miliaran rasi bintang yang berputar cepat ke arah angkasa hampa di atas puncak Olympus. Dia mengangkat tangan kirinya, lalu mengetukkan ujung sarung pedang kayu putih peraknya ke udara kosong di depannya.

DENG!

Sebuah dentingan ruang bergema kuat. Langit malam yang hampa mendadak terdistorsi, melengkung dan robek membentuk sepasang gerbang batu kuno raksasa setinggi ratusan meter yang diselimuti kabut pelangi. Itulah Gerbang Kahayangan, pintu masuk menuju Alam Atas tempat bersemayamnya para Dewa Elemental.

Tanpa menoleh sedikit pun ke arah sisa-sisa kultivator bumi yang menangis ketakutan, Kala melangkah maju, menembus kabut pelangi tersebut dan meninggalkan dunia fana Benua Tengah sepenuhnya di bawah kendali Zian.

Begitu melewati gerbang dimensi, pemandangan di sekeliling Kala berubah total.

Alam Atas bukanlah ruang hampa yang kosong, melainkan sebuah dimensi magis di mana pulau-pulau tanah terapung berukuran raksasa melayang bebas di atas samudra awan putih. Udara di tempat ini begitu padat oleh energi spiritual murni, ribuan kali lebih pekat daripada Benua Tengah. Namun, atmosfer di sektor pertama ini terasa sangat mencekam. Angin bertiup dalam pusaran yang tidak menentu, tajam laksana pisau baja, dan badai tornado horizontal raksasa tampak berputar di antara pulau-pulau melayang.

Ini adalah Domain Langit Hijau, wilayah kekuasaan dewa elemental pertama: Dewa Angin (Vayu Sang Penjerat).

“Kala, pilihan yang sangat tepat untuk menjadikan Vayu sebagai mangsa pertamamu,” suara Pohon Akalbuana bergaung memberikan analisis taktis. “Basis kultivasi Vayu berada di ranah Dewa Sejati (True Deity) Tingkat Awal. Energi angin purba miliknya sangat cocok untuk diserap oleh mata kiri Black Hole-mu guna memperkuat fondasi Ranah Setengah Dewa milikmu, sekaligus memperluas radius Hukum Sepuluh Senti di dimensi kosmis ini.”

Kala berjalan dengan anggun di atas samudra awan yang memadat di bawah kakinya. Langkahnya sunyi, jubah hitamnya melambai anggun menyapu pusaran angin tajam yang mencoba mencabik kulitnya.

Tiba-tiba, dari balik pusaran badai tornado raksasa di depannya, sebuah tawa dingin yang bergaung laksana gemuruh guntur memecah keheningan pulau terapung.

"Hahaha! Semut fana dari dunia bawah ternyata benar-benar berani merangkak naik ke tempat suci ini!"

Sesosok makhluk setinggi lima meter termaterialisasi dari dalam pusaran angin hijau pekat. Dia mengenakan jubah zirah yang terbuat dari jalinan awan badai, wajahnya tampak tampan namun dipenuhi keangkuhan ilahi, dan di tangannya tergenggam sebilah cambuk angin raksasa yang memancarkan kilatan petir hijau. Dia adalah Dewa Angin, Vayu.

Vayu menatap Kala dengan tatapan meremehkan, meskipun matanya sempat menyipit melihat tangan kanan Kala yang bertumpu pada gagang pedang Jian bersinar emas hitam. "Agni dan Hyperion bilang tangan mereka terpotong di dunia bawah karena kecerobohan mereka sendiri. Hari ini, aku akan memastikan tubuh kurusmu dicacah menjadi debu oleh badai penjerat jiwaku!"

Vayu mengayunkan cambuk angin raksasanya ke udara.

CRACKKK!!!

Sekejap saja, seluruh Domain Langit Hijau bergolak hebat. Ribuan pusaran badai tornado horizontal melesat serentak dari segala arah, mengunci ruang di sekeliling pulau terapung. Jutaan bilah pisau angin berkerumun membentuk jaring laba-laba raksasa yang meluncur turun dari langit awan, siap mencabik-cabik seluruh atom di tubuh Kala tanpa menyisakan ruang untuk menghindar. Serangan tingkat Dewa Sejati ini membawa hukum alam angin orisinal yang bisa mengikis eksistensi fisik makhluk fana.

Menghadapi kiamat badai ilahi ini, Kala merendahkan kuda-kudanya di atas samudra awan. Fokus batinnya memuncak, beresonansi dengan jiwa Liana di dalam pedangnya. Aturan hukum waktu di Alam Atas jauh lebih berat; menahan seorang Dewa Sejati secara penuh di dimensinya sendiri akan memicu tekanan balik yang fatal.

Namun, target Kala bukan untuk menghentikan Vayu. Targetnya adalah mengeksekusi strategi yang telah dia latih: Tebasan Gelombang Nihilitas.

Ibu jari tangan kanan Kala mendorong pelindung gagang pedang barunya.

CHIIING!!!!!!!!!!!

Dentingan pedang yang paling nyaring, paling bersih, dan berwibawa memotong seluruh raungan badai angin ilahi. Kala menarik bilah pedang hitam berkilau emasnya sepanjang tepat sepuluh sentimeter.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!