Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Udara di dalam ruang ganti mendadak terasa hampa, terkuras oleh ketegangan yang teramat sangat. Belum sempat Tyche melangkah mundur atau meraih benda apa pun untuk dijadikan senjata perlindungan diri, Christian bergerak dengan kecepatan yang mengerikan.
Pria itu menutup jarak di antara mereka dalam sepersekian detik. Tanpa aba-aba, tangan kokoh Christian mencengkeram kedua pergelangan tangan Tyche dengan kuat, menguncinya rapat-rapat tanpa memberi ruang bagi sang desainer untuk melawan.
"Lepaskan aku, brengsek!" teriak Tyche tertahan, manik matanya membelalak marah saat wajah Christian tiba-tiba mendekat dengan tatapan penuh dominasi yang memuakkan.
Christian mengabaikan peringatan itu sepenuhnya. Pria tersebut menunduk dan mencium paksa bibir Tyche secara brutal, merenggut napas wanita itu dengan paksa di tengah ruangan yang kini mendadak kosong karena para staf ketakutan dan berlari keluar mencari pertolongan.
Tyche meronta dengan sekuat tenaga. Ia mencoba menendang, memelintir tubuhnya, dan melepaskan cengkeraman tangan yang mengunci pergelangannya. Namun, perbedaan fisik yang telak membuat perlawanan wanita itu terasa sia-sia. Tenaga Tyche sepenuhnya kalah di bawah cengkeraman brutal Christian, membuat air mata amarah dan rasa jijik mulai mendesak di pelupuk matanya.
Di balik pintu yang tertutup rapat, ciuman paksa itu bukan sekadar bentuk pelecehan fisik, melainkan sebuah pernyataan perang terbuka, sebuah pesan keji bahwa bayangan masa lalu dan ancaman dari sindikat gelap tidak akan pernah membiarkan Tyche lepas begitu saja, bahkan di malam kemenangan terbesarnya.
Cengkeraman itu akhirnya terlepas, meninggalkan jejak kemerahan yang mencolok di pergelangan tangan Tyche. Christian berdiri tegak, ibu jarinya dengan sengaja mengusap kasar bibir Tyche yang basah dan sedikit berdarah akibat ciuman brutal tadi, menghapus sisa lipstik yang berantakan dengan gerakan yang melecehkan.
"Katakan pada sepupumu, Hades Sterling, jika ia akan membayar semuanya," bisik Christian tepat di telinga Tyche dengan suara dingin yang membuat darah mengalir lambat, penuh racun dan ancaman terselubung. "Dan untukmu, Vance... pastikan bibir ini jangan sampai orang lain menikmatinya. Jika sampai orang lain menyentuhnya atau menikmatinya, akan ku siksa dan ku bunuh mereka tepat di depan matamu."
Ancaman itu jatuh bagaikan tetesan asam sulfat yang membakar udara di sekitar mereka.
Napas Tyche memburu hebat. Dadanya naik turun menahan gelombang amarah, rasa jijik, dan adrenalin yang memuncak hingga ke ubun-ubun. Alih-alih menunjukkan ketakutan, manik mata Tyche justru menyala tajam, memantulkan kebencian murni yang siap meledak kapan saja.
Dengan gerakan penuh emosi dan tenaga yang tersisa, Tyche menepis dan menyentak tangan Christian yang masih berada di dekat wajahnya dengan kasar. Ia mundur selangkah, menatap lurus ke dalam manik mata pria itu tanpa sedikit pun gentar.
"Kau salah besar jika mengira aku adalah wanita yang bisa kau ancam, Christian," desis Tyche tajam, suaranya bergetar karena amarah yang meluap-luap. "Pergilah dari sini sebelum Hades menemukanmu, karena saat singa itu tiba, bukan hanya ancamanmu yang akan hancur, tapi seluruh sisa hidupmu."
Christian tersenyum miring, tidak terusik sedikit pun oleh kemarahan wanita di hadapannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, pria itu berbalik dan melangkah keluar melalui pintu belakang, menyatu kembali dengan kegelapan malam. Manhattan meninggalkan Tyche yang berdiri sendiri dengan kepalan tangan yang bergetar hebat.
Keheningan di dalam ruang kerja utama mansion Sterling pecah seketika saat layar monitor pribadi Hades menampilkan rekaman kamera pengawas mini yang tersembunyi di sudut lorong belakang butik Tyche.
Hades duduk di balik meja kerjanya dengan postur kaku yang mengerikan. Manik mata kelabunya menatap tajam layar tersebut, menyaksikan detik demi detik saat Christian menyergap, melecehkan, dan memberikan ancaman kepada Tyche. Tidak ada ekspresi terkejut di wajah pria itu yang ada hanyalah ketenangan mematikan, ketenangan sebelum badai paling menghancurkan melahap segalanya.
Bagi Hades, Tyche bukan sekadar sepupu jauh atau rekan bisnis. Wanita itu adalah orang kepercayaan yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk menjaga Percy dan Zeus selama dua tahun masa-masa tergelap di rumah ini. Mengusik Tyche sama artinya dengan menantang kedaulatan imperium Sterling secara langsung.
Hades meraih ponsel satelit di atas meja. Tombol sambungan cepat ditekan dengan gerakan tegas tanpa keraguan.
"Kalian melihatnya?" suara Hades terdengar rendah, berat, namun membawa otoritas absolut yang langsung membuat darah orang di seberang sambungan membeku.
"Tuan Sterling," jawab suara di ujung telepon dengan nada tegang. "Seluruh unit pengintaian dan pasukan khusus telah siaga."
"Aku tidak butuh alasan, aku tidak butuh negosiasi," potong Hades dingin, rahangnya mengeras hingga garis wajahnya terlihat tajam. "Cari Christian sekarang juga. Balikkan setiap sudut kota Manhattan jika kalian harus melakukannya. Tangkap dia hidup-hidup, lalu bawa bajingan itu ke hadapanku."
"Baik, Tuan!"
Sambungan terputus seketika. Hades meletakkan kembali ponselnya, lalu bangkit perlahan dari kursi kebesarannya. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah gemerlap kota Manhattan di kejauhan, manik mata kelabunya menyipit tajam menatap kegelapan malam.
Di bawah bayang-bayang kekuasaannya yang mutlak, hitungan mundur bagi hidup Christian telah resmi dimulai, dan tidak ada satu tempat pun di bumi ini yang cukup aman untuk menyembunyikannya dari kemarahan sang penguasa Sterling.
Malam semakin larut, namun denyut nadi kota Manhattan seolah berhenti berdetak di bawah bayang-bayang ketakutan yang tidak kasat mata. Di dalam penthouse nya yang luas, Tyche Vance duduk di tepi sofa ruang tamunya. Gelas champagne yang tadinya ia pegang kini telah diletakkan di atas meja dalam keadaan kosong. Tangannya masih memegang secarik tisu basah, berulang kali mengusap bibirnya dengan gerakan kasar, seolah ingin menghilangkan jejak sentuhan menjijikkan dari Christian yang masih terasa panas di kulitnya.
Rasa marah, jijik, dan frustrasi bergemuruh di dalam dadanya. Namun, di balik itu semua, insting bertahan hidupnya berteriak kencang. Ia tahu betul siapa Hades Sterling. Ketika sang penguasa imperium itu mengetahui ada seseorang yang berani menyentuh lingkaran terdekatnya dengan cara sedemikian rupa, maka malam ini tidak akan berakhir dengan sekadar perdebatan verbal.
Drrrrt... Drrrrt...
Ponsel di atas meja bergetar nyaring, memecah kesunyian ruangan. Layar menyala terang, menampilkan nama yang sangat ia kenal Hades.
Tyche menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan napasnya yang masih memburu, lalu menggesek ikon hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Aku tahu kau sudah melihat rekamannya, Hades," ucap Tyche tanpa basa-basi, suaranya terdengar serak namun berusaha tetap tegar.
Di seberang sambungan, tidak ada suara napas yang tergesa, melainkan keheningan yang jauh lebih mematikan daripada bentakan apa pun.
"Di mana posisimu sekarang?" suara Hades terdengar rendah, datar, namun mengandung gelombang amarah yang siap meruntuhkan gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya. "Tetaplah di penthousemu. Jangan biarkan siapa pun masuk, dan kunci semua akses."
"Hades, aku baik-baik saja. Aku tidak..."
"Ini bukan permintaan, Tyche," potong Hades mutlak, tidak memberi ruang bagi bantahan. "Christian baru saja menandatangani surat kematiannya sendiri detik ia menyentuhmu. Pasukan sudah bergerak. Malam ini, aku akan menunjukkan pada dunia apa artinya mengusik keluarga Sterling."
Sambungan terputus seketika.
Tyche menurunkan ponselnya perlahan dari telinga. Ia menatap pantulan dirinya di jendela kaca besar yang memperlihatkan jalanan Manhattan yang sunyi. Di luar sana, di balik gemerlap lampu kota yang indah, mesin pembunuh milik imperium Sterling telah dilepaskan, dan perburuan darah resmi dimulai.