Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.
Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.
Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.
Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.
Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.
Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.
Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Kaki Lucas yang Patah
Tiga surat tiba di kantor Lucas pada pagi yang sama.
Surat pertama berasal dari organisasi advokat. Rekaman persidangan Evelyn, konflik kepentingan Lucas dengan Vanessa, serta bukti bahwa ia menyembunyikan hubungan pribadi dengan keluarga Pratama telah diperiksa dewan etik. Izin praktiknya ditangguhkan sambil menunggu putusan akhir.
Surat kedua datang dari kantor pajak. Sebuah rumah dan dua kendaraan disita sementara karena nilai aset tidak sesuai dengan penghasilan yang dilaporkan.
Surat ketiga adalah perhitungan denda, bunga, dan kewajiban pajak bertahun-tahun. Nilainya cukup untuk menghabiskan seluruh tabungan Lucas.
Sebelum tengah hari, firma hukum mencabut namanya dari semua surat kuasa aktif. Klien korporasi meminta pengembalian dokumen, sedangkan rekening penampungan biaya perkara dibekukan untuk audit. Penangguhan izin belum menjadi putusan pidana, tetapi Lucas tidak lagi boleh tampil sebagai advokat atau menandatangani berkas perkara.
Seluruh proses bermula dari bukti yang memang ada: kesaksian yang saling bertentangan, pesan pribadi dengan Vanessa selama persidangan, aset yang disembunyikan atas nama orang lain, dan laporan pajak yang tidak cocok. Hartono hanya membuka pintu yang selama ini dijaga koneksi Pratama.
Di ruang kerja vila PIK, Brandon menaruh salinan ketiga dokumen itu di depan Rayhan.
"Tidak ada bukti palsu," katanya. "Tim hanya menyerahkan catatan yang selama ini tidak pernah diperiksa. Dewan etik dan kantor pajak mengambil keputusan sendiri."
Rayhan membuka halaman terakhir. "Gugatan perdata Keira?"
"Belum diajukan. Nona Keira belum memberi kuasa."
"Jangan ajukan atas namanya."
Rayhan ingin setiap orang yang menyakiti Keira kehilangan perlindungan yang mereka bangun dari kebohongan. Namun ia tidak akan memakai nama Keira tanpa persetujuan. Perintahnya sederhana: telusuri pelanggaran yang nyata, serahkan kepada lembaga yang berwenang, dan jangan membeli putusan.
"Target berikutnya?" tanya Brandon.
"Semua yang menerima keuntungan dari kasus palsu itu. Mulai dari aliran uang, bukan tubuh mereka."
Brandon mengangguk. Ia baru meraih dokumen ketika ponselnya bergetar.
Sebuah pesan tanpa nama memuat foto Lucas di IGD. Wajahnya tidak terlihat jelas karena masker oksigen. Kedua kakinya dibungkus penyangga darurat. Di bawah foto hanya ada satu kalimat.
`Dia tidak akan mengejar Kak Keira lagi.`
Brandon mengenali nomor pengirim sementara yang pernah digunakan jaringan Amanda.
"Bos, ini bukan pekerjaan tim kita."
Rayhan membaca laporan singkat yang menyusul. Dalam perjalanan pulang, Lucas disergap orang tidak dikenal. Kepalanya ditutup karung. Tidak ada rekaman yang menunjukkan pemukulan, hanya hasil setelah petugas keamanan menemukan tubuhnya di dekat mobil.
Dokter mendiagnosis patah kompleks pada kedua tungkai, kerusakan pembuluh darah, dan kehilangan aliran darah yang terlalu lama. Setelah operasi darurat, tim bedah menyatakan kedua kaki tidak bisa dipertahankan. Amputasi diperlukan untuk mencegah kematian jaringan dan infeksi menyebar.
Polisi membuka penyelidikan penganiayaan berat. Mereka menyita rekaman jalan, memeriksa kendaraan yang melintas, dan meminta data lokasi ponsel Lucas. Belum ada tersangka. Foto medis bocor ke media sosial sebelum keluarga sempat meminta pemblokiran, membuat kasus etika dan pajaknya berubah menjadi tontonan publik.
"Pastikan tim komunikasi kita tidak menyebarkan foto itu," kata Rayhan. "Pelanggaran Lucas tetap bisa dibuktikan tanpa memperjualbelikan tubuhnya."
Brandon mengirim perintah penarikan kepada semua akun yang terhubung dengan vendor Hartono. Hukuman hukum tidak memerlukan penghinaan tambahan.
Rayhan menutup layar.
"Aku memerintahkan penyelidikan hukum. Bukan ini."
"Kemungkinan besar Kak Manda mengaturnya sendiri."
"Jangan hapus pesan. Simpan sesuai waktu penerimaan. Dan hentikan semua orang kita dari tindakan fisik."
Balas dendam itu mungkin terasa seimbang bagi Amanda karena Lucas pernah membiarkan kaki Keira dihancurkan. Namun hasil yang sama tidak mengubahnya menjadi keadilan. Ada tubuh lain yang rusak, risiko pidana baru, dan Keira tidak pernah memberi izin namanya dipakai sebagai alasan.
Rayhan berdiri. "Keira tidak boleh mendengar ini dari gosip."
"Bos mau memberitahunya?"
"Setelah fakta rumah sakit pasti. Tanpa mengatakan ini dilakukan untuknya."
"Polisi akan meminta data dari kita kalau jejak nomor pengirim mengarah ke jaringan Kak Manda."
"Berikan apa yang diwajibkan hukum. Jangan membuat bukti palsu, jangan menghapus log, dan jangan memindahkan siapa pun."
Brandon menatap atasannya sejenak. Ia memahami bahwa perintah itu bisa menyeret orang yang tinggal satu atap dengan mereka. Rayhan tetap tidak mengubahnya.
Sebelum mereka mencapai ruang sulam, Amanda masuk dari pintu taman. Gaun hitam sederhana yang dipakainya terkena debu di bagian bawah. Ia melewati Rayhan tanpa menyapa dan menuju wastafel luar.
Air mengalir di atas kedua tangannya. Tidak ada darah. Hanya lecet kecil di buku jari kanan dan kulit kemerahan akibat terlalu lama digosok.
"Kak Manda," panggil Brandon.
Amanda mematikan keran. "Apa?"
"Lucas ada di rumah sakit."
"Banyak orang masuk rumah sakit setiap hari."
"Kedua kakinya harus diamputasi."
Tangan Amanda berhenti di atas handuk. Wajahnya tetap dingin, tetapi matanya bergerak sekilas ke jendela lantai dua tempat lampu ruang sulam menyala.
"Dia tidak akan menarik Kak Keira dari balkon lagi."
"Itu pengakuan?"
"Itu fakta."
Rayhan berdiri beberapa langkah di belakang. "Keira tidak meminta ini."
"Kak Keira tidak pernah meminta siapa pun berbuat apa-apa. Itu sebabnya kalian semua selalu terlambat."
"Dan kalau kamu dipenjara, siapa yang akan menjaganya?"
Pertanyaan itu membuat Amanda terdiam.
Ponselnya menyala di tepi wastafel.
`Manda, Bi Sari membuat bubur. Turun sebelum dingin.`
Pesan Keira tidak menanyakan di mana Amanda pergi atau mengapa bajunya berdebu. Hanya satu mangkuk bubur yang menunggu di meja.
Amanda membaca kalimat itu dua kali. Ia pernah menganggap penjara bukan ancaman selama musuh Keira berhenti bernapas atau berjalan. Namun Keira baru saja keluar dari lima tahun kurungan. Menambah satu orang yang dicintainya ke balik jeruji bukan bentuk perlindungan.
Rayhan tidak mengancam akan menyerahkannya. Ia juga tidak memuji hasilnya. "Berhenti sebelum pilihanmu membuat Keira kehilangan orang lain."
Amanda meraih handuk. Lecet di tangannya terbuka kembali.
Brandon mengeluarkan plester dari dompet dan mengulurkannya.
"Ini bukan luka yang perlu diperban," kata Amanda.
"Setiap luka perlu diperban."
Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya malam itu, kekerasan di wajah Amanda goyah. Ia mengambil plester tersebut tanpa mengucapkan terima kasih.
Brandon menempelkan sisi pertama, lalu membiarkan Amanda menyelesaikannya sendiri.
"Saya tidak akan bertanya dari mana luka ini," katanya. "Tapi lain kali sebelum membuat keputusan yang tidak bisa ditarik, baca pesan Kak Keira dulu."
Amanda merekatkan ujung plester. "Kamu banyak bicara untuk seorang asisten."
"Bos bilang itu kelemahan utama saya."
Amanda hampir tersenyum, lalu teringat foto rumah sakit dan kembali menunduk.
Di lantai dua, Keira tidak mengetahui percakapan itu. Ia sedang memisahkan dua warna merah pada Peony Agung. Musik pelan mengalun dari ponsel, dan Bi Sari meninggalkan semangkuk buah di dekat siku kanannya.
Benang terus bergerak, tenang dan teratur, sementara orang-orang di luar ruang itu membuat keputusan atas nama perlindungan.
Tiga hari kemudian, Brandon menyerahkan daftar tamu kepada Rayhan.
"Bos, undangan ulang tahun ke-80 Oma sudah dikirim. Keluarga Pratama juga ada dalam daftar."
Rayhan melihat nama Edmond, Yolanda, Kevin, dan Vanessa. Jarinya berhenti di atas nama terakhir.
"Bagus. Biarkan mereka datang. Ini akan menjadi pesta yang tidak akan pernah mereka lupakan."