NovelToon NovelToon
HARAPAN DALAM AIR MATA

HARAPAN DALAM AIR MATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Keluarga & Kasih Sayang / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh / Mengubah Takdir / Berbaikan
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arya wijaya

lahir sebagai wanita bukanlah pilihan seseorang, menjadi kuat juga bukanlah pilihan seorang wanita, kebahagiaan adalah harapan bagi seorang anak perempuan yang di dipersunting lelaki pilihan hati.
kisah ini menceritakan kehidupan rumah tangga empat saudara perempuan, yang punya banyak impian menikah adalah kebahagiaan, namun kisah pernikahan jauh dari ekspektasi air mata selalu hadir dalam setiap permasalahan, jatuh bangun ke empat saudara ini mempertahankan rumah tangganya, ada begitu banyak harapan dalam setiap air mata yang menetes dalam doa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DATANGNYA KAK MAI

Ada banyak pertanyaan bagi Rina kepada ibunya salah satunya adalah.

"Sekarang bunda jadi tukang cuci pakaian?"

"Iya sayang"

"Biar dapat uang banyak ya bunda"

Asri tersenyum lalu menjawab,

"Iya dong, buat tambahan jajan Rina sama adek Rian"

"Bun.. kalau Rina besar nanti, Rina mau jadi orang kaya biar bunda gak capek lagi jadi tukang cuci"

Asri terharu mendengar kata-kata Rina, Rina sepetinya mengerti kesusahan ibunya.

"Ya sudah, Kita pakai baju ya, habis ini bunda mau lanjutkan cuci baju, lalu setelah itu Kita balik ke Rumah Sakit tengok Nenek"

Tak sengaja ucapan Asri terdengar oleh Fery yang sedang membawa piring bekas makannya.

"Mau ke Rumah Sakit lagi, memangnya adik-adik Kamu gak ada yang menjaga ibu"

"Ada sih Yah, tapi ibu ingin Kita kumpul, lagi pula Kamu apa gak mau nengok Ibu Yah?"

"Gak deh, nanti saja Aku masih ada kerjaan"

Asri sudah tahu pasti itu jawaban yang keluar dari mulut suaminya.

Namun Asri tak ingin ambil pusing, saat ini yang terpenting baginya adalah kesehatan ibu, dan pekerjaan barunya ini, walaupun lelah tapi Ia tetap akan bersemangat menjalani kehidupannya.

Cerita beralih di rumah Arif.

Aliyah kini duduk berdampingan dengan Arif, lalu Ia memandangi wajah calon suaminya itu, dan Ia memulai obrolan.

"Mas Arif, apakah hati terdalam Mas menginginkan pernikahan ini?"

Arif terdiam sejenak dan menatap wajah Aliyah, tak lama Ia menjawab,

"Sebenarnya jika harus jujur, Aku tidak ingin menikah lagi, Aku ingin beribadah berumah tangga hanya untuk satu wanita"

"Namun mengapa Mas Arif menerima pernikahan ini"

"Pernikahan ini hanya bentuk rasa baktiku pada kedua orangtua ku"

Aliyah memang tak melihat raut kebahagiaan dalam wajah Arif, perbicangan ini merupakan salah satu fase pendekatan Arif dengan Aliyah yang sengaja kedua ibu Mereka mengadakan pertemuan keluarga hari ini.

Arif masih memikirkan Irna, dan bertanya-tanya bagaimanakah keadaan sang ibu mertua, kemudian Arif mengatakan sesuatu pada Aliyah.

"Maafkan Aku Aliyah, jika perkataan Aku tadi ada yang menyinggung perasaan Mu, Aku harap Aku bisa menjadi suami yang baik, jika pernikahan ini terjadi"

Aliyah langsung menoleh menatap wajah Arif dan mencerna ucapan Arif.

"Jika terjadi, itu artinya Mas Arif memang tidak pernah menginginkan pernikahan ini"

Ucap Aliyah berkata dalam hatinya, lalu Aliyah menjawab,

"Aku hanya bisa pasrahkan semua ini atas kehendak Allah semoga Kita bertemu di atas pelaminan Mas"

Aliyah beranjak bangun dari duduknya, dan Ia memasuki rumah Arif lalu mengajak kedua orangtuanya untuk pulang karena hari sudah hampir magrib.

"Loh magriban disini saja Bu Fatimah"

"Bagaimana Pah?"

"Terserah, apa Aliyah mau coba tanyakan?"

"Kita pulang saja Pah, Aku kan akan mengajar ngaji anak-anak sehabis magrib"

"Oh Iya Mamah lupa, kalau Kamu sekarang jadi guru ngaji"

Ami Annisa sepertinya kagum akan kecantikan Aliyah juga kepandaian Aliyah dalam mengaji hingga menjadi guru ngaji.

"Subhanallah mulia sekali pekerjaan Kamu Aliyah, semoga Kamu nantinya bisa menjadi istri yang Solehah bagi Arif"

"Mbak Irna sudah sangat Solehah Ami, dari berpakaian, berpamitan dan berbicara Mba Irna sopan, Ami Annisa mencari yang solehah seperti apa lagi?"

"Solehah saja tidak cukup Aliyah, dalam rumah tangga anak juga penting, untuk menyambung garis keturunan dan menjadi penyemangat hidup ayah dan ibunya"

Aliyah kini mengerti, Ami Annisa dan Abi Ilham terlalu terobsesi ingin memiliki cucu, hingga Mereka tega menyakiti menantunya dengan cara halus seperti ini.

"Mah.. Pah...Ayo kita pulang saja"

"Maaf ya Ami Annisa, Kami pulang saja, lagi pula Aliyah harus mengajar ngaji"

"Iya... Baiklah kalau begitu gak masalah, Kalian hati-hati ya di jalan, terimakasih sudah mampir kesini untuk pendekatan anak-anak Kita"

Dan akhirnya Aliyah beserta keluarga kini telah pulang, begitu juga dengan Ami Annisa dan Abi Ilham, tak lama dari kepulangan Aliyah Mereka juga pamit pada Arif untuk kembali pulang.

Dan Arif saat itu juga segera bersiap untuk mendatangi istrinya yang sedang menengok ibu mertuanya.

Tak lama kini Erwin sadar dari mabuknya, Ia melihat banyak pecahan beling berserakan di lantai.

"Novi..."

Panggil Erwin dengn suara lantang.

"Novi... sini Kamu"

Namun Novi tak kunjung datang apalagi menyahuti panggilan Erwin.

"Kemana sih Dia?"

Erwin terlihat marah, dan Ia berjalan menuju kamar, dapur, dan toilet mencari keberadaan sang istri.

"Brengsek, pergi kemana Dia?"

Langsung saja Erwin menelpon Novi dan bertanya dimana keberadaannya.

"Aku sedang di rumah Sakit A"

"Di Rumah Sakit, siapa yang Sakit?"

"Ibu A, Ibu terkena DBD, kondisinya saat ini lemah"

"Heh Kamu jangan bohong ya?, Kamu mau mencoba mengadu ya, pada semua saudara Kamu dan Ibu Kamu"

"Gak A...gak ada, Aku disini benar-benar menjenguk ibu"

"Awas kalau sampai Kamu mengadu pada Mereka bagaimana pernikahan Kita ini"

"A Erwin gak perlu khawatir, Aku tahu"

"Bagus... Heh... rumah kenapa berantakan, Kamu gak bersihkan dulu apa sebelum pergi"

"Itu kan ulah A Erwin, A Erwin yang memecahkan botol miras, dan menyiram Aku dengn miras"

Erwin terdiam apakah benar yang di katakan Novi barusan.

"Aku gak ingat apa-apa jangan mengarang Kamu"

"Bagiamana mau ingat, A Erwin mabuk parah tadi"

"Alah... sudah lah gak usah di bahas, Kamu pulang cepat, Aku lapar"

"Masih ada sisa makanan di atas meja makan, A Erwin makan saja yang ada"

Erwin kembali marah, dan memaki Novi dengan berkata,

"Dasar istri gak berguna, kerjanya cuma nangis, masak telur, dan masak mie, cuma itu keahlian Kamu"

Panggilan telah di akhiri oleh Erwin begitu saja, dan saat Novi membalikkan badan, ternyata, Irna mendengar kakak iparnya mabuk di telepon tadi, Irna pun berkata,

"Mabuk...Kak Erwin mabuk kak?"

"Irna, sst.... Jangan kencang-kencang suaranya, nanti Ibu dengar"

"Tapi sejak kapan Kak, kak Erwin jadi tukang mabuk"

"Kamu gak perlu tahu urusan rumah tangga Kakak, sudah masuk lagi sana temani ibu".

Baru saja Irna masuk, datanglah Asri bersama kedua anaknya, Novi melihat Mereka berjalan dari kejauhan, tak terasa air mata Novi menetes melihat Kakaknya sedang mendekati dirinya.

"Kak Asri"

Asri terkejut melihat kehadiran adik yang sangat sulit sekali di hubungi.

"Ya Allah Novi, Kamu apa kabar dek?"

"Aku baik kak, Kakak sendiri bagaimana keadaannya, Aku rindu sekali dengan Kakak"

"Sama, kenapa Kamu baru muncul, kemarin kemana saja, saat ibu sakit"

Novi tak dapat menceritakan kekerasan dalam rumah tangganya, Dia hanya mengatakan jika dirinya kemarin juga sedang sakit.

"Ya ampun, tapi sekarang sudah sembuh kan?"

"Sudah Kak"

Asri melihat luka di pinggir bibir Novi, Ia pun menanyakan hal itu.

"Ini hanya luka kecil kak"

"Tapi bekas apa, seperti..."

Baru saja Asri ingin mengatakan asumsinya, Irna di dalam teriak memanggil kakanya.

"Kakak cepat kesini"

Asri dan Novi berlari dengan cepat.

"Ada apa dek?"

"Ibu muntah darah"

"Astagfirullah"

Ucap Asri terkejut melihat keadaan sang ibu.

"Panggil dokter Irna cepat"

Irna segera keluar memanggil dokter, dan Asri mengelap mulut ibu Nasya dengn tisu untuk membersihkan bekas muntahan itu.

"Ya Allah ibu, kenapa Bu?"

Bu Nasya batuk, lalu menjawab,

"Ibu juga gak tahu, Tapi ibu semakin merasa lemah Asri"

Mata Asri mulai berkaca-kaca, sedangkan Novi menggenggam erat tangan ibunya, hal itu membuat Bu Nasya tersenyum bahagia, sambil menatap kedua putrinya.

"Kurang satu lagi anak ibu, Mai sari Anak sulung Ibu, Ibu rindu sekali"

"Bu sudah jangan banyak berfikir Bu, Ibu harus sembuh"

"Iya ibu, Aku sudah disini, kak Asri disini, dan Irna adik bungsu Kita disini"

Ucap Novi berkata sambil menangis kecil.

Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil nama ibu.

"Ibu...."

Bu Nasya dan yang lainnya menoleh, betapa Mereka bahagia karena seseorang yang Mereka lihat adalah Anak sulung ibu, Kakak tertua Mereka.

"Mai..."

Ucap Bu Nasya sambil menangis kecil melihat kedatangan Putri yang tinggal jauh di sana.

"Ibu..."

Mai mendekati sang ibu, memeluk sang ibu menangis haru di hadapannya.

"Maafkan Mai ibu, yang baru saja datang kesini setelah sekian lamanya"

Semua ikut menangis haru, dan adik-adik Mai saling berpelukan meneteskan air mata kebahagiaan.

"Adik-adik Mai, Kalian semua sehat?"

"Kita semua disini baik-baik saja Kak, Kakak yang apa kabar, kenapa Kakak gak pernah bisa pulang?"

Mai kini bersedih jika di ingatkan soal itu, lalu Bu Nasya melihat anak pertama Mai yang telah tumbuh dewasa.

"Azra"

"Iya Nenek"

"Sini Nak peluk Nenek"

Azra memeluk sang nenek sesuai permintaan nenek.

"Nenek gak kangen Aku?"

Tanya Hani putri kedua kak Mai.

"Sini Sayang, semua cucu-cucu Nenek, sini peluk Nenek"

Rina pun ikut mendekati merangkul semua saudaranya.

Lalu tibalah dokter datang memeriksa keadaan Bu Nasya.

1
Lita Pujiastuti
tinggalkan Erwin, Nov...
Lita Pujiastuti
Kenapa laki² hanya menuruti nafsu saja. Semoga pd kena HIV...biar tahu rasa
Lita Pujiastuti
walau kepepet butuh biaya utk ibunya. Tapi caranya gk gitu jg, Citra
Lita Pujiastuti
Mbak, kok tidak update²?...saya tunggu lhooo...
Arya wijaya: makasih bnyk ya mbak sudah mampir di di cerita novel ku🥰
total 2 replies
Lita Pujiastuti
Erwin mmg harus segera ditinggalkan..biar tahu rasa
Lita Pujiastuti
Payah kamu, Win. Tunggu saja, suatu saat Novi akan meninggalkanmu jika kamu masih lanjut dg Citra
Lita Pujiastuti
ansknya gk ada masa gk lihat
Lita Pujiastuti
pil kuning yg dosisnya dikurangi...
Erwin, hrsnya terus terang dg Novi ttg Citra. dan janji gk akan mengulang. Agar video itu tdk dijadikan Citra sbg alat utk mengancam
Lita Pujiastuti
Istiqomah, Erwin....awas, bisa kehilangan Novi klo kamu kambuh
Lita Pujiastuti
Alhamdulillah, ada jln terang utk Mai
Lita Pujiastuti
Hasan paling menyebalkan diantara menantu yg lain...licik
Lita Pujiastuti
Jauhi Citra, Win. Dia biang kerok semua masalahmu...jgn mau dibodohi lg dg obat²an dan jamu itu..
Lita Pujiastuti
semoga semua kakak beradik itu kisahnya berakhir bahagia
Lita Pujiastuti
Erwin ra nggenah... istri buat jaminan utang...
Lita Pujiastuti
,si Feey...pelit tryt
Lita Pujiastuti
Ceritanya bagus, problematik kalangan menengah bawah...bukan CEO seperti kisah kebanyakan di noveltoon..
Lita Pujiastuti
Mau aja, Mai...
Lita Pujiastuti
Erwin harus ke dokter dan mulai rehabilitasi. sepertinya dia konsumsi. narkoba
Lita Pujiastuti
Kerja lagi aja, Asri ..
Lita Pujiastuti
Kenapa punya suami gk ada yg bener, sih....ini jln terbaik cerai. Walau dlm agama sebenarnya harus dihindari
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!