NovelToon NovelToon
CHOSEN HUMAN

CHOSEN HUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Time Travel / Fantasi Isekai
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Ya'purmansyah

Kisah petualangan seorang pemuda yang dipilih semesta untuk pergi bersama para roh pendampingnya ke dunia lain. Disana mereka akan membantu membereskan semua kekacauan yang di sebabkan oleh para pasukan Iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ya'purmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Burung Penjaga Telaga

Ia pun memperhatikan Di sekelilingnya terdapat pepohonan dan banyak bebatuan besar yang menyelimuti goa tersebut. Karena tidak berani masuk sendirian ke dalam goa itu, ia memutuskan untuk berjalan melewati bebatuan besar yang ada di depannya untuk mencari tempat yang paling tinggi agar bisa mengamati area sekitar di mana ia berada sekarang.

Lalu ia pun melompat dari satu batu ke batu yang lainnya, hingga tak lama ia pun sampai di puncak tumpukan batu batu besar itu. Lalu ia memperhatikan area di sekelilingnya, terlihat seperti sebuah puncak gunung yang terhampar luas penuh bebatuan.

Disitu ia melihat ada sebuah batu yang paling besar dari batu lain, sangat cocok untuk tempat ia beristirahat sebentar setelah lelah melompati banyak batu menuju ke sini. Ia pun melompat dan akhirnya sampai di atas batu besar tersebut.

Dari tempat itu ia bisa melihat jelas di sekelilingnya terdapat sebuah lembah yang di penuhi pepohonan lebat. Terlihat juga ada sebuah sungai yang panjang di sisi lainnya, serta terlihat di hadapannya sebuah lubang besar yang berbentuk sebuah kawah gunung.

Di dalam lubang tersebut terlihat seperti sebuah danau dengan hamparan rumput hijau yang luas.

Setelah puas melihat sekeliling tempatnya berada saat ini, ia memastikan bahwa ia sedang berada di atas puncak gunung besar.

Setelah Melihat kawah itu, ia pun berencana untuk ke sana mendatangi danau yang terlihat indah dan nyaman.

Sebelum ia menuju ke danau tersebut, ia duduk sebentar di atas batu tempat ia berdiri saat ini untuk beristirahat sejenak serta makan terlebih dahulu agar tenaganya pulih kembali.

Dengan menggunakan gelang Universal di tangannya, ia pun membuat makan serta perlengkapan yang bisa di gunakan untuk pergi ke danau tersebut.

Setelah selesai beristirahat cukup lama, ia pun segera memulai perjalanannya menuju danau yang di lihatnya tadi. Melihat jalan yang harus di laluinya sangat curam dan terjal, ia pun berjalan dengan hati-hati serta sangat berwaspada agar tidak terpeleset dan jatuh sebelum sampai ke danau tersebut.

Dan setelah sampai di hamparan rumput nan luas dekat danau tersebut, Ipul pun mencoba mencari tempat persembunyian untuk menunggu serta memastikan tempat tersebut aman baginya.

Dari situ ia memantau sekeling tempat tersebut untuk memastikan tidak ada bahaya yang akan mengancam nyawanya.

Lalu dari tempat persembunyiannya itu, ia melihat ada sebuah pertarungan sengit. Walau terlihat agak samar-samar namun terlihat seperti dua orang yang saling menyerang satu sama lain.

Dengan rasa takut dan penasaran, Ipul pun mencoba mendekati tempat pertarungan mereka dengan tetap bersembunyi agar tidak terlihat oleh mereka yang sedang bertarung.

Setelah ia sampai di tempat yang tidak jauh dari pertarungan itu, ia melihat dua sosok gaib yang sedang beradu pukul dan saling menyerang satu sama lain.

Salah satu dari sosok itu terlihat tidak asing di matanya, namun satu sosok yang menjadi lawannya seperti seekor burung yang cukup besar. Terlihat burung itu ukurannya sebesar manusia.

Dengan seksama Ipul terus melihat orang yang sedang bertarung dengan burung tersebut, dan terlihat jelas olehnya kalau itu adalah Bangkui.

Di pertarungan itu terlihat Bangkui sangat mendominasi dalam hal menyerang hingga membuat musuhnya sedikit kewalahan menahan serangannya.

Dan hasil dari pertarungan itu, terlihat musuh yang di serang oleh Bangkui terpojok. Bangkui pun mencoba melakukan serangan terakhir untuk membunuh musuh tersebut.

Melihat Bangkui ingin menyerang musuhnya yang sudah tidak berdaya, Ipul pun melompat dengan cepat dan langsung menghentikan serangan mematikan dari Bangkui. Alhasil serangan tersebut dapat di tahan oleh Ipul agar tidak mengenai lawannya yang sudah tidak sanggup lagi untuk melawan nya.

Merasa serangannya di halang oleh seseorang, Bangkui pun mengambil jarak untuk mencoba menyerang orang yang telah mengganggu pertarungannya itu.

Ketika hendak ingin menyerang lagi, Bangkui pun melihat bahwa yang tadi menahan serangannya adalah tuannya yang masih berdiri tepat di antara mereka.

Karna melihat itu adalah tuannya, Bangkui pun berhenti untuk menyerang lagi. Bangkui pun berlari mendekati tuannya dan melihat lawannya sudah tidak dapat bergerak sedikit pun karna sudah kehabisan tenaga untuk bertarung.

Melihat tuannya yang sedang berusaha untuk membantu musuhnya tadi, Bangkui pun juga ikut membatu tuannya untuk menggotong dan membaringkan makhluk tersebut di sebuah batu di tepi danau.

Ipul mencoba mengobati luka-luka makhluk tersebut dengan ramuan yang di buat oleh gelang universalnya, Dan mencoba membersihkan tubuh makhluk tersebut menggunakan air yang ada di danau itu. Jika tubuhnya sudah bersih barulah makhluk tersebut dapat di obatinya.

Namun setelah tubuh makhluk yang menyerupai bentuk burung elang itu terkena air danau, tiba-tiba dari tubuhnya memancarkan cahaya terang.

Cahaya itu keluar dari tubuh burung elang itu dan berubah menjadi sosok seorang lelaki tua dengan rambut dan janggut panjang berwarna putih, serta mengenakan pakai serba merah sedang duduk di samping elang tersebut.

Lelaki tua itu pun mengeluarkan semua energi di tubuhnya untuk di alirkan ke tubuh elang yang terluka itu. Terlihat burung elang yang tidak berdaya itu pun perlahan bergerak bangkit untuk berdiri setelah di beri energi dari dalam tubuh lelaki tua itu.

Burung elang itu pun seketika dapat kembali mengepakkan sayapnya lalu ia pun terbang ke langit.

Setelah burung tersebut sudah memutari lokasi di mana mereka berada saat ini sebanyak tujuh kali, lalu burung tersebut pun turun dengan ukuran tubuh yang kembali normal layaknya burung elang pada umumnya.

Burung elang itu pun perlahan-lahan hinggap di tangan kiri Ipul yang saat itu di minta oleh pak tua itu untuk merentangkan kedua tangannya.

Melihat burung itu hinggap di tangan kiri Ipul, sang kakek tersebut tersenyum melihat Ipul dan berkata.

“Burung itu memilihmu nak, dia akan mengikuti mu kemana pun sebagai menunjuk arah yang benar saat kau tersesat nanti.”

“Ia tak akan pernah bisa mati sampai engkau pun mati, itulah sumpahnya kepada air telaga yang kau ambil kan tadi untuk nya.”

“Dia juga akan membantumu melawan semua musuh yang kelak dapat membahayakan nyawamu.” Jelas sang kakek tua itu kepada Ipul.

Lalu Ipul pun bertanya kepada kakek tua itu.

“Siapa nama anda kek dan kenapa burung itu bertarung dengan temanku.?”

“Dan perkenalkan nama saya Ipul Darmasah kek.!” Tanya Ipul sembari memperkenalkan dirinya.

Lalu kakek itu pun memperkenalkan dirinya juga.

“Aku bernama Ambun Laksa, aku adalah seorang manusia yang meng gaib, menjadi roh yang menjaga tempat ini.”

“Aku yang berwujud elang dan roh inilah yang selalu bersama menjaga gunung dan sekitar tempat ini dari siapa pun yang mencoba masuk untuk mengambil air di telaga besar itu.!”

“Maka dari itu aku mencoba untuk menghalau temanmu itu, agar tidak mendekati telaga dan kami pun bertarung. Ternyata temanmu itu sangat kuat dan hebat seperti leluhur kami yang bernama Bangkui, sang penakluk alam gaib yang sering di ceritakan kepada kami turun temurun.”

“Ceritanya Siap pun yang mencoba untuk memasuki tempat ini, mereka tidak akan pernah selamat dan kembali lagi ke tempat mereka lagi.”

“Semua akan mati sebelum bisa melihat telaga ini, apa lagi menyentuh airnya. Karna aku sebelum berubah wujud menjadi burung elang, kami salah satu keturunannya di perintahkan untuk menjaga telaga besar ini dari siapa pun yang mencoba ingin mengambil airnya.”

“Setelah menunggu sekian lama akhirnya datang juga masa di mana sudah di janjikan oleh leluhur kami. Nantinya akan datang seorang pemuda yang dapat mengeringkan air telaga tersebut, dan dengan itu aku tidak perlu lagi menjaga telaga ini.” Jelas si kakek sembari memperkenalkan diri.

Mendengar penjelasan dari kakek tua itu Bangkui pun meminta tuannya untuk meminum seteguk air telaga itu, lalu kemudian memintanya untuk berendam di sana.

Maka air yang ada di telaga tersebut nantinya akan mengering.

Mendengar perkataan Bangkui, Ipul pun menurutinya dan lansung melakukan sesuai perkataan Bangkui.

Melihat pria di hadapanya itu sangat mengetahui bagaimana cara mengeringkan telaga itu, kek Ambun pun langsung bersujud di hadapan pria tersebut.

Karna hanya leluhur yang memerintahkannya lah yang tau cara untuk mengeringkan telaga besar itu. Sedangkan ia sendiri pun tak pernah di beri tau bagaimana caranya telaga sebesar itu bisa kering.

Mengetahui bahwa yang tadi bertarung dengannya adalah leluhurnya, kek Ambun pun percaya bahwa pria di hadapanya itu adalah Bangkui sang penakluk alam gaib.

Karna hanya leluhurnya saja lah yang dapat mengalahkan kesaktian yang telah di peroleh nya selama ini. Karna kesaktiannya itu pun berasal dari leluhurnya itu juga, jadi tidak heran jika ia kalah dan hampir tewas karna pertarungan tadi.

Tidak lama setelah Ipul berendam di telaga itu, airnya pun mulai menyusut sedikit demi sedikit lalu kemudian telaga itu pun mengering.

Setelah telaga itu mengering, tiba-tiba terlihat sekujur tubuh Ipul terbungkus oleh cahaya yang menyilaukan mata. Lalu cahaya pun lenyap seperti di hisap masuk ke dalam tubuh Ipul yang sedang duduk di dasar telaga yang telah kering tadi.

Melihat telaga itu sudah kering, Ipul pun mulai bergegas keluar dari telaga itu. Ia pun segera menghampiri ke dua sosok gaib yang terlihat asik berbincang seperti sudah saling mengenal satu sama lain.

Setelah Ipul sampai di hadapan mereka berdua, burung elang itu pun kembali terbang memutari telaga kering itu.

Lalu terlihat perlahan tubuh kakek tua itu pun berubah menjadi segumpal cahaya dan berkata untuk yang terakhir kalinya.

“Kini aku sudah terbebas dari tugas yang sudah di berikan leluhurku, dan aku sekarang bisa lebih tenang menjaga seluruh keturunan ku.! Terima kasih untuk semuanya, aku mohon pamit wahai tuanku.” Ucap kakek tua sebelum beranjak pergi.

Setelah mengucapkan kata itu, cahaya roh kek Ambun pun terbang menghilang dari tempat itu.

Yang tertinggal hanyalah burung elang yang mulai saat ini akan ikut berpetualang kemana pun tuannya berada.

Setelah roh kakek Ambun menghilang, Ipul dan Bangkui pun segera pergi meninggalkan tempat tersebut di ikuti dengan elang yang sedang bertengger di tangan kiri Ipul.

Karna hari sudah mulai gelap mereka pun keluar dengan menggunakan jalan yang sebelumnya di gunakan oleh Bangkui untuk masuk ke tempat itu.

Dan sekalian menjemput istrinya yang di tinggalnya karena sedang menjaga peti yang berisi roh Nyaring di dalamnya.

Setelah mereka sampai di tempat Ishah menunggu, mereka pun memutuskan untuk bermalam di tempat tersebut.

Lalu mereka mempersiapkan semuanya dan kemudian mereka pun mulai makan bersama dan bercerita tentang bagaimana kejadian sebelumnya.

Bangkui pun mulai bercerita dari awal.

“Karena aku dan Ishah melihat tuan belum juga bangun akibat dari efek perpindahan tempat itu, jadi kami pun memutuskan untuk menelusuri gua besar ini. Untuk memastikan terlebih dahulu kondisi dalamnya aman atau tidak.”

“Maka kami pun masuk berdua dan meninggalkan tuan yang masih tertidur di atas batu besar yang tinggi yang kami rasa cukup aman dari jangkauan binatang buas.”

“Setelah kami berdua sampai di dalam, kami melihat lorong yang di ujungnya terdapat cahaya. Aku meminta Ishah untuk menyusul tuan.”

“Namun setelah Ishah sampai di tempat tuan sedang tidur tadi, ia melihat tuan sudah tidak ada di tempat tersebut.”

“Ishah pun mulai mencari tuan menuju ke sungai tapi tidak terlihat jejak apa pun mengarah ke sungai.”

“Lalu Ishah pun mencoba mencari ke arah gunung dengan berdiri di salah satu batu besar yang ada di atas mulut gua, dan ia pun melihat jika tuan sudah berada jauh menuju puncak gunung.”

“Karna melihat tuan menuju puncak gunung, Ishah pun kembali ke dalam gua tempat aku menunggunya tadi. Lalu Ia pun memberitahu ku kalau tuan sekarang sedang berada di puncak gunung ini.”

“Melihat terowongan goa yang menanjak menuju ke atas, aku pun mencoba untuk menelusuri lorong goa untuk sampai ke ujung lorong yang bercahaya itu.”

“Kemudian aku menyuruh Ishah untuk tidak ikut dan menunggu ku di dalam gua, karna aku merasa gua ini lebih aman dari pada tempat yang akan ku tuju itu.”

“Benar saja begitu aku keluar dari mulut goa, aku pun langsung di serang oleh binatang besar bersayap. Dan Saat itulah kami memulai pertarungan sengit itu, lalu di detik terakhir aku akan menghabisinya. Tuanku pun datang untuk menyelamatkan binatang tersebut.”

“Aku pun terkejut melihat tuan dapat menahan serangan mematikan ku itu, lalu aku pun berhenti menyerang saat itu juga.” Jelas Bangkui mengakhiri ceritanya.

Lalu Ipul pun juga bercerita bagaimana ia bisa sampai ke tempat dari awal sampai akhir kepada mereka berdua.

Setelah selesai bercerita Ipul pun bertanya

“Tunggu, sepertinya ada yang aneh.! Kenapa sekarang Ishah sudah bisa keluar dari petinya saat siang hari.?” Tanya Ipul keheranan.

“Sudah ku duga pasti tuan akan mempertanyakan hal ini.” Ujar Bangkui sembari mengambil pose duduk santai.

Lalu Ishah pun menjawab pertanyaan tuannya.

“Karena sekarang ada roh Nyaring di dalam jasad saya yang ada di peti itu. Jadi sekarang saya bebas untuk keluar meninggalkan jasad saya kapan pun.”

“Dan jika Nyaring ingin keluar dari peti itu, ia harus minta izin terlebih dahulu. Itu pun hanya saya izinkan saat malam hari saja, karna hanya saat malam hari saya baru dapat keluar menggunakan jasad saya dari dalam peti itu.”

“Karna jika saya tinggalkan jasad itu tanpa ada roh yang bersemayam pada siang hari, maka jasad itu akan membusuk seperti layaknya manusia yang sudah mati. Dan kalau saya paksakan untuk keluar saat siang, maka jasad tersebut kan hancur jadi debu saat terkena sinar Matahari.”

“Makanya dulu saya hanya bisa keluar saat malam hari saja. Tapi sekarang saya bebas keluar saat siang hari, karna ada roh Nyaring yang menggantikan saya menjaga jasad itu agar tidak membusuk.” Jawab Ishah sembari menjelaskan.

“Jadi apakah aman jika roh Nyaring di keluarkan dari peti saat malam hari.? Tanya Ipul lagi ke pada Ishah sembari mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan setelah mendengar penjelasan dari Ishah tadi.

“Aman tuanku, karna jika ia mencoba melawan atau kabur. Rohnya akan hancur karna melawan kontrak yang telah ia buat kepada saya dan tuan. Jadi Kalau tidak mau rohnya hancur ia harus patuh kepada anda dan saya.” Jawab ishah menjelaskan lagi.

Lalu Ishah pun mulai mengizinkan Nyaring untuk keluar dari peti tersebut, dengan sekejap mata Nyaring pun sudah duduk di samping Ishah seperti peliharaan yang sudah di jinak kan oleh tuannya.

Sambil sesekali memandang Ipul penuh rasa dendam karna telah membuatnya menjadi seperti ini, dan memandangi tumpukan daging segar yang belum di bakar.

Melihatnya selalu memandangi daging itu, Ipul pun mengizinkan untuk makan sampai puas. Jika belum puas dengan daging yang tersedia di hadapannya itu, Ipul akan menyediakan daging tersebut untuknya lagi hingga ia merasa puas.

Karna sudah mendapatkan izin dari tuannya, Nyaring pun segera melahap daging yang ada di hadapannya sampai tak tersisa dan meminta lagi karna belum merasakan kenyang.

Daging segar itu terus di berikan kepadanya hingga ia sudah tidak kuat lagi untuk makan.

Setelah kenyang iya pun terbang mengelilingi seluruh penjuru goa dan keluar dari goa menuju muara tepian sungai untuk minum di sungai itu. Lalu setelah itu ia pun terbang menjelajahi seluruh tempat yang ada sekitar mereka untuk menghabiskan malam itu.

Karna melihat hari sudah mulai fajar, Nyaring pun bergegas pulang menuju goa tempat di mana tempat mereka bermalam.

Ia melihat mereka bertiga yang masih tidur pulas, Nyaring pun menunggu sampai tuanya bangun untuk bisa masuk ke dalam jasad Ishah dan kembali tidur di dalam peti.

Sembari menunggu tuannya bangun, ia mencoba menyentuh tubuh Ipul yang sedang terbaring di tempat tidurnya beralaskan kulit hewan.

Namun ia tidak dapat menyentuh sedikit pun tubuh itu, karena sejak Nyaring terikat dengan kontrak yang di buat oleh Ishah. Salah satu perjanjiannya adalah ia tidak dapat menyentuh manusia, dan memakan daging tanpa izin tuannya.

Jadi dengan kata lain ia tidak dapat memakan apapun selain pemberian dari tuannya saja.

Kini ia hanya bisa menuruti apa kata Ishah agar tidak musnah dari alam ini.

Tak lama menunggu Ishah dan Bangkui pun bangun dari tidurnya. Melihat Nyaring yang sudah duduk menunggu di sampingnya, lalu ishah pun keluar dari jasadnya dan mempersilahkan Nyaring Masuk kedalam peti itu bersama jasadnya untuk beristirahat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!