"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
"Lepasin gue, brengsek! Lu siapa berani-beraninya ngatur hidup gue?!"
Jeritan Clara menggema di dalam area parkir VIP yang sepi. Tubuhnya yang terimpit di antara pintu SUV dan dada tegap Elzio bergerak liar. Kedua tangannya memukul dada bidang pria itu secara brutal, mengabaikan rasa perih di jemarinya sendiri.
"Diam, Clara!" desis Elzio, menahan kedua pergelangan tangan Clara dengan satu cengkeraman besi.
"Nggak mau! Lu gila! Pria asing brengsek yang udah ngerusak hidup gue!" Clara meludah ke samping, matanya yang merah dan basah menatap Elzio penuh kebencian yang samar oleh pengaruh alkohol. Dia mencoba menyikut rusuk Elzio dan menendang kakinya, berusaha meloloskan diri dengan sisa kekuatannya.
Sabar Elzio habis total. Melihat wanita yang dicarinya setengah mati ini terus menolak dan memberontak—ditambah bayangan Clara yang hampir dicium pria bule tadi—membuat sesuatu di dalam dirinya pecah.
Dengan gerakan cepat yang dingin, Elzio merogoh saku dalam jasnya. KLIK!
Sebuah Borgol logam dingin membelenggu pergelangan tangan kanan Clara, lalu secara kilat dikunci ke gagang pintu bagian dalam mobil yang setengah terbuka.
"Apa-apaan ini?! Lu mau culik gue?! Lepas!" jerit Clara makin histeris.
Elzio tidak menjawab dengan kata-kata. Dia mendorong tubuh Clara jatuh ke atas jok kulit baris tengah SUV-nya, ikut masuk, dan membanting pintu mobil hingga tertutup rapat. Kaca mobil yang gelap kedap suara sepenuhnya membungkus mereka dalam keheningan yang mencekam.
"Lu—"
Sebelum Clara sempat menyelesaikan sumpah serapahnya, Elzio menunduk dan mengunci bibir Clara dengan ciuman brutal.
Ciuman itu bukan ciuman lembut, itu adalah luapan kemarahan, kecemburuan, dan rasa lapar yang terpendam selama bertahun-tahun. Elzio melumat bibir merona itu tanpa ampun, menuntut balasan, menyerap setiap desah kepasrahan dan perlawanan dari tenggorokan Clara. Ibu jarinya mencengkeram rahang Clara agar wanita itu tidak bisa berpaling.
"Mmph... nggkh!" Clara memberontak. Tangan kirinya yang bebas memukul-mukul bahu tegap Elzio.
Namun, rasa panas alkohol yang membakar darahnya berpadu dengan aroma woody-leather Elzio yang begitu dominan. Ciuman liar itu mengirimkan gelombang kesemutan dari bibirnya turun ke perut bagian bawah. Perlawanan Clara perlahan melemah. Pukulan di bahu Elzio berubah menjadi cengkeraman kencang pada kemeja pria itu.
Lidahnya yang terbiasa dingin mulai merespons tarikan hangat Elzio. Clara melenguh pelan, memberikan akses sepenuhnya pada Elzio untuk makin menguasai mulutnya.
"Hah... hah..." Elzio menarik bibirnya beberapa milimeter, napasnya memburu di atas wajah Clara yang merona hebat. Matanya pekat oleh gairah mutlak. "Kamu milik saya, Clara. Jangan pernah biarkan pria lain menyentuh kamu."
Sensasi dominasi itu membuat pikiran Clara yang mabuk makin kacau. Bukannya takut, gairah liar yang sempat terkunci di malam pertama mereka mendadak meledak kembali.
Dengan tangan kirinya yang bebas, Clara menarik kerah kemeja Elzio, menarik pria itu kembali menempel padanya. "Kalau gitu... buktiin..." bisik Clara manja, suara galaknya menguap berganti desahan menggoda.
Elzio membelalak pelan, tak menyangka dengan perubahan drastis itu. Namun Clara tidak memberinya waktu untuk berpikir. Dengan sisa tenaganya, Clara menggerakkan tubuhnya yang terbelenggu sebelah, merangkak naik dan duduk tepat di atas pangkuan Elzio.
Kain tipis gaun malamnya tersingkap tinggi, memperlihatkan paha mulusnya yang langsung bergesekan dengan celana bahan Elzio.
"Clara... kamu sadar apa yang kamu lakukan?" geram Elzio dengan suara serak yang berat, tangannya spontan menahan pinggang padat Clara.
"Banyak cakap..." bisik Clara, lalu menunduk untuk mencium leher tegas Elzio dengan agresif.
Borgol logam di pergelangan tangannya berdenting menyentuh interior mobil setiap kali Clara bergerak, menambah kesan liar pada malam itu. Clara mulai meliukkan pinggulnya di atas pangkuan Elzio, bergerak tanpa ritme yang teratur akibat pengaruh alkohol, memancing erangan rendah dari tenggorokan sang CEO.
Pikiran rasional Elzio terbakar habis. Dia meremas pinggul Clara, mengangkat tubuh wanita itu sedikit sebelum menimbunnya kembali dalam pergulatan panas yang tak tertahankan. Di dalam kabin mobil yang makin pengap dan berembun, batas antara benci, gairah, dan kepemilikan melebur menjadi satu ledakan emosi yang tak terkendali.
...****************...
Sementara itu, di sebuah hotel berbintang tidak jauh dari lokasi beach club...
Suasana di dalam kamar suite bernuansa hangat itu terasa sangat kaku. Anya berdiri di dekat jendela kaca besar, memeluk tubuhnya sendiri dengan cemas. Di sofa ruang tamu, Arka—asisten pribadi Elzio—duduk tegap dengan setelan jas rapi, menatap layar tabletnya.
"A-Arka... lu yakin Clara bakal baik-baik aja sama bos lu yang pemarah itu?" tanya Anya pelan, memecah keheningan. Suaranya agak bergetar karena masih kaget.
Arka mendongak, melepas kacamatanya. Pria kaku yang selama 28 tahun hidupnya hanya fokus pada karier dan tidak pernah berkencan itu menatap Anya lurus-lurus.
"Pak Elzio tidak pernah menyakiti wanita. Apalagi Clara," jawab Arka tenang namun tegas. "Seharusnya Miss Anya khawatir pada diri sendiri dulu."
"Gue?" Anya menunjuk dadanya sendiri, lalu tertawa hambar. "Ngapain khawatir? Gue jomblo, nggak punya ikatan apa-apa, dan sekarang lagi stres berat karena bisnis gue terancam!"
Anya melangkah mendekati meja bar kecil di sudut kamar, meracik dua gelas whisky murni. Dia menyerahkan satu gelas pada Arka, lalu mengandaskan miliknya sendiri dalam sekali teguk.
"Gue rasanya mau gila, Ka," gumam Anya, mendudukkan dirinya tepat di samping Arka di atas sofa. "Semua kacau dalam seminggu."
Arka memandangi gelas di tangannya, lalu menatap wajah Anya dari dekat. Tanpa riasan tebal, Anya terlihat sangat manis dan rentan. Ada kepolosan dan kepasrahan yang mendadak mengetuk sudut hati Arka yang paling dalam.
"Kamu terlalu banyak menanggung beban sendiri, Anya," kata Arka dengan suara yang mendadak melunak.
Anya menoleh, terkejut mendengar perubahan nada bicara Arka yang biasanya sedingin es batu. "Lu... ngomongnya kok jadi gitu?"
"Saya juga manusia," balas Arka tipis. "Dan saya juga jomblo, kalau itu yang kamu tanyakan tadi."
Anya tertawa kecil, sedikit terpengaruh oleh hawa hangat dari whisky. "Terus? Lu mau bilang kalau kita sama-sama kesepian malam ini?"
Arka meletakkan gelasnya di meja. Tatapannya terkunci pada bibir tipis Anya yang basah. Sebagai pria dewasa yang selalu menahan diri demi profesionalisme kerja, kedekatan fisik ini perlahan mengikis benteng pertahanannya.
"Kalau saya bilang iya, kamu mau apa?" tanya Arka rendah.
Anya menahan napas. Rasa panas mendadak menjalar ke dadanya. Tanpa banyak bicara, Anya memajukan tubuhnya dan mendaratkan ciuman nekat di bibir Arka.
Arka tersentak sejenak, namun keheningan malam dan naluri pria lajangnya mengambil alih. Dia melingkarkan lengan berototnya di pinggang Anya, menarik wanita itu ke dalam pelukannya dan membalas ciuman itu dengan kehangatan yang makin menuntut.
Malam itu, di tempat yang berbeda, dua insan yang sama-sama melepas masa lajang dan kepura-puraan mereka, menyerahkan diri pada gairah yang membakar tanpa penyesalan.