Hana seorang kariawan biasa yang harus menerima perjodohan dengan anak atasannya yang bernama Rico. Hana pun menyanggupi meski tak ada cinta antara mereka berdua. Ia rela berkorban asalkan atasannya bisa sembuh dan mau di operasi.
Namun, harapan tak selalu sesuai kenyataan. Sang atasan meninggal dunia di saat pernikahannya yang belum genap 24 jam.
Karena merasa tak ada lagi alasan untuk bertahan, akhirnya Rico memutuskan secara sepihak untuk bercerai.
Hana merasa terluka dan di campakkan. Namun, ia juga tak bisa memaksa untuk mencoba menjalani pernikahan mereka. Putusan perceraian keluar. Hana harus menjadi janda perawan.
Tiga bulan setelah perceraian, nasib buruk menimpa Hana hingga membuatnya hamil dan pergi sejauh mungkin.
Mampukah Rico menemukan Hana dan bertanggung jawab. Atau hanya penyesalan yang menghantuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna sweet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Dua Belas
Malam sudah menunjukkan pukul 23:15 WIB. Jalanan sudah mulai terdengar lengang dari para pengendara motor atau mobil. Hanya terdengar beberapa saja yang menghiasi kesunyian malam.
Hana juga sudah terlelap masuk ke alam mimpi. Namun, tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit. Mulasnya lebih dari biasanya. "Apa aku mau melahirkan?" ucapnya di sela rasa sakit yang menggerogoti perutnya. Hana melihat jam di ponselnya. "Sudah tengah malam, apa masih ada taxi!" dalam kepanikannya Hana sering berbicara sendiri.
Ia bergegas mengambil tas yang memang sudah ia sediakan.
"Ya allah sakit banget!" rintihnya. Saat sakit datang, ia berdiam diri sebentar sembari menarik nafasnya.
"Aku tidak boleh panik!" di tariknya lagi napas lewat mulut kemudian ia hembuskan lagi lewat mulut dengan pelan.
Saat kontraksi sudah berkurang, Hana keluar dan mengunci kamarnya. Ia mengetuk pintu kamar Ika. Kali ini ia sangat membutuhkan bantuan Ika. Kontraksi yang ia rasakan lebih kuat dan sering dari beberapa hari ini.
Tok tok tok
"Ika!" panggil Hana
Ceklek
Pintu terbuka, menampilakn wajah bantal Ika. Ika mengucek matanya untuk mempersegar dari kantuknya.
"Hana! kamu kenapa?" Ika lansung panik saat melihat Hana meringis menahan rasa sakit. Ika memegang perut Hana.
"Apa kamu mau melahirkan?" tanyanya lagi
"Iya, sepertinya. Perutku lebih sakit dari biasanya. Tolong bawa aku!" Hana berucap sembari menahan sakit. Wajahnya terlihat tegang. Keringatnya bercucuran. Ia terus memegang perutnya.
"Sebentar, aku ambil jaket dan ponsel ku!" seru Ika kembali masuk ke kamarnya. Tidak lama Ika keluar dan mengunci pintu kamarnya. Ia membimbing Hana berjalan ke arah jalan raya berharap ada taxi yang lewat. Memang tidak masuk akal berharap taxi lewat di tengah malam begini. Ika terlihat sangat cemas karena sudah hampir lima belas menit menunggu, tak ada satu pun mobil atau taxi yang lewat. Hana terlihat meringis lagi saat kontraksinya datang.
Mata Ika berbinar kala melihat lampu mobil dari jauh. Ia berniat akan mencegat mobil itu meminta bantuan. Ika berlari ke arah tengah jalan melambaikan tangannya kearah atas.
Ciiiittttt
Suara ban mobil yang di rem mendadak, terlihat mobil membelok ke arah pinggir dengan keras. Beruntungnya mobil tidak sampai menabrak bangunan di depannya. Sang sopir keluar dengan membanting pintu mobilnya saat menutupnya kembali, terlihat ia nampak emosi.
"Kamu mau mati! huh." ucapnya dengan emosi.
Bukannya ketakutan, tapi, Ika terpana melihat orang yang marah-marah di depannya. Seorang pria dengan wajah tampan, tinggi, hidung mancung, wangi. Ika menggeleng kepalanya untuk menghentika kekagumannya. Bukan saatnya mengagumi ciptaan tuhan saat ini.
"Hana!" teriaknya terkejut karena baru tersadar.
"Pak eh om, tolong saya. teman saya mau melahirkan, kami sudah lama menunggu taxi tapi tak ada yang lewat. Tolong bawa teman saya ke rumah sakit Ibu dan Anak. Please pak eh om!" ucap Ika panjang lebar.
Ika menarik tangan pir itu tanpa perduli apa jawaban dari pria itu. Yang penting Hana segera di bawa kerumah sakit, pikirnya. Dengan terpaksa pria itu mengikuti Ika menemui Hana yang berada di seberangnya. Ika terkesiap melihat Hana yang sudah mengeluarkan air dari bagian intimnya. Ika dan pria itu panik.
Dengan refleks pria itu menggendong tubuh Hana. Ika membuka pintu belakang mobil mewah itu. Pria itu mendudukkan Hana dan di susul Ika duduk di sebelahnya. Pria itu masuk kedalam mobilnya. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan penuh.
Hanya butuh sepuluh menit, mobil sudah berada di parkiran rumah sakit. Pria itu keluar mobil dan membuka pintu bagian belakang. Ia kembali menggendong Hana masuk kedalam rumah sakit.
"Suster!"
"Suster!" teriaknya lagi. Entah kenapa ia sangat panik saat melihat keadaan Hana yang sudah basah bagian celananya. Tidak lama dua orang suster keluar.
"Tolong, teman saya mau melahirkan!" ucapnya.
Mendengar itu, suster satunya berlari kedalam untuk memanggil temannya agar membawa brankar dorong. Tubuh Hana sudah ia baringkan di atas brankar tadi. Mereka berdua ikut kedalam saat brankar Hana di dorong masuk ruang bersalin. Kebetulan dokter kandunganya sedang berada dirumah sakit, karena baru selesai menangani pasien yang melahirkan juga.
pintu di tutup menyisakan Ika dan pria itu di luar. Ika duduk di kursi tunggu dengan memeluk tas barang Hana. Sedangkan pria itu mondar mandir di depan pintu. Ia layakya seorang suami siaga yang sedang cemas menunggu istrinya berjuang melahirkan buah cinta mereka.
"Pak om, bisa nggak duduk! Saya pusing melihatnya!" protes Ika. " Pak om boleh pulang ko. Terima kasih banyak atas bantuannya." tukas Ika kesal di acuhkan pria itu.
Namun, pria itu tetap tak bergeming mendengar perkataan Ika. Entah kenapa ia ingin sekali menemani Hana dan melihat bayi itu.
Sementara di dalam ruang bersalin Hana mengikuti instruksi dokter.
"Ibu dengarkan aba-aba saya, ya. kalau saya suruh mengejan, baru ibu mengejan. tapi kalau saya suruh berhenti, maka ibu harus berhenti."
Hana hanya mengangguk sebagai jawaban, ia sudah tidak tahan.
"Sekarang, bu!" titah sang dokter.
"Eeeeeerrrrgggghhhh!!"
"Sekali lagi, bu!"
"Eeeeeerrrrgggghhh!!"
Hana bernapas bagaikan orang yang berlari puluhan kilo. Nampak seorang perawat mengelap keringat di jawah Hana.
"Berhenti dulu. Tarik napasnya lewat mulut, keluarkan pelan-pelan lewat hidung, bu.!" dokter memberikan arahan.
Hana meringis lagi kontraksinya datang lagi.
"Ejan, bu!"
"Eeeeeerrrgggghhhh!"
"Bagus, bu.... tahan sebentar....tarik napas, ngejan lagi, bu..."
"Eeeerrrrggghhhhh!"
Sementara itu, di belaha kota lain nampak sosok Rico tidur dalam kegelisahan. Ia bergerak ke kanan kekiri dengan mata yang masih terpejam. Napasnya memburu, dadanya turun naik dengan cepat. Dadanya terasa berat bagaikan tertimpa beban puluhan kilo beratnya. Keringat dingin membanjiri tubuhnya, Ia memanggil-manggil nama Hana.
"Hana!"
"Hana!' keringatnya bercucucarn membasahi wajahnya.
Tiba-tiba ia terbangun dan duduk dari tidurnya meneriakan nama Hana.
"Hanaaaaaa!!" teriaknya dengan tangan terulur seperti ingin menggapai. Terlihat dengan jelas dadanya turun naik karena ritme napasnya yang cepat. Rico bangkit dari tidurnya menuju dapur. Ia membuka lemari pendingin dan menuang segelas air putih dingin.
Semenjak di tinggal Hana beberapa bulan yang lau, ia sering memimpikan Hana. Tapi, malam ini terasa nyata dalam mimpinya. Ia melihat Hana menahan sakit yang teramat. Ia ingin menggapai tangan Hana; tak tergapai. Bayangan tubuh Hana semakin menjauh.
Satu gelas air putih dingin sudah habis dari gelasnya ia minum. Berteriak dalam mimpi membuat ia kehausan. Rico berjalan ke ruang tengah apartemennya. Ia termenung bingung. Kemana lagi ia harus mencari keberadaan Hana, sementara itu mimpi tentang Hana sering menghiasi tidurnya. Bahkan ia ingat waktu di kantor, tiba-tiba saja gelas ditangannya pecah terjatuh. Waktu itu ia merasa Hana sedang memanggi-manggil namanya.
"Hana, kemana aku harus mencari mu dan meminta maaf atas kejadian malam itu!" Rico bermonolog termenung.
Rico menghela napasnya, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu menautkan kedua jari tangan duduk termenung di keheningan malam.
Sementara itu di rumah sakit, Hana masih berjuang melahirkan bayinya.
Bersambung
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....