Raisa, gadis cantik,cerdas dan bar-bar itu terpaksa tinggal di kota kecil dengan menjadi guru PAUD.Papanya di penjara karena terbukti terlibat kasus penggelapan dana. Ibunya pulang ke negaranya, 3 tahun Raisa menjalani hidup sederhana bersama adiknya Darren. Darren banyak membuat masalah termasuk di tempat kerja. Raisa yang ingin membantu terlibat masalah dengan Ceo tampan pemilik perusahaan tempat Darren bekerja sekaligus pemegang proyek pembebasan lahan dimana PAUD nya berdiri. Diam-diam Mario sang Ceo, terfikir untuk menitipkan putrinya yang berpenyakit namun selalu ingin bersekolah itu. selain karena tertarik dengan wanita cantik dan mandiri juga karena Raisa tampak sangat peduli pada anak-anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Nafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12 Bunda, Maafin Naomi
Hari-hari berikutnya. Raisa menjadi semakin dekat dengan Naomi, gadis kecil itu sungguh menyenangkan dan sangat mudah menyesuaikan diri. Meski Mario menjadi menyebalkan karena menjadikannya tempat penitipan. Raisa tidak bisa menolak.
Mario tidak mengatakan menitipkan anaknya di bagian Daycare, sekolahnya. Dimana orangtua menjemput anaknya pada jam 5 sore. Mario memintanya secara pribadi. Bukan menempatkan Naomi sepanjang hari disana, namun lebih seperti anak asuh Raisa untuk waktu tertentu sesuai perjanjian mereka yang sepihak dibuat Mario, Bila tiba-tiba Mario punya keperluan mendadak ke kota, ia menitipkan Naomi pada Raisa. Bahkan dengan biaya dibayar di muka dalam jumlah yang sangat besar.
Dengan menjadikan keputusan atas proyek itu terletak ditangannya dimana Raisa diharuskan mengikuti pengaturan nya bila ingin terbebas dari rencana proyek. Aneh...Padahal Raisa mengantongi dokumen pemilikan yang sah dan lengkap, jadi kalau mau menolak pun Raisa memiliki kekuatan. Namun entah mengapa. Ia memilih mengikuti permintaan pria itu.
Menjadikan Naomi, anak angkatnya sementara.Terkadang bila situasi memungkinkan Naomi ikut bersamanya, bila tidak gadis ceria itu ikut bergabung di kelas penitipan atau menemani Sinta di ruang Kepala Sekolah.
Naomi sudah membawa banyak keperluan bermainnya ke rumah Raisa, dan karena rumah dan sekolah berada di dalam pagar yang sama. Naomi sudah mengatur nya demikian rupa. Mengambil dan menukar mainan atau pakaian sesuai kebutuhan nya.
Raisa semakin takjub. anak itu sama sekali tidak ingin merepotkan. Apapun keputusan Raisa diikutinya dengan tenang dan senang hati. Meski tetap keluar pertanyaan dari mulutnya, kenapa begitu? buat apa? apa sebabnya. Tugas Raisa hanya menjawab lalu memberi pengertian, dan ajaib....Naomi segera faham dan menurut tanpa perlawanan. Gadis kecil itu sangat mudah beradaptasi. Tidak rewel dengan banyak keinginan.
Ketika mengantuk, ia meminta dibawa ke kamar kecil untuk mencuci badannya, ia memilih baju tidurnya dari bahan tipis lalu mengganti bajunya sendiri kemudian segera terlelap damai begitu berasa di kasur. Raisa menjadi terharu melihatnya. Apakah anak itu berada pada situasi dimana ia tidak bisa bermanja-manja sehingga begitu terbiasa melayani dirinya sendiri, mengingat usianya.
Sampai suatu ketika Naomi tiba-tiba menggigil dan mengalami demam tinggi dan tubuhnya menjadi kemerahan dan semakin lama semakin membesar membengkak menyerupai ruam-ruam. Bahkan bengkak itu merata hampir di sekujur tubuhnya.
Mau tidak mau, Raisa cukup panik, meski sudah diceritakan sebelumnya, ia tidak menyangka penyakit itu akan muncul disini, mengingat daerah ini sejuk penuh pepohonan rindang, jauh dari asap kendaraan dan debu yang tebal. Pun makanan yang diberikan pada anak-anak disini sudah diperhatikan betul standar kebersihan dan kebutuhan gizi serta kecocokan dengan usia anak untuk dikonsumsi dalam jumlah secukupnya.
Raisa segera menelpon Mario yang sedang berada di kota. Bagaimana pun Raisa menjadi panik dan merasa bersalah, bocah kecil itu dititipkan padanya dan sesuatu telah terjadi, bahkan ini adalah hal yang parah, belum pernah Raisa menemui hal begini sebelumnya.
Dan ia tidak bisa memberi obat sembarang, segera saja Raisa memanggil Sinta, stafnya, memanggil kendaraan.
Sementara dirinya menemani Naomi sembari terus menunggu kabar Mario.
Raisa, tidak bisa tidak meneteskan air mata, kengerian terpancar diwajahnya.
"Bunda, maafin Naomi, sudah membuat bunda kuatir, Naomi tidak apa-apa, ini sudah sering bunda". Naomi mencoba menenangkan Raisa yang sudah tidak bisa menahan tangis. Meski ia, mencoba tenang namun akhirnya air mata nya luruh meski tidak ada suara.
Akhirnya Mario mengangkat panggilan,
"Tenanglah, jangan panik, aku akan segera kembali, tidak perlu ke dokter, tolong cari dalam laci nakas, di kamar hotel, aku akan memberi petunjuk cara penggunaan nya nanti. itu resep dari dokter, itu memang obat Naomi, setiap gejala itu muncul".
Akhirnya, Raisa bisa sedikit tenang saat Naomi tampak pulas, tidak lagi merasa sesak dan mengalami demam dan gatal disaat bersamaan. Raisa terus memantau perkembangan Naomi sesuai instruksi Mario.
apapun...
like
komen
membantu untuk menulis
lebih baik