NovelToon NovelToon
Dewa Abadi Season 2

Dewa Abadi Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Iblis / Romansa / Fantasi Timur
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.

Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.

Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Giok Jiwa Emas

Benua Tengah adalah pusat dari Alam Abadi. Di tempat ini, Qi spiritual sepuluh kali lipat lebih padat daripada di Wilayah Utara. Di sinilah Istana Pusat berdiri, bukan di atas tanah, melainkan berupa gugusan pulau melayang yang terbuat dari giok putih abadi, diselimuti oleh awan emas dan dijaga oleh ribuan naga bersisik baja.

Di puncak tertinggi Istana Pusat, terdapat sebuah paviliun sakral yang dijaga oleh sembilan ahli Ascendant Tahap Awal: Aula Giok Jiwa.

Di dalam aula ini, jutaan keping giok jiwa dari seluruh pejabat, jenderal, dan murid elit Istana Pusat tersusun rapi. Namun, di altar tertinggi, hanya ada segelintir giok jiwa yang memancarkan cahaya matahari menyilaukan. Itu adalah giok jiwa milik garis keturunan langsung sang Kaisar Langit.

Di posisi kedua teratas, giok jiwa milik Pangeran Pertama, Di Tian, bersinar paling terang, melambangkan calon pewaris takhta yang sedang berada di ambang ranah Ascendant Sejati.

Seorang Tetua Penjaga berambut putih sedang duduk bermeditasi di sudut aula. Selama puluhan ribu tahun, tempat ini adalah tempat paling damai di seluruh Istana Pusat.

Namun, kedamaian itu pecah pada hari ini.

KRAAAAK...

Sebuah suara retakan yang sangat pelan terdengar.

Tetua Penjaga itu perlahan membuka matanya. Ia mencari sumber suara tersebut, dan pandangannya langsung tertuju pada altar tertinggi.

Seketika, darah di sekujur tubuh sang Tetua membeku. Jantungnya berhenti berdetak.

Giok jiwa milik Di Tian, yang selalu memancarkan cahaya matahari keemasan... kini dipenuhi oleh retakan mengerikan berwarna hitam pekat!

"T-T-Tidak mungkin... Pangeran Pertama sedang berada di Lautan Bintang... Dimensi itu ditutup untuk siapa pun di atas ranah Soul Transformation! Siapa yang bisa mengancam nyawanya?!" sang Tetua bergetar hebat, merangkak maju menuju altar.

Namun, sebelum ia sempat menyentuh altar tersebut...

PRANG!

Giok jiwa emas itu meledak hancur berkeping-keping! Cahaya keemasannya padam sepenuhnya, digantikan oleh kepulan asap hitam berbau busuk yang memancarkan penderitaan karma ekstrem.

Di Tian telah mati. Jiwanya bahkan tidak tersisa untuk memasuki siklus reinkarnasi!

"TIDAAAAAKK!" Tetua Penjaga itu menjerit ngeri, memuntahkan darah karena serangan balik dari hancurnya formasi jiwa sang Pangeran.

Pada detik yang sama, jauh di kedalaman inti bintang yang menjadi fondasi Istana Pusat, sebuah mata raksasa yang telah tertutup selama ribuan tahun tiba-tiba terbuka.

BOOOOOOOOOOOOOOOOM!

Seluruh Benua Tengah berguncang dahsyat! Langit yang cerah mendadak berubah menjadi merah darah. Suhu udara melonjak drastis hingga lautan di sekitar benua itu mendidih. Sebuah Niat Membunuh yang jauh melampaui ranah Ascendant sebuah kehendak dari Kaisar Langit Di Shitian meledak menembus langit!

Sebuah raungan yang dipenuhi duka dan amarah menggema di benak triliunan penduduk Benua Tengah.

"SIAPA YANG BERANI MEMUTUS GARIS KETURUNANKU?! SIAPA YANG MEMBUNUH TIAN'ER?!"

Suara itu menghancurkan awan-awan di langit. Di Aula Utama Istana Pusat, ratusan jenderal tingkat Soul Transformation dan Ascendant langsung jatuh berlutut hingga lantai marmer retak. Mereka berkeringat dingin, tak berani mengangkat kepala.

"Segel seluruh akses antar benua! Kirim Divisi Matahari Darah ke perbatasan Lautan Bintang! Ekstrak sisa-sisa karma dari giok jiwa Tian'er! Temukan siapa pun yang bertanggung jawab... aku ingin sektenya, keluarganya, dan benuanya dihapus dari peta Alam Abadi!"

Di Waktu yang Sama, Benua Utara — Sekte Angin Merah

Langit di atas Puncak Pedang tampak damai. Burung-burung spiritual berkicau, dan para murid Pelataran Luar sedang berlatih formasi dasar di bawah bimbingan para instruktur.

Ketua Sekte Jiu Feixue sedang berdiri di balkon Paviliun Utama, memandang hamparan sektenya dengan wajah sedingin pualam. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada kecemasan yang terus beriak.

Sudah berbulan-bulan sejak Zeng Niu membawa sepuluh jenius terbaik mereka ke Lautan Bintang. Tidak ada kabar. Mengingat kekejaman Turnamen Lautan Bintang yang dikuasai oleh Istana Pusat, peluang sekte kelas menengah seperti mereka untuk kembali utuh sangatlah tipis.

Di sudut balkon, Leluhur Jiu Zui sedang duduk bersandar, menenggak arak dari kendi kesayangannya.

"Kau terlalu tegang, Feixue," kekeh pria tua pemabuk itu. "Berhentilah mondar-mandir di dalam hatimu. Asura kecil itu memiliki kulit yang lebih tebal dari tembok sekte kita. Dia tidak akan mati semudah itu."

"Aku tidak mengkhawatirkan anak barbar itu, Paman," balas Jiu Feixue dingin. "Aku mengkhawatirkan Mo Tian, Wang Chen, dan yang lainnya. Mereka adalah tulang punggung masa depan sekte ini. Jika Zeng Niu bertindak gila di dalam sana dan mengorbankan mereka..."

Sebelum Jiu Feixue sempat menyelesaikan kalimatnya, udara di langit pelataran utama tiba-tiba berdistorsi hebat.

ZRAAAAAASH!

Sebuah robekan spasial berukuran besar terbuka. Dari dalam robekan itu, energi kosmik ungu pekat meluap keluar.

Puluhan ribu murid sekte langsung menghentikan latihan mereka dan mendongak kaget.

"Musuh menyerang?!" teriak seorang Tetua Penegak Hukum.

Namun, dari balik robekan dimensi itu, bukan pasukan musuh yang keluar. Melainkan seorang pemuda berjubah hitam yang melangkah dengan santai, mengunyah batang rumput spiritual. Ia meregangkan pinggangnya, memancarkan aura Soul Transformation Tahap Akhir yang luar biasa padat dan mendominasi.

Di belakangnya, sepuluh pemuda-pemudi mengikuti dengan langkah tegap, wajah berbinar-binar, dan... mengenakan pakaian berlapis-lapis yang tampak sangat konyol karena kepenuhan barang jarahan.

"PAMAN MUDA ZENG NIU!"

Sorak-sorai menggelegar dari pelataran bawah. Para murid mengenali sosok idola mereka yang akhirnya kembali dengan selamat.

Jiu Feixue dan Jiu Zui langsung berteleportasi dari balkon, mendarat di depan kelompok tersebut.

Mata Jiu Feixue melebar melihat kesepuluh murid elitnya. Bukan karena mereka terluka, melainkan karena mereka tampak jauh lebih kuat dari sebelumnya! Fluktuasi kultivasi, Wang Chen, dan Lin Feng telah mencapai puncak Nascent Soul, hanya selangkah lagi menuju Soul Transformation. Ketajaman di mata mereka bukanlah ketajaman murid akademi, melainkan ketajaman veteran yang telah meminum darah musuh.

"Kalian... kalian semua selamat?" ucap Jiu Feixue, nada suaranya yang selalu dingin kini sedikit bergetar karena lega.

"Melapor pada Ketua Sekte!" Mo Tian melangkah maju, lalu berlutut dengan satu kaki. Sembilan jenius lainnya serentak mengikuti. "Kami telah kembali dengan selamat di bawah bimbingan Paman Muda!"

Zeng Niu meludah batang rumputnya ke samping, lalu menyeringai pada Jiu Feixue. "Kulihat rambutmu tidak tambah putih, Nenek maksudku, Ketua Sekte. Jangan menatapku seolah aku hantu."

Urat kesabaran Jiu Feixue sedikit berkedut mendengar panggilan hampir kelepasan itu, tapi ia menahannya karena kelegaan yang luar biasa.

Leluhur Jiu Zui berjalan tertatih-tatih mendekat, matanya yang sayu tiba-tiba memicing tajam saat menatap tubuh Zeng Niu. Pria tua itu nyaris tersedak araknya sendiri.

"Bocah... kau... Soul Transformation Tahap Akhir?! Dan fisikmu... bau bintang purba apa ini?!" seru Jiu Zui tak percaya. "Hanya dalam beberapa bulan?!"

Zeng Niu terkekeh, menggaruk belakang kepalanya. "Yah, ada beberapa kecelakaan kecil. Aku kebetulan menemukan kolam air hangat di sana, jadi aku berendam sebentar. Ternyata itu cukup bergizi."

Zeng Niu menoleh ke arah Mo Tian. Ia menganggukkan kepalanya pelan. "Mo Tian, tunjukkan pada Ketua Sekte dan Guru Tua ini suvenir yang kita bawa dari Lautan Bintang."

Mo Tian menyeringai lebar. Ia berdiri, lalu melepas cincin penyimpanan utamanya. Sembilan murid lainnya melakukan hal yang sama. Mereka maju ke tengah pelataran batu raksasa tersebut, memfokuskan Qi mereka, dan membuka kunci cincin-cincin curian mereka secara serentak.

WUUUUUUSSSSHHH!

KRAK! KLINTING! PRANG!

Seketika, badai harta karun meledak di tengah pelataran utama Sekte Angin Merah!

Ribuan senjata tingkat bumi, ratusan zirah sutra dari Benua Timur, puluhan ribu botol pil spiritual kualitas puncak, gulungan sihir dari Sekte Awan Ungu, hingga Kristal Esensi Bintang yang belum dipoles tumpah ruah bagaikan air bah!

Tumpukan harta karun itu terus menggunung hingga mencapai ketinggian tiga tombak, berkilauan di bawah sinar matahari, memancarkan fluktuasi Qi yang begitu pekat hingga awan di atas Puncak Pedang tersapu bersih.

Puluhan ribu murid Pelataran Luar, para Tetua, hingga Tetua Pertama Mo Cang yang baru saja tiba, membeku seperti patung. Mulut mereka menganga cukup lebar untuk dimasuki kepalan tangan.

Jiu Feixue mundur selangkah, matanya terbelalak tak percaya. Bahkan sebagai Ketua Sekte, ia belum pernah melihat kekayaan sebanyak ini terkumpul di satu tempat seumur hidupnya. Seluruh perbendaharaan Sekte Angin Merah selama seribu tahun bahkan tidak mencapai sepersepuluh dari tumpukan rongsokan mewah di depannya ini!

"A... A... Apa ini?!" Jiu Feixue tergagap, menunjuk gunung harta itu dengan jari gemetar.

"Ini adalah sumbangan sukarela dari saudara-saudara kita di sekte lain, Ketua Sekte!" jawab Wang Chen dengan bangga, membusungkan dadanya. "Paman Muda mengajari kami bahwa mengumpulkan karma adalah hal lain, sementara mengumpulkan harta benda duniawi orang mati adalah kewajiban kultivator sejati!"

Jiu Zui menjatuhkan kendinya hingga pecah. Mulut pria tua pemabuk itu bergetar. "Kalian... kalian tidak pergi ikut turnamen... kalian merampok seluruh dimensi itu?!"

"Kami merampok dengan sangat sopan, Leluhur!" timpal Mu Qingqing polos.

Zeng Niu hanya tertawa melihat ekspresi para petinggi sektenya. Ia berjalan mendekati tumpukan harta itu, menepuknya pelan, lalu menoleh ke arah Jiu Feixue dan Jiu Zui. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan algojo yang dingin, tenang, dan luar biasa mematikan.

"Nikmati pandangan ini, Ketua Sekte. Bagikan sumber daya ini pada para murid, percepat kultivasi mereka ke batas maksimal, perkuat formasi pertahanan sekte hingga tingkat tertinggi, dan panggil kembali seluruh murid yang sedang menjalankan misi di luar," ucap Zeng Niu santai, namun kata-katanya membawa bobot gunung es.

Jiu Feixue merasakan hawa dingin merayap di tulang punggungnya. Ia sangat mengenal Zeng Niu. Di balik harta yang melimpah, asura ini pasti membawa masalah yang sebanding.

"Zeng Niu..." bisik Jiu Feixue. "Apa yang sebenarnya kau lakukan di Lautan Bintang?"

Zeng Niu menyilangkan lengannya, memandang langit biru Benua Utara dengan tatapan kosong.

"Tidak banyak. Turnamennya batal karena kiamat monster purba. Tapi sebelum itu terjadi..." Zeng Niu mengusap dagunya, menyeringai dengan Niat Ketiadaan yang sangat pekat.

"...aku mungkin tidak sengaja membuat Pangeran Pertama dari Istana Pusat terbunuh dengan cara yang sangat mengenaskan. Jadi, aku sarankan kalian bersiap-siap. Karena tidak lama lagi, seluruh armada dewa dari Benua Tengah akan mengetuk pintu depan sekte kita."

Hening.

Keheningan yang luar biasa mutlak melanda seluruh Sekte Angin Merah. Angin berhenti bertiup. Jantung setiap orang yang mendengar ucapan Zeng Niu seakan berhenti berdetak.

Membunuh Pangeran Pertama Istana Pusat? Pewaris takhta Kaisar Langit?!

Wajah Jiu Feixue perlahan berubah memucat, kemudian memerah karena amarah bercampur syok, dan akhirnya menjadi putih murni seputih salju kematian.

Wanita sedingin es itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, menarik napas panjang, lalu berteriak dengan suara yang mengguncang seluruh Puncak Pedang.

"ZENG NIUUUU! KAU BENAR-BENAR INGIN MENGUBUR SEKTE INI BERSAMAMU?!"

1
Abidin Ariawan
kalo dari Utara semut ,, lha putra mu apa🤣,, mosok gajah. udah pikun
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
hancurrrrkannnn sudahhhhhhh...
saniscara_Patriawuha
serapppppppp semuaaaaa.....
saniscara_Patriawuha
gassssdddd keunnnnnnn deuiiiiii...
Rhaka Kelana
harusnya sungkem atau cium tangan sama bapak mertua bukan malah ngajak gelut...ajak ngopi bareng...kena sentil kan..🤣🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
lumayannnnm lahhhh...
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!