Mutia dikhianati kekasih dan temannya, di benci ibu dan saudari tirinya, di perkosa teman papahnya dan bunuh diri karena papahnya malu memiliki anak seperti Mutia.
Tapi, kehidupan keduanya merubah hidupnya meski kegadisannya harus sama-sama menghilang. Mampukah Muti membalas rasa sakit hatinya kepada orang yang sudah membuatnya menderita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daliyah zaheer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan
Berita kedatangan Bimo ke kantor Mutia menyebar, bahkan pria itu datang hanya untuk menjemput Mutia yang sedang di beritakan satu gedung karena scandal cinta segitiganya. para karyawan tidak suka saat Mutia diperlakukan kasar oleh Lala, karena gadis itu di nilai anak yang baik, ramah dan sopan, maka mereka senang melihatnya di jemput pria tampan.
"Mba Mutia itu the real cantik dari dalam, penampilan bisa dirubah, dulu kan mba Mutia tidak sebesar itu." para karyawati mulai bergosip.
"Ah, itu cuma cowok bayarannya si Mutia kali, say. Supaya lepas dari gosip kalau dia mendekati Dirga," ucap Lala. tiba-tiba muncul.
"Mba lala memang selalu iri dengan mba Mutia, kan?" Tiba-tiba saja ada yang menyeletuk membuat Lala tersinggung.
"Apa yang harus aku iri dari dia, aneh." Lala meninggalkan orang-orang yang sedang bergosip membicarakan Mutia. Mereka hanya membuat Lala semakin panas.
Dirga pun tak luput dari rasa cemburu ketika melihat Mutia dari kejauhan, Mutia baru saja keluar dari mobil bersama seorang pria yang telah mengancamnya untuk tidak menggangu Mutia.
"Ternyata kamu ada hubungan sama pria itu?!" Dirga menerobos masuk ke dalam lift langsung mencekal lengan Mutia ketika gadis itu sudah menekan tombol tutup. Ia sudah menunggu Mutia sejak Mutia turun dari mobil.
"Lepasin!" Mutia menendang tulang kering Dirga sampai Dirga mengaduh. Mutia jadi merasa takut dengan Dirga tidak lagi setenang biasanya. Saat lift terbuka dengan langkah cepat Mutia melarikan diri dari Dirga.
Jantungnya berdebar, tubuhnya gemetar. Mutia menangis ketakutan karena ulah Dirga padanya. Sepertinya Mutia harus segera berhenti dari pekerjaannya.
...***...
Kegelisahan dan rasa takut Mutia terbawa sampai ke rumah, percakapan singkatnya bersama Bimo belum ada kepastian. Tidak ada pesan yang di tinggalkan Bimo untuk Mutia sejak makan siang tadi, mungkin Bimo akhirnya menolak perjodohan ini dan mungkin papahnya yang akan menyampaikannya.
Apakah tindakannya benar, apakah ayahnya akan kecewa, Mutia terus memikirkannya sejak siang tadi.
Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunan Mutia di kamarnya, dengan malas Mutia membukanya. Wajah Hendra tersenyum riang dan pelukan erat serta ucapan terima kasih berbisik di telinga Mutia.
Tio datang bersama seorang wanita yang diperkenalkan sebagai asisten di rumah Bimo, kedatangan mereka tidak bersama Bimo. Mereka membawa kabar bahwa pernikahan akan tetap berlangsung.
Bimo sedang berada di luar kota mengerjakan proyeknya di sana, sehingga Tio dan Lia yang akan mengurus segala keperluan pernikahannya.
Usia Lia diperkirakan sama dengan Tio, hanya saja Lia terlihat kaku tanpa ekspresi, hampir sama dengan Tio hanya saja Tio bisa sedikit tersenyum. Mungkin karena Mutia belum mengenal mereka, makanya mereka sedikit sungkan pada Mutia.
Mutia mengirim pesan kepada Bimo memastikan lagi keputusannya untuk melanjutkan pernikahan mereka, tetapi tidak ada balasan.
"Apa bos anda sangat sibuk?" Mutia menatap Tio yang sedang menunjukkan kartu undangan yang akan di gunakan pada hari pernikahan. Mutia cemberut karena tidak ada jawaban dari Tio. "Terserah anda saja pak, saya bingung seperti akan menikah seorang diri jika mas Bimo tidak di sini."
Tio dan Lia meninggalkan kediaman Hendra karena Mutia juga ikut-ikutan menyerahkan semua urusan pernikahannya kepada kedua asisten Bimo. Mungkin ini hukuman untuknya dari Bimo karena tidak bisa menjaga diri sendiri, Mutia tidak menjelaskan secara rinci bagaimana bisa malam itu Mutia tidur dengan pria yang tidak dikenalnya. Mungkin Bimo kecewa dan menyesal hanya saja ia harus patuh dengan wasiat mendiang ayahnya.
Terdengar suara keributan dari ruang depan, suara Devi begitu kerasnya sehingga Mutia menjadi penasaran apa yang ia ributkan. Devi kesal karena lamaran itu datang untuk Mutia bukan untuknya, sedangkan anak tertua di rumah itu adalah dirinya.
"Kenapa Papah pilih kasih, apa karena aku bukan anak kandung papah."
"Apa maksud kamu Devi, papah tidak pernah pilih kasih, sayang papah kepadamu sama sayangnya dengan Mutia. Papah hanya menjalankan wasiat sahabat papah saja."
"Tapi, aku menyukai Bimo, Pah." Devi memandang Mutia. "Kamu juga, Mutia Sadar dirilah. Kamu itu kaya babi!"
"Astaghfirullah!" Hendra terkejut dengar ucapan kasar yang Devi lontarkan untuk putrinya. Tidak dengan Mutia yang sudah terbiasa di samakan dengan binatang oleh Devi maupun Maria.
"Plak!" Maria menampar pipi putrinya.
Mutia meringis melihatnya karena tamparan itu sangatlah kuat.
"Jaga mulutmu, Devi!" Devi sudah mengeluarkan air matanya. "Pah, maafkan Devi dia sedang emosi." Maria merangkul tangan Hendra agar suaminya tidak menghukum putrinya.
Hendra duduk di sofa dan mulai bicara dengan intonasi rendah. "Kamu keterlaluan Devi, bagaimana bisa kamu menyamakan Mutia dengan babi. Lagi pula mana pernah papah membedakan kamu, dari kamu datang ke rumah ini. Papah selalu menyamakan kebutuhan kamu dengan Mutia, bahkan papah rasa dari segi materi kamu mendapatkan lebih besar dari Mutia." Hendra bicara pelan meski sedang marah.
Maria, Devi dan Mutia ikut terdiam berdiri tak jauh dari Hendra.
"Jujur, papah sangat bahagia saat Bimo melamar Mutia, meski ini hanyalah perjodohan yang bisa saja ia tolak, tetapi ia masih mau datang dan menjalankan wasiat dari ayahnya. Berarti ia tulus tanpa melihat fisik adikmu, mungkin jika pria lain yang datang pasti sudah memilih kamu yang terlihat cantik dan ramping."
Mutia menghampiri Hendra dan duduk di sampingnya, ia menatap wajah papahnya yang sudah terlihat menua, uban tak hanya tumbuh di kepala tapi juga beberapa lembar tumbuh di janggut dan kumis tipisnya. Mutia memeluk papahnya sangat erat, memberikan isyarat rasa terima kasih Mutia terhadap papahnya yang masih memberikan perhatian hingga memikirkan jodoh yang baik untuknya. Pasti papahnya sudah berpikir secara matang sehingga mau menerima Bimo menjadi menantunya, apa yang kurang dari pria itu, tampan, mapan,gagah, maskulin, dan pekerja keras.
Devi memilih masuk ke kamarnya yang diikuti Maria. Tetap saja ia marah kepada Mutia dan tak hentinya memaki bahkan bertekad akan menghancurkan rumah tangga Mutia suatu saat nanti.
"Maafkan bunda, sayang. Bunda tidak tahu dengan jalan pikiran Papahmu, ia bilang sayang juga denganmu seperti anaknya sendiri tetapi tetap saja si babi itu yang ia utamakan."
"Kenapa Bunda memukulku tadi?"
"Kamu mau Papahmu yang memukul karena kamu memaki putrinya."
"Aku akan merebut Bimo darinya. Bunda, Bunda mau kan bantu Devi mendapatkan Bimo? Devi sangat menyukai pria itu, Bunda. Tidak hanya suka. Tapi, sudah sangat mencintainya."
"Bersabarlah, sayang. Kita cari jalan keluarnya, oke?" Devi mengangguk seraya terisak. Pikiran buruk sudah terencana di otak Devi. Kenapa harus nanti merebut Bimo, merusak hari pernikahannya pasti sangat seru, bukan?
Aku pengen banget cekek ama penggal mereka dan kugantung di kamar macan
Berbahagialah karena sebentar lagi dirimu akan pergi ke isekai yang disebut neraka ☺☺
Gak butuh sebenernya
Mutia juga gak tegas sih
Gak guna cowok kek gitu. Amoeba aja sini
Nanti aku jodohin ama kucingku 🤣🤣🤣
DIA CUMA BUTUH ELU PERGI DARI UNIVERSENYA DIA
HUSH HUSH🗡🗡🗡🗡
Kamu ketauan pacaran lagi
Boleh terjunin mereka ke kandang buaya kagak ini?
Bau bau tukang php
Tapi agak ngakak pas bagian masuk tanpa permisi 🤣🤣
Gak mungkin dia ngetok jendela dulu buat menyinari Mutia kan 😅