Trauma dalam percintaan dan menjalin hubungan membuat Adel memutuskan menyendiri. Namun siapa sangka, baru 8 bulan setelah hubungannya kandas tiba-tiba ada pria yang datang melamarnya dan ingin menikahinya.
Daniel, lelaki berwajah dingin dan datar tersebut memilih menikah dengan anak dari karyawan Papahnya. Wanita yang tidak mengenalnya itu dipilih sebagai istrinya.
Setelah menikah, perlahan banyak rahasia terkuak. Daniel dan Adel yang memiliki karakter berbeda mulai saling terbuka. Namun dapatkah keduanya saling membuka hati setelah banyak hal yang mereka lalui?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsihe98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Daniel mengendarai mobilnya dengan cepat saat mendapat kabar jika istrinya pingsan di rumah. Ia tidak tahu siapa yang meneleponnya menggunakan ponsel Adel, mendengar ucapan wanita itu dengan cepat Daniel meminta izin pada atasannya untuk pulang.
Jalan di Bandung siang ini untung tidak begitu ramai, ia bisa sampai di rumahnya dengan cepat. Selama mengendarai mobil pikirannya tertuju pada Adel, karena saat tadi pagi istrinya itu masih baik-baik saja dan tak terlihat sedang sakit, atau karena dirinya yanh kurang perhatian pada Adel sehingga tak menyadari jika istrinya memang tengah sakit?
Sesampainya di rumah, Daniel yang baru turun dari mobil terkejut saat melihat dua motor terparkir dan salah satunya yang ia kenal adalah motor Bani. Kenapa motor tersebut ada di rumahnya saat ini?
"Di mana Adel?" tanya Daniel baru masuk ke dalam rumah dan melihat Bani sedang duduk di ruang tamu.
"Lagi di periksa dokter, dia di atas sama temannya." kata Bani.
Tak mempedulikan Bani, Daniel yang sudah khawatir pada istrinya itu memilih untuk melihat ke kamar. Dan ternyata benar, Adel baru selesai di periksa dokter yang sedang menulis resep padanya.
"Gimana dok, keadaan istri saya?" tanya Daniel yang baru masuk.
Dea yang tak tahu Daniel datang sontak terkejut dan berdiri dari duduknya.
"Istri anda hanya kelelahan, keadaannya stabil dan dia butuh istirahat, kondisi kandungannya saat ini butuh banyak asupan." kata Dokter.
"Kandungan?" tanya Daniel.
"Istri anda sedang hamil, untuk lebih jelasnya bisa di periksa ke dokter kandungan, tapi dalam keadaan sekarang ia harus banyak istirahat agar tak kelelahan."
Daniel mengangguk dan menatap ke arah Adel yang sudah sadar sejak tadi, namun ia hanya diam tak memberikan respon apapun dari kabar yang ia dengar.
"Ini resep obatnya, kalau begitu saya pamit dulu," pamit Dokter.
Daniel mengangguk dan mengatarkan Dokter tersebut ke bawah sambil menemui Bani yang masih berada di bawah. Ia masih penasaran mengapa lelaki itu datang ke rumahnya.
"Lo dari tadi di sini?" tanya Daniel.
"Pas gue datang, Adel langsung pingsan."
"Kata dokter dia kecapekan, apalagi lagi hamil," jawab Daniel.
"Adel hamil?" tanya Bani.
Daniel mengangguk sebagai jawaban, ia melihat Bani yang cukup terkejut mendengar ucapannya tentang kehamilan Adel.
"Tadi gue ke sini mau balikin flashdisk, ini punya dia." kata Bani mengeluarkan flashdisk di saku jaketnya.
"Bukannya di sini ada program yang lo minta?"
"Programnya udah gue pindahin ke komputer. Nggak enak juga gue simpan barang punya orang lain. Dan isinya masih lengkap belum pernah gue format, dan untuk data gue udah di hapus."
"Oke nanti gue kasihin ke Adel."
"Kalau gitu gue pamit dulu, masih ada kerjaan." Bani mengambil kunci motornya.
"Oke, thanks juga udah bantuin Adel."
Bani mengangguk dan berlalu meninggalkan Daniel yang memilih kembali ke kamarnya untuk menemui istrinya.
"Suami lo udah pulang, kalau gitu gue langsung balik aja, kalau butuh apa-apa lo bisa telepon gue," ucap Dea.
Adel mengangguk dan tersenyum kecil. Ia melihat Dea yang menundukan kepalanya saat Daniel menghampirinya. Mereka tak bercakap apapun.
"Masih kerasa pusing?" tanya Daniel.
"Sedikit pusing, tapi udah mendingan," jawab Adel.
"Saya harus beli obat dulu, tapi sebelum beli obat lebih baik kita periksa kandungan kamu karena tidak semua obat boleh di kosumsi saat hamil," ucap Daniel melepas jasnya.
Adel hanya diam sambil memegang perutnya. Entah kenapa perasaannya saat mendengar ucapan dokter tadi jika ia hamil sama sekali tak membuatnya senang, entah karena masih ada rasa terkejut atau karena ia takut kesalamatan dirinya dan bayinya dalam bahaya.
"Ada masalah?" tanya Daniel duduk di pinggir ranjang.
Adel hanya menggeleng, namun jawaban Adel tak membuat Daniel puas. Ia melihat wajah khawatir dari istrinya itu dan entah mengapa feelingnya merasa jika sesuatu telah terjadi pada Adel sebelum ia datang.
"Apa ada masalah? Kenapa tadi teman kamu bisa datang ke sini?"
"Tadi Adel minta Dea untuk datang, kepala Adel memang kerasa pusing sebelum Dea datang, dan untungnya dia datang," jawab Adel.
"Kenapa tidak bilang kalau pusing, tadi pagi saya lihat kamu baik-baik saja, kalau tahu kamu pusing tadi pagi mungkin saya sudah membawa kamu berobat lebih dulu."
Adel tahu saat ini Daniel khawatir padanya, melihat wajahnya yang masih terlihat tegang mungkin ia terkejut saat Dea meneleponnya tadi.
"Tadi Bani datang ke sini, dan dia ada di bawah." Daniel memberikan flashdisk pada Adel.
"Flashdisk?"
"Dia datang ke sini untuk memberikan flashdisk ini, katanya ini milik kamu dan dia tidak enak menyimpan barang milik orang lain," ucap Bani.
Namun bukannya menerima, Adel langsung melempar flashdisk itu ke lantai yang membuat Daniel terkejut dan bingung.
"Adel nggak butuh flahsdisk itu, lebih baik di buang saja. Adel nggak butuh!" ucapnya.
"Ini hanya flahsdisk, mungkin sekarang kamu memang tidak membutuhkan tapi bisa saja sewaktu-waktu nanti kamu menggunakannya. Tidak perlu harus di lempar," ucap Daniel yang sedikit kesal mengambil flashdisk tersebut.
"Buat apa menyimpan barang yang membuat kita tak nyaman? Adel nggak butuh flashdisk dan isi datanya." kata Adel.
"Apa masalahnya? Kamu nggak perlu berlebihan, ini hanya sebuah flashdisk tempat menyimpan data bukan barang yang menyeramkan."
"Bukan barang menyeramkan tapi menyimpan kematian!" kata Adel yang kini menangis.
Mendengar ucapan Adel membuat Daniel terkejut, apa maksud istrinya tersebut dengan kata "menyimpan kematian?" apakah ini ada maksudnya dengan foto Aldi bersamanya yang ada di dalam flashdisk ini, tapi mengapa jika Adel tahu isi flashdisk tersebut harus bersikap dan berkat demikian?
Daniel tak bertanya apapun, ia mengambil flashdisk tersebut dan menyimpannya di dalam laci tanpa sepengetahuan Adel. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu Adel.
***
Sore ini, Daniel membawa Adel ke bidan untuk memeriksa kandungannya. Ia dan Adel baru tahu jika Adel sudah hamil dan memilih mengecek langsung, Daniel juga susah menghubungi orang tua Adel untuk memberitahu kabar tentang anaknya.
"Mas, seharusnya nggak perlu sampai telepon Mamah, lagian sudah gak apa-apa," ucap Adel.
Mereka sudah sedang menunggu antrian pemeriksaan. Dan tadi siang setelah keduanya saling diam Daniel langsung menelpon orangtua Adel dan memberitahu jika Adel pingsan dan sedang hamil. Sontak sang Mamah terkejut dan sempat panik, untung saja Daniel memberi menyakinkan kondisi Adel dan lusa Mamahnya akan datang ke Bandung menjenguk mereka.
"Saya hanya ingin memberi kabar tentang kamu," jawab Daniel kemudian memasukan tangannya ke dalam saku jaket.
Sambil menunggu nama Adel di panggil, dari tadi Daniel hanya berdiri di samping Adel yang sudah duduk. Tak ada bangku yang kosong karena sudah penuh dengan ibu-ibu yang hamil besar dan memeriksa kandungan mereka.
Ada rasa bosan, tadinya Daniel ingin menunggu di luar saja, namun Adel memintanya untuk menemani dan hasilnya, sekarang dirinya menjadi pusat perhatian dari para Ibu-ibu hamil tersebut.
"Mbak, itu suaminya?" tanya seorang wanita hamil menunjuk Daniel.
"Iya, ini suami saya," jawab Adel ramah.
"Ganteng ya suaminya, boleh saya pegang wajahnya siapa tahu gantengnya bisa tertular dari si Aa nya," ucap wanita tersebut.
Adel menatap ke arah Daniel yang memasang wajah sedikit tak suka. Namun Adel menoel lengannya dan mengangkat alisnya meminta agar Daniel menyetujuinya.
"Boleh aja Teh, suami saya nggak keberatan," ucap Adel sambil menatap Daniel yang menatap tajam padanya.
Wanita hamil itu tampak tersenyum senang, ia berdiri dan mendekati Daniel. Namun karena ia kurang tinggi akhirnya Daniel di pinta oleh Adel untuk sendikit membungkuk agar lebih mudah dan karena pasrah Daniel menuruti saja.
Seumur hidupnya ini kali pertama ada wanita lain yang menyentuh wajahnya selain Mamah dan istrinya. Jangankan menyentuh wajah, berpegangan tangan bersama wanita saja baru Daniel lakukan saat menikah dengan Adel. Sejak dulu ia memang selalu menjaga jarak pada wanita.
"Ya Allah semoga anak saya mirip si Aa ganteng ini," ucap wanita itu dengan tangan kanan mengelus pipi Daniel sedangkan tangan kiri mengelus perutnya.
"Saya juga mau pegang boleh nggak A? Biar ikut nular," ucap wanita lainnya yang kini berdiri di sebelah wanita sebelumnya.
Daniel menatap ke arah Adel untuk meminta bantuannya agar terlepas dari wanita hamil yang ingin menyentuh wajahnya. Bukannya Daniel sombong, namun ia memang tak suka di sentuh oleh sembarang orang apalagi saat ini.
"Ibu Adel, silahkan masuk ke ruangan," panggil salah satu perawat.
Panggilan dari perawat membuat Daniel merasa lega, akhirnya ia bisa terlepas dari wanita hamil yang ingin menyentuh wajahnya. Ia masuk keruangan menemani Adel.
"Kondisi semuanya sudah baik, hanya butuh istirahat, usia kandungannya baru tiga minggu. Untuk usia muda seperti sekarang harus banyak istirahat," ucap Bidan tersebut.
"Apa ada masalah lain, Dok?" tanya Daniel.
"Tidak ada, hanya saja tekanan darahnya kurang saya beri obat penambah darah, dan vitamin juga.
Untuk sementara jangan minum obat sembarang ketika hamil, karena akan berbahaya untuk kandungan."
Daniel dan Adel mengangguk dan mereka pamit pergi untuk menembus obat. Bulan depan Adel di pinta untuk kembali memeriksakan kandungannya.
"Besok-besok kalau periksa kandungan jangan ajak saya ikut nunggu di dalam, yang ada wajah saya jadi rebutan mereka." kata Daniel.
"Yaudah Mas, pasrah aja Mas lagian mereka kan ngidam kasihan juga," jawab Adel sambik tertawa.
"Mereka yang ngidam saya yang jadi korban!"
Adel tak mampu lagi menahan tawanya melihat ekspresi wajah Daniel yang terlihat sangat kesal. Sikap dinginnya kini kembali terlihat karena sebelumnya sejak tadi siang wajahnya terlihat begitu khawatir padanya.
"Kamu nanti kalau ngidam jangan sampai megang wajah suami orang kayak mereka," ucap Daniel.
"Ya itu kan gimana bawaan bayinya, kalau ngidamnya pengen peluk cowok lain juga ya nggak masalah, namanya juga ngidam." kata Adel santai.
"Ngidam sama genit nggak beda jauh!"
"Nyari kesempatan dalam kesempitan itu juga nggak masalah!" jawab Adel yang berlalu masuk ke dalam mobil.
Daniel hanya sedikit heran dengan tingkah istrinya yang menurutnya sedikit berubah dan sedikit lebih berani menjawab, apakah ini bawaan dari bayinya atau memang ini sifat asli dari Adel yang belum ia ketahui.
°°°
Terimakasih yang sudah membaca kelanjutannya
Jangan lupa Vote & Komentarnya yaa
^_^
24 Juni 2022
si Dea yg neror Adel ya
season k dua ank2 ny adel dn danil kk, atw cerita bru kk??? atw crita adek ny adel kyk ny seru tu klw dpt cewk yg ceriwis.
smga langgeng y danil dn adel😘
oh itu masalh mu sofia, smga ank mu lekas sembuh dn rujuk az deh sama mantan suami mu. tpi lain x, ap pun msalh mu jangn libatkn suami orang terus y sofia. dn k sana kmari brdua trus dgn suami orang.
iy la danil mkin manis sejak punya ank. aplgi mg danil kn cinta dgn adel. kyk ny k jakarta mg mau rayakn ulth ny adel. danil mau buat kjutan.
up ny mlah bhas yg gk pala penting, jdi brtele2. si sofia ni kq gk mikiri prasaan ny adel y, dri datng nyita wktu ny danil terus. si danil ny jg gitu mlah ngobrol z sama prempuan lain. adel kurang tegas, tegas bukn brati melawan. msak dri kmren suami dibiar2 kn brduaan trus dgn prempuan lain. gk mungkn gk ad rsa cemburu. cba deh adel diami danil. mrasa gk dy istri ny cemburu. klw mg gk ad rahsia knp ngobrol ny gk di depn adel az. trus danil jg gk crita2 sama adel. dri omongn sofia dy tu mau dinikhkn dgn danil. smpe adel tau sendiri.
ap pun msalh sofia, gk suka aku klw danil bolak balek prgi kluar brdua dgn sofia. danil pun hrus ny ceritakn dulu bru pergi. jdi istri pun tenang. mertua pun gk punya hak buat nyuruh sofia nginap dirumah danil smpe berhari2. sebaik2 ny sbgai suami hrgai lah istri mu. istri mu ngurusi ank di rumh, kau mlah sibuk ngurusi masalh orang lain. suka hati mu la danil.