"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Taruhan Pertama dengan Nona Besar
Bayu tidak langsung menyentuh batu yang bercahaya itu.
Ia berdiri di depan lapak seolah sedang memilih biasa, lalu mengalihkan pandangan ke batu-batu lain. Setiap kali ia memusatkan mata, kulit kasar di permukaan menjadi transparan. Retakan, rongga, perubahan warna, dan serat mineral tersusun di hadapannya seperti gambar potongan.
Beberapa batu hanya berisi warna keruh.
Sebagian memiliki retakan sampai ke tengah.
Batu yang tadi menarik perhatiannya berbeda. Di balik kulit hitam kusam, terdapat warna biru kehijauan yang padat. Hampir tidak ada retakan besar. Cahaya emas mengalir dari pusatnya dan membuat tengkuk Bayu meremang.
Ia memindai satu batu lagi di bawah meja.
Bentuknya miring dan tidak menarik. Namun, di dalamnya tersimpan warna hijau bening dengan garis keemasan tipis. Cahayanya bahkan lebih kuat.
Bayu menahan napas dan menarik kembali pandangannya. Rasa berat muncul di belakang mata, seperti setelah terlalu lama menatap layar.
Kemampuan ini nyata.
Masalahnya, kedua batu itu memiliki label harga total dua belas juta rupiah.
Saldo Bayu hanya Rp287.300.
"Kalau cuma mau lihat, jangan menghalangi pembeli."
Pemilik lapak mengibaskan kain lap ke arah batu. Dua pembeli di sebelah Bayu melirik sepatu tuanya, lalu kembali berbicara tentang kualitas permukaan seolah ia tidak ada.
Bayu mundur setengah langkah.
Ia sudah memegang jawaban, tetapi tidak memiliki biaya untuk membuka soal.
"Mas bisa baca batu?"
Suara perempuan itu datang dari sisi kanan.
Bayu menoleh.
Seorang perempuan muda mengenakan blazer biru tua berdiri di tepi lapak. Potongannya sederhana, tetapi jatuh sempurna di tubuhnya. Anting giok kecil di telinganya lebih halus daripada semua perhiasan yang dipajang penjual di lorong itu.
Di belakangnya, Melati Anggraini memegang dua kantong belanja dan mengamati Bayu tanpa berusaha menyembunyikan rasa curiga.
Bayu mengenali tipe perempuan di depannya dari reaksi pemilik lapak yang langsung merapikan posisi duduk.
"Bisa sedikit," jawabnya.
Alis perempuan itu terangkat. "Sedikit itu seberapa?"
"Cukup untuk tahu mana yang tidak layak dibeli."
"Jawaban aman," sela Melati.
Perempuan berblazer itu justru tersenyum tipis. "Saya Intan. Intan Wibowo."
Nama Wibowo dikenal di pasar perhiasan Surabaya. Keluarganya memiliki jaringan toko, bengkel potong, dan pemasok batu mulia. Bayu pernah melihat logo perusahaan mereka di pusat perbelanjaan, tetapi belum pernah berhadapan dengan salah satu anggotanya.
"Bayu Prasetyo."
"Saya mencari hadiah ulang tahun untuk Eyang." Intan menunjuk tumpukan batu. "Barang jadi terlalu mudah. Saya ingin memilih bahan sendiri."
Bayu melirik batu hitam yang bercahaya. "Kalau untuk hadiah, lapak ini punya dua pilihan yang menarik."
"Yang mana?"
Ia mengambil batu pertama. Permukaannya hitam, sebagian tertutup kerak kapur, dan bentuknya hampir seperti bongkahan aspal.
Pemilik lapak tertawa pendek. "Jangan yang itu, Mbak Intan. Sudah berbulan-bulan tidak ada yang mau. Kulitnya jelek."
Bayu menaruhnya di atas timbangan, lalu mengeluarkan batu miring dari bawah meja.
Tawa pemilik lapak semakin keras.
"Yang satu itu lebih parah. Lihat bentuknya. Kalau dipotong salah sedikit, habis."
Melati mendekat pada Intan. "Tan, kita datang untuk cari hadiah. Jangan biayai eksperimen orang yang baru kita kenal."
Intan tidak menjawab. Ia mengambil batu pertama, memeriksa kerak dan garis di kulitnya, lalu memandang Bayu.
"Alasanmu?"
Bayu sudah menyiapkannya.
"Kulit hitamnya memang buruk, tapi berat jenisnya tidak cocok dengan batu kosong sebesar ini. Kerak kapurnya juga menutup bagian yang paling padat. Untuk batu kedua, bentuk miring tetap aman selama arah potongnya mengikuti sumbu ini."
Ia menarik garis dengan ujung jari, persis beberapa milimeter dari retakan yang hanya bisa dilihatnya dari dalam.
"Mas bicara seperti orang yang sudah sering memotong batu," kata Intan.
"Saya sering memperhatikan."
Itu tidak sepenuhnya bohong. Mulai hari ini, ia bisa memperhatikan lebih dalam daripada siapa pun.
Seorang pembeli berkemeja batik berhenti di belakang mereka. "Mbak, kalau uangnya berlebih, kasih saja ke saya. Batu seperti itu paling bagus dijadikan pemberat pintu."
Beberapa orang tertawa.
Pemilik lapak mengangkat kedua tangan. "Saya sudah memperingatkan, ya. Total dua belas juta. Setelah dipotong, tidak bisa dikembalikan."
Intan memandang Bayu cukup lama.
"Berapa persen kamu yakin?"
"Kalau saya bilang seratus persen, Mbak Intan pasti menganggap saya penipu."
"Benar."
"Jadi anggap saja sembilan puluh. Sepuluh persennya untuk hal yang belum saya pelajari."
Melati menutup mata sesaat. "Itu bukan jawaban yang lebih aman."
Untuk pertama kalinya, senyum Intan terlihat jelas.
"Baik. Saya keluar uang, kamu pilih batu. Untung bagi dua. Kalau rugi, kerugian saya tanggung."
Bayu menatapnya. "Mbak Intan bahkan belum tahu saya siapa."
"Saya tahu kamu tidak punya modal. Kalau punya, kamu sudah membeli dua batu itu sebelum saya datang." Intan mengeluarkan ponsel. "Dan saya tahu kamu tidak memilih batu yang terlihat mahal hanya untuk membuat saya terkesan. Itu cukup untuk satu percobaan."
Ia memindai kode pembayaran lapak.
Notifikasi dua belas juta rupiah berbunyi.
Seorang pedagang tua yang mengenali Intan berdeham. "Mbak Intan, nama Wibowo ikut dilihat orang. Kalau dua batu ini kosong, besok pasar akan bilang keluarga Anda membeli sampah dari orang asing."
Intan menyimpan ponselnya. "Yang membeli saya, Pak. Yang menanggung keputusan juga saya. Jangan memakai nama keluarga saya untuk menekan Mas Bayu sebelum batunya dibuka."
Pedagang itu terdiam. Bayu melirik Intan sekali. Perempuan ini berani mengeluarkan uang dan menanggung risikonya sendiri.
Tawa di sekitar mereka berhenti sebentar, lalu berubah menjadi bisikan. Bagi Intan, jumlah itu mungkin tidak besar. Namun semua orang kini ingin melihat apakah perempuan dari keluarga Wibowo baru saja membeli dua batu sampah karena ucapan seorang pria bersepatu usang.
"Potong sekarang," kata Intan.
Pemilik lapak menunjuk kios pemotongan di seberang lorong. "Tanggung sendiri hasilnya."
Mereka membawa kedua batu ke meja potong. Bau air, serbuk mineral, dan logam panas memenuhi udara. Tukang potong menimbang batu pertama, lalu melihat garis yang dibuat Bayu.
"Lewat sini?"
"Geser tiga milimeter ke kiri," kata Bayu. "Jangan terlalu dalam pada putaran pertama."
Pembeli berkemeja batik menyilangkan tangan. "Gaya sekali. Nanti isinya putih semua."
"Kalau begitu, Bapak tidak perlu khawatir kehilangan barang bagus," jawab Bayu tenang.
Beberapa orang menahan tawa. Wajah pembeli itu mengeras.
Intan berdiri di samping Bayu. Jarinya masih memegang kuitansi dua belas juta.
"Kalau gagal, apa yang akan kamu lakukan?"
"Mencari tahu bagian mana dari penilaian saya yang salah."
"Bukan kabur?"
Bayu menoleh kepadanya. "Kalau saya ingin kabur, saya tidak akan memberikan nama lengkap."
Tukang potong mengunci batu pada ragum. Air mulai mengalir. Mata gerinda berputar dan mengeluarkan dengung tajam.
Orang-orang merapat.
Melati berhenti mengeluh dan ikut menatap meja. Intan menggenggam kuitansi sampai kertasnya terlipat.
Mata gerinda turun tepat ke garis hitam.
Di mata semua orang, itu hanyalah batu buruk yang akan membuang dua belas juta rupiah.
Di mata Bayu, bagian dalamnya menyala seperti emas.