Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Motor itu tetap berada di tengah ruangan, belum disentuh sama sekali sejak semalam. Profesor Surya sedang memasang sensor tambahan di sekitar jok dan setang. Bentuknya kecil, hanya sebesar koin.
"Kemarin sensornya masih kurang, Prof?" tanya Zain.
"Bukan," jawab Profesor. "Kemarin kita hanya melihat hasilnya. Hari ini kita mencari sumbernya."
Ardi masuk membawa sebuah kotak berisi beberapa gelang yang bentuknya sama persis dengan milik Zain.
"Untuk apa sebanyak itu?"
"Sebagai pembanding."
Tak lama kemudian, dua teknisi ikut mengenakan gelang tersebut. Profesor Surya pun memakainya.
"Jadi kita semua bakal dicoba?"
"Iya, kita butuh pembanding yang valid."
...
Percobaan dimulai. Teknisi pertama duduk di atas motor. Satu menit berlalu, dua menit... monitor tetap datar.
"Tidak ada perubahan," sahut Ardi.
Teknisi pertama turun, digantikan teknisi kedua. Hasilnya sama. Ardi mencoba berikutnya, tetapi tetap tidak ada respons apa pun di layar.
Profesor Surya sendiri yang kemudian duduk di atas motor. Semua orang menatap layar dengan tegang. Satu menit berlalu, grafik tetap tenang tanpa riak.
"Tidak ada anomali," ucap Ardi.
Profesor turun tanpa berkata apa-apa, lalu menoleh. "Giliranmu."
Zain menarik napas panjang. Ia mengayunkan kaki dan duduk di atas jok motornya, lalu memegang setang—persis seperti kemarin.
Lima detik... sepuluh detik... lima belas detik...
*Bip...*
Alarm kembali berbunyi. Grafik di monitor perlahan-lahan merambat naik. Angkanya memang kecil, namun teramat jelas bedanya dibanding saat orang lain yang mendudukinya.
Ardi memperbesar tampilan grafik. "Naik lagi. Nilainya hampir sama persis dengan kemarin."
Profesor mengangguk pelan. "Berarti fenomena ini bukan kebetulan."
Zain turun dari motor, dan seketika grafik kembali mendatar normal. Ia memandang Profesor dengan bingung. "Kenapa cuma saya?"
Profesor tidak langsung menjawab. Ia justru meminta Zain untuk naik kembali.
Kali ini tanpa memegang setang—hanya duduk. Alarm tetap berbunyi.
"Lepaskan kaki dari pijakan." Zain menurut, grafik masih naik. "Tutup mata."
Zain tersenyum kecil. "Sudah seperti latihan meditasi saja."
Beberapa teknisi ikut tertawa pelan, namun monitor tetap menunjukkan pola grafik yang konsisten.
...
Profesor mulai mencoret-coret buku catatannya, lalu berkata pelan, "Bukan karena sentuhan. Bukan tekanan beban. Bukan pula posisi tangan."
Ardi melanjutkan, "Yang tersisa... hanyalah keberadaan Zain sendiri di atas kendaraan ini."
Ruangan mendadak hening. Kalimat itu terdengar sederhana, namun implikasinya jauh lebih besar dari yang bisa mereka bayangkan.
Menjelang siang, Profesor akhirnya menghentikan percobaan. "Aku rasa cukup untuk hari ini."
Zain yang masih diselimuti rasa penasaran bertanya, "Jadi kesimpulannya apa, Prof?"
Profesor menatap motor itu cukup lama. "Dalam setiap sistem rumit, kadang tercipta pola yang tidak pernah kita rancang sejak awal. Sepertinya... motor ini memiliki kecenderungan untuk merespons keberadaanmu secara spesifik."
"Kenapa bisa begitu?"
Profesor menggeleng. "Itulah yang harus kita teliti."
Ardi menambahkan sambil tersenyum tipis, "Mungkin karena sejak awal motor itu memang milikmu."
Profesor tidak langsung mengiyakan. "Terlalu cepat untuk menyimpulkan. Namun, itu salah satu kemungkinan yang masuk akal."
Zain mengusap permukaan jok motornya dengan lembut. Motor ini telah menemaninya bertahun-tahun menerjang jalanan demi mencari nafkah. Kehujanan bersama, kepanasan bersama, bahkan pernah beberapa kali mogok di tengah jalan.
Tak pernah terlintas sedikit pun di pikirannya, bahwa suatu hari nanti, justru motor tua inilah yang seolah mengenali keberadaannya lebih baik daripada mesin mana pun di dunia.
Hasil percobaan dari hari sebelumnya kini memenuhi seluruh papan tulis. Grafik, deretan angka, dan catatan waktu—semuanya mengarah pada satu kesimpulan yang sama. Fenomena aneh itu selalu muncul ketika Zain berada di atas motornya.
Namun seorang ilmuwan tidak hidup dari kesimpulan semata, melainkan dari pembuktian yang kukuh.
Pagi itu, Profesor Surya menghapus seluruh papan tulis lalu menulis satu kalimat besar di tengahnya:
[Hipotesis bukan fakta.]
Zain yang baru saja datang langsung membacanya. "Masih belum percaya juga, Prof?"
Profesor tersenyum tipis. "Bukan tidak percaya, tapi buktinya belum cukup."
Ardi mengangguk setuju. "Kalau kita terlalu cepat percaya, kita bisa saja mengejar jawaban yang salah."
"Hari ini skenarionya sederhana," kata Profesor. "Kita tukar motornya."
Zain mengernyit bingung. "Tukar?"
...
Motor pinjaman berwarna putih didorong masuk ke dalam bengkel. Kondisinya standar, tanpa satu pun komponen eksperimen yang terpasang.
"Tolong duduk di motor ini," panggil Profesor.
Zain menurut. Ia duduk di atas jok motor matik putih itu selama beberapa menit. Semua sensor tetap diam—tak ada alarm, tak ada pula perubahan pada grafik.
"Normal," ucap Ardi singkat.
"Turun."
Sekarang giliran motor milik Zain yang disiapkan. Begitu Zain mengayunkan kakinya dan duduk di atas joknya...
*Bip...*
Alarm kembali berbunyi. Grafik di layar perlahan-lahan merambat naik, dengan angka yang hampir identik dibanding percobaan sebelumnya.
Profesor mencatat sesuatu di bukunya. "Menarik."
"Berarti memang masalahnya di motor saya?" tanya Zain.
Profesor menggeleng. "Belum tentu."
"Lho?"
"Kita baru tahu kalau fenomena ini tidak muncul pada motor lain. Itu hal yang berbeda dengan menyimpulkan bahwa penyebab utamanya adalah motormu."
Zain mengangguk pelan. Ia mulai memahami cara berpikir penuh kehati-hatian itu—tidak terburu-buru melompat ke kesimpulan.
...
Percobaan berikutnya dibuat lebih spesifik. Profesor meminta salah satu teknisi untuk duduk di atas motor Zain—tak terjadi apa-apa. Lalu Zain diminta berdiri tepat di samping motornya—tetap tidak terjadi apa-apa.
"Naik lagi," perintah Profesor.
Begitu Zain duduk di joknya, alarm langsung berbunyi mendengking pelan. Polanya selalu sama, tak pernah meleset sekalipun.
...
Sore harinya, semua anggota tim berkumpul di depan papan tulis. Profesor merumuskan tiga kemungkinan di atas papan:
[Hipotesis A: Motor mengenali Zain.]
[Hipotesis B: Zain memengaruhi Inti Resonansi.]
[Hipotesis C: Ada faktor ketiga yang belum diketahui.]
Profesor melingkari hipotesis ketiga dengan spidol merah. "Inilah yang paling berbahaya."
"Kenapa?" tanya Zain.
"Karena kita belum tahu apa yang belum kita ketahui."
Ruangan kembali sunyi. Kalimat itu terdengar membingungkan, namun semua peneliti di sana mengangguk paham. Dalam dunia penelitian, hal yang belum terpetakan sering kali jauh lebih berisiko daripada kesalahan yang sudah terdeteksi.
...
Saat hendak pulang, Ardi menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Zain.
"Apa ini?"
"Bawa saja."
Zain membukanya. Di dalamnya terdapat gelang sensor yang ukurannya jauh lebih ringkas dari gelang sebelumnya.
"Pakai terus," ujar Ardi.
"Bahkan saat saya sedang membawa penumpang?"
"Iya. Kalau ada perubahan sekecil apa pun pada medannya, kami akan langsung tahu."
Zain melingkarkan gelang itu di pergelangan tangannya sembari tersenyum kecil. "Berarti sekarang saya jalan-jalan sambil membawa status sebagai objek penelitian."
Ardi ikut tersenyum. "Kurang lebih begitu."
Mereka tertawa pelan. Namun jauh di dalam hatinya, Profesor Surya menyimpan sebuah kekhawatiran mendalam yang belum pernah ia ucapkan kepada siapa pun.
Bagaimana jika fenomena itu bukan disebabkan oleh motor, dan bukan pula oleh Inti Resonansi—tetapi berasal dari dalam diri Zain sendiri?