Gadis belia yang biasa di sapa Vio, jatuh hati pada seorang pengusaha sukses pemilik restoran didepan sekolah internasional tempat ia menimba ilmu.
Siapa sangka, pria sukses berstatus duda itu, pemilik tambak ikan gurami di kota mereka.
"Om gurami, nikah yuk!" tuturnya suatu sore.
Pria dingin itu hanya tertawa kecil, mendengar celotehan gadis belia berusia 17 tahun tersebut seraya berkata, "Kamu sekolah yang benar, nanti om biayain kuliah kamu."
Berhasilkah hubungan mereka berdua karena sang gadis tidak mengerti apa arti dari sebuah kata 'nikah' ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya Calysta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekanan dari Ibu
Mendengar bisikan sang bunda, Vio hanya terdiam kemudian melirik kearah Juan yang masih berdiri disampingnya dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bahwa sang bunda akan memberikan hukuman yang sangat mengejutkan, untuk menjadi pemberi makan pelet selama satu minggu di tambak ikan gurami milik pria muda dan mapan tersebut.
"Bu, mana mungkin aku bisa melakukannya sendiri? Nanti kalau aku kecemplung masuk tambak ikan milik om gurami, siapa yang nolongin. Aku mau nikah saja, aku tidak mau menerima hukuman dari ibu!" sungutnya dengan bibir mengerucut.
Akan tetapi, saat Inggit akan menjawab permintaan putri kesayangannya yang ingin menikah, terdengar suara Bu Benet memanggil nama Viona.
"Viona Anandita, kamu keruangan saya sekarang!"
Jantung Vio seperti berhenti berdetak karena mendengar suara tegas sang pemilik sekolah yang sangat ditakuti oleh para siswa-siswi di sekolah elite Sevenfold Internasional tersebut.
"Om gurami, temenin aku," rengeknya kembali terdengar ditelinga sang bunda juga Juan yang masih berdiri didekatnya.
Inggit menoleh kearah Juan, memberi isyarat bahwa mereka akan menunggu diluar saja.
Perlahan Juan menggeleng, kemudian mengusap lembut punggung Viona yang tampak ketakutan, dengan tangan halus gadis belia itu terasa sangat dingin, "Kamu tenang, ya. Ibu Benet hanya mau bicara dengan kamu, pergilah. Om tunggu di sini."
Berkali-kali Vio merengek, karena tidak mau bertemu dengan Ibu Benet seorang diri seraya berkata, "Yang penting habis dari sini om bawa aku makan, ya, lapar!"
Juan tersenyum tipis, menganggukkan kepalanya melihat Viona berjalan sambil mendekati ruangan ketua yayasan.
Benet yang sudah menunggu Viona didepan pintu, langsung menutup pintu ruangannya setelah memastikan bahwa gadis belia itu sudah memasuki ruangannya seraya berkata, "Duduklah Viona!"
Gegas Viona duduk di kursi yang tersedia, melihat kearah meja yang masih terpampang jelas semua bukti-bukti foto serta video yang di didapat oleh pihak sekolah dari pihak informatika yang bertugas disekolah tersebut.
Benet masih berdiri, mengambil beberapa berkas di mejanya kemudian mendekati Viona yang masih menunduk menunggu sang ketua yayasan bicara. "Kenapa kamu tidak mau belajar hari ini, Vi?"
Mendengar suara Benet sedikit lembut tak seperti biasanya, Viona menatap wajah ketua yayasan sambil berkata pelan dan gugup, "Sa-sa-sa-saya tidak mau bertemu Bu Alma, bu, sebelum pindah kelas."
Benet memijat pelipisnya kemudian melirik lagi kearah Viona, "Kamu tidak bisa pindah kelas saat ini. Karena kelas lain sudah melebihi batas. Tapi ... saya dengar Pedro akan pindah ikut dengan orang tuanya ke Amerika." Ia memberikan minuman botol pada Viona, kemudian berkata lagi, "Kamu kenal sama Juan dimana, apakah kalian keluarga?"
Viona hanya menaikkan kedua bahunya, mencoba mengingat dimana pertama kali bertemu dengan pria yang ia sapa om gurami tersebut. "Saya kenal dari restoran yang ada didepan sekolah, bu. Emang beliau siapa?"
"Hmm, kamu aneh, saya bertanya kamu balas dengan pertanyaan lagi." Benet menganggukkan kepalanya, memahami bagaimana tadi perlakuannya dihadapan Alma, dan perbedaan dengan memperlakukan Viona. "Juan itu dulu alumni di sini juga, tapi sembilan tahun yang lalu."
Viona bertutur seraya memohon, "Ogh, berarti Bu Alma juga alumni dari sini juga, bu? Terus ibu manggil saya cuma mau ngasih tahu itu saja, jujur saya pengen banget pindah kelas, bu, karena tidak sanggup sama tugas yang diberikan oleh Bu Alma. Tolong dong, bu ... kalau beliau ada dendam sama om gurami, jangan balas ke saya. Karena saya lelah sama tugas Bu Alma, pengen muntah!"
Entah mengapa, mendengar penuturan Vio, Benet tersenyum kecil karena sangat memahami bagaimana perasaan gadis belia yang tidak terbiasa dengan berbagai tugas yang sangat memusingkan kepala. Ia menganggukkan kepalanya, kemudian berkata lagi, "Tapi satu minggu kamu saya skors dulu, ya. Saya bicarakan dengan kepala sekolah, untuk bisa mencarikan kelas buat kamu. Bisa saja kamu menjadi pengganti Pedro yang akan pindah sekolah, tapi itu kelas pintar Viona, sementara kamu hanya rangking lima belas dari dua puluh orang siswa!"
Wajah Viona kembali mengkerut, ia tidak ingin berdebat jika keputusan sekolah tidak bersikap bijak dalam melindungi haknya sebagai siswi yang mendapatkan tekanan dari sang wali kelas. "Terserah ibu saja, deh. Saya hanya bisa pasrah!"
Hanya kalimat itu yang mampu Viona ucapkan, mendengar skors serta rangking yang tidak pernah naik selama duduk di kelas ilmu pengetahuan alam.
Kemudian Bu Benet berkata lagi, "Lain kali jangan pernah tinggalkan sekolah untuk pergi ke hotel, karena akan banyak mata yang melihat dan memfitnah kamu. Tapi saya dan pihak ketiga akan terus melacak identitas siswa yang menyebarkan berita itu. Kamu tenang, ya?"
Lagi-lagi Viona hanya menganggukkan kepala. Hatinya seketika merasa sedih karena tidak bisa pindah kelas dan menemukan siapa yang jahat padanya.
Cukup lama Viona mendengarkan wejangan dari Benet, membuat ia harus menerima bulat-bulat untuk mengikuti semua aturan jika ia berhasil pindah kelas.
"Kamu boleh pulang, ingat jangan ulangi kesalahan lagi, ya? Kamu siswi pilihan hanya berprestasi di bidang seni, hanya lemah di akademik saja. Tolong jaga rahasia ini, ya? Kamu jangan dengarkan semua celotehan teman-teman kamu, karena kami masih mencari akun palsu itu."
Tidak banyak bicara lagi, Viona meninggalkan ruangan ketua yayasan, akan tetapi dihadang oleh sang bunda yang sudah berdiri didepan pintu.
Dengan wajah garang, Inggit langsung menghampiri sang putri kemudian berbisik ketelinga Viona, "Malam ini kamu ibu kirim ke tambak ikan milik Keluarga Juan. Selama satu minggu kamu harus menghabiskan waktu di sana, karena ibu tidak mau kamu bolos terus!" tegasnya.
"Ibu ..." Viona menangis, merasa kalau ini tidak adil untuk dirinya. "Aku janji tidak akan bolos terobosan lagi, bu. Tapi aku tidak mau jadi pemberi makan sama ikan, aku tidak bisa berenang, bu!" Bersusah payah ia menolak, akan tetapi sang bunda teguh pada pendiriannya.
Niat Inggit hanya karena tidak ingin melihat sang putri menghabiskan waktu bersama kedua sahabatnya, yang tidak pernah memberikan efek positif pada Viona. Makanya ia memutuskan untuk mengirimkan gadis belia itu, agar mendapat pelajaran.
***
Kini mereka telah tiba direstoran milik Juan yang terletak didepan sekolah elite tersebut. Inggit masih terus mengomeli putri kesayangannya tanpa ampun karena bolos terobosan dihadapan Mutia juga Juan tanpa sungkan.
Tentu perasaan Viona sebagai gadis remaja yang dalam masa transisi pengendalian emosinya yang masih labil, hanya menangis terisak-isak.
Inggit sama sekali tidak pernah menyadari bahwa Mutia berkali-kali memberi isyarat agar tidak terus mempersalahkan sang putri atas sikapnya.
Tiba-tiba saja, Viona menggebrak meja restoran yang ada dihadapan ketiga orang tua tersebut seraya berkata sambil menangis, "Udah deh, bu. Vio sudah besar, jangan di omelin terus kayak anak kecil. Vio sudah tahu sama malu, kalau ibu begini terus lebih baik Vio ikut sama opa di Cianjur. Enggak mau sekolah di sini lagi, malam ini Vio minta nikah, titik."
Gegas tangan halus itu merogoh gawainya untuk menghubungi sang ayah, karena sudah tidak ingin mendengarkan omelan sang bunda sejak pagi hingga sore.
Ketiga insan itu saling bertatapan, Inggit sebagai ibunda Viona menggeram ingin menghardik putrinya, akan tetapi dicekal oleh Mutia.
Viona beranjak menuju luar restoran, agar tidak didengar oleh Inggit tentang obrolannya dengan sang ayah. Namun, Juan langsung menarik tangan gadis muda itu untuk segera membawanya ke lantai atas menuju ruang kerjanya.
[Ayah, ibu nakal. Ibu marah-marah terus sama aku. Aku mau nikah, yah ... biar tidak di omelin terus sama ibu]
Jelas Viona sambil terus terisak-isak, namun berjalan mengikuti langkah kaki Juan yang tertawa geli mendengar rengekan sang gadis abege labil tersebut.
[Apa? Nikah? Kamu mau nikah sama siapa Viona, sayang. Lagian wajar ibu marah sama kamu. Kamu bolos terobosan, tapi dari rumah sekolah. Buktinya hari ini kamu di skors selama satu minggu. Wajar ibu begitu, nak. Kamu pikir sekolah di sana bayarnya pakai daun, apa? Biaya sekolah kamu itu dua juta setengah setiap bulan. Kamu malah main terus sama teman-teman. Sekarang malah minta nikah. Kalian dimana? Ayah jemput, ya ...]
Danu berusaha membujuk sang putri yang masih menangis tersedu-sedu di restoran milik Juan.
[Aku di restoran om gurami. Pokoknya malam ini Vio mau nikah, yah. Kalau tidak, Vio pindah ke Cianjur ikut sama opa dan oma. Vio tidak mau kasih makan di tambak ikan om gurami, ntar kalau jatuh lagi kayak kemaren, bagaimana ...]
Hanya hembusan nafas Danu yang terdengar di seberang sana, entah itu mau tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan sang putri, atau bahkan semakin sedih karena sang istri tidak pernah berdamai jika Viona melakukan kesalahan seperti saat ini.
[Ayah kesana, ya sayang? Kebetulan kerjaan ayah baru selesai. Kamu tenang dulu, ya? Nanti kita bicara lagi ...]
Danu mengakhiri panggilan telepon sang putri, kemudian menghubungi Inggit yang masih terus mengomel dihadapan Mutia.
Sementara itu, Juan membuka pintu ruangannya kemudian meminta salah satu pelayan untuk membawakan makanan ke ruangannya melalui intercom yang ada diruangan itu.
"Viona, kamu mau minum apa, orange float atau lemon tea?"
Dengan cepat Viona menjawab, "Juice alpukat dan orange float, hmm ... chicken nugget sama kentang goreng jangan lupa, saosnya dibanyakin, om. Vio lagi kesal!" gerutunya tanpa sungkan.
Wajah Juan sedikit berubah ketika mendengar permintaan gadis belia yang tengah galau tersebut, "Dia ini galau, tapi untuk perut tidak pernah lupa. Kamu sangat lucu Vio ..." Ia tertawa kecil melihat tingkah gadis itu yang langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruangan itu, tanpa perasaan sungkan sambil meratapi nasibnya.
"Pokoknya kalau hari ini ayah dan ibu tidak mau menikahkan gue dengan om gurami, gue minta Mang Nurdin untuk pergi pulang kampung. Bodoh amat sama biaya sekolah, dari dulu yang mau sekolah di sekolah elite itu siapa sih, bu," sesalnya sambil menatap lekat langit-langit ruangan yang tampak bersih dengan hiasan lampu LED flash, menambah kesan mewah di ruangan tersebut.
Seketika Viona tersadar, kemudian duduk dan menoleh kearah Juan yang masih menatapnya, "Om, kita pergi ya? Kalau ayah tidak mau menikahkan kita, kita kabur saja. Kayak pilem Romeo and Juliet itu. Kita pergi, masuk kolam, dan nikah terus minum racun, tapi aku tidak mau kalau om gurami sampai mati. Biar aku saja yang mati."
Mendengar cerita dongeng dari Viona, Juan justru hanya sebagai pendengar yang baik, karena tidak ingin melanjutkan pembahasan gadis cantik itu lagi. "Kamu istirahat dulu, ya. Om kebawah dulu, tidak enak sama mama dan ibu kamu. Nanti mereka pikir, om macam-macam lagi sama anak gadis mereka."
Merasa ucapannya tidak diacuhkan, Viona hanya mengangguk patuh, kemudian memilih tidur kembali di sofa ruangan Juan sambil memeluk bantal kursi yang ada diruangan sejuk itu. Air matanya masih mengalir begitu saja, ketika Juan akan berlalu meninggalkan ruangannya.
"Kasihan sekali kamu, Vio. Mendapatkan tekanan dari ibu yang terlalu berambisi untuk menjadikan anaknya seperti apa yang mereka mau. Padahal kamu itu gadis yang cerdas. Saya janji untuk selalu ada buat kamu, asal jangan minta nikah mulu ... saya juga manusia biasa yang sudah ingin merasakan sentuhan kasih sayang dari seorang istri ..."