NovelToon NovelToon
Bayangan Di Atas Atap

Bayangan Di Atas Atap

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Kamal Fajar001

Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Angin malam bertiup makin kencang, memecah pantulan bintang di permukaan danau. Rendra masih duduk di ambang jendela, matanya tak lepas dari bayang-bayang pohon yang bergerak di seberang air. Rasa lelah mulai menyerang, tapi naluri lamanya sebagai penjaga keamanan tidak pernah membiarkannya lengah terlalu lama.

Tepat pukul dua pagi, suara ranting patah terdengar pelan dari arah belakang pondok. Bukan suara hewan—langkahnya teratur, berat, dan sengaja berusaha tak bersuara. Rendra langsung menyentuh bahu Surya yang sedang berjaga bersamanya, lalu memberi isyarat diam. Keduanya perlahan mengambil senjata, bergerak menuju pintu belakang tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun.

Saat sosok itu muncul dari balik pohon pisang, Rendra sudah menunggunya dengan pisau terhunus di leher orang asing itu.

“Siapa kau? Dan siapa yang menyuruhmu datang?” bisiknya tajam.

Orang itu tidak berusaha melawan. Ia hanya tertawa pelan, lalu berkata dengan suara parau yang sangat dikenang Rendra: “Masih sama saja ya, Rendra. Masih cepat menangkap orang tanpa bertanya dulu.”

Rendra tertegun, lalu perlahan menurunkan senjatanya. Cahaya bulan menyinari wajah pria itu—beruban banyak, kulit penuh kerutan, tapi tatapannya tetap tajam seperti dulu. Itu adalah Pak Haris, mantan penyelidik senior yang dulu menjadi gurunya saat baru masuk kepolisian. Orang yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar berita sepuluh tahun lalu.

“Pak Haris? Bagaimana Bapak bisa ada di sini?” tanyanya tak percaya.

“Bukan tempat yang aman untuk bicara di luar,” jawab Pak Haris singkat. “Aku sudah lama menunggu saat kau akhirnya menemukan jejak terowongan tua itu.”

Mereka masuk kembali ke dalam pondok. Dika dan Bapak Harun yang terbangun kaget melihat tamu tak diundang itu, tapi segera tenang setelah Rendra menjelaskan siapa dia. Pak Haris duduk di dekat pelita, menatap tumpukan catatan tua di meja dengan pandangan sedih.

“Aku tahu buku itu,” katanya pelan. “Pemiliknya adalah Bapak Joko, teman sekamarku dulu. Dia menghilang setahun setelah menulis catatan terakhir ini. Semua orang bilang dia pindah pulau, tapi aku tahu kebenarannya—dia dibungkam karena tahu terlalu banyak.”

Ia bercerita bahwa sepuluh tahun lalu, ia sendiri sebenarnya sudah menyelidiki jaringan penyelundupan ini. Ia menemukan bukti bahwa kelompok ini menyembunyikan lebih dari sekadar barang selundupan—mereka memindahkan bahan berbahaya yang dilarang secara internasional, dan menyembunyikannya di ruang bawah tanah yang tersebar di seluruh pesisir Jawa Timur.

“Saat aku hampir sampai pada nama pemimpin utamanya,” lanjut Pak Haris, “berkas kasusku hilang, namaku dicoret dari daftar kepolisian, dan ancaman mulai datang ke keluargaku. Aku memilih menghilang daripada melihat orang-orang yang kusayang jadi korban seperti Bapak Joko. Tapi aku tidak pernah berhenti memantau mereka dari jauh.”

Rendra menatapnya lekat. “Lalu kenapa Bapak muncul sekarang?”

“Karena kau berbeda,” jawab Pak Haris tegas. “Kau tidak berhenti saat namamu dicap buruk, kau tidak lari saat bahaya datang. Dan kau sudah menemukan kunci yang selama ini aku cari: catatan saksi mata dan bukti data digital. Sendirian aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi bersama kalian, ada harapan.”

Saat percakapan berlanjut, Bapak Harun tiba-tiba menunjuk satu baris yang digarisbawahi tebal di catatan Bapak Joko: “Batu penanda ada di tempat air berputar dua arah. Di sana ada pintu yang tidak boleh dibuka sembarangan.”

“Aku tahu tempat itu!” seru Bapak Harun. “Itu pertemuan antara sungai dan danau buatan di sisi utara. Airnya sering berputar aneh, bahkan saat tidak ada angin. Warga desa menyebutnya ‘pusaran mati’ dan tak pernah mendekat.”

Pak Haris mengangguk. “Tepat sekali. Itu adalah pintu masuk utama ke gudang penyimpanan rahasia mereka. Di sana tersimpan semua catatan asli, dokumen tanah, dan daftar nama lengkap orang-orang yang terlibat—bahkan nama yang tidak ada di data yang kau ambil dari gudang kemarin.”

Tapi kabar baik itu disertai peringatan berat: “Tempat itu dijaga ketat oleh sistem kunci ganda. Satu kunci ada pada Bagas, satu lagi pada pemimpin utamanya. Dan yang paling berbahaya—mereka sudah memasang penghancur otomatis. Jika ada orang asing yang masuk tanpa kunci yang tepat, semua bukti akan dibakar habis dalam hitungan detik.”

Pagi mulai menyingsing, cahaya oranye perlahan menyelinap lewat celah dinding pondok. Rendra menatap wajah teman-temannya satu per satu—kemarahan di mata Surya, tekad di wajah Dika, harapan di tatapan Bapak Harun, dan kebijaksanaan yang memancar dari Pak Haris. Untuk pertama kalinya sejak adiknya tewas, ia tidak lagi merasa berjalan sendirian di jalan yang gelap.

Namun ia juga tahu: semakin dekat mereka pada kebenaran yang sebenarnya, semakin berbahaya langkah mereka selanjutnya. Dan “pusaran mati” itu bukan sekadar nama tempat—ia melambangkan bahaya yang siap menelan siapa saja yang berani mendekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!