"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Luki menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia membeli motor itu secara tunai dan sama sekali tidak tahu berapa kisaran harga cicilan per bulan untuk motor matic.
"Enggak usah gelisah gitu," lanjut Amira menepuk bahu Luki, mengira suaminya sedang pusing memikirkan beban utang. "Kerja saja yang rajin... Pasti nanti ada jalan buat membayar cicilannya."
Sebelum Luki sempat membantah, seorang pria berjas hitam rapi keluar dari pintu kemudi mobil Grand Livina milik Amira, sementara satu pria berjas lainnya turun dari atas NMAX.
"Terima kasih banyak ya, Pak," ucap Amira membungkukkan badannya sedikit. "Terima kasih sudah mengantarkan mobil saya dan motor suami saya."
Amira merogoh dompetnya dan mengeluarkan dua lembar uang lima puluh ribuan, lalu menyerahkannya sebagai uang tips pada kedua pria itu.
Kedua pria berjas yang merupakan kuintet pengawal pribadi Luki itu melotot kebingungan menatap selembar uang di tangan masing-masing. Mereka saling pandang, lalu menatap Luki seolah meminta petunjuk apakah uang tips ini boleh diterima.
Luki mengangguk pelan memberi kode.
"Kenapa? Kurang ya?" tanya Amira polos karena melihat kedua pria itu tak kunjung memasukkan uangnya ke saku.
"E-eh! Bukan, Bu! Ini... uangnya banyak sekali!" jawab salah satu pengawal dengan gagap namun sebisa mungkin bertingkah natural. "Pagi-pagi sudah dapat rezeki nomplok... Semoga rezeki Ibu mengalir terus, ya!"
"Aamiin, terima kasih," jawab Amira tersenyum. "Ngomong-ngomong, saya harus segera berangkat kerja. Saya duluan ya."
Amira mendekat ke arah Luki. "Minta nomor ponsel kamu."
"Mana ponselmu?" Luki mengulurkan tangan.
Amira menyerahkan ponselnya, dan Luki pun melakukan hal yang sama. Jemari Luki dengan lincah mengetikkan sesuatu di ponsel Amira.
"Nih, aku kasih nama Suami Tampan," ucap Luki penuh rasa percaya diri. "Sekarang tuliskan nomor kamu di ponselku."
Amira menggelengkan kepala melihat nama kontak itu, namun ia tetap mengetikkan nomornya di ponsel Luki. Setelah selesai, ia mengembalikannya.
Luki menerima ponselnya dan mengerutkan dahi. "Kok cuma dikasih nama Istri sih?" protes Luki. "Aku tambahi ya... jadi Istriku Sayang."
"Terserah kamu deh..." kekeh Amira tipis. "Aku mau berangkat kerja dulu. Kamu hati-hati berkendaranya, jangan kecil hati... Asal terus berjuang, pasti nanti ada perbaikan ekonomi. Nanti kalau ada rezeki lebih, aku juga bakal buatkan usaha kecil-kecilan buat kamu."
Amira melangkah masuk ke dalam mobilnya, membuka kaca, lalu melambaikan tangan manis pada Luki sebelum melaju membelah jalanan.
Luki berdiri di teras seraya tersenyum lebar menatap kepergian mobil istrinya.
"Bos..." bisik salah satu pengawal berjas hitam di sampingnya dengan raut wajah sangat canggung. "Yang benar saja... Masak Bos mau dibuatkan usaha kecil-kecilan?"
"Sudahlah, tugas kalian sekarang lindungi istri saya secara diam-diam," perintah Luki tegas namun berbisik.
"Baik, Bos!" ucap mereka serempak,
Lalu luki dan anak buahnya naik motor NMAX berboncengan bertiga.sebenarnya anak buah luki canggung tapi Luki tetap memaksa sebagai anak buah mereka tidak bisa protes
Sementara itu dari lantai atas, Angga yang berdiri di dekat jendela memandangi kepergian mereka dengan tatapan sinis. Pria itu mencibir condong melipat tangannya.
"Benar-benar ojol sok kompak," cemooh Angga pelan.
Pandangan Angga tajam kepada Luki dan anak buahnya yang meninggalkan gerbang rumah. Sorot matanya memancarkan rasa tidak puas yang mendalam. Rencana liciknya kemarin rasanya tidak berjalan sesuai harapan.
"Aku sudah suruh Rini cari ojol yang paling jelek dan gemuk, malah pilih yang tampan begini..." gumam Angga dengan nada penuh kekecewaan yang tersirat jelas.
…
Sesampainya di kantor, Amira disambut dengan tatapan heran dari beberapa staf. Untuk pertama kalinya semenjak memimpin perusahaan, Amira absen tanpa kabar kemarin. Sepertinya keluarga Ratna sengaja menyembunyikan pernikahan mendadaknya dengan Luki dari publik—lagipula, tamu yang hadir kemarin hanya lingkaran sosialita terbatas pilihan ibunya.
Setiap kali Amira melewati lorong kantor, para karyawan menyapanya dengan ramah. Amira memang dikenal selalu menjalin komunikasi yang hangat dengan seluruh staf. Namun, semua orang juga tahu bahwa Amira sangat tegas terhadap kesalahan sekecil apa pun, terutama jika ada indikasi kecurangan. Meski begitu, ia tak pernah ragu memberikan bonus besar bagi karyawan yang berprestasi.
Amira melangkah langsung menuju ruangan Finance.
"Pagi, Bu Amira," sapa Dini, staf keuangan, langsung berdiri begitu melihat sang CEO masuk.
"Pagi juga, Dini," balas Amira tenang.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Dini sigap.
"Aku mau tahu pengeluaran kantor non-operasional bulan ini apa saja?" tanya Amira to the point.
Dini mengutak-atik komputernya sebentar. "Atas instruksi Bu Ratna, kantor sudah mengeluarkan uang total 2,5 miliar rupiah untuk biaya persiapan pernikahan Bu Amira."
Amira mengerutkan dahi. "Perasaan anggarannya tidak sebanyak itu?"
"Ini tadi pagi sekali Bu Ratna minta ditransfer lagi uang sebesar 1,5 miliar rupiah. Katanya untuk tambahan biaya pernikahan Ibu."
"Kenapa tidak minta persetujuan langsung dariku?" cecar Amira, matanya memicing.
"Loh... kata Bu Ratna itu sudah atas persetujuan Ibu. Saya sempat mau konfirmasi ke telepon Ibu tadi pagi, tapi tidak diangkat," jelas Dini cemas.
Amira menggertakkan giginya menahan geram. Pasti ini buat modal persiapan pernikahan mewah Risma dan Raka! batinnya berseru. Ibunya benar-benar nekat menggunakan nama Amira untuk menguras kas perusahaan demi anak kesayangannya.
"Aku minta bukti percakapan Ibu dengan kamu, dan kirimkan semua dokumen pengeluarannya ke mejaku," tegas Amira.
"Baik, Bu. Nanti segera saya kirimkan."
"Oke, saya tunggu sore ini sebelum saya pulang, harus sudah ada di meja saya."
Amira langsung meninggalkan ruang Finance dan melangkah menuju ruangan CEO dengan napas berburu.
Begitu pintu ruang kerjanya dibuka, Amira mendapati Rini, sekretaris pribadinya, sedang fokus mengetik di meja kerja. Amira berdiri di ambang pintu, menatap Rini secara detail dari kepala hingga ujung kaki.
Kok sepertinya tidak terjadi apa-apa? Kalau memang dia yang menjebakku, kenapa dia masih berani masuk kerja tenang begini? Raut mukanya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atau tahu apa yang aku alami kemarin... pikir Amira dalam hati, bimbang.
"Eh, Bu Amira! Kenapa kemarin tidak masuk kerja, Bu?" tanya Rini mendongak, menyapa dengan wajah polos tanpa dosa.
Amira kembali mengamati ekspresi Rini dengan tatapan mengintimidasi.
"Aku mau bicara... sebagai teman," kata Amira pelan seraya melangkah masuk.
"Baiklah, Mira. Ada apa? Kamu mau cerita apa? Mau cerita tentang adik tirimu lagi atau Bu Ratna?" tanya Rini santai, mengubah panggilannya menjadi lebih kasual.
Amira menatap Rini lekat-lekat. "Kenapa sih kamu lihatin aku begitu?" tanya Rini merasa aneh.
Amira mendekat ke arah meja Rini, menopangkan kedua tangannya di atas meja. "Kamu... benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dan aku alami kemarin?"
"Ya tidak lah! Makanya tadi aku tanya, kenapa kamu mendadak tidak masuk kerja kemarin?" jawab Rini kebingungan.
"Waktu kita pertemuan dengan klien tempo hari, kamu izin keluar sebentar. Terus aku cari kamu, tapi kamu tidak ada dan tiba-tiba menghilang," Amira menatap Rini tajam, menuntut jawaban. "Sebenarnya... kamu ke mana waktu itu?"