NovelToon NovelToon
Ma Chérie, Don'T Run!

Ma Chérie, Don'T Run!

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Sudut kafe terbuka di Santorini mendadak terhenti ketika Tyche yang baru saja meneguk minuman lemonnya membeku di tempat.

​Otak Tyche berputar cepat, menghubungkan titik demi titik fakta geografis dan silsilah keluarga yang baru saja melintas di kepalanya. Bola mata Tyche membelalak lebar, menatap sahabatnya dengan horor yang nyata.

​"Percy..." bisik Tyche gemetar, mencengkeram lengan baju Percy erat-erat. "Tunggu dulu... kita sekarang sedang berada di mana?"

​Percy mengerjap bingung, memiringkan kepalanya. "Santorini, Yunani. Kenapa memangnya?"

​"Percy, bodoh!" seru Tyche panik setengah mati. "Yunani adalah negara asal mommy Hades! Dan bukan cuma itu, Yunani adalah wilayah kekuasaan mutlak keluarga Sterling! Seluruh jaringan bisnis, pelabuhan, bandara privat, hingga aparat lokal di sini berada di bawah kendali penuh suamimu!"

​Seketika itu juga, warna darah di wajah Percy menguap. Senyuman dan binar kegembiraan di matanya lenyap dalam hitungan detik. Tubuh mungilnya mematung kaku di kursi kafe, memproses kebodohan luar biasa yang baru saja ia perbuat. Alih-alih bersembunyi di tempat yang aman, ia justru dengan riangnya mendarat tepat di sarang singa yang menguasai seluruh daratan tersebut.

​"Ya ampun..." cicit Percy lemas, wajahnya memucat pasi. Ia langsung menarik tangan Tyche. "Cepat! Kita harus pergi dari sini sekarang juga! Cari destinasi lain! Kita pesan tiket ke Paris atau Tokyo detik ini juga!"

​Namun, semuanya sudah terlambat.

​Di dalam kabin jet pribadi mewah yang membelah langit Eropa dengan kecepatan penuh menuju Athena, Hades Sterling duduk bersandar di kursi kulit dengan aura kemarahan yang membeku di sekelilingnya. Pria berdarah Yunani-Italia itu mengangkat ponsel satelit mewahnya, menghubungi orang kepercayaan utamanya di Yunani, kepala keamanan wilayah Mediterania yang memegang kendali penuh atas teritori tersebut.

​"Dengar," suara bariton Hades terdengar sangat dingin, bagai tetesan es murni yang mampu membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "Istriku rupanya lupa bahwa Yunani adalah salah satu wilayah kekuasaan keluarga kita. Darah mommyku mengalir di tanah ini, dan tidak ada satu jengkal pun tempat di sini yang bisa lepas dari pandanganku."

​Di ujung sambungan, sang kepala keamanan menjawab dengan suara gemetar penuh kepatuhan, "Baik, Tuan! Perintah apa yang harus kami laksanakan?"

​"Lacak jet pribadi yang membawa Nyonya besar bersama sepupuku di Santorini," titah Hades mutlak, buku-buku jarinya memutih karena terlalu kuat mencengkeram ponsel. "Pastikan mereka tidak bergerak sejauh satu meter pun dari tempatnya. Dan siapkan seluruh armada penjemputan. Aku sendiri yang akan datang menjemput burung kecilku yang nakal itu."

Kepanikan melanda meja kecil di kafe tepi tebing Oia itu. Percy bangkit dari duduknya dengan tergesa-gesa, mengabaikan sisa gelatonya yang meleleh. Ia dan Tyche langsung menyambar tas tangan desainer mereka, bersiap berlari menuju area taksi atau bandara terdekat.

​Namun, sebelum kaki mungil Percy sempat melangkah keluar dari teras kafe, suasana di sekitar jalanan utama Santorini tiba-tiba berubah drastis.

​Para wisatawan dan penduduk lokal mendadak menepi, berbisik-bisik ketakutan saat melihat pemandangan yang tidak biasa. Tiga buah mobil SUV hitam berpelat diplomatik dengan lambang khusus keluarga Sterling melaju pelan, membelah jalanan sempit pulau tersebut dengan presisi militer. Kendaraan-kendaraan itu berhenti tepat di depan kafe tempat Percy dan Tyche berdiri.

​Pintu mobil terbuka secara serempak. Empat orang pengawal berbadan tegap berjas hitam turun dengan cepat, membentuk barikade ketat dan membungkuk hormat kepada siapa pun yang berada di sekitar area tersebut. Warga sipil langsung mundur teratur, tahu betul bahwa mereka sedang berhadapan dengan kekuasaan mutlak yang tidak tersentuh hukum lokal.

​Tyche menelan ludah dengan susah payah, mencengkeram lengan Percy semakin erat. "Percy... kita tertangkap. Tamatlah riwayat kita."

​Percy menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena ia tahu badai besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Belum sempat ia memikirkan alasan atau dalih apa pun untuk melarikan diri, sebuah helikopter pribadi berwarna hitam pekat dengan lambang singa bermahkota tampak mendarat mulus di helipad darurat terdekat, memecah angin laut Mediterania.

​Pintu kabin helikopter terbuka lebar. Dari dalam sana, sesosok pria berpostur tinggi tegap melangkah turun dengan setelan jas hitam yang tidak pernah kehilangan kesan elegannya.

​Hades Sterling berdiri di atas tanah Santorini dengan sepasang mata kelabu yang memancarkan amarah sedingin es. Tidak ada senyuman di wajah tampannya yang ada hanyalah aura dominasi mutlak seorang penguasa yang baru saja menemukan burung kecilnya yang mencoba terbang terlalu jauh dari sangkar.

​Langkah kaki Hades terdengar begitu berat menghantam tanah, mendekat perlahan ke arah Percy dan Tyche yang terpaku di tempat.

​Tyche secara refleks melangkah mundur, menundukkan kepalanya, membiarkan Percy berdiri seorang diri di hadapan sang suami yang kini telah menjulang tepat di depannya.

​Hades berhenti berjarak satu langkah dari Percy. Bau maskulin yang bercampur dengan angin laut menguar dari tubuh pria itu. Hades menundukkan kepalanya, menatap lekat-lekat ke sepasang mata amber istrinya yang kini tampak gelisah namun berusaha keras memasang ekspresi berani.

​"Menikmati pemandangan matahari terbenam di sini, Ma chérie?" suara bariton Hades terdengar sangat rendah, lembut, namun bergetar oleh amarah tertahan yang siap meledak kapan saja.

​Percy menelan ludah, mencoba tersenyum manis sambil menampilkan lesung pipinya yang tercetak tipis. "Hades... hai? Wah, kebetulan sekali kita bisa bertemu di Yunani..." cicit Percy gugup, suaranya menciut di akhir kalimat.

​Hades mendengus sinis, sudut bibirnya terangkat sebelah. Tanpa memperingatkan terlebih dahulu, tangan besar Hades langsung melingkar di pinggang ramping Percy, mengangkat tubuh mungil istrinya dengan mudah ke dalam dekapannya seolah wanita itu tidak lebih berat dari sehelai bulu.

​"Ehh! Hades! Lepaskan aku! Banyak orang yang melihat!" protes Percy panik, memukul pelan dada suaminya sambil merona malu karena beberapa turis di sekitar mulai memperhatikan mereka.

​"Biarkan mereka melihat," ucap Hades mutlak, membalikkan badan dan membawa Percy langsung menuju mobil SUV hitam yang telah menanti. Sebelum masuk, Hades melirik sekilas ke arah Tyche. "Dan kau, Vance... ikut mobil di belakang. Kita selesaikan urusan ini di tempat peristirahatan kita."

​Pintu mobil tertutup rapat, membawa sang ratu nakal kembali ke dalam cengkeraman sang singa yang tidak akan pernah sudi melepaskannya lagi.

Konvoi mobil SUV hitam berpelat diplomatik itu melaju membelah jalanan tebing terjal di pulau Santorini, hingga akhirnya berbelok memasuki gerbang besi besar yang langsung terbuka otomatis. Di balik gerbang tersebut, berdiri sebuah villa pribadi super mewah bergaya arsitektur Mediterania modern milik keluarga besar Sterling, tempat peristirahatan eksklusif yang dibangun langsung di atas tepi tebing curam menghadap laut lepas, jauh dari kerumunan turis maupun jangkauan dunia luar.

​Begitu mobil berhenti sempurna di halaman depan berlantai marmer putih, pintu belakang langsung dibukakan oleh pengawal.

​Tyche Vance keluar terlebih dahulu dengan langkah kaku. Sebelum Tyche sempat melangkah jauh, Hades menyusul turun dengan menggandeng tangan Percy yang tampak cemas. Pria berdarah Yunani-Italia itu menoleh ke arah sepupunya dengan tatapan kelabu setajam belati.

​"Tyche," panggil Hades dengan suara dingin bernada rendah yang langsung membekukan udara sekitar.

​Tyche menghentikan langkahnya, menelan ludah dengan susah payah.

​"Tidak ada lagi kata lain kali untuk bepergian seperti ini," ucap Hades tanpa ampun, setiap kata ditekankan dengan penuh ancaman mutlak. "Ini adalah kesempatan terakhir kalinya untukmu, Tyche. Atau aku tidak segan-segan mengirimmu untuk tinggal di tempat terpencil yang tidak pernah kau inginkan, di mana paman dan bibi pun tidak akan pernah bisa menemukan atau menolongmu. Mengerti?"

​Tyche menunduk dalam-dalam, bahunya merosot pasrah. Ia tahu betul sepupunya tidak sedang menggertak, Hades Sterling selalu menepati setiap ancaman mengerikannya. "Mengerti, Hades..." cicit Tyche pelan.

​"Bagus," potong Hades dingin. "Sekarang, pergi ke kamarmu. Dan besok pagi, kita semua pulang ke New York."

​Tanpa berani membantah sepatah kata pun, Tyche langsung berbalik dan mengikuti arahan pelayan villa menuju sayap barat bangunan tersebut.

​Perhatian Hades beralih sepenuhnya ke arah wanita di sampingnya. Percy menciut, menelan ludahnya saat melihat kilatan amarah yang membakar di sepasang mata kelabu suaminya. Sebelum Percy sempat membuka mulut untuk melayangkan protes atau alasan pembelaan diri, Hades dengan gerakan cepat menyambar pinggang ramping istrinya.

​"Ehh! Hades! Lepaskan aku!" teriak Percy panik, meronta-ronta hebat dan memukul dada bidang suaminya saat tubuh mungilnya kembali terangkat dalam gendongan.

​Hades sama sekali tidak memperdulikan jeritan maupun rontaan sang istri. Dengan langkah lebar dan berat, ia memasuki pintu utama villa, menaiki tangga melingkar menuju kamar utama di lantai atas, dan mengunci pintu kamar tersebut rapat-rapat dari dalam, mengisolasi mereka berdua sepenuhnya dari dunia luar.

​Hades menurunkan Percy begitu saja di atas hamparan tempat tidur king size.

​Percy terduduk di atas seprai sutra, dadanya naik-turun karena panik dan lelah. Ia mendongak, mendapati suaminya berdiri menjulang di hadapannya dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya dingin, tajam, dan dikuasai oleh obsesi kelam.

​"Hukuman apa yang kau inginkan, Nyonya Sterling?" suara Hades terdengar begitu pelan, namun setiap suku kata yang keluar dari bibirnya bagaikan tetesan racun mematikan. Pria itu mendekat perlahan, mengurung tubuh mungil Percy di antara kedua tangannya. "Bukankah aku sudah dengan jelas memintamu untuk berdiam diri di mansion dan tidak pergi ke mana pun?"

​Percy menundukkan kepalanya. Seluruh keberanian dan sifat 'cegil' yang biasa ia banggakan mendadak menguap entah ke mana. Tubuhnya bergetar halus di bawah tatapan intimidasi sang suami ia terdiam seribu bahasa, tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali.

​Hades menggeram tertahan melihat kebisuan istrinya. Dengan gerakan cepat namun terkontrol, tangan besar Hades terulur dan mencengkeram rahang bawah Percy dengan kuat, memaksa wajah mungil itu mendongak untuk menatap langsung ke arahnya.

​"Kenapa diam, Ma chérie?" bisik Hades tajam, ibu jarinya menekan rahang Percy dengan tekanan yang membuat wanita itu merintih tertahan. "Tidak bisa bicara? Atau kau sudah lupa bagaimana cara berbicara denganku, hmmm?"

1
Hema Simangunsong
sukaaaaa cerita nyaaa, tp bukan mau tamat kan ya cerita thor.
you see me: terima kasih kakak /Whimper/
belum tamat kakak, masih ada lanjutannya.
terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca karya saya kakak hema /Smile/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!