NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Ibu Tiri

Genggaman Arkan hanya bertahan sampai ia terbangun dari tidur siang.

Begitu membuka mata dan sadar jarinya melingkar pada tangan Nadhira, bocah itu segera menarik diri. Ia turun dari sofa, memeluk boneka beruang, lalu berlari keluar tanpa menoleh.

Nadhira tidak mengejarnya.

Namun, selama minggu pertama di rumah Pradipta, jarak Arkan berubah sedikit demi sedikit. Mula-mula ia berdiri di ujung lorong saat Nadhira menyuapi Alif. Lalu ia duduk di kursi paling jauh. Dua hari kemudian, ia bersedia makan di meja yang sama, meski tidak pernah menatap Nadhira lebih dari beberapa detik.

Perubahan kecil itu cukup.

Pada hari ketiga, Nadhira membawa Alif ke sebuah PAUD di dalam kawasan BSD. Gedungnya bersih, berwarna cerah, dan memiliki halaman bermain beralas karet. Biaya satu bulan membuat Nadhira menelan ludah, tetapi bagian administrasi menjelaskan bahwa Rayhan sudah menyiapkan rekening pendidikan kedua anak.

"Nama ayah kandung tetap Hendra Wijaya," kata Nadhira ketika petugas mengisi formulir. "Rayhan Pradipta dicatat sebagai ayah tiri dan kontak darurat. Jangan mengubah data tanpa persetujuan saya."

Petugas itu mengangguk. "Baik, Bu Nadhira. Untuk usia tiga setengah tahun, Alif masuk kelompok bermain. Masa adaptasi bisa ditemani orang tua dulu."

Nadhira meminta berbicara sebentar dengan guru kelas tanpa Alif mendengar seluruhnya. Ia menjelaskan bahwa anaknya baru mengalami pengambilan paksa dan dikunci di ruangan gelap. Ia tidak menyebut sengketa waris atau keburukan keluarga di depan staf yang tidak perlu tahu.

"Dia mungkin panik kalau pintu ditutup atau saya tidak terlihat," kata Nadhira. "Tolong jangan anggap dia nakal kalau berlari mencari saya."

Guru itu mencatat dengan tenang. "Minggu pertama pintu kelas tetap terbuka saat masa adaptasi. Ibu boleh duduk di koridor. Kami juga tidak akan mematikan lampu untuk kegiatan apa pun. Kalau Alif menangis, kami panggil Ibu sebelum mencoba cara lain."

"Terima kasih."

"Kami sarankan waktunya pendek dulu. Tiga puluh menit hari ini, lalu ditambah kalau dia siap."

Rencana tersebut tidak terdengar megah. Namun, bagi Nadhira, sekolah yang bersedia mengikuti kemampuan anak jauh lebih berharga daripada gedung mewah.

Alif bersembunyi di belakang kaki Nadhira ketika seorang guru mengajaknya melihat balok warna-warni.

"Mama ikut?"

"Mama duduk di sana." Nadhira menunjuk kursi yang masih terlihat dari karpet bermain. "Kalau takut, lihat Mama."

Alif mengangguk ragu. Ia berani menyusun dua balok, lalu berlari kembali. Guru tidak memaksa. Setelah tiga kali mencoba, jarak larinya menjadi lebih pendek.

Sepulang dari sekolah, Nadhira menemukan dapur utama dipenuhi bahan impor. Koki rumah sedang menyiapkan sup krim untuk makan siang, sedangkan dua anak hanya menyentuh roti di piring.

"Mereka biasa makan apa sebelum ini?" tanya Nadhira.

"Den Arkan mengikuti menu nutrisi, Bu," jawab koki itu. "Protein, susu, dan sayur sudah dihitung."

"Dihitung belum tentu dimakan."

Nadhira melihat tempe, jagung, kacang panjang, dan asam jawa di rak bahan lokal. "Saya boleh pakai dapur?"

Wajah koki berubah seolah keahliannya baru saja dihina. "Kalau Ibu ingin menu tertentu, bilang saja. Saya lulusan sekolah kuliner."

"Saya tidak meragukan kemampuan Anda. Saya cuma ingin memasak makanan yang dikenal Alif. Arkan boleh mencoba kalau mau."

Nadhira mencuci tangan, lalu mulai mengiris tempe. Ia tidak menyuruh staf keluar atau memindahkan peralatan sesuka hati. Ia bertanya letak pisau, meminta izin memakai kompor, dan membersihkan cipratan bumbu sambil bekerja.

Aroma bawang goreng dan sayur asem perlahan memenuhi dapur. Beberapa staf yang biasanya makan terpisah mengintip dari pintu.

"Mbak, sudah makan?" tanya Nadhira kepada salah satu dari mereka.

Perempuan itu menggeleng.

"Nanti ambil tempe. Saya masak banyak."

Koki rumah masih berdiri dengan tangan terlipat. Nadhira menyodorkan satu sendok kuah kepadanya.

"Coba. Kalau kurang seimbang, bantu saya perbaiki."

Sikap defensif pria itu turun sedikit. Ia mencicipi, lalu mengambil garam tanpa diminta. "Kurang sedikit, Bu. Kalau untuk anak, asamnya juga kita kurangi."

"Baik. Kita pisahkan porsi mereka."

Nadhira meminta koki menuliskan kandungan bahan agar menu Arkan tetap sesuai catatan dokter. Ia sendiri mencatat berapa potong yang benar-benar dimakan, bukan hanya jumlah yang dihidangkan.

"Besok saya tidak perlu masuk dapur kalau Anda bisa memasak versi ini," katanya.

Koki itu menatapnya, tampak terkejut. "Ibu tidak ingin mengubah seluruh menu?"

"Tidak. Anak-anak perlu variasi. Saya hanya ingin makanan yang mereka kenal ikut tersedia. Anda lebih paham dapur dan gizi. Saya lebih tahu kebiasaan Alif. Untuk Arkan, kita belajar dari catatan tubuhnya."

Pria itu akhirnya melepaskan lipatan tangan. "Kalau begitu saya buat jadwal menu mingguan. Ibu bisa koreksi."

"Kita koreksi bersama."

Nadhira juga melihat dua staf dapur hendak makan sambil berdiri di dekat area cuci. Ia menunjuk meja kecil yang kosong.

"Duduklah setelah sajian utama selesai. Makanan tidak akan lebih enak kalau orang yang memasaknya tidak sempat makan."

Mereka saling pandang, lalu tersenyum malu. Sikap hangat itu tidak membuat hierarki rumah lenyap, tetapi membuat perintah Nadhira terdengar berbeda dari perintah orang yang hanya ingin dilayani.

Kata kita mengubah suasana lebih cepat daripada pujian. Saat makan siang, staf mendapat satu wadah tempe untuk dibagi. Alif menghabiskan nasi. Arkan duduk diam, mencium kuah, lalu mengambil satu potong tempe kecil.

Ia mengunyah perlahan.

Nadhira tidak menatapnya terus-menerus. "Kalau tidak suka, tidak perlu dihabiskan."

Arkan mengambil potongan kedua.

Mbak Rini yang berdiri dekat pintu memandang meja dengan wajah sulit dibaca. "Den Arkan biasanya tidak makan gorengan."

Koki rumah menjawab lebih dulu, "Minyaknya sedikit, Mbak. Gizinya sudah saya sesuaikan."

Untuk pertama kalinya, seorang staf membela keputusan Nadhira tanpa diperintah.

Sore itu Arkan membawa buku cerita ke ruang keluarga. Ia meletakkannya di ujung sofa dekat Nadhira, lalu duduk di karpet bersama Alif. Nadhira membaca tanpa menyebut tindakan itu sebagai keberhasilan.

Setelah cerita selesai, Alif mengajak Arkan menyusun mobil-mobilan. Arkan sempat mendekat, tetapi ketika Alif berkata, "Mama lihat," tubuhnya membeku. Ia mengambil boneka beruang dan pergi ke lantai atas.

Nadhira memahami. Nyaman bersama dirinya mungkin terasa seperti mengkhianati ibu yang telah meninggal.

Malamnya, ketika mengembalikan selimut yang tertinggal di ruang keluarga, Nadhira melewati kamar Arkan. Pintu terbuka sedikit. Bocah itu sudah tidur, satu tangan berada di bawah bantal.

Ujung sebuah foto mencuat dari sana.

Nadhira hendak merapikan bantal karena leher Arkan tertekuk. Saat ia mengangkat sudutnya, foto tersebut bergeser ke lantai.

Seorang perempuan cantik tersenyum dalam gambar, menggendong Arkan yang masih bayi. Di belakang foto tertulis satu nama dengan tinta yang mulai pudar.

Dini.

Nadhira memungut foto itu tanpa menyentuh bagian wajah. Ia menyelipkannya kembali persis di bawah bantal, lalu hanya menarik selimut sampai dada Arkan.

"Kamu tidak perlu melupakan ibumu," bisiknya. "Aku tidak datang untuk mengambil tempatnya."

Kelopak mata Arkan bergerak, tetapi ia tidak bangun.

Bel gerbang berbunyi ketika Nadhira baru keluar kamar. Layar interkom di lorong menyala, memperlihatkan seorang wanita berpenampilan anggun berdiri di depan pos keamanan dengan beberapa kotak hadiah mahal.

"Saya keluarga," kata wanita itu kepada kamera. "Buka gerbang. Saya mau bertemu keponakan saya, Arkan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!