Tadinya berjudul OTW Soleha- dibenarkan sesuai KBBI dan novel cetaknya Ayoo beli.
Hidup adalah pilihan, namun takdir adalah sebuah ketetapan. Bukankah kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita akan dilahirkan ? Begitulah yang selalu membuat Bening tidak pernah menyesali hidup yang di jalaninya
Dia besar dan tumbuh di pemukiman lokalisasi prostitusi, Jauh dari pendidikan moral,tata krama, apalagi agama. Yang dia tau, dia dan Ibunya adalah seorang Muslim. Tanpa dia pernah tau apa kegunaan agama itu sendiri hidupnya.
Dia selalu punya rumus berdamai dengan takdir, itu yang membuatnya mampu melewati lingkungan sosial yang menghina, mengucilkan dan selalu menganggapnya "Anak Haram".
Bening remaja mampu melewati badai kepahitan dan membalas semua hinaan dengan senyuman bangga. Bening berada di puncak karirnya sebagai seorang Fashion designer di usia belia.
Sampai pada satu titik balik yang membawanya jatuh dan hampa, sehingga dia mencari apa penyebabnya. Apakah takdir selalu berbaik hati mengiringi perjalanannya mencari jati diri ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KADANG BIMBANG
Sabtu malam yang teduh, Bening sedang bersiap-siap. Memoleskan lipbalm dan mengaplikasikan bedak tabur
dengan brush kecil, lalu sedikit menjepit bulu mata lentiknya Sebentar lagi Bern akan datang.
Bern bilang akan tiba sekitar 30 menit lagi, Bening sudah keluar rumah menyusuri koridor jalan menuju gerbang depan. Terlambat sedikit saja Bern pasti akan menyusulnya ke dalam, Bening meminimalisir hal itu. Tak lupa sebuah bungkusan yang berisi kue lapis yang sudah dia pisahkan untuk Bern.
Tak lama setelah Bening tiba di depan gapura tua itu, Bern pun tiba dengan mobil Jaguar dark silver seri terbaru. Setelah duduk manis di samping pengemudi, dia meletekkan plastik berisi kue itu di belakang.
"Eh biarin disini aja! aku mau makan sekarang. Udah gak sabar."
"Yaampun, gimana cara makannya? kamu lagi nyetir."
"Suapin!" pinta Bern polos.
Dua sudut bibir bening mengembang membentuk senyum malu-malu. Dengan senang hati Bening membuka plastik bekal itu dan menyuapi Bern sepotong demi sepotong hingga tak terasa sudah di potongan terakhir.
"Kamu doyan apa laper nih?" Bening mengambil selembar tisu dan menyapu sisa kue yang berserakan di sekitar bibir dan pipi Bern. "Nih minumnya!" Kemudian menyodorkan air minum kemasan lengkap dengan stainless straw.
"Umm, makasih. Enak banget sih kuenya. Tumben, dalam rangka apa nih kamu bikin ginian?"
Kalau aku bilang dalam rangka nyari perhatian kakak kelas ku, kamu marah gak ya kira-kira?
"Ah, enggak. Cuma lagi pengen aja."
"Ning, pekan depan aku udah mulai sidang. Doain ya!"
"Wah iya? Abis itu sibuk banget dong?"
"Bisa jadi, karena kan harus pengayaan di rumah sakit, sebelum ke jenjang pendidikan profesi. Jadi mungkin kita gak akan punya banyak waktu seperti ini"
"Masih panjang ya Bern proses pendidikan kamu?"
"Sampai lulus dokter spesialis, ya masih lama sih."
"Kira-kira sampai aku lulus sekolah, terus lulus kuliah,terus punya butik sendiri, itu kamu udah kelar belum?"
"Hahaha, dasar." Menggusal-gusal poni Bening "Kamu bukan cuma punya butik Ning, tapi bakal punya pabrik, atau kamu mau jadi pengusaha tekstil atau garmen? Aku bakal selalu dukung kamu mewujudkan semua itu. Sebisa mungkin aku akan selalu ada buat kamu," ucap Bern serius dan antusias.
"Itu ngga bener, Bern, jangan bikin hidup aku jadi tergantung kamu!"
Sejak dua tahun ini, Bening tak mengerti arti dari kedekatannya dengan lelaki yang berada disampingnya itu. Perhatian Bern yang awalnya karena prihatin dengan kehidupan anak-anak WTS di lingkungan itu, mengerucut ke diri Bening sendiri saat anak-anak yang lain sudah hidup layak di rumah singgah yang dikelola yayasan yang dibentuk Bern dan teman-teman mahasiswa kedokteran lain dan mendapat bantuan rutin dari pemerintah daerah.
Bern selalu melindungi Bening bahkan dari gigitan semut kecil, Bern tak pernah sengaja membiarkan Bening bersedih. Kalau saja Mami Sandra mengizinkan, Bern bersedia membiayai semua kebutuhan pendidikan Bening secara pribadi. Namun Sandra menolak keras pemberian itu karena tidak ingin berhutang budi.
Bern tidak lepas tangan begitu saja, dia mengutus orang untuk menjaring penerima beasiswa dan Bening di atur sebagai salah satu siswa yang masuk ke dalam daftar penerima. Sehingga Sandra tidak merasa bantuan itu langsung dari Bern.
"Ning"
"Hnn?"
"Kamu mau gak nungguin aku?"
"Nungguin apa?"
"Nungguin aku menyelesaikan semua proses panjang ini."
"Kalau aku udah nungguin, terus abis itu kamu nikahin? kalau iya, aku mau. Kan keren tuh punya suami dokter." Hanya Bening yang tau apakah ada kesungguhan atau tidak di dalam jawabannya ini.
Mobil yang dikendarai berhenti tepat di depan halaman parkir sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.
"Kita mau ngemoll?"
"Iya kamu udah lama kan ke time zone?"
"Waah, tuh kan aku bilang juga apa. Kamu emang terbaik, ,Lets go Bern!" soraknya menggandeng tangan Bern memasuki pusat perbelanjaan itu.
Sebelum menuju ke area yang menjadi tempat favorit Bening, Bern terlebih dahulu mengajak Bening menuju satu toko perhiasan.
"Kok kita kesini sih?" Bening melepaskan gandengan tangannya. Tanpa membaca plang nama, Dia tau itu toko perhiasan, karena dari luar sudah tampak benda-benda berkilauan dari balik etalase kaca.
Bern tidak menjawab pertanyaan Bening, langsung masuk menemui petugas disana dan seperti sedang membicarakan sesuatu.
Bening hanya diam karena tidak terlalu faham. Seketika petugas toko keluar membawa satu kotak beludru persegi panjang berwarna biru elektrik, kemudian membuka kotak itu di hadapan Bern dan Bening.
"Ini, Mas hasilnya," ucap petugas Mengeluarkan seuntai kalung emas putih dengan liontin rangkaian huruf yang membentuk nama "Bening" dengan font latin. Uniknya lagi huruf i pada liontin itu, titiknya diberi ornamen seperti sebuah simbol tetesan air yang terbuat dari bahan berlian yang bening.
"Ini apa, Bern?" Raut wajah Bening masam, menunjukkan ketidaksukaannya dengan benda itu.
Bern lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan Bening dan hanya tersenyum meminta petugas toko memasukkan kalung itu ke dalam paper bag. Lalu dia menggenggam tangan Bening untuk keluar dari toko.
"Tadinya cuma mau kasi kamu hadiah kecil, Kalau kamu tidak suka, tidak usah dipakai. Simpan aja ya." Bern menyerahkan bungkusan kecil itu kepada Bening.
"Tapi ini lebay, nanti aku dikira jalan sama om- om sampe dapat ginian. Kamu aja yang simpen. Nanti aja dipake buat mahar."
"Yaudah, kamu aja deh yang simpan, anggap aja maharnya aku DP Duluan."
"Emang bisa begitu?"
"Ya gak tau juga, ehehe. Ambil ya, Ning. Kalau nanti aku ga bisa nemenin kamu kaya gini lagi kan, seenggaknya ini bisa jadi barang antik!"
Akhirnya Bening menerima pemberian itu dan dia bertekad tidak akan menggunakannya kecuali disaat yang tepat.
Sebelum menuju Time Zone, Bern mengajak Bening masuk ke beberapa toko lagi.
"Sekarang kita beli perlengkapan buat keperluan kamu LKS Provinsi nanti ya, tuan rumahnya tahun ini Kabupaten Lingga kan? takutnya besok-besok aku udah ngga sempat nemenin."
"Kok gitu banget sih kamu ngomongnya? Drama ih!"
"Aku serius, Bening, aku akan sibuk beberapa bulan kedepan."
"Yaudah ayo dong buruan, jangan lama ya. Katanya tadi kita mau main?"
Semua keperluan Bening tadi sebagian besar Bern yang memilihkan. Bening hanya tinggal menggangguk atau menggeleng dengan yang Bern tawarkan. Beberapa bungkusan belanjaan diletakkan di counter penitipan barang dan sesuai janjinya mereka langsung menuju ke lantai tempat area permainan.
***
Mata Bening berbinar antusias karena sudah mempunyai rencana sendiri permainan apa yang akan dimainkan duluan.
Berbagai macam musik latar dari masing-masing mesin permainan beradu dengan lampu-lampu warna-warni. Mereka berdua menikmati hampir semua games seru yang ada disana. Bening rasanya tidak mau pulang sebelum benar-benar kelelahan, Bern memesan dua makanan cepat saji dan mereka memakannya di kursi sudut yang panjang.
Terakhir sebelum pulang, Bern mengajak Bening menuju mesin capit boneka dan mencoba peruntungan disana. Sebuah mesin capit boneka raksasa yang di dalamnya ada beberapa Teddy bear besar nan menggemaskan.
"Bern ayo Bern semangaaat! kamu pasti bisa. Aku mau teddy bear coklat yang pegang bunga itu ya!" Melompat-lompat kegirangan memberikan semangat.
"Itu jauh, Ning. yaelah. Yang deket ini aja ya yang lagi tengkurap itu," ucap Bern sambil berkonsentrasi mulai mengarahkan alat capit besar itu.
Padahal dirinya mengatakan akan mengambil yang lebih dekat, tapi fikiran dan tangannya fokus mengarah ke boneka besar yang Bening sebutkan, Teddy Bear coklat yang memegang bunga mawar.
"Bern ayo Bern dikit lagi, aaa...aaa..aaa.. Gak mau liat, gak mau liat aku gak mau liat!!" Berteriak dan menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Satu,dua dan tiga. Cegreeeeek keeeeet ...bhuuumb.
Dan Boneka malang itu tertangkap, bajunya tersangkut di alat capit besar dan berhasil dijatuhkan tepat di dalam kotak jalan keluar.
"Waaaaah Horeeee dapaaaat!" teriaknya kencang, sehingga orang sekelilingnya memandang aneh ke arah Bening. Bern biasa saja tidak malu ataupun sungkan karena jadi pusat perhatian.
Dengan girangnya Bening memasukkan kedua tangan mengambil Teddy Bear yang berukuran hampir separuh tinggi tubihnya itu.
Sementara barang belanjaannya dibawa oleh Bern dengan trolley menuju mobil. Bening tak berhenti tersenyum memeluk Teddy Bear itu sepanjang jalan sampai mereka masuk ke mobil. Bening membawa serta boneka itu untuk duduk bersamanya di depan.
"Gak ada ya, Ning, letak di belakang sana Teddynya!" perintah Bern.
"Iya, Bern iya." Bening memutar tubuhnya meletakkan Teddy di kursi belakang "Teddy duduk sana aja ya sendiri, Om Bern gak mau di ngomel. Hihihi," cicitnya.
"Terimakasih, Tuan Jullian," ucap Bening saat mobil sudah sepenuhnya berhenti.
"With my pleasure, Nona Radmund," balas Bern dengan menyebutkan nama belakang Bening "Kenapa kamu gak mau orang tau bahwa kamu adalah bagian dari keluarga Radmund?"
"Aku aja gak tau apa aku bagian dari keluarga itu atau bukan. Hahah," jawab Bening santai.
"Hem oke! Take care,cutie. Tapi aku jadi takut nih ninggalin kamu lama-lama."
"Takut?"
"Takut kamu nanti mulai terbiasa tanpa aku."
"Aduhh, mulai lagi deh dramanya. Yaudah kalo gitu cepat selesai urusannya. Jangan lama-lama biar kita bisa main lagi." Sebenarnya ada sedikit kebimbangan di dalam hati Bening "Oh ya Bern, ceritakan sesuatu pada ku!"
"Apa yang ingin kamu dengar?" Bern menoleh serius.
"Aku belum pernah tau tentang keluargamu"
"Kamu akan mengetahuinya, sekarang udah malam. Gak seru cerita-ceritanya"
"Oke lain waktu, tapi janji ya!"
"Kamu akan tau semuanya, dengan atau tanpa cerita dariku!"
Setelah membereskan semua barang dan membersihkan diri, Bening membungkus teddy bear itu dengan plastik parcel. Tak lupa meletakkan kotak biru tadi di dalamnya. Kemudian Teddy punya tempat tinggal baru, di atas lemari pakaian Bening.
Bening mengingat-ingat keceriaan hari itu yang dia lalui bersama Bern. Saat bersama lelaki itu, Bening merasa sangat nyaman berbicara, bercerita dan bertingkah apapun juga. Ada semacam ketakutan dirinya terlalu nyaman sehingga merasa ketergantungan dengan kebaikan yang Bern berikan.
Seperti biasa sebelum tidur, Bening membuka ponselnya, diantara banyak pesan yang masuk ada satu pesan dari sebuah grup baru yang menambahkan dirinya.
Belum ada pesan dan keterangan apapun disana, Grup apakah kira-kira?
Sembari menunggu pesan masuk di grup itu, Bening memeluk boneka jerapah kesayangannya dan tanpa sadar dia memejamkan mata saking lelahnya.
Nangis terharu aku kak enka baca novel terindahmu, serasa aku diposisinya, semoga bisa menjadikan kita hamba yg selalu mencari jalan untuk selalu taat kepada Sang Pemilik Jiwa&Raga ❤
bern kakanya bening? 😯